
...Happy Reading ...
"Astaga Clara, gaunnya sangat cocok di tubuhmu!"
"Kau sangat cantik Clara!"
Clara tersenyum canggung. Beberapa pujian sudah ia dengar sejak kedatangannya lima belas menit yang lalu. Entah sebagus apa gaun ini ditubuhnya, namun ia sangat tidak nyaman. Bagaimana pahanya yang begitu terekspos, ini bukan stylenya. Ini bukan gayanya. Tiffany yang mencarikan gaun ini untuknya beberapa hari lalu.
Hari ini tepat dimana acara kantornya diadakan, merayakan kesuksesan salah satu produk baru yang bisa booming dengan penjualan terbanyak bulan ini. Sebenarnya ia tidak ingin datang malam ini, namun Tiffany begitu memaksanya. Bahkan gadis itu selalu meneleponnya setiap setengah jam sekali untuk memastikan ia datang.
“Clara!”
Clara memicingkan matanya, nampak dari kejauhan ia dapat melihat Tiffany yang sedang tersenyum lebar padanya. Dengan gaun simple seperti itu bahkan Tiffany bisa sangat cantik.
“Kau tidak bersama Jack?”
Mendengar pertanyaan Tiffany, Clara terdiam. Sudah hampir dua minggu sejak pertemuannya dengan Jack di kantor pria itu. Bahkan Jack sama sekali tidak berinisiatif untuk sekedar menemuinya. Toh seharusnya ia tidak harus ambil pusing, mungkin memang Jack sudah memilih untuk mengakhiri hubungan mereka.
“Jack tidak datang hari ini, dia begitu sibuk.”
Tiffany tampak mengangguk mendengar ucapan Clara. Clara menatap sekelilingnya, tempat ini begitu ramai, jauh dari ekspetasinya. Awalnya ia kira hanya untuk beberapa karyawan saja, tapi nyatanya ia salah. Bahkan beberapa investor datang dengan setelan yang begitu mewah. Tapi Clara begitu tahu jika Jack tidak akan datang, terlebih bagaimana sikapnya pada pria itu beberapa hari lalu. Jack pasti tidak ingin menemuinya.
__ADS_1
“Clara, bukankah itu Jack?”
Tiffany kini menepuk bahu Clara dan menunjuk pada sebuah limousine mewah yang berhenti tepat didepan pemberhentian red carpet. Beberapa orang kini berpaling menatap mobil mewah itu, inikah sebabnya Tuan Arthur memberikan red carpet? Jack akan datang? Karena begitu janggal jika Tuan Arthur menyiapkan acara semewah ini selain untuk Jack. Ia sangat tahu bagaimana Tuan Arthur yang begitu menghormati Jack.
Mata Clara kini menatap pintu limousine yang mulai terbuka, jantung Clara berdetak kencang. Itu investor lain, itu investor lain, itulah kira-kira yang ia harapkan, namun nyatanya Clara salah. Dari dalam limousine Jack keluar dengan setelan jas hitam rapi dengan menggandeng seorang gadis dengan gaun merah yang menjutai kebawah.
“Clara, aku tidak salah lihat kan? Gadis itu memang Mary kan?”
Tiffany kini menatap kearah Clara, sedangkan gadis itu masih menatap intens Jack dan juga Mary yang berjalan memasuki gedung. Terlihat begitu jelas ada tatapan sedih dan kekecewaan yang besar pada pandangan Clara untuk keduanya. Tiffany menyentuh bahu Clara dan mengelusnya pelan, berusaha menenangkan sahabatnya.
Ia sebenarnya juga tidak tahu apa yang terjadi antara Clara dan juga Jack. Ia mempercayai Clara bahwa Jack memang begitu sibuk. Tapi melihat Jack yang menggandeng wanita lain di acara kantor Clara, seolah sudah memperjelas semuanya.
“Are you okay, Chal?”
Tanya Tiffany lembut, Clara menoleh pada gadis Amerika itu dan tersenyum tipis. Bukankah ini yang memang ia inginkan? Bukankah Jack hanya sedang memperjelas hubungan mereka? Tapi tidak bisakah tidak dengan Mary? Enam tahun ia bersabar dengan semua sikap Mary padanya dan kini ia tetap kalah dengan gadis itu? Lalu kesabarannya selama ini adalah waktu yang sia-sia.
......................
Mata Clara kini terus mengawasi dari jauh kedekatan Jack dan juga Mary. Entah apa tujuan Jack melakukan hal ini, tapi sungguh ini sangat menyakitinya. Apa Jack sedang memberinya pelajaran? Tidak, tidak, Jack bukan tipe yang suka bermain dengan orang ketiga.
Setelah pembicaraan singkat dari Tuan Arthur diatas panggung, kini Jack dipanggil untuk giliran selanjutnya. Mata Clara terus mengawasi, bahkan dari pria itu berjalan menuju panggung hingga ia berada didepan microphone untuk berbicara. Hampir setiap wanita kini menatap kagum kearah Jack, selain tampan, Jack juga memiliki karismatik yang begitu luar biasa, terlebih bagaimana public speaking Jack yang begitu baik.
“Saya juga mengucapkan terimakasih banyak untuk rekan-rekan yang sudah berusaha semaksimal mungkin untuk memajukan AR Group."
__ADS_1
Clara menatap Jack dengan intens, seolah ia terpana seperti kebanyakan wanita lainnya. Namun tatapan kagum itu berubah menjadi kejutan ketika mata Jack kini menatapnya.
"Dan untuk Nona Villegas, terimakasih banyak atas idenya mengenai produk ini yang begitu briliant.”
Jack menatap Clara dengan senyuman lebar, Clara hanya tersenyum canggung terlebih beberapa tepuk tangan kini mengarah padanya. Ia membenci menjadi pusat perhatian.
“Dan untuk tunanganku Mary Thompson, terimakasih banyak sudah menemaniku hingga di titik ini.”
Mendengar ucapan Jack diatas panggung, seketika Clara meremas tangannya. Bahkan beberapa rekan kerjanya mulai menoleh kearahnya, karena mereka sangat tahu jika Clara adalah kekasih si investor besar. Clara merasakan dadanya begitu sesak, enam tahun ia bersama Jack dan Mary adalah seseorang yang Jack banggakan, terlebih di kantornya, di depan semua rekan kerjanya. Apa Jack memang berniat untuk mempermalukannya?
Dean yang kini duduk disebelah Clara hanya menatap gadis itu dengan sedih. Bagaimana Clara yang terus menerus menolaknya karena berusaha menjaga perasaan Jack, kekasihnya. Namun kini Jack malah berbalik mengkhianatinya.
Setelah selesai mengucapkan beberapa kata, Jack kembali turun dari atas panggung dan menghampiri Mary. Bahkan Jack seolah begitu sungkan hanya untuk sekedar menatapnya.
“Clara, kau baik-baik saja?”
Tanya Dean pelan, sedangkan Tiffany yang juga berada disebelah sisinya yang lain juga menatap Clara cukup khawatir. Clara cukup tertutup dengan mereka berdua, terlebih mengenai masalahnya dengan Jack, dan kini mereka tidak tahu apapun mengenai hubungan Clara saat ini.
Tapi yang Tiffany tahu adalah, Jack tidak pernah mempublikasikan mengenai hubungannya dengan Clara, walaupun mereka bermesraan secara terang-terangan, tetapi Jack tidak pernah menyebut Clara dalam sebuah acara kantor.
Awalnya Tiffany berpikir karena Jack yang tidak ingin mencampurkan antara kehidupannya dengan dunia profesionalnya. Namun melihat Jack yang sekarang menyebut nama wanita lain membuat Tiffany seolah mengerti hubungan Clara dan Jack yang sudah berakhir.
Mendengar pertanyaan khawatir Dean, Clara tetap tidak bergeming. Matanya masih fokus menatap Jack yang berjalan menuruni tangga, namun seketika air mata Clara yang sedari tadi ia tahan turun seketika. Matanya dengan sangat jelas menangkap Jack yang mengecup bibir Mary sekilas dan memeluk gadis itu. Clara tersenyum kecut dan tanpa bicara apapun lagi, ia meninggalkan ruangan.
__ADS_1
“Dean, temani Clara. Aku akan bicara dengan Jack.” Dean kini tampak mengangguk dan mengikuti ucapan Tiffany.
To be continue...