Toxic Relationship

Toxic Relationship
Worried


__ADS_3

...Happy Reading ...


“Jadi bagaimana menurutmu jika perusahaan sedang menghadapi masalah seperti ini?”


Clara terkikik kecil ketika melihat Dean yang tengah menggaruk tengkuknya. Hampir sepuluh menit lamanya ia menatap Dean yang tengah berpikir. Bagi Clara, Dean adalah karyawan yang cepat belajar dan gesit. Dan Dean juga lebih cepat mengerti dengan praktek dari pada teori seperti ini, seolah otaknya bergerak lebih lambat dengan teori.


“Aku tidak tahu jika kita akan memikirkan perusahaan sejauh ini.”


Clara tersenyum kecil. Bahkan jika urusan keuangan butuh bantuan, ia dan Tiffany lah yang membantu. Ia dan Tiffany adalah multitalent, lebih tepatnya dipaksa untuk multitalent.


“Kau harus belajar ini semua Dean, kurasa kau akan menggantikan Tiffany nantinya.”


“Menggantikan Tiffany? Apa ia ingin resign?” Dean yang beberapa menit lalu terlihat bingung itu kini menatap Clara penasaran.


“Tidak, tapi setelah ia menikah dengan Philip. Kemungkinan besar ia akan resign.”


“Kenapa?” Clara menatap Dean dengan tertawa kecil. Dean benar-benar polos.


“Ayolah, aku dan Tiffany bekerja di perusahaan ini hampir tujuh tahun. Dan Tiffany begitu bertekad untuk mencari pria kaya dan hidup dengan normal sebagai ibu rumah tangga.” Clara tertawa menceritakannya. Clara begitu ingat bagaimana Tiffany yang begitu menggebu-gebu menceritakan itu semua lima tahun lalu.


“Dan ia mendapatkannya, kau juga Chal."


Mendengar ucapan Dean, seketika Clara menghentikan tawanya. Tiffany memang mendapatkan Philip si tunggal kaya raya. Tapi dirinya? Jack belum memikirkan pernikahan dan ia juga begitu takut membahasnya. Bahkan hubungannya dengan Jack jauh lebih lama dibandingkan hubungan Tiffany dengan Philip. Tapi kini Tiffany sudah berada di jenjang yang lebih serius, sedangkan hubungannya dengan Jack sama sekali tidak ada perubahan. Bahkan semakin memburuk.


“Chal, kau baik-baik saja?” Melihat Clara yang termenung membuat Dean menatapnya khawatir.


“Ah, ya aku hanya-“


“Chal, ada paket untukmu.” Dean maupun Clara menatap kearah pintu masuk, didepan ruangan Clara terdapat Kathy dengan senyumannya.


“Paket?”


“Ya, aku tidak tahu siapa pengirimnya tapi kurirnya berkata sedang terburu-buru.”

__ADS_1


“Oh, baiklah aku akan turun. Terimakasih Kathy.” Clara berucap dengan senyuman miliknya. Kathy hanya mengangguk dan keluar ruangan Clara. Melihat wajah bingung Clara, Dean mulai berusaha menenangkannya.


“Mungkin dari Jack, ia ingin memberikan kejutan padamu.” Dean tersenyum hangat. Melihat Clara yang tampak gelisah membuatnya bingung. Dean merasakan, setelah pulang dari Italia Clara lebih banyak melamun dan linglung. Ia terlihat tidak fokus.


“Tunggu sebentar ya Dean.”


Dean mengangguk atas ucapan Clara. Selanjutnya gadis itu mulai berjalan keluar ruangan meninggalkan Dean yang memandang gadis itu hingga tidak terlihat dari sudut matanya.


Beberapa hari setelah Clara pulang dari Italia, gadis itu jatuh sakit dan tidak masuk kantor hampir tiga hari. Dan hari keempat ia masuk dengan pipi kirinya yang bengkak. Awalnya ia mengira Jack menyakiti gadis itu. Namun Tiffany dan Clara bercerita mengenai pria yang tak dikenal dan menyerang Clara.


Sebenarnya dari awal melihat sosok Jack, Dean merasa ada yang janggal dari hubungan Clara dan juga Jack. Jack terlihat begitu controlling dan pencemburu, itu begitu terlihat bagaimana Clara menjaga jarak dengannya ketika bersama Jack. Dan juga Clara terlihat begitu takut akan kehadiran Jack ketika bersamanya, panik, gelisah, seolah perasaan Clara campur aduk. Dan Dean sangat jelas melihat itu dari ekspresi gadis itu.


“Apa yang kau dapatkan?” Dean tersenyum tipis ketika melihat Clara datang dengan membawa sebuah kotak dengan pita diatasnya.


“Entahlah, aku belum membukanya.”


Mendengar ucapan datar Clara senyuman Dean seketika memudar. Dean kini menatap raut wajah Clara yang terlihat khawatir. Apa ia baik-baik saja? Apa Clara sedang tidak enak badan?


“Kau baik-baik saja saja Chal?”


“Okay, let’s open it!”


Dean dapat melihat dengan jelas tangan bergetar Clara ketika membuka sehelai demi sehelai ikatan pita itu. Apa seseorang sering memberikan hal-hal aneh pada Clara hingga ia harus setakut itu?


Kotak telah terbuka, setelah melihat apa yang berada didalamnya seketika wajah Clara langsung berubah terkejut dan membungkam mulutnya. Dean yang penasaran langsung berdiri dan berjalan kearah Clara. Alangkah terkejutnya Dean ketika melihat seekor bangkai tikus yang berlumuran darah.


“C.. Chal siapa yang mengirim ini?"


Dean bertanya dengan gagap dan dibalas gelengan lemah Clara. Clara kini mengambil sebuah kertas yang berada di atas bangkai itu dan membukanya.


‘Jauhi Jack dan pergilah ke neraka!’


Clara hanya memandang kertas itu dengan pandangan kosong. Selanjutnya Clara tersenyum tipis. Beberapa hari yang lalu ia hanya mendapatkan bunga layu, boneka dengan kepala putus, tapi kini benar-benar bangkai hewan mati. Mungkinkah esok ia menemukan jari manusia didalamnya?

__ADS_1


“Apa kau sering mendapatkan ancaman seperti ini Chal?”


“Ya, tapi ini yang paling ekstrim.”


Dean menatap Clara yang sedang tersenyum tipis. Dilihat dari ekspresinya Clara terlihat tenang, seolah ini benar-benar bukan yang pertama untuknya.


“Apa Jack atau Tiffany tahu mengenai ini?”


“Tidak, tidak Dean. Dan kuharap kau tidak akan pernah memberitahu mereka.”


Dean kini menghela napas dalam ketika melihat suara Clara yang dingin padanya. Mengapa harus menyembunyikan ini semua? Apa Clara menganggap ini semua dengan remeh?


“Jika kau terus diam seperti ini, orang itu bisa saja menyakitimu Chal. Ia bisa bertindak lebih jauh dari pada sekedar ancaman seperti ini.” Ucap Dean khawatir.


“Menyakitiku?” Clara kini tertawa kecil. Melihat bagaimana Jack menyakitinya, ia rasa itu tak sebanding dengan surat ancaman ini.


“Apa kau begitu mencintai Jack, Chal?”


Tawa Clara seketika lenyap dari bibirnya. Pertanyaan datar Dean membuatnya bungkam. Ia tidak berpikir sampai situ. Apa ia mencintai Jack? Jawabannya adalah ya, tentu saja. Ia sangat mencintai Jack yang dulu. Namun kini pertanyaannya adalah, apa ia MASIH mencintai Jack?


“Mengapa kau bertanya seperti itu?”


“Ayolah Chal, kau menutupi semua rasa sakitmu demi pria itu. Kau bungkam mengenai Mary, pesan ancaman dan sekarang teror ancaman. Kau boleh mencintai Jack, tapi jangan bertindak seperti gadis bodoh!”


Dean kini meninggikan suaranya. Ia benar-benar tidak habis pikir mengenai Clara. Entah apa yang Clara sembunyikan, tapi ini semua pasti menyakitinya.


“Guys, kalian baik-baik saja?”


Clara dan juga Dean tersentak ketika menatap Tiffany yang berdiri di depan pintu ruangannya. Dengan cepat Clara langsung mengambil kotak itu dan menyimpan disamping kakinya. Pasti kotak itu tertutup meja dari pandangan Tiffany.


“Kami hanya mengeluarkan pendapat tentang masalah perusahaan. Ada apa Tiff?” Clara kini tersenyum, berusaha untuk tetap tenang.


“Kalian ditunggu Tuan Arthur diruangannya.”

__ADS_1


To be continue...


__ADS_2