
...Happy Reading ...
Clara kini menatap kearah pemandangan dibawah gedung, kali ini ia sungguh sangat bosan. Hari ini tepat satu minggu sejak makan malam dengan keluarga Hilton, saat semua usahanya berakhir sia-sia. Sebenarnya ia sangat ingin kembali ke Perancis untuk bertemu dengan putrinya, terlebih Bakery miliknya yang tanpa pengawasan. Tapi Jack melarangnya untuk kembali sendiri dengan dalih akan tersasar. Alasan paling tidak masuk akal yang pernah Jack berikan padanya.
Clara kini berbalik menatap Jack yang masih sibuk dengan layar monitor dihadapannya, mereka kini masih berada di GrantHill Company sejak tadi pagi, lebih tepatnya tiga jam yang lalu. Dan selama tiga jam itu pula ia hanya bermalas-malasan. Terlebih Tiffany juga sedang berada di Perancis, tidak ada yang menemaninya untuk sekedar berkeliling mall atau berjalan-jalan santai. Ia sangat bosan.
Drrtt... Drrrttt...
Clara tersentak ketika ia merasakan getaran ponselnya pada celananya, Clara mengerutkan kening ketika melihat sebuah pesan masuk dengan nomor yang tidak ia kenali. Dengan cepat Clara membuka pesan itu.
‘Selamat siang Nona Villegas, saya Nyonya Hilton. Jika anda sedang tidak sibuk, bisa kita bertemu di Corner Cafe sekarang? Saya tunggu.'
Clara menelan salivanya dan memandang Jack yang masih terlihat begitu sibuk dengan pekerjaannya. Haruskah ia memberitahukan Jack mengenai pesan yang diterimanya? Namun selanjutnya Clara menggeleng. Tidak, pastinya jika ia memberitahukan Jack, pria itu tidak akan pernah mengizinkannya. Terlebih ia juga begitu penasaran dengan apa yang ingin disampaikan Nyonya Hilton padanya. Berbanding terbalik dengan Tuan Hilton, Nyonya Hilton tampak begitu lembut padanya.
“Jack, boleh aku pergi sebentar?” Tanya Clara dan menatap kekasihnya itu, membuat Jack mengalihkan pandangannya dari layar monitor.
"Mau kemana?" Mata Jack kini benar - benar teralihkan menatap Clara dengan intens. Clara tampak terdiam sejenak untuk berpikir.
“Umm... Cari kopi.”
“Baiklah, jangan terlalu lama.”
Ujar Jack singkat dan kembali fokus dengan pekerjaannya, Clara tersenyum lebar. Ia tidak tahu jika meminta izin pada Jack semudah ini, tidak seperti dulu Jack yang selalu marah bahkan hanya karena hal sepele.
Sebelum membuang waktu dan Jack yang berubah pikiran, dengan cepat Clara berjalan keluar ruangan dan menuju lift, membawanya ke lantai bawah dan meninggalkan gedung GrantHill Company.
......................
Clara kini membuka pintu masuk cafe, dari kejauhan ia dapat melihat seorang wanita paruh baya yang terlihat begitu elegan. Senyuman Clara mengembang, ia kira Nyonya Hilton akan datang dengan Tuan Hilton, namun ternyata ia salah.
“Selamat siang Nyonya.”
__ADS_1
Clara kini berdiri disebelah Nyonya Hilton dan membungkukan tubuhnya. Nyonya Hilton yang melihat kedatangan Clara tersenyum tipis.
“Kau datang Clara, Duduklah.”
Ujaran lembut Nyonya Hilton membuat Clara tersenyum tipis. Memang Nyonya Hilton sangat berbeda dengan suaminya.
“Kau ingin pesan apa?”
“Tidak, tidak perlu Nyonya.”
Clara kini mengangkat kedua tangannya, ia tidak ingin terlalu lama disini. Ya walaupun Nyonya Hilton memperlakukannya dengan begitu baik, tapi ia masih sangat canggung. Melihat Clara yang menolak, Nyonya Hilton tampak tersenyum dan mengangguk mengerti.
“Ini pertemuan kedua kita, bukan?”
Clara mengangkat wajahnya dan menatap wanita paruh baya itu yang tengah tersenyum kepadanya. Selanjutnya Clara kembali menunduk dan mengangguk kecil.
“I..Iya Nyonya.”
“Maaf karena tidak bisa merawat Jack dengan baik selama ini, Clara.”
Suasana seketika hening, Clara mengangkat wajahnya dan dapat melihat Nyonya Hilton yang tampak memandangnya dengan sendu. Wajah gugup Clara kini berubah menjadi penuh tanya.
“Dan jangan memanggilku Nyonya Hilton, aku sudah tidak menyandang status itu. Kau bisa memanggilku Ibu."
Mendengar ucapan wanita paruh baya dihadapannya, Clara terdiam sesaat, berusaha mencerna semua yang dikatakannya. Clara dapat melihat wanita itu mengerjapkan matanya sesaat dan tersenyum tipis padanya. Walaupun ia berusaha menyembunyikannya, Clara dapat melihat kesedihan di raut wajahnya.
“Aku sudah bercerai dengan Tuan Hilton sejak Jack di penjara, dan kurasa Jack tidak tahu mengenai itu.” Ujar Nyonya Hilton tenang dan meminum segelas teh hangat yang dihidangkan.
“Ke..kenapa? Kenapa anda bercerai?”
Setelah melontarkan pertanyaan itu Clara menggigit bibir bawahnya, ia terlalu frontal dan sangat tidak sopan.
__ADS_1
"Ma.. Maaf." Ujar Clara gugup dan menundukkan kepalanya. Melihat reaksi Clara, Nyonya Hilton tampak tersenyum tipis.
“Tuan Hilton tidak pernah melupakan istri pertamanya dan selalu menyalahkan dirinya atas kematian wanita itu. Sampai akhirnya aku menyerah dengan semua sikapnya dan mengetahui bahwa Tuan Hilton sudah tidak mencintaiku."
Clara dapat melihat wanita paruh baya dihadapannya tampak berlinang air mata. Entah apa reaksi Jack jika ia mendengar ini semua. Dan juga, mengapa Nyonya Hilton memutuskan untuk menceritakan ini semua padanya? Tidak, tidak ia bukan Nyonya Hilton lagi.
“Aku tahu, aku pernah melakukan kesalahan karena berusaha merebut Tuan Hilton dari istri pertamanya. Merebut cinta pertamaku dari wanita yang memiliki derajat jauh diatasku.”
“Cin.. Cinta pertama?” Tanya Clara dengan bingung, ia masih tidak mengerti dengan ini semua.
“Dulu aku dan Tuan Hilton adalah sepasang kekasih, namun ia dijodohkan oleh orang lain yang sederajat dengannya. Dan perjodohan itu membuat kami berpisah dan bertahun-tahun kemudian tanpa disangka aku kembali bertemu dengannya sebagai atasan dan aku adalah sekretarisnya...”
Wanita paruh baya dihadapannya tampak merenung dengan sebuah senyuman kecil, seolah mengenang masa – masa yang begitu menyenangkan dalam hidupnya itu. Clara masih terdiam dan menyimak, ia mulai mengerti kearah mana pembicaraan ini.
“Tuan Hilton mengira cintanya untukku tidak pernah memudar dan akupun demikian, namun ia baru merasakan kehilangan yang begitu besar saat ia kehilangan istri pertamanya. Bahkan sejak saat itu Tuan Hilton tidak pernah memperlakukanku seperti dulu. Walaupun kami menikah, tapi cintanya sudah direnggut sepenuhnya oleh istri pertama.”
Clara merasakan dadanya ikut sesak mendengar itu semua, walaupun wanita ini salah. Namun ia hanya ingin bersama cinta pertamanya, tapi memang takdir tidak membiarkan mereka untuk bersama. Bahkan Jack tidak pernah tahu mengenai penyesalan Tuan Hilton sejak kematian Ibunya.
“Saat melihat dirimu di makan malam kemarin, aku seperti melihat diriku sendiri. Namun bedanya aku tidak memiliki nyali yang begitu besar untuk mempertahankan cintaku seperti dirimu Clara. Kau wanita yang hebat.”
Wanita ini memegang tangan Clara erat dan menatapnya dalam, Clara tersenyum tipis. Terlihat jelas kini wanita itu mulai menitikkan air matanya.
"Kuharap dengan perpisahanku dengan Tuan Hilton dapat memperbaiki hubungan Jack dengan Ayahnya. Tolong jaga Jack baik-baik Clara, aku begitu bersalah menghancurkan hubungan Jack dengan Tuan Hilton."
Ujar wanita itu dan mulai sesegukan. Clara masih terdiam mematung, tidak menyangka dengan semua yang ia dengar ini, Clara kini mulai berdiri dan berjalan menuju wanita paruh baya itu dan memeluknya, berusaha menenangkannya yang tampak begitu sedih.
“Perjuangkan hubunganmu dengan Jack, Clara. Aku sudah membantu sebisa mungkin untuk bicara dengan Tuan Hilton.”
"Baik Bu, terimakasih banyak."
To be continue...
__ADS_1