Toxic Relationship

Toxic Relationship
Stubborn


__ADS_3

...Happy Reading...


Jack kini mulai berjalan kearah ruangan besar yang berjarak beberapa meter darinya, beberapa jam yang lalu sang Ayah meneleponnya dengan tidak jelas dan menyuruhnya untuk datang ke kantornya. Dan dengan cukup bodoh ia sekarang berada disini, menuruti semua perkataan ayahnya itu. Walaupun ia begitu membencinya, tapi ia tidak bisa menutup fakta bahwa pria paruh baya itu adalah orang tua satu-satunya yang ia miliki.


“Silahkan masuk Tuan, Tuan Besar sudah menunggumu.”


Ucap sang asisten, Jack tidak menjawab dan langsung masuk ke ruangan besar dimana Ayahnya bekerja. Tepat dihadapannya ia dapat melihat Ayahnya itu yang tengah menatap layar monitor komputer miliknya. Memang, Jack akui bahwa sang Ayah sudah cukup tua untuk mengurus pekerjaan seperti ini. Namun entahlah, ia terlalu enggan untuk mewarisi semua perusahaan sang Ayah. Dan Judy? Ayahnya bahkan tidak pernah mempercayai Judy untuk melakukan apapun sejak ia menikahi orang yang salah.


“Ada apa?”


Tanya Jack dan menatap Tuan Hilton dengan dingin. Melihat kedatangan anak laki-lakinya itu Tuan Hilton tampak tersenyum. Jack kini tampak berubah, dari segi penampilan hingga bagaimana cara ia berbicara. Ia jauh lebih berwibawa dari pada satu tahun yang lalu.


“Bukankah sudah sewaktunya kau untuk menikah, Jack? Aku begitu ingin melihatmu menikah.”


Jack tersenyum sinis mendengar ucapan sang Ayah. Selalu, selalu dan selalu pernikahan yang dibahas setiap ia datang kesini. Bahkan Ayahnya tidak ingin basa-basi lagi dengannya sekarang. Apa Ayahnya itu tidak cukup lelah untuk memaksa ia menikahi orang pilihannya? Padahal jawabannya tidak akan pernah berubah.


“Aku akan kembali bicara dengan Tuan Thompson mengenai pernikahanmu.” Jack merotasikan matanya. Sungguh ia sebenarnya begitu lelah berdebat dengan Ayahnya. Tapi Ayahnya ini begitu keras kepala.


“Aku seorang pembunuh, ia tidak akan pernah menyetujuinya.” Ucap Jack dan tersenyum miring menatap Tuan Hilton.


“Tidak, tidak, aku sudah memperbaiki citramu didepan semua pejabat tinggi. Mereka tahu jika itu semua hanya kesalahpahaman.” Ucap Tuan Hilton dan tersenyum simpul, Jack tidak bisa menyangkalnya lagi sekarang.

__ADS_1


“Kau tidak perlu repot-repot melakukannya untukku, aku sudah tidak peduli.” Ujar Jack dingin.


“Bukankah kau seharusnya berterima kasih pada Ayahmu?”


“Berterima kasih? Kau tidak dengar? Aku tidak peduli.”


Ucap Jack penuh penekanan. Tuan Hilton tampak menatap putranya penuh amarah. Ia tidak bisa mewarisi perusahaannya selain kepada Jack. Jika Jack tidak menikahi seorang gadis terpandang, itu amat sangat beresiko.


“Lalu sekarang apa yang kau inginkan? Mencari gadis pecundang itu?” Tuan Hilton nampak menatap sinis kearah Jack. Jack tidak akan bisa menemui gadis itu, ia sudah membuangnya begitu jauh.


“Tutup mulutmu!” Teriak Jack kuat, Tuan Hilton tampak menatap putranya terkejut. Ia tidak menyangka jika Jack akan membentaknya seperti ini.


“Kau begitu berani padaku karena gadis itu!”


Ujar Jack dan meninggalkan ruangan. Jack mengepalkan tangannya kuat, seharusnya ia tahu akan seperti ini jadinya jika ia menemui pria itu. Ayahnya selalu meremehkan Clara dan membuatnya sangat marah. Sungguh, ia tidak akan pernah menginjakkan kakinya ditempat ini lagi.


Beberapa meter setelah Jack keluar ruangan, Judy kini tampak memandang adiknya dengan khawatir. Pasti pertengkaran terjadi lagi diantara mereka. Ia sebenarnya hanya ingin keluarganya kembali utuh, ia ingin menyatukan Jack dan sang Ayah. Namun ia tidak bisa, kebencian Jack kepada Ayahnya mengenai kematian sang Ibu begitu membekas. Sejujurnya ia juga begitu marah dengan perlakuan Ayahnya, tapi ia tidak bisa menutup fakta bahwa ia masih begitu membutuhkan sang Ayah. Seperti masalah Jack setahun lalu, hanya Ayahnya yang bisa membantu mereka.


“Jack? Tidak bisakah kau mendengarkan Ayah untuk kali ini saja?” Tanya Judy lembut, Jack menghentikan langkahnya dan menatap sang Kakak.


“Mendengarkannya? Aku bahkan sudah begitu mendengarkannya dengan turun di dunia bisnis Kak. Kau pasti tahu apa cita-citaku kan? Aku ingin menjadi seorang dokter. Tapi aku menuruti semua perkataan Ayah dan menenggelamkan semua cita-cita ku.”

__ADS_1


Judy menatap Jack dengan pandangan iba. Judy bahkan masih mengingat dengan jelas beberapa tahun yang lalu saat Ayahnya begitu marah pada Jack saat ingin mengambil perkuliahan jurusan kedokteran. Bahkan sebuah tamparan melayang pada pipi Jack, dan Judy sangat tahu itu pasti begitu membekas dalam ingatannya.


“Lalu apa yang sekarang akan kau lakukan?” Tanya Judy, Jack hanya menatap kakaknya dengan ragu.


“Aku akan mencari Clara.”


Judy merotasikan matanya, entah cinta seperti apa yang mereka berikan satu sama lain. Tapi ia benar-benar sudah muak mendengarnya. Semua keluarga Hilton begitu keras kepala. Ayah dan adiknya, mereka berdua tidak memiliki perbedaan.


“Gadis brengsek itu sudah mengkhianatimu Jack! Aku sudah muak mengingatkanmu.” Ucap Judy kesal, ia memandang Jack dengan penuh amarah.


“Kau bahkan mampu mengatakan itu padanya? Saat ia berani melindungi harga dirimu dari Leo saat kau hanya bisa berdiri seperti orang bodoh?!”


“Saat giginya patah dan rahangnya begitu banyak mengeluarkan darah. Tapi apa kau bahkan pernah sekali saja berterima kasih padanya Kak?!” Teriak Jack, Judy nampak terkejut. Seolah semua peristiwa itu terulang dikepalanya, Judy meremas ujung kemejanya.


“Dan bisa-bisanya kau malah menamparnya didepan semua wartawan?! Dan apa ia membalasmu? Ia bahkan tidak melakukan apapun untuk menyakitimu."


Ucap Jack dan menatap Judy dengan nanar. Setelah ia melihat video dimana Judy yang menampar Clara satu tahun lalu. Itu membuatnya benar-benar hancur, bukan orang lain yang menyakiti Clara. Tetapi keluarga terdekatnya. Jack menatap Judy tajam, Ia tidak habis pikir, begitu banyak kebaikan yang Clara berikan kepada Judy. Bahkan wanita itu sama sekali tidak pernah mengingatnya.


"Jika aku tidak mengingat kau adalah kakak kandungku, aku sudah membalas apa yang telah kau lakukan padanya.”


Ujar Jack tajam dan meninggalkan Judy yang hanya bisa menatap kepergiannya.

__ADS_1


To be continue...


__ADS_2