
...Happy Reading...
“Selamat malam Chal.”
“Selamat malam.”
Clara kini dapat melihat Tiffany yang tertidur di sofa, sudah hampir dua minggu gadis itu menjaganya di rumah sakit. Dan sampai hari ini pun ia hanya boleh berjalan-jalan di area rumah sakit. Bahkan ia tidak memiliki penyakit apapun sekarang, lukanya sudah benar-benar hilang, tapi seolah rumah sakit ini mengurungnya. Dan ia tidak bisa melakukan apapun.
Mata Clara kini masih fokus menatap layar ponselnya, jam sudah menunjukkan hampir pukul dua belas malam, setelah hampir dua jam ia mengobrol dengan Tiffany dan gadis itu kini sudah tertidur pulas, bahkan hanya beberapa menit saja. Andai ia bisa seperti Tiffany, tapi ia tidak bisa. Insomnia begitu menganggunya.
Dan kali ini Clara lebih memilih menatap ponselnya dan melihat galerinya. Senyuman Clara mengembang kala potret demi potret yang ia lihat pada layar ponselnya. Momen dimana ia mengenakan kaos lengan panjang berwarna abu-abu dengan Jack yang tampak menggendongnya. Ini adalah momen kebersamaannya dengan Jack lima tahun yang lalu, tepat first Anniversary hubungan mereka, sebelum menaiki kapal pesiar milik Jack.
Ibu jari Clara kembali menggeser layar ponselnya, Clara terkikik kecil, saat dimana Jack dengan iseng menciumnya saat mereka berfoto didepan cermin rumahnya. Jari Clara kembali menggeser layar, begitu banyak momen demi momen kebersamaan mereka beberapa tahun yang lalu.
Saat mereka benar-benar menikmati kebahagiaan hubungan mereka. Saling melemparkan candaan, tawa dan kasih sayang. Namun tidak beberapa tahun belakangan ini, bahkan Clara hampir tidak menemukan foto kebersamaan mereka setelah insiden Shawn terjadi. Jack yang berubah drastis dan bahkan mereka tidak sempat meluangkan waktu untuk berfoto seperti tahun-tahun sebelumnya.
Mata Clara kini mulai berkaca-kaca, tahun-tahun yang indah bersama Jack seolah cepat atau lambat akan musnah. Nyatanya memang ia akan kalah dengan Mary, fakta yang menyakitkan dan begitu sulit diterima olehnya. Perjuangannya berakhir sia-sia, dan Jack tidak akan lagi berada disisinya hanya untuk sekedar menjemputnya sepulang kantor.
Clara mulai terisak, bukankah memang ini yang diharapkannya? Kebebasan tanpa Jack, tapi mengapa dadanya seolah begitu sesak? Terlebih airmatanya tak bisa kunjung henti. Clara menutup mulutnya dengan telapak tangan, berusaha sekeras mungkin meredam tangisnya, ia tidak ingin Tiffany terganggu karena dirinya.
‘Mengapa? Mengapa Jack melanggar janji mereka? Bukankah Jack mengklaim bahwa cintanya jauh lebih besar? Tapi mengapa pria itu berbohong? Mengapa pria itu yang berpaling?’
__ADS_1
Pertanyaan demi pertanyaan seolah terus menerus melintas dipikiran Clara, ia tidak tahu apa rencana Jack melakukan ini semua. Apa enam tahun ini Jack memang diam-diam berpaling darinya? Napas Clara mulai naik turun tak beraturan, setelah hampir sepuluh menit ia menangis dalam diam dengan pertanyaan tanpa jawaban.
Tubuh Clara kini berbalik dan ia dapat melihat Tiffany yang tertidur pulas dengan selimut. Dengan susah payah kini Clara berusaha membuka laci pada nakas samping kasur rumah sakitnya, dan ia menemukan sebotol obat tidur miliknya. Beberapa hari lalu ia menyelinapkan obat tidur disana, walaupun dokter melarangnya karena dapat mengakibatkan ketergantungan, tapi ia tidak bisa. Tubuhnya tidak akan bisa beristirahat tanpa ini, bahkan setelah dua gelas susu ia minum sebelum tidur.
Clara kini membuka botol dan menelan satu pil, butuh waktu setidaknya satu jam baginya untuk tertidur, bahkan beberapa orang umum hanya membutuhkan waktu sepuluh – lima belas menit. Namun ia tidak.
Clara merasakan napasnya masih menggebu, ia kini mengeluarkan pil kedua, ia membutuhkan istirahat lebih cepat, tubuhnya sangat lelah dan begitu tertekan. Ia ingin cepat tenang.
Pil kedua berhasil ia telan, Clara menutup botol tidurnya dan meletakkannya diatas nakas. Clara merasakan tubuhnya kembali normal dan mulai rileks. Tak butuh waktu lama, gadis itu mulai memejamkan mata.
......................
Tiffany kini meregangkan tubuhnya saat merasakan sinar matahari mulai menerpa wajahnya, gadis itu menatap arloji yang berada di lengan kirinya. Waktu masih menunjukkan pukul delapan pagi. Tiffany kini berdiri dan menatap kearah Clara. Tiffany tersenyum lebar saat melihat Clara yang tampak tertidur lelap. Biasanya gadis itu sedang memainkan ponselnya karena sudah terbangun lebih dulu atau bahkan tidak tidur seharian. Tapi gadis itu begitu nyenyak.
Tangan Tiffany kini menerima makanan milik Clara, sepotong daging domba dengan salad sayur. Ayolah, bahkan ini bukan makanan orang sakit. Tiffany hanya menelan saliva saat melihat hidangan dihadapannya. Setelah yakin Tiffany menerimanya, suster itu meninggalkan ruangan, dan Tiffany berjalan menuju Clara yang masih memejamkan mata.
“Nyonya, sarapan datang.”
Senyuman Tiffany mengembang, tapi ia menatap Clara dengan bingung, terlebih saat menatap layar monitor yang menampilkan detak jantung Clara yang seolah berjalan begitu lambat dari sebelumnya.
“Chal, Clara.”
Tiffany menepuk pundak Clara pelan, namun tidak ada reaksi. Saat Tiffany akan meletakkan sarapan diatas nakas, ia cukup terkejut ketika nampan itu mengganjal sesuatu. Tiffany mengambil botol itu dan membacanya.
Tiffany semakin tersentak saat melihat label besar yang terpampang disana, terlebih saat merasakan botol itu telah kosong. Apa Clara menenggak semua pil?
__ADS_1
“Chal! Clara!”
...****************...
“Jack... Jack lepaskan aku akh!”
Jack kini menatap nanar kearah seorang gadis didepannya, ia semakin mengeratkan cengkeraman pada tangan gadis itu. Ia tidak peduli lagi, beberapa menit yang lalu ia mendengar kabar bahwa Clara overdosis obat tidur. Dan itu membuat pikirannya benar-benar kacau sekarang. Ia tidak bisa menemui gadis itu, tapi disisi lain ia juga sangat khawatir.
“Kau berkata akan menjaganya!” Gadis itu memejamkan mata saat mendengar teriakan keras Jack, sedangkan tangannya ia rasa sudah membiru karena cengkeraman tangan Jack.
“Aku.. Aku tidak tahu kalau ia akan berbuat senekat itu.”
Ujar Mary – gadis itu dengan penuh ketakutan. Untuk pertama kalinya ia melihat Jack semarah ini padanya, bahkan Jack tidak pernah melakukan hal seperti ini ketika ia berselingkuh dibelakangnya.
“Jika untuk kedua kalinya kau membuat ia menyakiti dirinya sendiri, aku akan berurusan denganmu. Walaupun itu menyerahkan seluruh perusahaanku. Kau ingat baik-baik?”
To be continue...
Note :
Mohon maaf jika author uploadnya telat, dan jujur dua episode ini author buat terburu-buru. Maaf jika masih ada typo atau kata-kata yang membingungkan. Karena author ga double check.
Maaf yaa jika beberapa cerita terasa ada yang kosong atau membingungkan. Author harap kalian masih setia sampai ending. Dan mungkin akan terjawab di next episodenya.
Terimakasih banyak yaaa untuk supportnyaa❤️
__ADS_1