Toxic Relationship

Toxic Relationship
Longing


__ADS_3

...Happy Reading...


Seorang pria kini memfokuskan pandangannya, matanya kini melihat dengan intens seorang wanita yang keluar dari rumah sederhana dihadapannya. Dua jam ia menunggu dan akhirnya membuahkan hasil, seorang wanita yang ia nantikan kini keluar dengan memakai hoodie pink dan celana hitam casual miliknya.


Jack, pria itu mengembangkan senyumannya. Sudah satu bulan penuh ia tidak memandang gadis didepannya ini. Rasa rindunya seketika bergejolak hebat, ingin rasanya ia berlari kehadapan gadis itu dan mengungkapkan kerinduannya selama ini. Tapi tidak bisa, ia tidak bisa bertindak gegabah. Sudah begitu banyak kebodohan yang ia lakukan belakangan ini.


Clara Villegas, gadis yang kini terlihat menunggu seseorang didepan rumah itu tampak memandang sekitar. Sesekali gadis itu menatap arloji dan juga ponsel yang berada digenggamannya. Tanpa ia sadari seorang pria kini keluar dari mobil sedan hitam miliknya dan mulai melangkah mendekatinya.


“Challa.”


Clara yang mendengar namanya dipanggil seseorang kini tampak mematung dan mengangkat kepalanya dari pandangan layar ponselnya. Beberapa meter dari tempatnya berdiri terdapat Jack yang kini memandangnya dengan pandangan sedih.


‘Challa’ panggilannya yang sudah sangat jarang ia dengar belakangan ini, terlebih dari sesosok pria dihadapannya. Clara terdiam dan meremas ponselnya kuat, terlalu bingung untuk memberikan respon seperti apa. Terlebih tepat beberapa hari yang lalu ia dengan jelas melihat Mary yang berada dipangkuan Jack dengan begitu mesra.


“Ada apa menemuiku?”


Mendengar pertanyaan Clara seolah membuat hati Jack bergetar. Salahkan jika ia datang kesini hanya untuk sekedar menemuinya? Mereka kini hanya saling menatap dalam selama beberapa detik lamanya, seolah menyalurkan kerinduan mereka selama ini melalui tatapan.


“Maaf, aku minta maaf padamu Chal."


Mendengar ucapan Jack, Clara hanya tersenyum kecut. Bahkan setelah ia melihat dengan mata kepala sendiri kemesraan Jack dan Mary namun pria itu bahkan sama sekali tidak berniat untuk menemuinya dan sekedar menjelaskan apapun. Namun sekarang setelah ia memutuskan untuk berada di pihak Chris dan kini Jack kembali menemuinya.


“Kurasa tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi Jack, biarkan enam tahun itu hanya sebuah kenangan.”


Ucap Clara singkat dan kembali melangkah masuk menuju rumah, namun sebelum gadis itu melangkah lebih jauh, dengan cepat Jack menarik tangan Clara dan mendekap tubuh gadis itu erat. Ucapan Clara membuat dadanya begitu sesak, bukan seperti ini yang ia harapkan. Clara yang merasakan pelukan itu hanya bisa tersentak.


“Lepas! Lepaskan aku Jack!”

__ADS_1


Dengan sekuat tenaga Clara kini berusaha mendorong tubuh Jack, berusaha keras melepaskan tangan Jack yang melingkar erat dipinggangnya. Jack tetap tak bergeming, teriakan dan penolakan Clara seolah tak membuatnya getar. Ia kini masih memeluk Clara erat, berusaha sebisa mungkin menenangkan Clara melalui pelukannya. Ia hanya ingin seperti ini sebentar saja, merasakan kehangatan tubuh Clara dalam dekapannya. Ia amat sangat merindukan pelukan ini.


“Kau brengsek Jack! Kau pria brengsek!”


Clara kini masih berteriak dan berusaha melepaskan pelukan mereka. Beberapa minggu belakangan ini Jack selalu membuat insomnianya kambuh karena stress dan over thinking yang ia hadapi. Mengenai ucapan Jack yang akan menikahi Mary, artikel sampah yang ia terima hingga kemesraan Jack dan Mary yang ia lihat dengan mata kepalanya sendiri.


Pada awalnya ia menepis itu semua, Jack memilih Mary karena kekecewaan pria itu karena ia berusaha menyakiti dirinya sendiri karena Dean. Namun saat Mary yang bergelayut manja dan duduk dipangkuan Jack seolah membukakan matanya lebar-lebar. Seolah Jack dengan Mary bukan hanya main-main, pria itu benar-benar akan menikahi Mary. Terlebih saat Jack yang bahkan begitu enggan untuk sekedar menemuinya atau bahkan mengangkat panggilannya.


“Setelah aku bersabar dengan semua sikapmu dan kini kau memilih Mary sebagai pasanganmu, kau brengsek Jack!”


Pukulan demi pukulan dari Clara seolah melemah, gadis itu kini mulai meneteskan airmata. Hatinya begitu hancur belakangan ini dan tiada tempat bersandar, terlebih hampir setiap hari Ibunya menanyakan keberadaan Jack yang seolah menghilang ditelan bumi, itu membuat hatinya semakin hancur, saat ia berusaha menepis fakta bahwa Jack memang sudah memilih Mary sebagai pendampingnya, bahkan dihadapan semua media.


“Aku tahu Chal, aku tahu aku adalah pria brengsek. Maaf, aku minta maaf.”


Mendengar ucapan Jack mampu membuat Clara terdiam seketika. Pukulan dan teriakan itu mulai menghilang, kini ia membiarkan Jack untuk memeluknya erat. Ini sebenarnya yang ia butuhkan, kehadiran Jack yang ia butuhkan selama ini.


Ucapan Jack kini membuatnya bungkam seketika, untuk pertama kalinya Jack meminta padanya untuk melakukan sesuatu. Biasanya pria itu bahkan memerintahkan sesuatu padanya tanpa peduli dengan tanggapannya. Ini adalah pertama kalinya sejak beberapa tahun terakhir.


“Kembalilah padaku, ayo kita kembalikan hubungan kita seperti dulu lagi Chal.”


Ucap Jack lembut dan semakin mempererat pelukannya, Clara hanya terdiam. Bukankah dari dulu memang kebebasan yang ia inginkan dari hubungannya dengan Jack? Lalu sekarang ia meragukan itu semua, ia ingin kembali seperti dulu lagi, ia ingin kembali menjalin hubungan indah bersama Jack Hilton.


“Apa kau bisa menerima anak ini?”


Mendengar pertanyaan singkat dari Clara kini mampu membuat Jack terdiam seketika. Melihat bagaimana tingkah Jack, Clara hanya tersenyum kecut, bahkan pertanyaan singkat seperti itu Jack harus berpikir untuk menjawabnya. Entah alasan apa yang membuat Jack seolah begitu berat menerima anaknya sendiri, tapi sungguh ini begitu menyakitkan untuknya.


Jack kini melepaskan pelukannya dan memandang Clara yang sudah menatap kearah lain. Terlihat begitu jelas jika Clara cukup kecewa dengan reaksinya. Bahkan ia sendiri melupakan fakta bahwa Clara tengah mengandung anaknya, setelah begitu banyak masalah yang ia hadapi, ia melupakan Clara yang tengah berjuang mempertahankan buah hati mereka.

__ADS_1


“Clara.”


Jack maupun Clara kini menoleh kearah sumber suara. Beberapa meter dari tempat mereka berdiri terdapat Chris yang tengah memandang keduanya dengan senyuman simpul. Baru beberapa hari dan Jack kini sudah meminta Clara untuk kembali padanya. Ia tidak salah langkah kali ini menjadikan Clara sebagai kunci emasnya.


Melihat kehadiran Chris seketika membuat Jack mengepalkan tangannya kuat. Masih terlihat jelas tanda kebiruan disudut bibir Chris akibat pukulannya beberapa hari yang lalu. Dan pria itu seolah ingin menambah luka lebam diwajahnya dengan menghadirkan batang hidungnya disini.


“Calm man! Aku hanya ingin menjemput kekasihku disini.”


Mendengar ucapan singkat Chris, dengan cepat Jack langsung menarik kerah pria itu yang memiliki tinggi beberapa senti dibawahnya. Melihat tempramen Jack yang kembali berkobar, dengan cepat Clara menahan tangan Jack dan menatapnya dengan kesal.


Sedangkan Chris hanya menatap Jack dan tersenyum miring. Terlihat jelas bagaimana Jack yang begitu tempramen jika menyangkut Clara, dan ia begitu menyukainya.


“Lepaskan, Jack! Lepaskan!”


Clara mulai berucap kesal, selalu kekerasan yang Jack lakukan jika ia tidak mendapatkan apa yang ia inginkan. Ini salah satu hal yang begitu ia benci dari sifat Jack. Mendengar ucapan Clara, Jack tidak bergeming. Pria itu kini masih menarik kerah Chris dan memandang pria itu dengan tajam.


“Kau pria kasar Jack, kau monster. Aku membencimu.”


Ucapan pelan Clara kini mampu membuat Jack melepaskan kerah Chris dan memandang Clara tidak percaya. Melihat kesempatannya, dengan cepat Clara menarik Chris menjauh dari Jack dengan menggandeng lengan pria itu memasuki mobil milik Chris. Jack yang melihatnya hanya tersenyum kecut dan menunduk dalam melihat kepergian keduanya.


Kata-kata yang bahkan ia tidak percaya itu semua keluar dari mulut Clara. Ia monster? Bahkan ia melakukan ini semua untuk gadis itu. Shawn, Dean dan bahkan sekarang Chris. Apa Clara tidak pernah mengerti?


“Kau keterlaluan Chris, ini tidak seperti perjanjian kita. Kau selalu memancing amarah Jack.”


Setelah didalam mobil, Clara kini memandang Chris dengan begitu kesal. Chris selalu mengatakan ia adalah kekasihnya, bahkan ia baru mengenal pria itu beberapa hari yang lalu. Entah Chris maupun Jack memiliki persaingan seperti apa, tapi yang jelas Chris seolah hanya bermain-main dengan emosi Jack.


“Aku menyukai Jack dan tempramennya, aku hanya sedikit menggodanya.”

__ADS_1


To be continue...


__ADS_2