
...Happy Reading ...
Clara kini menyenderkan kepalanya pada dinding toilet. Jantungnya berdetak kencang, kehidupan seolah menohok dadanya kuat. Untuk kesekian kalinya ia menatap tidak percaya benda kecil dihadapannya. Semua ini salah, semua ini adalah kesalahan. Clara meremas kuat kedua tangannya.
Dua garis merah pada benda itu bisa mengubah hidupnya mulai sekarang. Ingatan Clara kembali pada beberapa minggu lalu. Ia ingat, semenjak pulang dari Itali bulannya tidak pernah datang. Dan juga beberapa hari yang lalu ia ‘melakukannya lagi’ dengan Jack. Mengapa, mengapa ia bisa melewati batas seperti ini?
Clara menekan kepalanya. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Jack tidak pernah berpikir mengenai pernikahan dengannya, dan sekarang ia malah mengandung anaknya. Apa yang akan Jack lakukan padanya jika ia mengetahui ini semua? Ia mulai paham mengapa beberapa hari belakangan ini ia begitu sering sakit kepala dan juga mual.
“Chal, kau baik-baik saja?”
Clara tersentak ketika suara ketukan terdengar dari bilik toiletnya. Dengan cepat Clara langsung membuang tes itu kedalam kloset dan menyalakan flush. Jantung Clara kini berdetak tak karuan. Apa ia akan menyimpan semua ini sendirian?
“Ada apa Tiff?” Clara mulai bertanya dengan tenang.
“Astaga Chal, kau hampir setengah jam didalam sana. Kau baik-baik saja?”
Clara kini keluar bilik toilet dan tersenyum menatap Tiffany yang tampak khawatir. Sedangkan Tiffany menatap kesal sahabatnya itu. Entah mengapa Clara sering drop belakangan ini, bahkan wajah pucatnya tidak kembali setelah beristirahat full. Itulah mengapa Tiffany begitu sering khawatir.
“Aku baik-baik saja Tiff. Kau sekarang lebih cerewet dari ibuku.”
Clara kini tertawa dan membasuh wajahnya dengan keran. Clara memandang dirinya didepan cermin. Memang, wajahnya tampak lesu dan pucat, persis seperti orang sakit. Tapi badannya terasa fit seperti biasa, walaupun terkadang kepalanya begitu sakit, Tapi selebihnya ia baik-baik saja.
“Apa hubunganmu dengan ibumu baik-baik saja?” Tiffany kini bertanya penuh keraguan, sedangkan Clara hanya menatapnya bingung.
“Ibuku? Ya, baik-baik saja. Memangnya ada apa?”
Mendengar jawaban yang tampak bingung dari Clara, kini malah membuat Tiffany ikut kebingungan. Bukankah beberapa hari lalu Clara bilang jika Ibunya sering menyakitinya? Dan karena itulah luka-luka lebam itu berasal. Tapi mengapa ia sekarang tampak begitu santai?
“Bukankah luka lebammu... ” Clara seketika terdiam. Ia lupa, ia lupa mengenai kebohongannya. Clara kini menatap Tiffany, gadis itu tampak menatapnya bingung.
__ADS_1
“Maaf Tiff, aku minta maaf. Mungkin karena hanya dirimu yang mengetahui hal ini, aku lupa.” Tiffany dapat melihat Clara tersenyum canggung padanya.
“Ya, ya, ibuku banyak berubah belakangan ini. Dia bersikap jauh lebih baik dari sebelumnya.” Clara kembali membasuh wajahnya, seolah menghindari tatapan Tiffany. Tiffany menatap gerak-gerik Clara dengan intens.
‘Clara berbohong.’
“Well, bagaimana dengan acara kantor dua minggu lagi Chal?”
Melihat Clara yang tidak nyaman, kini Tiffany mulai mengalihkan pembicaraan. Sebenarnya ia tahu Clara tengah berbohong padanya. Tapi sebagai sahabat yang baik, Tiffany berusaha mengerti mengapa sahabatnya itu berbohong. Pasti Clara memiliki alasan yang tepat dibalik kebohongannya itu.
“Acara kantor?"
“Oh Hell, jangan bilang kau lupa Mrs Hilton?”
Mrs Hilton? Diambil dari nama belakang Jack Hilton. Mendengar pertanyaan sarkas Tiffany membuat Clara tertawa. Mungkinkah ia akan menjadi Nyonya Hilton? Entahlah, tapi ia rasa itu tidak akan terjadi.
“Aku ingat Tiff. Tapi kau tahu kan Jack begitu sibuk akhir-akhir ini? Jika dia tidak bisa datang, kau pasti tahu apa jawabanku.”
Tapi Tiffany tidak pungkiri, sejak bertemu dengan Jack sahabatnya itu jauh lebih ceria dan suka tersenyum. Tapi tidak beberapa tahun belakangan ini. Akhir-akhir ini Clara tampak murung dan menyendiri, tapi ia seolah menepis itu semua. Ia hanya ingin melihat Clara baik-baik saja, tanpa ingin mengerti perasaan apa yang diterima Clara.
“Kau tahu kan Chal, kau sudah membuat projek ini hampir 30% sendirian."
“Lalu?”
“Lalu?! Ayolah, acara tanpamu pasti begitu kurang Chal. Ini untuk merayakan prestasimu.”
Clara tertawa kecil menatap Tiffany yang kini menatapnya berapi-api. Sebenarnya ia tidak mengharapkan hal itu. Ia ikut serta dalam projek ini saja sudah membuatnya cukup bahagia. Sekarang ia tidak terlalu banyak menuntut pada dirinya sendiri, bisa bertahan hidup sampai sejauh ini saja merupakan prestasi untuknya.
“Akan kuusahakan untuk datang Tiff, aku tidak janji.”
__ADS_1
Tanpa ingin berdebat lebih lanjut dengan Tiffany, Clara kini memilih keluar toilet. Berdebat Dengan Tiffany tidak akan pernah selesai, Tiffany pasti akan tetap memaksanya datang sampai ia mengiyakannya. Dan Clara sedang tidak ingin menambah pikiran karena hal kecil.
Langkah Clara kini terhenti ketika ia menatap sesosok pria dihadapannya. Didepannya terdapat Dean yang menatapnya dengan membawa sebuah map cokelat. Clara kini berdehem dan melewati Dean begitu saja. Semenjak kejadian beberapa hari lalu, ia dan Dean menjaga jarak. Entahlah, ia begitu enggan untuk menambah pikirannya maupun menambah masalah dengan Jack. Ia hanya ingin semuanya berjalan lancar.
“Chal, Clara.” Clara kini menghentikan langkahnya, ia menarik napas dalam sebelum berbalik menatap Dean. Ia berusaha untuk terlihat tenang.
“Ada apa Dean?”
“Apa kau berusaha menjauhiku Chal?” Clara terdiam, entah apa yang harus ia jawab. Nyatanya memang benar, ia berusaha memberikan jarak.
“Tidak, aku hanya...
beberapa hari belakangan ini aku begitu sibuk dengan deadlineku Dean. Aku minta maaf." Clara tersenyum tipis, berusaha untuk meyakinkan Dean.
“Kuharap memang begitu. Aku hanya ingin minta maaf jika beberapa hari lalu kata-kataku menyakitimu, Chal.”
Clara dapat melihat Dean yang tengah menatapnya dengan tulus. Clara meremas kedua tangannya. Mengapa orang disekitarnya begitu baik padanya? Bagaimana caranya ia membalas kebaikan mereka?
“Kurasa kita tidak harus bertemu lagi, Dean.” Dean kini tersentak dengan ucapan Clara, ini diluar ekspetasinya. Ia disini untuk memperbaiki hubungannya dengan Clara, dan bukan malah memperburuk keadaan.
“Ada apa? Apa aku melakukan kesalahan Chal? Aku hanya ingin membantumu.”
Clara menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan. Tatapan khawatir dan gelisah yang ditunjukkan Dean benar-benar begitu tulus di mata Clara. Clara mengingat bagaimana wajah Shawn beberapa tahun lalu saat menatapnya, tatapannya hampir sama dengan diri Dean saat ini.
“Kau tidak tahu siapa yang kau hadapi Dean dan kuharap...
‘Jack tidak menyakitimu.’
“... Dan kuharap kau mengerti.”
__ADS_1
To be continue...