
...Happy Reading...
“Tidak bisakah ia tidak diborgol seperti ini?! Ia bahkan belum dipastikan menjadi tersangka!” Ucap Judy merasa tidak terima kala adik satu-satunya itu nampak terborgol.
Polisi dengan tinggi menjulang itu mulai berdecak kesal, baginya orang berduit selalu merepotkan. Jack hanya bisa pasrah saat polisi itu kini membuka borgol ditangannya dengan cukup kasar. Judy berdecak kesal dan menatap tajam kearah polisi itu yang sudah meninggalkan ruangan.
“Bagaimana Jack? Bagaimana? Kau tidak terbukti bersalah, kan?" Tanya Judy secara bertubi-tubi. Tidak, adik kesayangannya itu bukan pelaku kriminal. Walaupun Jack memang terkadang bertingkah konyol, tapi adiknya bukanlah penjahat.
Jack hanya menatap Judy dengan datar. Semua bukti kini sudah berada ditangan polisi, ia tidak membereskan semua kejadian Shawn dengan rapi beberapa tahun lalu. Dan ia sekarang sudah pasrah dengan semuanya. Toh, jika memang ia terbukti sebagai pembunuh, ia siap menerima itu semua.
“Bagaimana keadaan Clara, kak?”
Bukannya menjawab, Jack kini balik bertanya. Judy berdecak kesal, bisa-bisanya adiknya itu malah menanyakan seseorang yang jelas-jelas telah mengkhianatinya. Bukankah keadaan dirinya jauh lebih penting sekarang?
“Clara sudah bahagia dengan Chris, apa yang kau harapkan?”
Ujar Judy penuh penekanan, Jack hanya menatap kakak perempuannya itu dengan datar, berusaha menepis semua ucapan Judy. Judy pasti hanya sedang kesal makanya ia berbicara seperti itu.
“Apa Clara tidak menemuimu?”
Jack kembali bertanya, Judy mulai tersenyum sinis, entah apa yang berada dipikiran Jack sampai ia bahkan lebih dulu menanyakan keadaan Clara dari pada kasusnya ini. Judy terngiang-ngiang dengan kejadian tadi pagi saat ia menampar Clara didepan umum. Ia harap Jack melihatnya dan bisa menilai betapa ia begitu membenci mantan kekasihnya itu. Clara Villegas.
“Bisakah untuk tidak menanyakan gadis pengkhianat itu padaku?”
“Kak?”
“Dia gadis gampangan Jack! Bisa-bisanya ia berada dipihak musuh disaat seperti ini!”
“Kak?”
__ADS_1
“Sadarlah! Ia sudah menusukmu!”
“Judy!”
Judy tersentak saat melihat adiknya yang kini mulai meninggikan suaranya. Mereka berdua saling menatap dengan penuh amarah. Bagi Jack tidak ada yang boleh merendahkan Clara dihadapannya. Semua ini adalah kesalahannya yang terlalu mengabaikan Clara, dan ia tidak ingin siapapun menyalahkan gadis itu.
“Aku sudah memberi pelajaran untuk gadis itu di depan banyak wartawan.” Judy berucap dengan senyuman sinisnya.
“Apa? Apa yang sudah kau lakukan padanya?”
Jack kini memandang Judy tidak percaya. Ia sekarang hanya membutuhkan Clara, ia sangat ingin menemui gadis itu disaat masa terpuruknya seperti ini, tapi Judy malah membuatnya semakin jauh dengan Clara.
“Jack dia sudah mengkhianatimu! Dia pengkhianat! Sadarlah!"
“Jika kau kesini hanya untuk merendahkan Clara, jangan pernah datang lagi untuk menemuiku.” Ucap Jack dingin dan berbalik meninggalkan Judy yang masih menatapnya dengan pandangan tidak percaya.
Judy menghembuskan napasnya dengan kasar, bahkan ia belum mendengar mengenai interogasi tadi pagi dari Jack. Mengenai pengacara dan semuanya, kini ia harus mengurus itu semua secepatnya. Judy mengepalkan tangannya kuat, ini semua karena Clara, gadis itu benar-benar telah membuat adiknya hancur.
...****************...
Clara kini meringis kesakitan saat obat merah itu mengenai sudut bibirnya. Tamparan Judy benar-benar sangat keras, luka robek disudut bibirnya cukup lebar. Judy sudah menamparnya dengan sekuat tenaga. Clara meringis dan kembali mengompres pipinya dengan air hangat. Bahkan pipinya mulai membengkak.
Mata Clara kini beralih menatap kartu nama yang kini berada diatas meja riasnya. Haruskah ia menghubungi seseorang di kartu nama ini? Namun jika itu untuk Jack, segala cara akan ia lakukan. Sebenarnya ia hanya ingin bertemu dengan Jack sebentar saja, ingin tahu bagaimana kondisi pria itu. Namun ia rasa sekarang sangat sulit untuk sekedar berkunjung menemui Jack, Judy tidak akan membiarkannya begitu saja.
“Nak, ada yang ingin bertemu denganmu.”
Clara kini terkejut ketika suara sang Ibu kini terdengar dibelakangnya. Clara hanya menatap cermin dan melihat pantulan Ibunya disana. Clara mengerutkan keningnya, siapa yang ingin menemuinya? Mata Clara kembali menatap kartu nama ditangannya. Atau mungkinkah?
“Siapa Bu?”
__ADS_1
“Entahlah, ia terlihat seperti Jack.”
Dengan tergesa-gesa Clara mulai berlari menuruni tangga menuju pintu keluar. Nyonya Villegas yang melihatnya hanya menatap sang putri dengan bingung. Siapa yang membuat janji dengan anaknya sampai ia seperti itu? Biasanya hanya Jack yang membuat Clara selalu tergesa-gesa.
Clara mulai membuka pintu rumahnya, dihadapannya terdapat seorang pria dengan tinggi menjulang dan wajah yang tampak menyeramkan kini memandangnya dengan datar. Clara menelan salivanya, ini tidak seperti dugaannya. Bisa-bisanya sang Ibu menyebut pria dihadapannya ini seperti Jack, ia tampak sangat berbeda.
“Anda Nona Villegas?"
“Tuan... Stevenson?” Clara dan pria itu bahkan saling memandang dengan penuh kebingungan. Tidak, tidak sepertinya pria ini bukan Tuan Stevenson yang ia maksud.
“Tuan Besar ingin menemui anda di mobil.”
Clara dapat melihat dengan jelas berjarak beberapa meter dihadapannya terdapat sebuah limosin mewah. Clara menelan salivanya, siapa lagi yang akan ia temui? Terlihat dari mobilnya jelas jika ia bukan orang biasa.
“Si... Siapa?”
“Silahkan ikuti saya Nona.”
Tanpa menjawab, pria yang nampak seperti bodyguard itu mulai berjalan menuju mobil mewah. Clara mengambil napas dalam sebelum mengikutinya. Berurusan dengan siapa lagi ia sekarang?
Pintu limosin kini terbuka, Clara begitu tersentak. Tepat dihadapannya terdapat seorang pria paruh baya dengan rambut yang sudah memutih menatapnya dengan datar. Clara menelan salivanya, ia tidak salah lihat kan? Tuan Hilton, pria paruh baya yang penuh karisma. Ia adalah ayah Jack yang bahkan ini adalah pertemuan mereka yang kedua setelah terakhir kalinya ia bertemu saat makan malam keluarga Hilton beberapa tahun lalu.
Saat itu Tuan Hilton terlihat begitu tidak menyukainya, begitu terlihat dengan bagaimana ia bersikap dan merespon ucapannya, terkesan menolak dan angkuh. Namun setelah kejadian itu terjadi, ia tidak pernah lagi bertemu dengannya. Mungkin Jack yang tidak ingin ia bertemu lagi dengan ayahnya setelah melihat bagaimana reaksi sang ayah padanya.
“Tu... Tuan?”
“Halo Clara, kita bertemu lagi.”
To be continue...
__ADS_1