Toxic Relationship

Toxic Relationship
Sacrifice


__ADS_3

...Happy Reading...


Seorang pria terlihat berlari dengan tergesa-gesa, tak terhitung berapa orang yang sudah menggerutu kesal karena ditabrak olehnya. Jack, pria itu merasakan jantungnya semakin berpacu kencang, ia sudah tidak peduli lagi dengan sekitarnya. Jarak dari rumah sakit yang biasanya ia tempuh selama setengah jam lamanya, kini ia hanya perlu lima belas menit untuk sampai disini.


Brak!


Jack kini mendobrak pintu ruangan VIP itu. Membuat Judy dan Nyonya Turner yang berada di dalam ruangan tersentak. Peluh sudah membanjiri tubuh Jack, dengan langkah pelan ia mendekati kasur tempat dimana sang Ayah berbaring. Dengan jelas ia dapat melihat sang Ayah kini memandangnya dengan pandangan sayu.


Judy kini tidak bisa menahan tangisnya yang sedari tadi ia tahan, wanita itu membungkam mulutnya, menghindari isakannya keluar. Akhirnya setelah cukup lama menunggu, kesadaran sang Ayah kembali.


“Ayahh..”


Suara Jack bergetar, dengan sekuat tenaga pria itu menahan tangisnya. Jack mengenggam tangan sang Ayah, tangan pria yang selama bertahun-tahun lamanya tidak pernah ia genggam. Tangan pria yang ia kira selama ini mengkhianati keluarganya, tangan pria yang pernah ia anggap sebagai penyebab sang Ibu tiada. Namun diam-diam sang Ayah malah menyimpan kesedihan yang tiada tara.


“Aku minta maaf.”


Ujaran Jack mampu membuat Tuan Hilton menangis dalam diam, dengan masih tersambung selang oksigen pria paruh baya itu menganggukan kepalanya pelan.


“Aku... Aku akan mengikuti semua kemauanmu yahh, aku janji.”


...****************...


Clara kini menatap ponsel yang sedari tadi ia genggam dengan sesekali melirik kearah pintu masuk ruangan tempatnya duduk. Sudah hampir satu jam lamanya ia menunggu sang kekasih selesai dengan rapatnya. Hari ini tepat satu minggu setelah Tuan Hilton sadar dari komanya, dan semenjak itu pula hubungannya dengan Jack seolah semakin merenggang. Jack tidak pernah ada waktu lagi untuknya, bahkan hanya untuk mengangkat panggilannya atau sekedar menjenguk putrinya. Dan itu semua membuat pikirannya menjadi kacau.


Berusaha sebisa mungkin ia berpikir positif jika Jack memang terlalu sibuk untuk melakukan itu semua. Namun bukankah pria itu sendiri yang bilang mengenai pernikahan mereka yang akan dilaksanakan seminggu kemudian? Dan ini sudah satu minggu. Apa Jack kembali mengundurnya lagi? Dan ia disini untuk membicarakan itu semua dengan Jack. Ia sudah lelah hanya diam dan menunggu.


Cklek!


Pandangan Clara kini beralih pada pintu yang terbuka, wanita itu tersenyum lebar saat melihat tepat disana berdiri Jack dengan setelan jasnya yang juga tengah memandangnya. Jack kini menarik napas dalam dan membuangnya dengan keras. Melihat bagaimana reaksi Jack melihatnya, seketika senyuman Clara luntur.

__ADS_1


“Aku.. Aku membawakan makan siang untukmu.”


Suara Clara bergetar, namun ia berusaha keras untuk tampak normal. Jack bahkan sama sekali tidak meliriknya dan berjalan menuju kursi kerjanya dan berkutat dengan layar monitor.


“Jack?”


Melihat tidak ada reaksi dari sang kekasih, Clara kini mulai memanggilnya dan membuat Jack menatapnya sekilas dan kembali menatap layar monitor.


“Letakkan saja disitu, aku masih sibuk.”


Ujaran tidak peduli Jack kini membuat Clara menghela napas. Jujur saja, ia merasa sakit hati dengan sikap Jack yang seperti ini. Apa pria itu memang diam-diam ingin menyudahi hubungan mereka?


“Bisa kita bicara sebentar?”


Dengan segala keberaniannya, Clara mulai bertanya. Ia tidak peduli lagi jika Jack akan marah padanya. Lama-lama ia cukup muak dengan sikap pria itu padanya. Terlebih mengenai pernikahan omong kosong yang selalu ia katakan, sudah cukup bersabar ia menghadapi semua. Tapi sekarang? Bahkan setelah Tuan Hilton sadar dari komanya, bukannya mereka kembali membicarakan pernikahan yang sempat tertunda, Jack justru enggan menemuinya.


“Bahkan hanya lima menit, kau tidak punya waktu untuk ku?” Clara menatap Jack dengan penuh kekecewaan. Bahkan kini ia sudah didepan pria itu, dan ia masih tidak memiliki waktu untuknya?


“Mengertilah, Chal.”


“Aku muak mengerti mu Jack!”


Clara kini meninggikan suaranya dan menatap Jack dengan tajam. Bahkan setelah yang ia lakukan, Jack masih meminta pengertian lagi darinya? Melihat amarah Clara kini Jack berdecak kesal. Tidak biasanya Clara kehilangan kesabaran seperti ini. Jack kini mulai berdiri dari kursinya dan berjalan mendekat kearah Clara. Ditengah kelelahannya karena pekerjaan, ia tidak boleh lepas kendali memukul Clara seperti beberapa tahun lalu.


“Kau tahu kan aku harus mengurus Hilton Group? Itu bukan hal yang mudah, Chal.”


“Tidak bisakah kau mengurus itu semua setelah kita menikah? Aku tidak akan melarangmu Jack. Tapi kau malah selalu berkata omong kosong tentang pernikahan. Memberikan harapan padaku? Itu menyakitkan, Jack.”


Clara kini tidak bisa menahan air matanya. Akhirnya, setelah sekian lama ia memendam itu semua. Ia dapat menyampaikannya kepada Jack. Baginya, Jack terlalu main-main dengan hubungan mereka. Terlebih pria itu mengetahui jika pernikahan adalah hal yang begitu ia nantikan.

__ADS_1


“Bersabarlah sedikit lagi, Chal. Aku harus-“


"Sudah cukup kesabaran ku!"


Clara kini kembali berteriak membuat Jack kembali tersentak. Pria itu merasakan emosinya tersulut, ia mengepalkan tangannya kuat. Sedari tadi ia berusaha menahan kesabarannya tapi Clara seolah memancingnya dengan teriakan wanita itu.


“Bahkan setelah yang kulakukan untukmu dan kau malah mengabaikan ku selama ber minggu – minggu seperti ini?” Clara menatap Jack dengan nanar.


“Ya, ya, hanya kau yang berjuang disini! Lalu apa yang sekarang kau inginkan?! Kembali ke Perancis? Membuka kembali Bakery mu disana?”


Jack kini berucap dengan tajam. Sebenarnya ia juga cukup muak dengan perkataan orang disekelilingnya tentang bagaimana pengorbanan Clara untuknya. Apakah mereka tidak pernah lihat mengenai perjuangannya untuk wanita itu? Judy, Nyonya Turner, Tiffany bahkan Steve sahabatnya selalu menasihatinya bagaimana Clara yang berjuang untuknya. Dan ia sudah cukup muak.


“Jika kau ingin kembali ke Perancis, maka pergilah! Aku akan mengganti semua kerugian mu yang sudah kau korbankan untukku.” Tambah Jack dan kini kembali berjalan menuju kursi kerjanya.


“A... Apa?”


Clara menatap Jack dengan pandangan tidak percaya. Apa pria itu masih menganggap ini semua hanya tentang uang? Clara menelan saliva dan mengambil napas dalam. Ia sudah lelah, lelah untuk berdebat dengan Jack.


“Asisten ku akan memesankan tiket pesawat dan keperluanmu untuk ke Perancis. Kau tidak perlu-“


“Mari kita sudahi semuanya Jack.”


Ucapan lima kata yang Clara lontarkan itu seketika membuat Jack terdiam. Ia memandang Clara dengan kosong, seolah begitu sulit mencerna setiap ucapan wanita itu. Melihat bagaimana reaksi Jack, Clara menghapus airmatanya yang kembali mengalir dan menatap pria itu dengan dalam.


“Kuharap aku tidak pernah menyesal mengucapkannya. Selamat tinggal.” Ujaran terakhir Clara sebelum ia berjalan keluar ruangan, meninggalkan Jack yang masih menatapnya yang sudah hilang dari pandangan.


"Selamat tinggal?" Jack tersenyum getir.


To be continue...

__ADS_1


__ADS_2