
...Happy Reading...
Clara kini menatap arloji miliknya, sekarang pukul sepuluh pagi. Setelah ia bertempur tadi pagi dengan beberapa pengunjung. Kini Clara meregangkan tubuhnya dan menatap sekitar. Tempatnya sudah begitu kotor, bahkan beberapa stok roti sudah mulai kosong. Hari ini tepat dimana salah satu karyawan yang seharusnya menggantikan dirinya untuk menyambut pengunjung tengah libur, hanya ada sekitar dua orang pegawainya di bagian produksi. Dan kini ia harus bebersih toko sendirian. Memiliki usaha yang masih kecil adalah hal yang tidak mudah. Pekerjaannya begitu banyak tapi ia harus menghemat budget dalam hiring karyawan.
Namun saat Clara akan beranjak untuk melakukan pembersihan, seorang pria yang terlihat memiliki usia pertengahan kepala tiga itu tampak memasuki toko. Clara hanya menatap pria itu dengan senyuman.
Namun Clara dapat melihat begitu jelas pria itu tampak menatap sekitar dengan pandangan merendahkan. Clara berdecak, seharusnya ia membersihkan tokonya sedari tadi, pria itu terlihat begitu tidak nyaman. Terlebih musim dingin membuat beberapa lantai basah karena sepatu para pelanggan.
“Selamat datang.”
Clara tersenyum lebar, pria itu tampak tidak menanggapi dan memilih untuk melihat beberapa roti di etalase kaca. Clara menarik napas dalam dan membuangnya perlahan. Pelanggan seperti apa lagi yang harus ia hadapi sekarang?
“Apa best seller menu di toko ini?”
Suara baritone pria itu terdengar, Clara menelan salivanya. Ia juga cukup tidak nyaman dengan kedatangan pelanggan ini, tapi ia harus bersikap profesional. Sudah begitu banyak sifat pelanggan yang pernah ia hadapi.
“Roti brioche dan roti baguette Pak, kalau boleh saya tahu, anda membeli untuk siapa?” Clara kini masih tersenyum menatap pria dihadapannya.
“Anak saya.”
“Jika untuk anak-anak, french toast cukup cocok untuk anak-anak Pak, terlebih dengan cokelat panas. Anak-anak sangat menyukainya di cuaca seperti ini.”
Pria itu tak bergeming dan masih melihat-lihat kearah etalase. Clara mulai keluar dari meja kasir dan menghampiri pria itu.
“Atau kami juga punya roti melonpan yang manis. Anak-anak juga begitu menyukainya.” Ucap Clara dan menunjuk ke salah satu roti di etalase.
__ADS_1
“Aku lebih tahu selera anakku.” Ucapan ketus pria itu membuat Clara cukup tersentak. Diam-diam Clara mengepalkan tangannya kuat dan menarik napas. Sabar, ia harus lebih sabar.
Setelah melihat bagaimana respon tidak baik pria itu padanya, Clara kini lebih memilih berdiri diam dan menatap pria itu yang berjalan-jalan. Dari pada ia kehabisan kesabaran, ia hanya perlu melayaninya di meja kasir. Hampir lima belas menit lamanya pria itu melihat-lihat dan berakhir membawa tiga bungkus roti krim cokelat di meja kasir. Clara menarik napas dalam untuk kedua kalinya.
“Ini saja Pak? Tidak ada tambahan?”
Pria itu hanya menggelengkan kepala, setelah bayar dan memasuki beberapa bungkus roti kedalam kotak. Clara kini menyerahkannya pada pelanggannya yang baginya cukup menyebalkan itu.
“Ini pesanan anda, terimakasih banyak dan selamat datang kembali.”
Clara tersenyum menatap pria itu, pria itu hanya mengangguk sekilas dan berjalan menuju pintu keluar. Namun sebelum ia benar-benar mencapai pintu, dengan cukup keras ia terjatuh dan membentur lantai. Clara yang melihatnya hanya tersentak dan dengan cepat berlari menuju pria itu. Terlihat dengan jelas beberapa bungkus roti tampak berjatuhan.
“A.. Anda baik-baik saja Tuan?”
Tanya Clara gugup dan berusaha membantu pria itu berdiri. Clara sangat tahu itu pasti begitu menyakitkan, pria itu terlihat jatuh terduduk. Ia benar-benar takut jika tulang ekornya terbentur cukup keras.
Teriak pria itu dengan keras. Clara merasakan seketika jantungnya berdetak kencang. Dengan cepat pria itu berdiri dan menatap Clara dengan sangat tajam. Clara menelan salivanya.
“Ma.. Maaf Tuan, a.. aku akan mengganti roti anda dan-“
“Kau harus bertanggung jawab!”
Clara tersentak saat ia akan memungut roti yang terjatuh, dengan cepat pria itu langsung menginjaknya. Ayolah, bahkan roti itu sudah terlapis plastik dengan rapi. Kotorannya juga tidak akan masuk, pria itu tidak harus menginjaknya seperti itu. Toh ia juga akan bertanggung jawab dengan menggantinya.
“Maaf, maafkan saya.”
__ADS_1
Ujar Clara dan menundukkan kepala berkali-kali. Ia sudah begitu lama tidak berada di posisi seperti ini. Bagaimana seseorang meneriakinya dengan begitu keras.
“Lihat! Semua pakaianku basah! Aku ada rapat sebentar lagi, wanita brengsek!”
Mendengar makian dari pria itu, Clara mengepalkan tangannya kuat. Dari semua pelanggan yang berada disini, hanya pria ini yang mengatakan hal yang begitu menyakitkan.
“Kau cukup bodoh karena terjatuh disana. Ini semua bukan salahku.” Teriak Clara dan ikut memandang pria itu dengan tajam.
“Beraninya kau!”
Pria itu kini mulai mengangkat tangannya yang akan menamparnya, Clara memejamkan matanya kuat. Seolah semua bayang-bayang masa lalu terngiang-ngiang di kepalanya. Ia merasakan semuanya seperti dejavu.
Plak!
Satu tamparan kini mengenai tepat dipipi kanan Clara, Clara hanya terdiam dan memandang pria itu tidak percaya. Tetapi seorang pria misterius dengan memakai topi entah datang dari mana meraih tangan pria itu dan memutarnya, membuat pria yang tadi menamparnya merintih kesakitan.
“Si..siapa kau?! Berani-beraninya melakukan ini padaku! Pria gila! Kau tidak tahu siapa aku?!”
Pria yang masih kesakitan itu berteriak keras, saat ia akan memukul dengan satu tangannya yang lain. Dengan cepat pria bertopi itu menendang tubuhnya dan membuatnya terjungkal kedepan.
“Ambil uang ini untuk biaya pakaianmu dan jangan pernah datang kesini lagi!”
Teriak pria bertopi dan melemparkan beberapa lembar uang dollar pada wajah pria itu. Pria itu hanya menghembuskan napas kesal dan berjalan pergi. Melihat bagaimana lembaran uang dollar yang bertebaran begitu saja, ia tahu, ia bukan berurusan dengan orang biasa dan memilih untuk pergi.
Melihat kepergian pria itu, pria misterius itu kembali menatap Clara. Terlihat jelas Clara hanya terdiam mematung melihat bagaimana perkelahian itu terjadi. Pria misterius itu mulai melepaskan topinya dan tersenyum tipis.
__ADS_1
“Maaf karena lagi-lagi aku datang terlambat, Challa."
To be continue...