
...Happy Reading ...
Jack menatap layar monitor miliknya, sudah hampir dua minggu setelah perdebatannya dengan Mary di kantornya. Kali ini Chris sudah mulai mengambil langkah untuk semakin menjatuhkannya, dan ia tidak boleh lengah.
Jack menatap figura foto dirinya dengan sang Ibu diatas meja. Tiga tahun setelah kematian sang Ibu dan ia masih sering meletakkan sebuket bunga krisan putih di makam Ibunya. Kepergian yang begitu membuatnya tertekan, salah satu penyebab membuatnya berubah menjadi seperti ini. Melihat Ibunya yang diam saja dikhianati membuat dadanya sesak, dan ia tidak akan tinggal diam untuk seseorang yang berani mengkhianatinya.
“Tuan.”
Mata Jack kini beralih pada asistennya yang tengah menatapnya. Jack mengerutkan keningnya, ada apa lagi? Hari ini seharusnya ia mengurusi hanya bagian internal perusahaan. Apa ada yang ingin menemuinya lagi?
“Nona Villegas ingin menemui anda.”
“Clara?”
Timmy – asistennya tampak mengangguk. Jack menarik napas dalam, hampir dua minggu ini ia tidak menemui Clara. Bukankah seharusnya Clara dapat bersenang-senang dengan Tiffany dan beberapa kawannya? Tapi yang pasti ia tetap menyuruh beberapa bawahannya untuk melaporkan padanya kemana dan dengan siapa Clara pergi.
Ia sebenarnya sadar, ia terlalu menekan Clara. Tapi itu untuk kebaikan gadis itu, ia tidak ingin kejadian tiga tahun lalu kembali menimpanya. Itulah alasan terbesarnya untuk membuat Clara tidak dekat dengan pria manapun.
“Biarkan ia masuk.”
“Baik, Tuan.”
Pintu ruangannya seketika terbuka, Jack dapat melihat Clara dengan blouse biru laut kesukaannya. Clara tampak sangat cantik hari ini. Apa ia tidak bekerja hari ini? Namun Jack baru menyadari saat ia melihat hari Minggu pada layar monitornya. Bukannya Clara yang tidak bekerja, tetapi dirinyalah yang terlalu gila kerja.
“Ada apa?”
“Aku sudah memutuskan Jack.”
Clara berucap pelan, seketika Jack tersenyum simpul. Apa Clara menuruti keinginannya? Apa ia ingin menggugurkan bayinya? Jelas, jika bukan karena itu untuk apa ia datang ke kantornya? Ia sudah memberikan waktu satu bulan untuk gadis itu menyiapkan semuanya, dan ini baru dua minggu dan gadis itu sudah menemuinya.
Clara kini berjalan menuju kursi tepat dihadapannya, gadis itu merogoh sesuatu dalam tas jinjing yang dibawanya. Jack tersentak saat gadis itu kini mengeluarkan black card miliknya dan juga sebuah debit card dan meletakkannya diatas meja.
__ADS_1
“Aku sudah menabung untuk menggantikan hutangku dulu padamu.” Jack menatap Clara dengan bingung.
Gadis itu kembali merogoh sesuatu didalam tasnya dan meletakkan sebuah kunci diatas meja. Jack tahu, ini adalah kunci rumah yang ia berikan kepada Clara enam tahun lalu.
“Aku dan Ibuku sudah pindah dari sana satu minggu lalu.” Ucap Clara dengan tenang, Jack menatap Clara tidak percaya, pria itu tersenyum sinis.
“Kau pindah tanpa seizinku?!”
Clara dapat melihat Jack kini menatapnya marah. Ia sudah tidak peduli lagi, tekanan yang Jack berikan padanya jauh lebih besar dari apa yang ia terima. Walaupun Jack akan menyiksanya sekalipun, ini tetap keputusannya.
“Aku akan mempertahankan bayi yang kukandung Jack, tidak peduli bagaimana keputusanmu.”
Clara dapat melihat dengan jelas kini Jack mengepalkan tangannya kuat. Ia selalu menuruti semua keputusan Jack, tapi tidak untuk kali ini. Nyawa yang tidak berdosa menjadi taruhannya, dan ia tidak akan membiarkan itu terjadi.
“Apa kau tahu orangku mengikutimu?”
Tatapan tajam Jack kini ia layangkan pada Clara. Bisa-bisanya bawahannya itu tidak ada yang melapor tentang kepindahan Clara. Clara menatap Jack dengan datar.
“Aku yang paling mengenalmu Jack, dan aku mengerti bagaimana caramu bermain.”
“Jangan menemuiku lagi jika kau masih tidak bisa menerima bayiku." Clara kini memberi jeda pada ucapannya dan menatap Jack dengan tajam.
...Atau aku benar-benar akan menghilang dari hidupmu selamanya.”
Selesai mengucapkan kalimatnya Clara kini keluar ruangan, meninggalkan Jack dengan rasa amarahnya yang terpendam. Jack berteriak keras dan mulai mengacak semua barangnya yang tersusun rapi diatas meja.
Dan ia memukul meja dengan cukup kuat, membuat memar merah pada punggung jarinya. Dadanya naik turun karena amarah, Clara mulai pintar bermain. Ia bahkan sudah tidak tahu bagaimana aktifitas Clara diluar sana, semua laporan yang diterimanya pasti akal-akalan Clara untuk mengecoh dirinya.
Sebuah deringan ponsel kini menggelitik telinganya, dengan cepat Jack mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan menatap nomor yang terpatri di ponselnya. Ia tahu, ia mengingat dengan jelas nomor ini.
“Halo?”
__ADS_1
“Tuan Muda, Tuan Besar ingin menemui anda.” Jack tersenyum sinis.
“Ayahku?”
...----------------...
“Silahkan masuk, Tuan.”
Tanpa menunggu lagi Jack langsung mendobrak pintu ruang kerja sang Ayah. Setelah hampir tiga tahun terakhir Ayahnya itu tidak pernah menghubunginya dan kini dengan seenak mulutnya ia memerintahkannya untuk datang.
“Sudah kubilang untuk tidak menghubungiku lagi!”
Tuan Hilton menatap Jack dengan datar, pria paruh baya itu kembali menatap layar monitor miliknya. Seolah kedatangan dan juga teriakan Jack tidak terlalu berkesan untuknya. Melihat sang Ayah yang seolah tidak memperdulikannya, Jack mengepalkan tangannya kuat. Jika bukan ia masih menganggap manusia dihadapannya adalah Ayahnya, sebuah tinju sudah ia layangkan pada pria itu.
“Tuan Thompson ingin menjodohkanmu dengan Mary, acara pernikahanmu akan diadakan enam bulan dihitung hari ini.” Mendengar ucapan sang Ayah, Jack tersenyum sinis.
“Apa kau sudah gila?” Mata Tuan Hilton kini beralih pada Jack, tatapan tidak pedulinya itu kini menatap Jack dengan dingin.
“Cari wanita yang memiliki manfaat untukmu dan perusahaanmu, jangan gadis bodoh dengan banyak hutang.”
Jack kini mengepalkan tangannya kuat. Setelah membuat Ibunya meregang nyawa bisa-bisanya ia menghina Clara. Sebenarnya beberapa kali Clara pernah berjumpa dengan Ayahnya, namun reaksi sang Ayah selalu terlihat tidak suka dengan Clara. Itulah salah satu penyebab ia begitu jarang berkomunikasi dengan Tuan Hilton, bahkan jauh sebelum Ibunya pergi.
“Apa istri baru mantan sekretarismu itu bermanfaat bagi perusahaanmu? Bukankah dia hanya wanita malam yang gila harta?”
“Jaga ucapanmu, Jack Hilton!”
Jack dapat melihat dengan jelas sang Ayah kini mulai berdiri dan menatapnya dengan tajam. Jack menyeringai, ini yang ia sukai, melihat Ayahnya tersulut amarah.
“Ibuku orang terpandang tapi kau masih memilih sekretarismu itu. Kurasa aku mengikuti jejakmu. Dan juga, wanitaku bukan bekas wanita malam. Kau lebih buruk dariku!"
Tuan Hilton kini mulai berjalan kearah Jack, dan satu tamparan keras kini ia berikan pada pipi kanan sang anak. Jack mengepalkan tangannya kuat dan memandang pria paruh baya dihadapannya dengan tajam.
__ADS_1
“Jangan pernah mencoba mengatur hidupku lagi, atau kau akan menyesalinya!”
To be continue...