
...Happy Reading ...
“Chal kau yakin ingin keluar? Bukankah kau sedang sakit?”
Tiffany kini berlari menyusul Clara. Ia benar-benar tidak habis pikir dengan sifat keras kepala sahabatnya itu. Setelah Dean membawa surat izin, ia malah bersih kukuh tidak ingin pulang. Dan sekarang malah mengajaknya dan juga Dean untuk makan malam bersama.
“Tiff, kau tahu kan aku tidak pernah bersenang – senang denganmu? Dan sekarang aku ingin melakukannya.”
Tiffany kini hanya terdiam dengan masih memandang Clara ragu. Mata sayu dan wajah pucat Clara membuat Tiffany kini begitu khawatir. Namun apa boleh buat, yang ia hadapi adalah Clara Villegas. Sahabatnya yang paling keras kepala.
“Kalian tunggu disini, aku akan meminta izin dengan Mr Tan oke?”
Tiffany hanya mengangguk mengiyakan, sedangkan Dean hanya menatap Clara dengan bingung. Dengan cepat Clara berlari menuju dimana mobil Mr Tan terparkir. Hampir satu minggu ini Jack tidak pernah menjemputnya, dan itu semenjak ia bertengkar dengan Jack masalah Dean.
Pada awalnya ia begitu frustrasi karena sifat Jack yang seolah tidak peduli lagi padanya, namun kini ia berusaha berpikir positif. Mungkin Jack memang sedang sibuk atau masih marah padanya ataupun memang memberikannya privasi beberapa waktu. Tapi yang terpenting, ia harus memanfaatkan ini semua. Ia begitu iri dengan beberapa temannya seperti Tiffany maupun Dean yang bisa kemanapun sesuka hati mereka. Toh, ia juga tahu batasan, ia bukan anak kecil.
“Mr Tan, kau boleh pulang duluan. Aku akan pulang bersama Tiffany.”
Clara kini menunjuk Tiffany yang berjarak beberapa meter darinya. Clara dapat melihat Mr Tan yang tampak terkejut dan gugup karena ucapannya sedangkan Clara hanya menatap pria paruh baya itu dengan bingung.
“Nona, tapi Tuan Muda menyuruh saya untuk mengantarkan anda sampai kerumah.”
“Ayolah Mr Tan, aku ini sudah besar. Kadang Jack juga mengizinkan ku untuk pulang bersama Tiffany.”
Clara kini menatap Mr Tan dengan wajah memohon. Clara sangat tahu jika Mr Tan sangat mudah luluh. Walaupun memiliki fisik yang cukup menyeramkan karena berbadan tinggi dan berotot, Mr Tan memiliki pribadi yang begitu lembut.
__ADS_1
“Aku akan bertanya dengan Tuan Muda.” Clara kini menarik napas dalam ketika Mr Tan mengeluarkan ponselnya.
“Mr Tan, aku sudah ditunggu Tiffany. Sampai jumpa besok.”
“Nona, tunggu! Nona!”
Clara kini mulai berlari menuju Tiffany dan juga Dean. Dengan cepat Clara menarik tangan Tiffany, sedangkan Dean yang masih bingung dengan keadaan sekitarnya memilih berlari mengikuti kedua gadis itu. Sedangkan dari sudut matanya ia dapat melihat pria paruh baya itu mulai mengejar mereka.
......................
“Kau gila Chal? Aku menahan buang air kecil karenamu!”
Clara kini mengatur napasnya, sedangkan ia dapat melihat tatapan kesal Tiffany padanya. Kini seluruh wajah Tiffany tampak memerah, gadis itu tidak biasa berjalan jauh, apalagi berlari seperti ini. Kini mereka berada di halte bus 500 meter dari kantor. Sedangkan Mr Tan sepertinya memilih untuk kembali, mungkin untuk membawa mobilnya. Entahlah, Clara tidak peduli.
“Ayo kita ke resto itu. Aku benar-benar tidak kuat lagi.”
“Chal, mengenai tadi siang aku-“
“Terimakasih.” Dean kini menghentikan langkahnya, dan menatap Clara intens. Ia dapat melihat Clara menatapnya dengan senyuman hangat.
“Terimakasih sudah perduli padaku Dean, terimakasih banyak.”
Clara merasakan matanya mulai memanas. Untuk pertama kali dalam hidupnya hubungannya dengan Jack diketahui orang lain. Bertahun-tahun ia berusaha untuk menutupinya, namun orang yang baru beberapa hari ia kenal malah jauh lebih dahulu tahu ini semua. Ia menyangka orang pertama yang tahu mengenai hubungan gilanya dengan Jack adalah Tiffany, namun ternyata ia salah.
“Aku mohon jangan beritahu ini kepada siapapun, termasuk Tiffany. Aku akan menyelesaikan ini semua sendiri.”
__ADS_1
“Dengan cara?”
Clara menatap Dean yang kini tengah memandangnya dengan kesal. Clara menarik napas dalam. Bahkan ia tidak tahu akan menjawab apa mengenai pertanyaan yang dilontarkan Dean kali ini.
“Kau terlalu takut untuk menyelesaikannya sendiri Chal, kau terlalu takut dengan Jack.”
Clara terdiam. Setuju atau tidak setuju tapi semua pernyataan Dean adalah benar. Ia terlalu takut, terlalu takut dengan sikap Jack, bahkan terlalu takut kehilangan Jack. Ia mengakui jika dirinya bodoh, sangat bodoh.
“Tidak bisakah kau seolah-olah tidak pernah mengetahui ini semua Dean? Bersikap lah seperti biasa dan-“ Clara kini tersentak ketika Dean mengenggam tangannya. Pria itu bahkan mulai menatapnya dengan dalam.
“Aku tahu ini bukan waktu yang tepat, tapi aku tidak bisa terus menerus membiarkanmu disakiti oleh Jack, Chal. Aku tidak bisa.”
Dean kini bicara yang sejujurnya, saat beberapa minggu lalu bahkan ia tidak bisa tidur karena terus mengingat suara memohon Clara di ponselnya. Suara memohon Clara untuk tidak disakiti begitu membekas dipikirannya. Bahkan hingga detik ini.
Dan ia sadar akan dirinya sendiri. Ia tidak bisa membiarkan Clara terus menerus bersama Jack. Ia tidak akan membiarkan Clara dibutakan oleh obsesi Jack padanya. Karena Jack hanya terobsesi, ia tidak mencintai Clara dengan tulus. Jika memang Jack mencintai Clara, pria itu tidak mungkin menyakiti Clara. Bahkan sampai memberikan luka lebam dihampir sekujur tubuhnya.
Clara hanya terdiam menatap Dean. Ia tidak tahu lagi harus bagaimana. Ini sebenarnya adalah celahnya untuk lepas dari Jack. Tapi ia tidak bisa, ia benar-benar tidak bisa. Dan Dean juga tidak mengerti akan posisinya. Dia adalah Jack Hilton, pria terpandang. Bahkan Jack bisa membunuh seseorang hanya dengan perintahnya.
“Aku tahu ini pasti terdengar konyol Chal, tapi aku mencintaimu Chal. Aku mencintaimu.”
Dean mulai mengeratkan genggamannya. Entah keberanian itu datang dari mana, bahkan ia baru sebulan mengenal Clara dan bisa bicara selancang itu. Ia benar-benar tidak peduli lagi sekarang.
Clara yang mendengarnya hanya memandang Dean tidak percaya. Ia salah dengar atau memang Dean menyatakan perasaan padanya? Memang, beberapa kali Tiffany juga berkata Dean tertarik padanya, tapi ia berusaha untuk menepis itu semua. Toh, Dean juga tahu kalau ia memiliki Jack disisinya. Atau karena inikah Jack seolah berusaha begitu keras agar ia memiliki jarak dengan Dean?
“Guys apa aku menganggu kalian? Tapi aku sudah menunggu kalian lima menit disini. Kalian baik-baik saja?” Tiffany kini menatap mereka dengan jarak beberapa meter. Dengan cepat Clara langsung memhempaskan genggaman Dean.
__ADS_1
“Kami segera kesana.” Clara kini berucap dan mulai menyusul Tiffany, meninggalkan Dean yang menatapnya penuh kekecewaan.
To be continue...