
...Happy Reading ...
Tuan Muda GrantHill Company Jack Hilton, meresmikan pertunangannya dengan Mary Thompson dari Son Group – 1 jam yang lalu.
Jack dan Mary, sepasang kekasih yang ikonik kini siap mulai ke jenjang pernikahan – 47 menit yang lalu.
GrantHill dan Son Group kini bersatu, akankah Will Group mampu bersaing? – 15 menit yang lalu.
Clara kini mengepalkan tangannya kuat kala matanya membaca kata demi kata pada artikel di ponselnya. Napasnya menggebu-gebu tidak karuan, semua ini benar akan terjadi? Jack dan Mary benar-benar akan menikah?
Clara menatap kearah kaca jendela taxi yang ditumpanginya, sekarang ia memutuskan untuk datang langsung dan menanyakannya pada Jack mengenai artikel ini, semua artikel ini harusnya salah, semuanya pasti salah pengetikan. Clara hanya berusaha menenangkan dirinya sendiri, walaupun ia tahu hal yang dilakukannya adalah sebuah kebodohan.
Clara kembali menekan nomor Jack, bahkan pria itu tidak pernah mengaktifkan ponselnya semenjak artikel ini muncul, seolah pria itu tahu bahwa ia pasti akan meminta penjelasan padanya.
“Nona, kita sudah-“
“Terimakasih Pak, sisanya untuk anda.”
Setelah memberikan sejumlah uang, Clara kini terburu-buru memasuki gedung besar yang menjulang itu. Ia tidak bisa berpikir jernih, bayangan-bayangan Jack akan menikahi Mary seolah berada tepat di depan matanya. Mengapa Jack tega melakukan ini padanya? Enam tahun bukan hal yang sebentar.
“Maaf Nona, anda tidak boleh masuk.”
Clara memandang dua orang pria dengan tubuh tinggi itu tidak percaya, dua orang penjaga itu kini memandangnya dengan tegas. Apa mereka tidak tahu siapa dirinya? Bisa-bisanya mencegahnya seperti ini.
“Kalian tidak tahu aku siapa?”
Tanya Clara dengan jengkel, ia sedang tidak ingin tersulut emosi lebih dari ini, tapi kedua pria ini seolah malah menguji kesabarannya. Kedua pria itu masih menatap Clara datar dan masih mencoba menghalangi pintu masuk.
__ADS_1
“Biarkan aku masuk!”
Untuk kesekian kalinya kedua pria itu menahan tubuh Clara. Clara menarik napas dalam dan menghembuskannya pelan. Ia sebenarnya tidak ingin membuat keributan disini, tapi emosinya sudah mencapai ubun-ubun.
Melihat kedua pria itu yang seolah menganggapnya gadis lemah, dengan sekuat tenaga Clara langsung mencakar wajah salah satu pria itu, dan dengan cepat mencari celah untuk masuk. Melihat gadis itu lolos, dengan cepat kedua penjaga itu mulai mengejar Clara. Clara mulai berlari menuju pintu lift, namun sial, bahkan sebelum ia sempat menekan tombol lift, salah satu dari dua pria tadi menarik lengannya kuat membuatnya meringis kesakitan.
“Yak! Apa-apaan kau ini?!” Clara berteriak nyaring saat pria itu kini memegang pinggangnya membuat beberapa orang kini menatap mereka.
“Lepaskan aku!”
“Yak! Apa-apaan kalian?”
Seorang pria kini berlari menuju Clara yang berusaha melepaskan genggaman pria itu padanya, melihat sekretaris Jack yang datang menghampiri mereka, Clara bernapas lega. Ia tidak tahu jika menemui Jack butuh usaha sekeras ini.
Melihat salah satu yang juga atasan mereka menghampiri, para penjaga itu dengan cepat melepaskan tubuh Clara dan menatap atasannya dengan khawatir.
“Apa kau tidak tahu dia siapa?”
Gary – sekretaris Jack – tampak menatap kedua penjaga itu dengan nanar. Bisa-bisanya seorang penjaga kantor memperlakukan Clara seperti itu, jika Jack tahu, kedua pria ini akan menerima pesangon saat ini juga, bahkan lebih parah dari itu.
Kedua penjaga itu tampak melirik Clara sekilas dan kembali berhadapan dengan Gary dan menunduk dalam. Mereka baru bekerja beberapa minggu belakangan ini, dan mereka tidak tahu banyak mengenai perusahaan GrantHill Company, terlebih dengan seorang gadis yang tanpa pengawasan berusaha menerobos pintu masuk perusahaan.
“Apa Jack didalam?”
Mendengar pertanyaan Clara pada Gary, kedua penjaga itu nampak terkejut. Siapa gadis ini? Bisa-bisanya memanggil atasan mereka tanpa embel-embel Tuan.
“Ada Nona, tapi Tuan... Tuan sedang ada rapat penting.”
__ADS_1
Tanpa mengucap sepatah katapun lagi, Clara langsung berlari menuju lift dan menuju lantai atas. Gary dan kedua penjaga itu hanya menatap Clara yang tampak terburu-buru itu dengan bingung. Selanjutnya Gary menarik napas dalam dan menghembuskannya pelan dan menepuk bahu penjaga itu pelan.
“Dia yang akan menjadi Nyonya Besar kita, tidak ada yang akan menjadi Nyonya Besar selain Clara Villegas.”
......................
Clara kini menarik napas dalam dan menghembuskannya dengan pelan, jantungnya berdetak kencang. Sudah hampir satu bulan ini ia tidak pernah bertemu dengan Jack lagi, dan kini ia nekat untuk datang ke kantor Jack meminta penjelasan setelah beberapa jam lalu telah muncul artikel mengenai Jack dan juga Mary, yang bahkan sumber artikelnya saja tidak jelas. Dan bisa-bisanya ia jauh-jauh datang kesini dan percaya dengan artikel murahan itu.
Rasa kesal dan amarahnya seolah memudar, Clara yang berapi-api kini kembali menciut saat ia benar-benar sudah berhadapan dengan pintu ruangan Jack. Bukankah artikel semacam ini tidak sekali atau dua kali terjadi? Saat Jack bahkan selalu dipasangkan oleh orang-orang ternama sampai selebritis. Bukankah itu hal biasa? Clara kini mengurungkan niatnya untuk membuka pintu besar itu. Mengapa ia menjadi mudah terpengaruh seperti ini? Ini pasti karena begitu jarang ia berjumpa dengan Jack, over thinkingnya mulai sulit terkendali.
Tapi ia juga sekarang sudah disini, ia juga ingin bertemu dengan Jack setelah sekian lama, Clara kini tersenyum lebar dan membuka pintu besar itu dengan sekali dorongan. Mata Clara menatap sekitar, namun seketika senyuman yang tadi sudah ia bangun luntur seketika, dihadapannya terdapat Jack yang tengah duduk di kursi miliknya. Namun bukan itu yang menarik perhatiannya, tepat dipangkuan Jack terdapat Mary yang tengah mengalungkan tangannya dengan begitu mesra.
“Aku tidak mimpi, kan?”
Clara berbisik pada dirinya sendiri, melihat kedatangan Clara, dengan cepat Jack mendorong tubuh Mary dari pangkuannya dan menatap Clara dengan datar. Clara hanya tersenyum kecut dan mengepalkan tangannya kuat, bisa bisanya ia melihat adegan seperti ini didepan matanya langsung.
Baru beberapa detik lalu ia ingin berpikir positif dari rasa over thinkingnya namun ternyata semuanya benar. Jack benar-benar mengkhianatinya, Clara kini mulai berjalan menghampiri mereka berdua. Mary yang melihatnya menatap khawatir kearah Clara. Ia hanya bermain-main dengan Jack, dan bisa-bisanya Clara masuk disaat yang tidak tepat, pasti setelah ini Jack begitu membencinya.
Melihat wajah Clara yang penuh amarah Mary menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan. Ia siap menerima perlakuan Clara padanya, gadis itu pasti tidak segan untuk menamparnya. Saat Clara sudah didepan matanya, Clara kini mengangkat tangannya tinggi-tinggi, Mary memejamkan matanya erat.
Plak!
Satu tamparan keras terdengar, dan Mary tersentak saat satu tamparan itu diberikan Clara untuk Jack, Clara salah paham, gadis itu salah paham.
“Pria brengsek! Aku membencimu!”
To be continue...
__ADS_1