Toxic Relationship

Toxic Relationship
Bad Past (Flashback)


__ADS_3

⭕Kata yang bercetak miring adalah masa lalu


...Happy Reading ...


Clara kini memandang ke arah luar jendela cafe. Setelah beberapa menit berdebat dengan Shawn kini mereka sepakat untuk makan malam di cafe tidak jauh dari rumah Clara. Clara menatap pria dihadapannya, pria itu nampak tenang dengan memakan steik kesukaannya, sedangkan ia begitu sungkan menyantap makan malam dihadapannya ini.


“Makanlah! Kau tidak lapar?”


*Clara menatap Shawn dan ta*npa sepatah katapun Clara mulai menyantap hidangan dihadapannya. Sebenarnya ia bersih keras untuk tidak makan malam bersama Shawn, tapi Shawn begitu memaksanya dengan dalih sudah lama tidak makan bersamanya. Tapi bukankah mereka memang tidak terlalu akrab sejak Shawn memiliki hubungan dengan Rose? Rose begitu cemburu padanya, karena itulah ia jadi tidak sering berkumpul dengan Shawn. Tapi entah mengapa hari ini Shawn berbeda.


“Bagaimana hubunganmu dengan Rose?” Clara melirik sekilas kearah Shawn, pria itu tetap nampak tenang. Seolah semua baik-baik saja.


“Rosalie? Kami baik-baik saja.” Clara menarik napas dalam. Ya, tentu baik-baik saja. Memang kau mengharapkan apa Clara?


“Kau tahu kan Jack begitu baik padamu Chal?”


“Bisa untuk tidak membahas pria itu? Aku lelah.”


Inilah mengapa ia menolak makan malam bersama Shawn. Ia tahu, ia sangat tahu Jack begitu baik padanya. Tapi Mary juga sama, gadis itu begitu banyak memberikan kenangan baik dengannya. Dan ia tidak ingin menghancurkan kenangan itu.


Shawn menatap Clara. Gadis itu hanya memandang steik dihadapannya datar, seolah ada sesuatu yang mengganjal dipikirannya. Dan Shawn begitu penasaran dengan apa yang berada dipikiran gadis itu.


“Jika kau ragu menerima Jack karena Mary, aku bisa-“


“Aku selesai! Aku akan pulang sendiri.”


Clara kini menatap dingin kearah Shawn. Selanjutnya gadis itu berdiri dan mengambil tas kerjanya, namun dengan cepat Shawn menahan lengannya dan menatap gadis itu dalam.


“Chal aku hanya ingin hubunganmu dengan Jack-“


“Aku tidak pernah menganggu hubunganmu dengan Rose. Jadi jangan ikut campur dengan hubunganku kali ini.”


Shawn tersentak kala Clara kini berucap dingin padanya. Melihat Shawn yang lengah, dengan cepat Clara menghempaskan tangan Shawn yang mengenggam lengannya. Clara mulai berjalan menuju rumahnya yang hanya berjarak sekitar 300 meter dari cafe.


Clara menarik napas dalam. Ia masih sangat mengingat kejadian satu tahun yang lalu saat Rose memberinya peringatan untuk tidak dekat dekat dengan Shawn. Dan bagaimana Shawn yang berkata padanya bahwa ia begitu mencintai Rosalie. Hatinya hancur seketika, harapannya menunggu Shawn selama lima tahun seolah musnah. Hubungan persahabatan yang telah ia jalin juga seolah hancur secara bersamaan. Dan ia memilih mundur sampai enam bulan kemudian Shawn mengajaknya untuk makan malam bersama dan mengenalkannya dengan Jack.


Ia tidak marah, dan ia tidak membantah itu semua dan dengan bodohnya menuruti keinginan Shawn untuk lebih dekat dengan Jack. Tapi apa pria itu benar-benar tidak tahu bagaimana perasaannya? Apa pria itu berpura-pura bodoh? Dan sekarang ia seolah memaksanya untuk bersama Jack. Apa pria itu tidak tahu ia menolak beberapa pria karena berharap dengannya? Shawn bodoh, ia sangat bodoh.


Clara kini menghapus air matanya. Lagi dan lagi ia menangisi Shawn. Namun air matanya itu seolah kembali naik saat ia melihat seratus meter dari tempatnya berdiri terdapat ibu dan ayahnya yang dikelilingi pria berperawakan seram dan tinggi menjulang.


Dengan cepat Clara berlari menghampiri mereka. Semakin dekat ia mendengar tangisan ibunya dan makian beberapa pria itu. Clara kini langsung memeluk ibunya erat yang sudah terduduk di lantai depan rumahnya.

__ADS_1


“Ada apa Bu? Ada apa?”


“Heii, gadis kecil!”


Clara tersentak saat ia melihat salah satu pria bertubuh tinggi itu menghampirinya. Clara menatapnya penuh ketakutan. Ia tahu, ia mengenal pria ini.


“Mana hutangmu?! Kami sudah bersabar dua tahun ini!”


Teriakannya membuat Clara memejamkan matanya. Clara terjebak, ia tidak bisa mencari jalan lagi. Terlebih ada ibu dan ayahnya yang harus ia lindungi. Clara menelan salivanya, ia sudah tidak punya cara lain.


“Beri aku waktu lagi, aku mohon! Beri aku waktu lagi.”


Clara kini memohon dihadapan pria itu. Gajinya hanya cukup untuk makan sehari-hari mereka, dan semua hutangnya sudah ia gunakan untuk perawatan ayahnya. Bahkan ayahnya belum sembuh total karena sudah satu tahun belakangan ini ayahnya tidak kontrol ke rumah sakit karena keterbatasan biaya.


“Apa kau pikir dua tahun itu sebentar? Kalau saja kau itu pria sudah kupatahkan tanganmu sebagai jaminan!”


Clara tersentak, air mata sudah mengalir deras. Namun ia tidak menyerah, dengan merangkak Clara mulai berjalan menuju kaki pria itu. Ia rela, ia rela melakukan apapun asalkan kedua orangtuanya baik-baik saja.


“Aku mohon Tuan! Aku mohon beri aku waktu lagi!”


Buk!


Sang ibu mulai berteriak kala pria itu menendang Clara membuat tubuh mungilnya terhempas beberapa meter. Clara merasakan hidupnya mengeluarkan darah. Namun Clara tidak menyerah, ia kembali merangkak menuju kaki pria itu. Dan untuk kedua kalinya pria itu kembali menendang Clara. Dan itu terjadi berulang-ulang kali. Ibu Clara kini hanya bisa menangis meratap melihat keadaan sang putri. Sedangkan suaminya yang dalam keadaan struk juga mengeluarkan air mata.


“Apa kau kira dengan kau seperti ini bisa menarik simpatiku?!”


Clara yang hampir seluruh wajahnya lebam itu tidak peduli lagi. Ia masih melakukan hal yang sama walaupun tendangan pada wajahnya tetap ia terima. Sedangkan pria itu menatap Clara dengan kesal, gadis ini benar-benar begitu keras kepala.


Pria itu kini ikut membungkuk dan menatap Clara menyeringai. Tangan pria itu kini mengeluarkan pistol dari sakunya dan menodongkannya kearah Clara. Clara tersentak, pria itu mulai mendekatkan bibirnya kearah telinga Clara dan berbisik pelan.


“Aku tidak membutuhkan air matamu. Cepat bayar hutangmu atau kau akan menyesal.”


Dengan cepat Clara kini mencengkeram pistol itu dan mengarahkannya pada wajahnya. Ia tidak peduli lagi. Jika itu memang bisa menyelamatkan kedua orang tuanya, ia siap.


“Bunuh aku! Bunuh aku!”


“Aku tidak main-main!”


“Bunuh aku!”


Dor!

__ADS_1


Clara tersentak kala suara tembakan itu terdengar. Clara membuka matanya dan merasakan seseorang terjatuh dihadapannya. Satu tembakan itu tepat mengenai dada kiri sang ayah. Ayahnya itu mencoba untuk menghalanginya. Clara tidak percaya atas apa yang dilihatnya. Bukankah sang ayah didiagnosis lumpuh total? Tapi ayahnya itu bergerak untuk menghalanginya?


“Yah, A... Ayah?”


Clara kini tidak sanggup mengeluarkan suaranya. Semua berlalu begitu cepat, ia benar-benar tidak mengerti apa yang terjadi didepannya. Clara dapat melihat kini ayahnya merintih dan menatapnya penuh kesedihan. Clara menatap sang Ibu, ibunya bahkan sampai pingsan. Clara dengan cepat memeluk sang ayah dan mulai menangis meraung.


...****************...


Clara mengerjapkan matanya, ia dapat melihat langit-langit kamarnya di tengah kegelapan. Ia merasakan kepalanya begitu pening, dan merasakan matanya telah basah. Dengan cepat Clara mengusap matanya, ia menangis. Ia menangis dalam tidurnya. Kejadian enam tahun lalu yang tidak pernah ia lupakan dihidupnya. Mengapa ia bermimpi itu lagi setelah begitu susah payah ia melupakannya.


“Kau sudah bangun?”


Clara tersentak ketika suara baritone pria memasuki telinganya. Ia menatap Jack yang tengah tertidur disebelahnya. Seketika bau alkohol menyeruak dari tubuhnya. Astaga, ia mabuk. Clara mencoba mengingat-ingat. Apa ia mabuk bersama Jack? Ia tidak mengingatnya.


“Tidak bisakah kau hanya diam dan mengikuti perintahku Chal?”


Clara hanya terdiam, ia tidak mengerti dengan ucapan Jack. Namun seketika Clara tersentak. Terakhir yang ia ingat adalah ketika ia, Tiffany dan juga Dean memesan alkohol disalah satu cafe. Dan setelah itu ia tidak mengingat apapun. Apa Jack yang membawanya pulang?


“Jack, aku tidak-“


Sebelum Clara melanjutkan kalimatnya, dengan cepat Jack menarik tubuh Clara, membuat gadis itu kini lebih dekat dengannya. Jack memandang wajah Clara cukup dalam. Ditengah kegelapan wajah Clara begitu bersinar karena kulit putih yang dimilikinya. Clara sangat cantik, benar-benar begitu cantik baginya.


“Aku mencintaimu Clara, tidak bisakah kau memahami kata-kataku?”


Clara hanya terdiam, ia tidak mengerti kemana arah pembicaraan Jack. Apa Jack kembali marah padanya karena ia makan malam bersama Dean? Sampai kapan, sampai kapan sifat over posesif Jack dapat berubah?


“Jack, Dean hanya.. Ah!”


Clara kini merintih ketika tangan kiri Jack meremas pahanya. Jack kini memeluknya dan mengendus lehernya. Jack tersenyum lebar, ia benar-benar menyukai wangi lavender ini, wangi Clara seolah menjadi candu baginya.


“Jack kau menyakitiku.”


Clara kini mulai tidak nyaman saat Jack malah semakin keras meremas pahanya. Sedangkan tangan kanan Jack semakin memeluknya erat, mendekatkan tubuh mereka.


“Kurasa malam ini akan begitu menyenangkan Chal.”


Clara menelan salivanya. Ia rasa nafsu Jack begitu bergejolak belakangan ini, dan ia tidak tahu ada apa dengan pria itu. Jack hampir tidak pernah melakukan ini tiga tahun terakhir, tapi akhir akhir ini Jack seolah selalu menginginkan lebih dari sekedar ciuman.


“Aku akan membuatmu puas malam ini, Chal.”


To be continue...

__ADS_1


__ADS_2