Toxic Relationship

Toxic Relationship
Disclosed


__ADS_3

...Happy Reading ...


Dean mulai berjalan tergesa-gesa, setelah ia menerima kabar dari Tiffany bahwa Clara sakit. Dan kini ia datang dengan membawa surat izin yang telah ditanda tangani oleh Tuan Arthur. Sebenarnya jika itu untuk Clara, ia rasa tanda tangan Tuan Arthur sangat tidak perlu. Namun Tiffany mendesaknya meminta tanda tangan untuk formalitas.


Tiffany sendiri pernah bercerita mengenai kekasih Clara yang memiliki saham 75% di perusahaan ini. Bahkan Tiffany juga bercerita mengenai sikap karyawan disini terhadap Clara. Kadang sifat iri dengki manusia memang pantas di neraka.


Setelah berhadapan dengan pintu ruangan kerja Clara, Dean kini berhenti dan mengetuk pelan pintu itu. Ia tidak ingin menganggu siapapun yang berada di dalam sana karena kekhawatirannya.


“Masuk!”


Dean mendengar suara Tiffany dari dalam, dan tanpa berkata apapun lagi Dean langsung membuka pintu dan mendapati Tiffany yang sedang duduk di sofa dengan Clara yang masih tertidur pulas di sofa lainnya. Tanpa ingin menganggu istirahat Clara, Tiffany kini berdiri dan berjalan menuju Dean.


“Kurasa Clara sedang demam, bisa kau jaga dia sebentar? Aku harus menggantikan Clara untuk rapat dengan Tuan Arthur. Setelahnya aku akan mengantar dia pulang.”


“Baiklah.”


Tanpa mengucap apapun lagi, Tiffany kini keluar ruangan, terlihat sekali gadis itu terburu-buru dengan membawa sebuah flashdisk ditangannya. Mungkin itu berkas yang diberikan Clara padanya.


Pandangan Dean beralih kepada Clara yang masih berbaring diatas sofa, ia seperti bayi kecil yang kelelahan. Setelah Dean mendekat, ia menatap luka lebam pada pipi kiri Clara. Bahkan dua minggu telah berlalu tapi memar itu tak kunjung hilang. Dean menatap Clara prihatin.


Dean berjalan mendekat dan duduk diatas sofa yang tadi diduduki Tiffany. Dengan jarak yang begitu dekat, luka lebam Clara sebenarnya jauh lebih membaik dari sebelumnya. Pipinya yang bengkak membiru kini mulai mengecil seperti semula.


“Dean, kau disini?” Dean tersentak saat ia kini menatap mata Clara yang membuka. Ia sudah ketahuan memandangnya saat tertidur, dan itu membuatnya malu.


“A..aku, Tiffany menyuruhku untuk menjagamu se..sebentar.”

__ADS_1


Melihat wajah Dean yang mulai memerah, Clara tersenyum kecil. Mengapa pria ini begitu lucu dan polos secara bersamaan? Itu membuatnya terlihat mengggemaskan. Jika Dean masih anak-anak ia akan memeluknya dan mencubit pipi gemasnya itu. Terlebih pipi Dean memang tembam.


“Aku membawamu segelas teh hangat, tanpa gula.”


Clara tersenyum, bahkan baru satu bulan ia mengenal Dean, pria itu sudah tahu apa yang ia sukai, sangat berbanding terbalik dengan Jack. Pria itu hanya memikirkan dirinya tanpa ingin tahu apa yang ia inginkan.


"Aku tahu jika ini bukan waktu yang tepat Chal. Tapi apa boleh aku menanyakan sesuatu padamu?"


Clara memandang Dean yang terlihat menatapnya penasaran. Sedangkan Clara merasakan perasaannya tidak enak. Beberapa menit lalu Tiffany sudah tahu mengenai luka lebam ditubuhnya. Apa Dean juga akan menanyakan itu padanya?


"Ada apa Dean? Apa yang ingin kau tanyakan?" Clara kini bangun dari tidurnya. Dan menyeruput teh hangat yang diberikan Dean.


“Apa selama ini Jack menyakitimu Chal?”


Uhuk!


“Kau ini bicara apa Dean?”


“Aku melihat Jack menamparmu dihari dimana kita bertiga makan malam.”


Clara terdiam, ia meletakkan teh hangat yang berada digengamannya. Tidak, seharusnya kaca mobil Jack jenis kaca reborn, seharusnya siapapun tidak bisa melihatnya dari luar, seharusnya Dean tidak mengetahui ini semua.


“Kau pasti salah lihat Dean, tidak mungkin Jack-“


“Aku mendengar semua percakapanmu dengan Jack di Italia. Kau tidak mematikan panggilanku, aku mendengar kau memohon pada Jack untuk tidak menyakitimu.”

__ADS_1


Clara terdiam ia sudah terpojok sekarang. Ia mengingat kejadian dua minggu lalu saat di Italy. Dean memang menghubunginya, tapi jelas-jelas ia sudah mematikan panggilannya. Apa itu kesalahannya?


"Jujur padaku Chal! Apa selama ini Jack menyakitimu?" Dean kembali bertanya. Ia ingin Clara terbebas dari pria seperti Jack. Ia ingin membantunya.


"Tidak, Dean. Aku tidak-"


"Aku akan membantumu, aku akan membantumu lepas darinya!"


Plak!


Dean tersentak kala satu tamparan keras dilayangkan Clara padanya. Ia menatap Clara, kini Clara sudah duduk dihadapannya dengan linangan air mata. Dengan cepat Clara mengusap air matanya.


“Kau tidak tahu apapun mengenai hubunganku dengan Jack, Dean. Kau pasti sedang bermimpi saat itu.”


“Chal, kau bisa mendapatkan yang jauh lebih baik dari Jack, kau tidak pantas disakiti. Sampai kapan kau mempertahankan hubungan seperti ini?” Dean menatap Clara nanar. Ia tidak tahu Clara sudah begitu terbuai dengan Jack atau gadis itu malah takut dengan ancaman Jack padanya.


“Pergi.” Clara berucap pelan, sebenarnya ia sudah tidak memiliki cukup tenaga untuk marah.


“Aku bisa membantumu Chal, aku bisa membuatmu lepas dari-“


“Kubilang pergi!”


Clara kini menutup wajahnya, Dean hanya menghela napas dan menatap Clara. Ia salah, seharusnya ia tidak bicara seperti itu disaat tubuh Clara yang sedang drop. Gadis itu pasti malah semakin tertekan sekarang. Dean menghela napas.


“Maaf, aku minta maaf jika kata-kata ku menyakitimu Chal. Aku hanya ingin membantu, dan kuharap kau mengerti.”

__ADS_1


Dean berucap dengan lembut dan meninggalkan ruangan Clara. Meninggalkan Clara dengan perasaan tertekan. Ada yang mengetahui perilaku Jack padanya sekarang, apa yang harus ia lakukan?


To be continue....


__ADS_2