
...Happy Reading ...
Clara maupun Dean kini hanya berdiri dengan gelisah. Beberapa menit lalu Tiffany menyuruh mereka untuk ke ruangan Tuan Arthur. Namun disini mereka sudah berdiri lebih dari lima belas menit dan Tuan Arthur terlihat masih sibuk dengan panggilannya.
Clara dan Dean hanya dapat melemparkan pandangan. Apa mereka melakukan kesalahan? Sekiranya itulah yang berada di pikiran keduanya saat ini. Jika tidak teramat penting, Tuan Arthur hanya berbicara melalui telepon atau setidaknya melalui asistennya. Tapi kini mereka harus benar-benar menghadapnya.
“Baiklah Tuan Direktur, saya akan menghubungi anda setelah semuanya selesai.”
“....”
“Selamat siang.”
Tuan Direktur? Clara hanya dapat mengira-ngira siapa yang menghubungi Tuan Arthur. Setahunya hanya ada segelintir orang yang dipanggil Tuan Direktur oleh atasannya itu. Salah satunya adalah Jack dan..
“Kalian sudah disini rupanya.”
Dean dan Clara hanya tertawa canggung. Apa Tuan Arthur tidak melihat mereka dari lima belas menit yang lalu? Seolah pria itu baru mengetahui kedatangan mereka.
“Saya hanya ingin memberi info. Untuk Tuan Dean, saya akan pindahkan anda di Manajemen Marketing. Dan terimakasih banyak untuk Nona Villegas atas jasanya mengajarkan beberapa hal kepada Tuan Dean.”
Dean dan Clara hanya memandang Tuan Arthur dengan pandangan cukup terkejut. Apa mereka benar-benar melakukan kesalahan hingga dipisahkan seperti ini?
“Maaf Tuan Arthur, tapi anda menyuruh saya untuk mengajari Tuan Dean dalam tiga bulan kedepan. Bahkan ini belum-“
“Divisi Marketing membutuhkan tenaga baru, dan saya rasa Tuan Dean cocok di divisi marketing.”
“Apa ini karena Jack?”
Tuan Arthur kini tampak terkejut atas ucapan spontan Clara. Sedangkan Clara mengepalkan tangannya erat. Mengapa Jack selalu mengatur setiap pekerjaannya? Tidak bisakah ia bekerja disini dengan tenang?
“Tentu saja tidak, ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan Tuan Jack. Ini kebijakanku, kuharap kau mengerti Nona Villegas.”
Clara hanya tertawa remeh. Selalu, selalu dan selalu Jack mengatur hidupnya. Beberapa minggu lalu ia begitu senang karena Tuan Arthur seolah memberinya kepercayaan untuk mengajari Dean. Tapi lagi dan lagi gerakan Jack jauh lebih besar dari usahanya. Kali ini ia tidak akan tinggal diam.
...****************...
__ADS_1
Tiffany kini berlari menuju lift mengejar Clara. Entah apa yang dibicarakan Tuan Arthur pada Clara, namun setelah ia keluar dari ruangan Tuan Arthur seolah Clara menjadi sangat marah. Gadis itu bahkan sama sekali tidak bicara dengannya sampai sekarang jam pulang kantor. Dan itu membuatnya sangat khawatir sekaligus penasaran. Clara tidak pernah semarah ini dengan Tuan Arthur walaupun pria tua itu menghina kerjaannya. Dan Tiffany begitu tahu ada yang tidak beres dari sahabatnya itu.
“Chal, ada apa? Apa terjadi sesuatu?”
Tiffany kini mengeluarkan suara sambil menunggu lift turun ke lantai satu. Clara hanya menatap wajah Tiffany datar dan menghela napas dalam.
“Maaf Tiff, aku jadi membebankan ini semua padamu.”
Clara kini berucap dengan nada bersalah. Dari jam makan siang hingga kini ia benar-benar mengabaikan Tiffany. Setiap kata yang dilontarkan Tiffany sama sekali tidak ia gubris. Ini semua karena Jack, Jack seolah selalu mengatur kehidupannya. Dan ia sudah begitu muak sekarang.
“It’s okay Girl. Ada apa? Apa kau ingin menceritakannnya padaku?’
Tiffany kini bertanya lembut, untuk kesekian kalinya Clara hanya menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan. Ia bimbang menceritakannnya kepada Tiffany. Karena ia sangat tahu jika Tiffany pasti membela Jack dengan dalih
‘Seharusnya kau lebih mengerti perasaan Jack Chal. Bukankah bagus jika Jack cemburu pada Dean? Tandanya pria itu begitu mencintaimu.’
Dan ia sedang tidak membutuhkan ucapan seperti itu.
“Tidak, tidak ada apa-apa Tiff, aku hanya sedang lelah.” Clara kini hanya tersenyum tipis.
Ting!
Brak!
Jack tersentak kala pintu mobil disebelahnya dibanting seseorang. Jack menatap Clara yang juga tengah menatapnya dengan tatapan tajam.
“Apa kau menyuruh Tuan Arthur untuk melepaskan tanggung jawabku kepada Dean?”
Mendengar ucapan tajam Clara, Jack hanya tertawa. Jadi ini semua karena pria bernama Dean itu? Ia cukup terkejut Clara bisa begitu marah padanya karena masalah sepele.
“Kau sekarang sangat marah padaku karena pria itu?” Clara berusaha menguatkan pertahanannya dengan meremas keras tas kerjanya.
“Karena pria itu? Ini semua karena pekerjaanku. Setelah sekian lama Tuan Arthur kembali memberikanku kepercayaan, tapi kini kau mengacaukannya!” Clara kini mulai meninggikan suaranya, Jack mulai mengepalkan tangannya erat.
“Aku? Mengacaukannya? Apa kau benar-benar begitu kehilangan pria bernama Dean itu sampai bisa membentakku seperti ini?!”
__ADS_1
Jack ikut meninggikan suaranya. Clara menatap Jack dengan pandangan tajam, sedangkan dadanya sedari tadi naik turun. Gadis itu begitu marah, sangat marah.
“Ini semua bukan karena pria itu! Ini semua karena pekerjaanku. Tidak bisakah kau percaya padaku kali ini saja, Jack?”
Clara mulai merendahkan suaranya. Ia sangat muak dengan sifat posesif Jack, seolah ia benar-benar tidak boleh bertemu pria manapun selain dirinya. Dan kini ia sudah mencapai batas kesabarannya.
“Oh ya, mempercayaimu? Setelah mempercayaimu dan kau malah berselingkuh dibelakangku?!” Clara kini menatap Jack tidak percaya. Pria itu benar-benar sudah terjerat terlalu dalam dengan masa lalu mereka.
“Kau masih membahas kejadian tiga tahun lalu?”
Clara bertanya dengan nada tidak percaya. Ia tidak tahu jika semua itu tidak bisa dilupakan Jack hingga saat ini. Jack kini mencengkeram pundak Clara kuat dan menatap gadis itu dengan pandangan nanar.
“Aku sudah memberimu kepercayaan dan kau mengkhianatinya. Aku tidak akan pernah memberimu kepercayaan untuk kedua kalinya.” Jack kini menekan setiap kalimatnya.
“Bisa kita akhiri ini semua? Aku muak dengan sikapmu."
Ucap Clara dengan pandangan nanar. Jack kini mencengkeram kemeja Clara kuat. Kali ini Jack benar-benar emosi. Setiap ucapan Clara yang mengajaknya untuk mengakhiri hubungan mereka, selalu membuat emosinya tak terkendali.
“Aku muak denganmu, jangan pernah menganggu hidupku lagi!”
Clara kini berteriak tepat didepan wajah Jack. Tangan kiri Jack mulai terangkat, Clara kini mulai memejamkan matanya, seolah gadis itu siap menerima tamparan dari Jack. Clara sudah siap akan semua konsekuensi yang akan diterimanya.
Jack kini menatap Clara dengan nanar, pandangannya beralih pada pipi kiri Clara yang membengkak, seolah emosi Jack beberapa saat yang lalu mencair. Pikiran Jack kembali mengingat beberapa hari yang lalu saat Leo memukul Clara, itu membuat dadanya sesak.
Jack kini melepaskan cengkeraman pada kemeja Clara dan menatap depan. Clara membuka mata, ia dapat melihat Jack yang terlihat begitu frustrasi. Dengan keras Jack memukul kemudi membuat Clara terdiam. Jack bahkan tidak memukul dirinya, pria itu sama sekali tidak menyakitinya. Jack seolah menahan itu semua.
“Apa kau benar-benar ingin lepas dariku Chal?”
Jack kini menatapnya dengan pandangan dingin. Clara bungkam, ia tidak tahu apa yang ingin dijawabnya. Tapi bukankah ini yang selama ini ia tunggu?
“Y..ya.”
“Selama aku masih dihadapanmu, kau tidak akan pernah lepas dariku...
Jack kini memberi jeda pada ucapannya. Tatapan dingin Jack itu kembali digantikan dengan tatapan tajam yang menusuk mata Clara. Clara menelan salivanya, seolah rasa takut yang sudah ia tahan sedari tadi muncul secara bersamaan.
__ADS_1
....Kau milikku Clara. Jika aku tidak bisa memilikimu, jangan harap orang lain bisa.”
To be continue...