Toxic Relationship

Toxic Relationship
Silence


__ADS_3

⭕ MENGANDUNG ADEGAN DEWASA


Note :


MAAF banget kalau uploadnya ga sesuai jadwal. Butuh empat kali revisi dari mangatoon karena adegan 17+ sekarang begitu sensitif yaa. Ga seperti novel married life. Dan ada bagian yang harus author tambahkan, tapi lebih banyak yg dikurangkan.


So, Author sangat sangat mengingatkan untuk yang dibawah 17 tahun untuk TIDAK membaca episode ini. Happy Reading and enjoy it!


...Happy Reading...


“Jack..Ahh...”


Clara kini meringis kala Jack mulai menggigit lehernya cukup kuat, pria itu berusaha membuat tanda. Namun Clara kini menikmatinya, lidah Jack yang mengitari lehernya seolah membuat perutnya geli, Jack begitu tahu dimana titik sensitifnya. Ia begitu melayang dibuatnya.


Selama enam tahun ia menjalin hubungan dengan Clara, ini adalah kedua kalinya ia menjamah tubuh Clara, sebisa mungkin ia tidak melakukan hal yang diluar batas mereka, namun itu terjadi ketika setahun mereka menjalin hubungan, ia begitu terbawa suasana ketika First Anniversary mereka, dan ini adalah yang kedua kalinya. Jika sudah seperti ini, ia tidak bisa lagi untuk menahannya.


Suara deringan ponsel diatas meja rias hotel membuat mereka menghentikan aktifitas mereka masing-masing. Namun Jack hanya menggeram kesal dan melanjutkan aktifitasnya, membuat ******* demi ******* keluar kembali dari mulut Clara.


Jack kini mencium kembali bibir Clara, seolah meredam ******* dari mulut itu. Sedangkan tangannya masih aktif menekan tengkuk Clara kuat. Seolah ingin melahap hidup-hidup tubuh mungil gadis itu. Deringan ponsel ketiga kalinya kini kembali terdengar, dengan cukup kuat Clara mendorong tubuh Jack menjauh.


“Jack, aku harus mengangkatnya. Aku takut itu dari ibuku.”


Jack berdecak kesal, tanpa mengucapkan apapun ia bangun dari tubuh Clara dan tidur diatas kasur. Clara yang masih dengan half naked itu mulai berjalan menuju meja rias, namun seketika ia gugup dan berusaha mengakhiri panggilan tersebut. Sedangkan Jack yang melihat gelagat aneh dari Clara hanya menatap gadis itu dengan bingung.

__ADS_1


“Siapa yang menghubungimu?” Mendengar pertanyaan Jack, seketika Clara berbalik dan seolah menyembunyikan ponselnya dibalik tubuhnya.


“Ti..tidak, Tuan Arthur menghubungiku. Ku..kurasa karena masalah kerjaan, aku sedang tidak ingin diganggu.” Clara kini berucap dengan cukup tenang. Tidak ingin membuat Jack curiga padanya.


“Siapa yang menghubungimu Chal?”


Tapi seolah sudah tahu Clara berbohong kini Jack menatapnya dengan tajam dan mulai berjalan kearahnya. Clara menelan salivanya, tatapannya mulai menunjukkan ekspresi ketakutan. Dengan kuat Jack membalikkan tubuh Clara dan mengambil ponselnya dari tangan gadis itu.


“Hm, Dean?” Pandangan Jack kini berubah menjadi begitu dingin, kini ia mengepalkan tangannya yang masih mengenggam ponsel Clara.


“Itu hanya masalah pekerjaan Jack. Aku mohon, aku mohon jangan sakiti aku.”


Tanpa menunggu ucapan Clara kini Jack mulai menarik tengkuk gadis itu dan mulai menciumnya dengan kasar, mengabaikan ringisan Clara yang merasa nyeri pada pipinya yang bengkak.


Jack kini mengusap darah pada mulutnya dan tersenyum miring. Dengan suara dingin pria itu mulai berucap.


“Tadinya aku ingin BERMAIN lembut Chal, tapi pria bernama Dean itu sepertinya mulai membuatku kesal.” Dengan sekali tarikan, kini Jack mulai menarik Clara menuju kamar mandi.


...----------------...


Clara mengerjapkan matanya, matanya terasa begitu berat dan seluruh badannya sangat sakit. Dan yang dapat ia lihat sekarang adalah langit-langit hotel dimana tempat ia dan Jack menginap. Clara menatap sekeliling, kamarnya begitu berantakan, bahkan ia full naked sekarang. Kemarin adalah malam paling menyiksa dalam hidupnya.


Dengan sisa tenaganya Clara bangkit dari tidurnya, ia menatap jam dinding besar. Waktu sudah menunjukkan jam lima sore. Gadis itu tersentak, ia benar-benar tidur seharian. Clara meringis kala sesuatu menancap di kakinya, ini adalah pecahan vas yang dipecahkan Jack semalam. Jack benar-benar sangat marah, tapi pria itu tidak memukulnya. Jack hanya mengikuti nafsunya saja.

__ADS_1


“Ah!”


Clara merasakan begitu nyeri dibagian vitalnya. Ia kembali terduduk, namun ia tersentak tatkala ponsel miliknya berdering. Dengan tertatih Clara berusaha menuju meja rias hotel.


“Ha.. Halo?”


“Halo putri tidur, aku kira kau pingsan dalam tidurmu Chal.” Clara tersenyum tipis ketika suara ledekan itu terdengar di telinganya.


“Tiff, ada apa?”


“Tidak, aku hanya khawatir dengan keadaanmu. Aku, Judy dan juga Anne sekarang berada di Bandara Roma. Pesawat akan take off beberapa menit lagi, tadinya aku ingin mengajakmu untuk pulang bersama Chal.” Clara hanya terdiam sesaat. Ia masih begitu beruntung memiliki sahabat yang begitu menyayanginya seperti keluarga.


“Em.. Entahlah Tiff, kurasa aku sedang tidak enak badan. Aku mungkin akan pulang dengan Jack.” Clara berucap pelan. Mendengar suara lesu Clara, Tiffany kini semakin khawatir.


“Kau baik-baik saja Chal? Pipimu, apa pipimu membaik? Jika kau demam, minta Jack untuk mengantarmu ke rumah sakit Chal.”


Mendengar nada khawatir pada ucapan Tiffany, Clara kini terdiam, matanya seketika berlinang. Ingin rasanya ia menceritakan kepada Tiffany mengenai kejadian semalam. Tapi tidak bisa, ia tidak bisa melakukannya.


“Aku baik-baik saja Tiff, aku ingin kembali istirahat. Aku tutup.”


Clara kini langsung mematikan panggilannya. Ia mulai menangis terisak. Ia akui, ia begitu bodoh masih mempertahankan Jack. Dan kini, ia hanya bisa bungkam ketika Jack melampiaskan semua nafsunya padanya. Gadis itu kini jatuh terduduk, mengabaikan pecahan kaca yang masih menancap di kakinya.


"Ibu, aku lelah. Apa yang harus kulakukan sekarang?”

__ADS_1


To be continue...


__ADS_2