Toxic Relationship

Toxic Relationship
The Truth (2)


__ADS_3

...Happy Reading ...


Jack kini menatap sang Ayah dengan sendu, sekarang semuanya sudah terkuak. Hampir beberapa tahun terakhir penyesalan sang Ayah terungkap. Jack tersenyum sinis, entah harus bagaimana ia menanggapinya. Sekarang ia tahu mengapa obsesinya kepada Clara begitu besar, itu semua menurun dari sang Ayah.


“Jika memang kau akan menyesal, mengapa dulu kau begitu menyia – nyiakannya?”


Jack tersenyum sinis kearah sang Ayah yang masih terbaring koma, dengan perlahan ia menatap kearah lain, perlahan matanya mulai memanas. Dan tetes demi tetes air mata kini keluar. Dadanya terasa begitu sesak. Semua karena tape itu, tape sialan yang diberikan Judy padanya tiga hari lalu.


Tape yang berisikan curahan hati sang Ayah untuk Ibunya, rekaman yang berdurasi hampir satu jam lamanya. Dan yang paling mengejutkan dari semuanya adalah jasad sang Ibu yang diawetkan terlihat begitu jelas terekam disana.


Makam yang selama ini selalu ia kunjungi dengan membawa bunga krisan ternyata kosong. Dengan gilanya sang Ayah telah mengambilnya secara diam-diam dan diawetkan kedalam lemari es besar tepat disebelah kamar tidurnya. Dan bodohnya para bawahan Ayahnya yang melaksanakan itu semua. Ini semua benar-benar sudah gila.


“Semua baru kuketahui beberapa bulan lalu, aku sudah mengembalikan jasad Ibu ke makam yang seharusnya. Dan itu membuat Ayah tertekan. Selama kau di sel tahanan Ayah masuk rumah sakit jiwa untuk psikoterapi, tapi sekarang mentalnya sudah jauh lebih baik. Maka dari itu kumohon Jack, jangan membuat Ayah kembali tertekan.”


Kata – kata Judy tiga hari lalu terus terngiang-ngiang di kepalanya. Mata Jack kini kembali beralih menatap sang Ayah. Jack mengepalkan tangannya kuat, berusaha begitu keras menahan isakannya supaya tidak terdengar.


“Maaf, maafkan aku.”

__ADS_1


Ujar Jack disela tangisnya, mengapa ia baru mengetahui ini semua? Ayahnya pasti sangat tertekan, terlebih dengan sifat keras kepala dirinya. Jack tersenyum tipis disela tangisnya. Jika kematian Clara telat dihadapannya, apa ia juga akan melakukan hal yang sama?


Jack kini harus tersentak ketika suara derit pintu terbuka. Dengan cepat ia menghapus buliran air matanya. Tepat di depan pintu kini terdapat Nyonya Hilton dengan membawa sekeranjang buah, tidak ia sudah mengetahui kebenarannya. Wanita dihadapannya itu kini sudah tidak menyandang status sebagai ibu tirinya. Perceraian itu sudah ia dengar dari Judy, dan bagaimana wanita dihadapannya ini berjuang merawat sang Ayah namun akhirnya ia memilih untuk menyerah.


“Kau baik-baik saja Jack?”


Melihat wajah Jack yang begitu muram, mantan ibu tirinya itu tampak begitu khawatir. Hampir tiga hari belakangan ini Jack tidak tidur bahkan hanya sedikit makan. Wajahnya begitu pucat, sedangkan Judy harus menghandle dua perusahaan sekaligus. Jack seolah sudah kehilangan semangat hidupnya.


“Kau seharusnya istirahat Jack, aku akan menunggu Ayahmu sementara."


“Maaf.”


“Tidak, tidak ada yang perlu minta maaf disini.”


“Maaf karena perlakuan Ayahku padamu dan terimakasih banyak masih menyempatkan datang kesini, Ibu.”


Wanita paruh baya itu kini menatap kearah lain, matanya mulai berkaca-kaca. Ia tidak bisa menahan rasa bahagianya karena ucapan Jack. Untuk pertama kalinya Jack memanggilnya dengan sebutan Ibu. Perjuangan beratnya selama bertahun-tahun seolah terbayar sudah. Namun dengan cepat wanita itu menghapus air matanya dan mulai tersenyum.

__ADS_1


“Sebaiknya kau istirahat, aku akan menggantikanmu disini.” Ujar wanita itu dan menepuk bahu Jack lembut, Jack hanya mengangguk dan menuju pintu keluar.


“Jika sebutan Ibu membuatmu tidak nyaman, kau bisa memanggilku Nyonya Turner. Donna Turner, itu nama asliku.”


Ujar Nyonya Turner dengan senyuman tipis. Jack terdiam sejenak sebelum mengangguk dan mulai membuka knop pintu. Jack menarik napas dalam dan menyadarkan tubuhnya pada pintu dibelakangnya. Ia memejamkan matanya beberapa saat, rasa kantuk dan lelah kini begitu terasa.


“Jack?”


Jack kini mendongak kala seseorang memanggil namanya, tepat dihadapannya kini telah berdiri Clara yang menatapnya dengan khawatir.


Jack terdiam sesaat, dadanya tiba-tiba terasa begitu sesak. Seolah kenangan dengan sang Ibu kandungnya berada tepat di depan mata. Bayangan Clara kini telah berganti dengan sesosok yang selama ini begitu ia rindukan, berdiri dengan sebuah senyuman. Senyuman karena ia sudah memperbaiki hubungan dengan semuanya.


“I.. Ibu?"


Clara kini mulai berlari kearah Jack, bayangan yang semula ibunya itu kini kembali menjadi sosok Clara yang memeluknya erat. Diluar dugaan, Jack kini mulai menangis. Air mata yang sedari tadi ia tahan seolah meledak begitu saja, ia membalas pelukan Clara dengan begitu erat, seolah tidak ingin kehilangan gadis itu untuk selamanya.


Sedangkan Clara terdiam hanya terdiam, sungguh ia tidak mengetahui dengan apa yang telah terjadi. Beberapa menit lalu Judy menghubunginya untuk datang ke rumah sakit, dan ia mengira jika terjadi sesuatu dengan Jack. Namun melihat ia tampak baik-baik saja membuatnya begitu lega. Tapi tangisan memilukan Jack membuatnya begitu bingung. Clara mengelus punggung Jack lembut.

__ADS_1


“Tetaplah bersamaku selamanya Chal.”


To be continue...


__ADS_2