Toxic Relationship

Toxic Relationship
Late (Flashback)


__ADS_3

⭕ Kata yang bercetak miring adalah masa lalu


...Happy Reading...


3 years ago...


Jack kini menatap kearah seseorang gadis dihadapannya dengan intens. Gadis dihadapannya jauh lebih menarik dibandingkan hidangan lezat yang ia santap kali ini. Sedangkan gadis dihadapannya nampak tenang menyantap hidangannya, seolah tidak terusik dengan tatapan Jack yang tidak pernah lepas darinya.


Namun tatapan gadis itu kini beralih pada Jack. Jack sudah menatapnya hampir lima menit penuh, bahkan tanpa sama sekali menyentuh hidangan miliknya. Sebenarnya Jack datang kesini untuk makan malam atau hanya memandangnya? Seolah ia sudah kenyang dengan hanya menatapnya.


“Jack, kau membuatku tidak nyaman.” Ucap Clara, sedangkan Jack tidak bergeming. Pria itu masih menatapnya dalam, Clara menggaruk tengkuknya canggung. Jack tidak terkena pengaruh hipnotis kan? Pria itu begitu aneh.


“Kau sangat cantik Clara.”


Empat kata itu seketika membuat Clara menundukkan kepalanya dalam. Jack tersenyum lebar menatap wajah Clara yang kini tampak memerah.


Membuat Clara salah tingkah adalah hoby favoritnya. Tapi ia hanya mengatakan yang sebenarnya. Terlepas dari Clara yang bahkan tidak pernah perawatan mahal seperti kebanyakan wanita, gadis itu tetap begitu cantik dimatanya.


“Apa aku harus menikahimu sekarang juga?”


Mata Clara kini menatap kearah Jack, Jack semakin memperlebar senyumannya. Membayangkan bagaimana setiap bangun tidur ia melihat wajah Clara dihadapannya membuatnya bahagia. Terlebih dua minggu ini mereka baru bertemu lagi, kesibukannya semakin padat dan ia begitu sulit meluangkan waktu untuk kekasihnya.


“Jangan terlalu dipikirkan Jack, kau tahu aku akan selalu menunggumu kan?”


Ucapan lembut Clara kini mengena hatinya. Jack kini meraih tangan Clara dan mengelusnya lembut. Clara adalah wanita yang begitu pengertian. Bahkan beberapa kenalannya selalu mengeluh jika sang kekasih meminta pernikahan, namun Clara selalu mengerti keadaannya.


“Aku sekarang penasaran, jauh lebih besar cintamu padaku atau sebaliknya.”


Clara tertawa mendengar ucapan polos Jack. Mengapa Jack menjadi begitu childish? Tiga tahun ia menjalin hubungan dengan Jack, dan rasa cintanya pada pria itu tidak pernah berubah, bahkan terus bertambah.


“Kau pasti sudah tahu jawabannya kan, Chal?” Jack mulai tertawa, sedangkan Clara memicingkan matanya menatap Jack.

__ADS_1


“Aku akan melakukan apapun untukmu Chal, cintaku padamu jauh lebih besar.”


Mendengar ucapan percaya diri Jack, Clara kini tersenyum remeh. Semua orang didunia ini pasti tahu, jika seorang wanita memiliki andil yang begitu besar masalah perasaan. Dan mereka jauh lebih setia dibandingkan para pria. Jadi ia sangat tidak setuju dengan ucapan Jack kali ini.


“Mau bertaruh padaku?” Clara kini tersenyum misterius membuat tawa Jack berhenti. Kini Jack menatap Clara penasaran.


“Kita lihat siapa yang meninggalkan hubungan ini lebih dulu. Kau atau aku.”


Melihat wajah Clara yang begitu serius, kini Jack menatap gadis itu dalam. Tidak, ia tidak akan pernah meninggalkan Clara bagaimanapun keadaannya. Melihat bagaimana masa lalu Clara yang begitu menyakitkan, tugasnya adalah melindungi Clara dari segala masalah apapun yang bisa menyakiti gadis itu.


“Kau tidak mungkin meninggalkanku, Chal.” Jack kini tersenyum simpul, sedangkan Clara menatap pria itu dengan bingung.


“Aku tidak akan membiarkanmu melakukannya.”


Ucapan singkat Jack kini membangkitkan tawa untuk keduanya. Clara maupun Jack kini saling menatap dengan penuh arti, mereka masing-masing begitu tahu betapa besar cinta yang mereka berikan satu sama lain. Cinta adalah hal yang begitu membahagiakan.


Tawa keduanya kini berhenti ketika suara ponsel milik Jack mulai berdering. Jack kini merogoh ponselnya disaku celananya. Siapa yang berani-beraninya menganggunya ditengah waktu santainya kali ini? Tatapan kesal Jack kini tergantikan saat kontak ibunya kini memenuhi layar ponselnya. Ada apa ibunya menelepon.


“Sebentar Clara, ibuku menelepon.” Clara kini mengangguk, sedangkan Jack mulai menjauh dari tempat dimana Clara duduk. Ia tidak ingin menganggu gadis itu dengan panggilannya.


“Tidak sayang, Ibu hanya ingin mendengar kabarmu.”


Jack kini menatap layar ponselnya sebelum kembali mendekatkannya pada telinga. Ini benar nomor ibunya kan? Bahkan tadi pagi ia menyempatkan waktu untuk mampir kerumah keluarga besarnya. Walaupun ia sudah tidak tinggal bersama sang Ibu, beberapa kali ia meluangkan waktu untuk sekedar sarapan bersama sang Ibu.


“Ibu mau kubelikan sesuatu? Aku sedang makan malam diluar dengan Clara.”


Jack mulai berucap lembut, ia ingin menyingkirkan pikiran negatifnya mengenai sang Ibu. Mungkin Ibunya hanya sedang rindu dengannya, pasti hanya karena itu.


“Tidak, tidak Jack. Apa boleh Ibu meminta sesuatu yang lain padamu?”


Jack kini mengerutkan keningnya. Ini adalah pertama kalinya Ibunya meminta padanya. Bahkan walaupun ia sudah cukup sukses seperti sekarang, Ibunya tidak pernah meminta apapun, walaupun itu hanya sekedar Brown Betty, salah satu dessert kesukaan sang Ibu.

__ADS_1


“Apa Bu? Apa Ibu ingin kubelikan Brown Betty? Aku sedang berada di restoran favoritmu.”


Senyuman Jack mengembang, mengingat bagaimana ibunya yang selalu tersenyum jika memakan Brown Betty membuat ia begitu bahagia. Bahkan dengan hal-hal kecil, ibunya terlihat begitu senang.


“Bisa kau menjaga Judy untuk Ibu Jack?” Mendengar permintaan sang Ibu seketika senyuman Jack memudar. Jack menelan salivanya, pasti ada yang salah dengan keadaan Ibunya.


“Apa Ibu baik-baik saja?" Jack mulai bertanya dengan panik. Suara Ibunya tiba-tiba menghilang, jantung Jack berdetak kencang.


"Ibu, Aku akan segera pulang. Tunggu aku Bu.” Jack kini mematikan panggilannya dan berjalan cepat menuju Clara yang masih menyantap hidangannya.


“Chal, Clara. Aku... aku ada urusan mendadak, kau... kau bisa pulang sendiri? “ Clara kini berdiri dan menatap Jack yang tengah gelisah.


“Ada apa Jack? Apa terjadi sesuatu?” Melihat wajah gelisah Jack kini Clara menatapnya khawatir. Beberapa menit lalu pria itu mendapatkan panggilan dari sang Ibu dan kini wajahnya begitu panik. Clara mengerti, pasti ada sesuatu yang terjadi.


“Aku... Aku harus pergi.” Jack kini mengambil jas kerjanya, namun dengan cepat Clara menahan tubuh Jack.


“Kau bisa mengemudi sendiri? Mau kuantar?"


Clara menatap Jack khawatir. Melihat bagaimana paniknya pria itu kini pikirannya ikut kacau. Tidak biasanya Jack begitu panik seperti ini, pasti sesuatu yang besar baru saja terjadi. Dan ia harus lebih tenang jika mengemudi sendirian. Ia tidak ingin terjadi apa-apa terhadap kekasihnya itu.


“Maaf Clara, aku harus pergi.”


...----------------...


Jantung Jack kini berdetak tidak karuan, pikirannya kacau. Suara lembut ibunya beberapa menit lalu selalu terngiang-ngiang di kepalanya. Dengan kuat Jack menginjak gas, kecepatannya telah mencapai 100km/jam. Entah berapa lampu merah yang telah ia langgar. Ia tidak peduli lagi, keadaan Ibunya jauh lebih penting dari apapun.


Mobil Jack kini mulai memasuki rumah besar keluarga Hilton. Perjalanan yang biasanya ia tempuh hampir satu setengah jam, kini hanya ia tempuh hanya sekitar lima puluh menit. Entah berapa banyak surat tilang yang akan ia terima di kantornya besok pagi.


Dengan cepat Jack membuka pintu mobilnya dan mulai berlari menuju pintu utama. Jack dapat mendengar suara tangisan seorang wanita dari dalam. Jantung Jack yang sedari tadi berdetak kini mulai melambat. Jack menarik napas dalam, berusaha untuk siap melihat keadaan disana. Tangan Jack mulai meraih knop pintu membuat pintu besar itu mulai terbuka.


Seketika kaki Jack melemah, pria itu jatuh terduduk, menatap sesuatu didepannya tidak percaya. Beberapa meter dari tempatnya berdiri, telah terdapat Judy yang menangis memeluk Ibunya yang sudah tidak berdaya. Sedangkan darah sudah menggenang di lantai. Teriakan menyakitkan Judy membuat air mata Jack menetes.

__ADS_1


“Ibu, apa aku terlambat?”


To be continue...


__ADS_2