
...Happy Reading ...
“Kau baik-baik saja Chal? Ingin periksa ke rumah sakit?”
Tiffany menatap khawatir kearah Clara yang memegang kepalanya. Wajah gadis itu begitu pucat dan sedari tadi ia memegangi kepalanya dan mengeluh sakit kepala, itu jelas saja membuat Tiffany khawatir. Tidak biasanya Clara seperti ini.
“Tidak, Tiff. Aku sudah memeriksanya kemarin. Ini karena aku dehidrasi dan sering telat makan.”
“Kau mau pulang? Aku akan mengurus surat izinmu dengan Tuan Arthur.”
Tiffany kini mulai memapah Clara menuju ruangan kerjanya, seolah gadis itu akan terjungkal jika ia melepaskan pegangannya. Mendudukan Clara pada sofa dan membawakannya segelas air putih hangat, mungkin bisa meredakan peningnya sejenak.
“Tidak Tiff, banyak laporan yang menumpuk. Aku harus menyelesaikannya minggu ini.” Ucap Clara pelan.
“Seriously Chal? Kesehatanmu jauh lebih penting dari pada kerjaan sialan ini.”
Tiffany menggerutu kesal. Clara selalu saja ingin dilihat Tuan Arthur karena ia begitu ingin Tuan Arthur begitu mempercayainya seperti dulu. Setelah Tuan Arthur tahu mengenai Clara adalah kekasih Jack. Tiffany akui, perlakuan Tuan Arthur kepada Clara sangat berubah. Dan itu membuat Clara sangat tidak nyaman, terlebih beberapa karyawan lainnya jadi lebih sering mengoloknya karena seolah Clara adalah 'karyawan kesayangan' Tuan Arthur.
“Ayo kubaringkan kau di sofa.”
Tiffany kini kembali membaringkan Clara di sofa ruangannya. Memang, sedari awal mereka bersahabat di kantor ini, hanya Tiffany yang merawat Clara ketika gadis itu sedang sakit seperti ini.
Sebelum Clara bertemu dengan Jack, Clara seolah hanya seonggok badan yang hanya tahu bekerja dan bekerja. Saat gadis itu masih terlilit hutang dengan beberapa rentenir karena sang ayah yang sakit keras. Clara selalu melakukan pekerjaannya dengan begitu tekun, ia ingin mendapatkan jabatan manager untuk melunasi hutangnya. Dan sekarang gadis itu mendapatkannya.
“Ah, sakit Tiff.” Tiffany tersentak saat tangannya langsung ditepis ketika ia menarik pergelangan tangan Clara. Apa ia terlalu kasar?
__ADS_1
“Maaf, maaf aku terlalu kasar padamu.”
“Tidak, tidak. Tanganku hanya pegal, jadi sedikit sakit saja.” Mendengar ucapan Clara, Tiffany hanya mengangkat bahu dan kembali membantu gadis itu membaringkan tubuhnya.
Setelah Clara berbaring diatas sofa, Tiffany menatap wajah Clara cukup dalam. Bahkan wajah gadis itu masih memar akibat pukulan pria tidak ia kenali itu di Italy. Bahkan sudah hampir dua minggu setelah kejadian tidak menyenangkan itu terjadi, dan Clara masih kesulitan mengunyah. Tiffany menatapnya dengan prihatin.
Ia mengingat kejadian dimana Clara melakukan hal yang sama untuknya tiga tahun yang lalu. Saat dimana seorang pria berusaha memperkosanya dan Clara datang bak seorang pahlawan membuat gadis itu mendapatkan dua tinju dihidungnya dari para pria pemerkosa itu, dan mereka berhenti memukul Clara ketika ia berteriak nyaring meminta tolong. Dan karena itulah mengapa ia berusaha melindungi Clara dari siapapun termasuk Mary, ia tahu Clara pasti juga akan melakukan hal yang sama untuknya.
Melihat Clara yang mulai terpejam diatas sofa, Tiffany kini mulai melepaskan sepatu high heels gadis itu. Dan ia cukup tersentak saat melihat cukup banyak luka lebam didaerah kaki Clara. Ada apa dengan gadis ini?
Tangan Tiffany kini beralih menuju pergelangan Clara dan menyikapi lengan kemeja Clara. Terlihat jelas luka lebam yang mengitari pergelangan tangan gadis itu, seolah habis diikat atau digenggam sesuatu dengan cukup kuat. Apa ini sebabnya Clara tidak pernah memakai pakaian dengan lengan pendek? Gadis itu berusaha menutupi luka lebamnya? Tapi siapa yang melakukan semua ini padanya?
“Chal, chal.” Tiffany kini memanggilnya dengan lembut, membuat Clara membuka matanya. Clara menatap heran kearah Tiffany yang sedang menatapnya dengan khawatir.
“Boleh aku bertanya sesuatu padamu Chal?”
“Ada apa Tiff?” Clara menelan salivanya, ia mulai gugup.
“Apa selama ini ada seseorang yang menyakitimu? ” Firasat Clara benar, ia merasakan Tiffany melepaskan sepatunya. Clara kini tertawa kecil, berusaha bereaksi tenang seperti biasanya.
“Kau ini bicara apa Tiff, tidak mungkin-“
“Bisa kau jelaskan luka lebam di tangan dan kakimu?”
Tawa Clara berhenti setelah melihat wajah serius Tiffany. Entah untuk keberapa kalinya Clara menelan saliva. Apa ini saatnya ia jujur pada Tiffany? Apa ini saatnya ia terlepas dari ikatan dengan Jack? Tapi apa ia bisa hidup tanpa Jack? Sejujurnya ia takut, ia takut Jack lebih dulu membunuhnya sebelum pria itu tertangkap. Ia sangat takut.
__ADS_1
“Chal, aku tidak tahu apa yang kau sembunyikan dariku. Tapi di kepalaku sekarang hanya ada satu nama. Apa semua ini karena Jack?”
Tiffany bertanya dengan begitu lembut, sedangkan matanya menatap Clara dengan nanar. Apakah ini sebabnya sahabatnya itu seolah selalu ada untuk Jack. Karena jika tidak, Clara akan mendapatkan luka lebam di sekujur tubuhnya. Melihat wajah gugup Clara, seharusnya ia sudah tahu jawabannya.
“Tidak! Tidak Tiff! Ini semua bukan karena Jack.”
Clara berucap was-was, seolah gadis itu sedang di kondisi yang cukup tertekan. Ia menatap Tiffany dengan marah, sejujurnya ia tidak tahu mengapa emosinya memuncak.
“Lalu apa? Siapa yang menyakitimu Chal?”
Suara Tiffany mulai merendah, menatap Clara dengan pandangan nanar. Kepalanya sudah tidak bisa berpikir jernih, karena ia tahu. Tidak akan ada yang akan berani menyakiti Clara selain Jack. Apa karena ini Jack begitu posesif pada Clara?
Clara merasakan dadanya berdetak kencang. Mengapa ini semua harus terbongkar? Clara menatap Tiffany, gadis itu kini menatapnya dengan pandangan berkaca-kaca.
“Ibuku, ibuku yang melakukannya.”
Tiffany seketika mematung dan memandang Clara dengan tidak percaya. Sedangkan Clara mulai menitikan air matanya, entah kebodohan apa lagi yang ia lakukan. Sekarang ia menuduh ibunya hanya karena ingin melindungi Jack, ia benar-benar menangis karena kebodohannya.
“Apa itu benar Chal?”
Melihat Clara yang semakin terisak, Tiffany kini mendekat dan memeluk gadis itu dengan erat. Mengapa Clara tidak pernah cerita apapun mengenai ini semua padanya? Mengapa Clara menyimpan ini semua sendiri? Ini pasti begitu menyakitkan baginya.
“Apa Jack tahu mengenai ini semua?”
“Tidak, tapi aku mohon jangan beritahu Jack Tiff. Aku mohon.”
__ADS_1
To be continue...