Toxic Relationship

Toxic Relationship
Bakery


__ADS_3

...Happy Reading...


Seorang gadis dengan rambut sebahu miliknya itu tampak tersenyum kepada pria dihadapannya dan menyerahkan sekotak berisi beberapa potong roti didalamnya. Sekarang tepat pukul tujuh pagi dan toko roti Vill’s kini tampak ramai pengunjung. Roti brioche dan french toast begitu banyak diminati di Perancis.


“Ini pesanan anda, terimakasih banyak dan selamat datang kembali.”


Clara tersenyum menatap pria paruh baya dihadapannya, pria itu juga tampak tersenyum kepada Clara sebelum akhirnya pergi. Clara tersenyum senang, baru tiga bulan ia membangun toko roti dan kini tokonya cukup ramai. Terlebih saat pagi hari seperti ini, beberapa pengunjung membeli rotinya dan membawanya di cafe sebelah untuk menikmati segelas kopi setiap pagi. Bahkan ia memiliki beberapa pelanggan tetap di tokonya.


Sebenarnya tinggal di Perancis bukanlah ide buruk, bahasanya cukup mudah dipahami olehnya. Dan juga ekspetasinya mengenai ia yang dikirim oleh Tuan Hilton ternyata sangat salah. Ia mengira jika Tuan Hilton akan mengirimnya ke tempat antah berantah yang ia sendiri tidak tahu dimana. Namun ternyata pria paruh baya itu mengirimnya tepat ditengah pusat kota dengan rumah sederhana dan sebuah ruko kosong disebelahnya. Uang tabungan miliknya hanya digunakan untuk modal awal usahanya. Untung saja dari dulu ia selalu menabung dari jerih payah kerjanya di AR Group, setidaknya uang ini bisa ia gunakan untuk satu tahun kedepan ia hidup di Perancis.


Clara tersentak ketika sebuah suara ponsel berdering, Clara merogoh saku celananya dan melihat Ibunya kini melakukan panggilan video padanya. Clara tersenyum dan menatap salah satu karyawan miliknya.


“Kau gantikan aku dulu ya, aku ada urusan sebentar.”


“Baik, Bu."


Clara kini langsung melepaskan apron dan berjalan masuk kedalam toko, lebih tepatnya kedalam ruang kerjanya. Tempat dimana ia menghitung hasil penjualannya selama seharian ini.


“Halo, Bu.”


“Lihat dia Clara, dia sudah mulai bisa tertawa.”


Clara tersenyum kala sang Ibu mengarahkannya pada putri kecilnya yang kini berusia lima bulan. Clara menatap putrinya dengan saksama, putrinya jauh lebih mirip dengan Jack ketimbang dirinya. Gadis kecil itu terlihat tersenyum lebar dan menampilkan deretan gigi yang belum tumbuh itu. Clara merasakan air matanya mulai mengalir, namun dengan cepat ia menghapusnya, ia tidak ingin sang Ibu melihatnya menangis.


“Dia cantik Bu, dia sangat cantik.”


Clara merasakan dadanya begitu sesak. Sekarang ia adalah seorang single fighter, memperjuangkan anaknya untuk hidup lebih layak. Ia tidak ingin anaknya merasakan apa yang ia rasakan dulu. Terlilit begitu banyak hutang dan harus kehilangan sang Ayah karena semua tumpukan hutang itu.


“Kau menangis Clara?” Clara tersentak mendengar suara sang Ibu.


“Tidak, tidak Bu. Aku hanya kelelahan, aku pergi Bu. Ada begitu banyak pekerjaan.”


Dengan cepat Clara mematikan panggilan dan menutup wajahnya dan mulai menangis. Ia bangga, ia sangat bangga dengan dirinya sendiri bisa sejauh ini. Terlebih saat setiap malam ia menatap sang buah hati yang nampak tertidur lelap, seolah ingatannya mengenai Jack begitu menyesakkan dada.

__ADS_1


‘Apa kau bisa bertemu Ayah kandungmu, nak? Maaf, maafkan Ibu karena pernah melakukan kesalahan di masa lalu.'


Clara kembali tersentak saat sebuah deringan ponsel kembali terdengar. Dengan cepat Clara menghapus airmatanya dan menatap layar ponselnya. Clara menarik napas dalam dan membuangnya perlahan sebelum mengangkat panggilan itu.


“Halo Tiff, ada apa?”


“Kau dimana Chal? Aku di cafe tepat disamping tokomu. Cepat datang kesini!”


...----------------...


Clara kini menatap sekitar, tepat tidak jauh darinya terdapat Tiffany yang terlihat melambaikan tangan padanya. Clara tersenyum dan mengeratkan mantel yang dipakainya. Di Perancis sekarang suhunya mencapai - 5°C, dan ia akan mati kedinginan jika tidak memakai baju hangat saat keluar walaupun hanya berjarak beberapa meter dari tokonya.


“Kalian sudah kembali?”


Tanya Clara dan menatap mereka berdua, Tiffany dan Philip. Dua sejoli dihadapannya ini sudah menikah beberapa bulan lalu, bahkan Tiffany mengandung anak pertamanya dan sudah jalan lima bulan. Clara tersenyum menatap perut Tiffany yang nampak semakin mengembang.


Sebenarnya sejak Tiffany menikahi Philip, Tiffany mengikuti pria itu untuk tinggal di Perancis walaupun terkadang harus kembali ke tempat kelahirannya hanya untuk mengurus beberapa berkas. Semenjak menikah, Tiffany dan Philip tidak pernah terpisahkan, terlebih mereka sama-sama seorang anak tunggal dari keluarga masing-masing, seolah mereka memberikan kasih sayang yang lebih satu sama lain.


“Kau tampak tidak senang kami kembali.”


Tiffany nampak tertawa melihat wajah kesal Clara. Menggoda Clara adalah suatu hal kesukaannya. Clara memandang Tiffany intens, persahabatannya yang ia jalin bersama Tiffany hampir delapan tahun lamanya bukan main-main.


Clara masih ingat tepat satu tahun lalu dimana Tiffany menangis sesegukan datang kepadanya untuk meminta maaf. Bahkan gadis itu mengaku mencarinya di hampir seluruh Perancis hanya untuk meminta maaf atas semua yang pernah dilakukannya, dan ia dibantu Philip dalam mencarinya. Bahkan Philip juga ikut memohon padanya untuk memaafkan Tiffany karena pria itu sudah cukup pusing hampir setiap mereka bertemu dan Tiffany hanya menangis menceritakannya.


Bahkan Philip mengaku jika Tiffany tidak pernah bertindak demikian saat kehilangannya beberapa tahun lalu. Clara ingat, Tiffany dan Philip sempat putus beberapa bulan dan akhirnya kembali bersama.


“Bagaimana keadaan keponakanku, Kate boll boll?”


Clara tertawa kecil mendengar nama panggilan Tiffany untuk anaknya, Katelyn. Tiffany mengaku mendapat sebuah ide untuk nama panggilan itu karena melihat bagaimana pipi Kate yang tampak seperti bola saat baru dilahirkan. Bahkan bayi itu mencapai berat hampir 4 kg.


“Dia baik, tapi begitu rewel beberapa hari ini.”


“Mungkin dia merindukan Ibunya."

__ADS_1


“Kau benar Tiff."


Clara tampak tersenyum tipis mendengar ucapan Tiffany. Clara mengakui apa yang diucapkan Tiffany adalah kebenaran. Selama hampir tiga bulan ini ia begitu jarang bermain dengan Kate. Ia begitu fokus mengeluarkan beberapa inovasi roti yang berbeda dan membuat resep. Dan itu memakan waktu beberapa hari dan terkadang masih ada beberapa bagian yang kurang untuknya.


“Bukankah kau harus beristirahat sejenak Chal? Kau sudah memiliki beberapa karyawan untuk menggantikanmu.” Ujar Tiffany dan menatap sahabatnya itu dengan khawatir.


“Entahlah Tiff, aku sangat takut Kate akan merasakan apa yang kurasakan dulu.”


Tiffany dan Philip kini menatap Clara dengan prihatin, Clara tampak memandang keluar jendela, menatap beberapa gumpalan putih itu kini mulai turun cukup deras. Hari ini memasuki pertengahan musim dingin, dimana rasa dingin benar-benar menusuk hingga ke tulang.


“Tapi kau sendiri tahu kasih sayang itu begitu dibutuhkan kan, Chal?” Clara kini menatap Tiffany. Tiffany benar, bahkan ia tidak pernah terpikir sejauh itu.


“Apa kau tahu bagaimana kondisi Jack saat ini Tiff?”


Tiffany kini menarik napas dalam dan melirik kearah Philip. Ini adalah masalah pribadi Clara, dan Tiffany cukup peka jika Clara tidak ingin Philip mendengar perbincangan mereka lebih jauh. Merasakan Tiffany yang kini meliriknya, Philip berdehem dan mulai berdiri.


“Aku harus membeli beberapa barang di luar Sayang, aku akan menjemputmu lagi nanti.”


Ujar Philip dan meletakkan ponselnya diatas meja. Tiffany tampak mengangguk dan menatap sang suami yang keluar cafe. Tiffany tersenyum lebar, Philip memang pria yang begitu peka.


“Sungguh, a..aku tidak bermaksud mengusir Philip.”


Ujar Clara dan menatap kepergian Philip. Sungguh, ia jadi tidak enak hati mengucapkan hal mengenai Jack. Philip mungkin merasa tidak nyaman. Toh, Philip juga tidak mengenal Jack.


“Tidak Chal, aku yang mengusirnya.” Ujar Tiffany. Clara dan Tiffany saling berpandangan dan mulai tertawa.


“Beberapa minggu lalu aku mendengar Jack keluar dari tahanan.”


Tawa Clara seketika terhenti saat mendengar ucapan Tiffany. Tiffany kini memandang Clara dengan intens. Clara tahu, didalam lubuk hati Tiffany, pasti gadis itu masih memiliki kebencian pada Jack. Clara sangat tahu bagaimana Tiffany yang begitu menyayangi Shawn dan menganggap pria itu seperti adik kandungnya sendiri.


“Tapi kurasa Jack tidak akan mencarimu Chal, Tuan Hilton tidak akan membiarkannya.”


“Kau benar Tiff, aku bodoh karena masih mengharapkannya.” Clara tersenyum kecut.

__ADS_1


To be continue...


__ADS_2