
...Happy Reading ...
“Kau tidak tidur lagi Chal?”
Clara kini melirik Tiffany lemah dan kembali menatap ponselnya dengan malas. Ini sudah hari ketiga ia dirawat di rumah sakit, dan kehidupannya begitu membosankan. Bahkan ia tidak diperbolehkan untuk berjalan-jalan di area rumah sakit. Ayolah, ia hanya melukai sedikit lehernya, bukannya lumpuh.
“Apa aku boleh pulang?”
Clara menatap Tiffany dengan pandangan memohon, entah mengapa Tiffany selalu menemaninya di rumah sakit. Bahkan ia tidak pernah melihat Tiffany jauh darinya lebih dari dua jam. Apa Tiffany tidak bekerja? Itu yang selalu ia tanyakan, tapi ia berkata Tuan Arthur mengizinkannya untuk cuti. Dan ia sangat tahu itu adalah perintah dari Jack.
“Kau tidak boleh kemanapun sebelum sembuh total.”
“Sembuh total? Ayolah Tiff, bahkan lukanya sudah mulai menghilang. Apa aku harus tetap disini sampai leherku yang menghilang?”
“Kau tahu kan Chal bukan aku yang memberi perintah disini.”
Clara hanya menarik napas dalam dan membuangnya dengan sangat kesal. Tiffany benar, ia disini hanya menemaninya saja, dan pasti ia tidak ingin terlibat dengan masalah besar jika mengizinkannya untuk keluar.
“Apa Jack baik-baik saja?”
Tiffany yang sedari tadi fokus mengupas apel itu kini menatap Clara, Clara terlihat tampak sedih dan murung. Bagaimana tidak, bisa-bisanya kekasihnya itu tidak menemuinya setelah ia sadar, dan ini hampir menjelang hari keempat. Sesibuk apapun Jack, seharusnya pria itu bisa meluangkan waktu sedikit untuk mengetahui kondisi Clara. Terlebih karena pria itulah Clara menjadi seperti ini.
“Jack menggumu semalaman saat di hari kejadian, mungkin pria itu hanya sedang sibuk." Ujar Tiffany berusaha menenangkan sahabatnya itu. Tiffany dapat melihat dengan jelas Clara yang masih begitu peduli dengan Jack, terlebih saat pria itu membawa gadis lain di acara kantornya.
“Lupakan Jack untuk sementara waktu Chal! Sekarang yang terpenting adalah kesehatanmu.”
Ucap Tiffany menyemangatinya. Sebenarnya Tiffany masih belum tahu mengapa Jack secara tiba-tiba menyerang Dean di kantor mereka. Dan ia belum menanyakannya kepada Clara. Tiffany mengerti, pasti Clara akan menceritakan semua kepadanya disaat yang tepat. Clara hanya membutuhkan sedikit waktu.
“Aku merindukan Ibuku Tiff. Apa Ibuku baik-baik saja? Ia pasti sangat mengkhawatirkanku.”
Tiffany menatap Clara dengan sedih, ia hanya bisa menarik napas dalam dan membuangnya perlahan. Memang, hampir setiap malam Clara menelepon Ibunya, tapi ia sangat mengerti jika itu tidak akan cukup mengobati rindunya. Bagaimanapun, Clara hanya memiliki Ibunya sekarang.
“Apa kau tidak bisa tidur akhir-akhir ini karena teringat Ibumu?”
__ADS_1
Clara menatap Tiffany dengan pandangan sedih. Ia sangat merindukan Ibunya, bagaimanapun ia sangat takut jika Ibunya kembali depresi. Hampir setiap malam Ibunya menanyakan keadaannya, ia berbohong kepada Ibunya bahwa ia sedang berlibur bersama Jack di luar negeri. Tetapi firasatnya, Ibunya tahu jika ia tengah berbohong, Jack tidak mungkin membawanya kemanapun tanpa seizin ibunya, terlebih ia juga tidak mengemas apapun di rumah.
“Aku memang memiliki insomnia ketika sedang stress, aku selalu meminum obat tidur. Tapi dokter melarangnya disini.”
“Kurangi over thinkingmu Chal, makanlah buah ini dulu.”
Tiffany kini menyodorkan mangkuk yang berisi buah apel yang telah dipotong ukuran dadu. Clara kini melahap buah itu secara perlahan, Tiffany menatap Clara prihatin. Sejujurnya ia juga cukup bersalah kepada Clara. Sebagai seorang sahabat baik, ia selalu tidak bisa membantu Clara dalam keadaan apapun, sedangkan Clara begitu banyak membantunya. Sebenarnya ucapan Jack beberapa hari yang lalu adalah sebuah kebenaran, ia tidak tahu apa-apa mengenai Clara, ia bodoh.
“Apa Dean baik-baik saja Tiff?” Tanya Clara pelan, Tiffany tahu ada rasa takut dalam pertanyaan itu.
“Yeah, baik-baik saja. Hanya luka memar di seluruh wajahnya.”
“Tiff, aku serius!”
“Apa kau pikir Dean akan baik-baik saja setelah apa yang dilakukan Jack padanya?”
Clara menatap Tiffany dengan pandangan bersalah, walaupun ia tahu jika itu bukan ditujukan kepadanya. Tapi Tiffany mengerti, secara tidak langsung pasti Clara juga menyalahkan dirinya sendiri.
“Kau tahu Chal, Jack berbahaya. Ia pria yang sangat berbahaya.”
“Apa aku harus menemui Dean?”
“Apa kau ingin Dean merasakan pukulan Jack untuk kedua kalinya?”
Cklek!
Tiffany dan Clara yang tengah berdebat itu tampak terkejut ketika secara tiba-tiba pintu terbuka. Clara menatap seseorang didepan pintu dengan gugup. Setelah tiga hari pria itu tidak menampakkan batang hidungnya, dan sekarang disinilah ia. Jack Hilton. Pria yang sudah membuat Dean terbaring di rumah sakit.
“Aku lapar Chal, aku akan cari makan di luar.”
Ucap Tiffany dan keluar ruangan, ia hanya ingin memberi space antara Clara dan juga Jack. Tiffany tahu, inilah yang di harapkan Clara, kedatangan Jack untuk menemuinya.
Setelah Tiffany meninggalkan ruangan, kini pandangan Clara menatap kearah lain, berusaha untuk tidak menatap Jack. Sedangkan pria itu tampak menatap Clara dengan pandangan bersalah, bagaimanapun Clara bisa senekat ini juga karena aksinya. Dan ia tidak menutup mata akan hal itu.
__ADS_1
“Kau baik-baik saja?”
Tanya Jack dengan lembut. Clara masih tidak bergeming, ia masih menatap kearah lain. Jack menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan. Ia kini mulai melangkah mendekat kearah Clara. Begitu banyak yang harus ia urus belakangan ini sampai ia tidak sempat mengunjungi Clara.
“Maaf, mengenai Dean.”
Mendengar ucapan tulus dari Jack, Clara menatap kearah pria itu. Ia dapat melihat Jack yang memandangnya cukup dalam. Apa terjadi sesuatu? Tidak biasanya Jack bersikap seperti ini.
“Ucapan maafmu itu seharusnya bukan untukku, tapi untuk Dean.”
"Ada beberapa hal yang harus kau ketahui Chal."
Kali ini ucapan Jack seolah benar-benar membuat Clara memandangnya. Jack terlihat begitu gelisah, dan itu membuat Clara bingung. Ia bukan seperti Jack yang biasanya.
“Aku akan melamar Mary.”
Ucapan tiga kata dari Jack kini sanggup membuat Clara seketika bungkam. Apa ia tidak salah dengar? Setelah apa yang dilakukan Jack kepada Dean dan itu karena dirinya. Dan bisa-bisanya ia berkata akan melamar gadis lain? Lalu untuk apa ia menyakiti Dean?
Clara tidak sanggup untuk menjawabnya. Setelah enam tahun perjalanan hubungan mereka dan seperti inikah akhirnya? Tidak, tidak pasti Jack memiliki alasan lain. Tapi menduanya? Setelah ia bertahan sejauh ini? Seketika dada Clara terasa begitu sesak.
“Kau hanya perlu diam dan jangan lakukan apapun Clara.”
“Aku harus diam ketika kau akan menikahi Mary?”
Clara tersenyum kecut. Memang sedari awal ia terlalu memaksakan hubungannya dengan Jack. Orang terpandang akan tetap berpasangan dengan orang terpandang, dan ia tidak bisa menolak itu. Walaupun seberapa lama ia memiliki hubungan, dan seberapa keras ia mempertahankannya, ia tetap tidak bisa menolak.
“Memangnya aku bisa melakukan apa, benar kan?”
Clara menatap kearah lain dan meremas dadanya kuat. Sial! Didalam sana begitu sesak.
“Aku minta maaf Chal, aku minta maaf.” Ucap Jack pelan.
‘Kuharap semua berjalan dengan cepat Chal, dan kumohon tetap menungguku.'
__ADS_1
To be continue...