
...Happy Reading...
“Bagaimana dengan yang itu?”
“Apa tidak terlalu kebesaran Jack?”
Jack kini menarik napas dalam dan membuangnya perlahan. Mereka sudah berkeliling hampir empat jam untuk menemukan rumah baru ditengah musim dingin yang menusuk tulang. Dan selalu seperti ini jawaban Clara, rumah yang terlalu besar, halaman yang terlalu luas, lantai yang terlalu tinggi dan masih banyak alasan yang lainnya.
Clara hanya melirik kekasihnya itu, terlihat Jack tampak kesal namun menahannya. Beberapa hari lalu Jack memaksanya untuk mencari rumah baru untuk mereka sebagai awal persiapan pernikahan. Jack terlalu gengsi jika harus tinggal dirumah yang diberikan Tuan Hilton. Terlebih baginya rumah itu terlalu kecil. Tapi entahlah, dari beberapa jam yang lalu Jack hanya menunjukkan rumah yang begitu besar dengan lantai lebih dari dua. Baginya itu terkesan berlebihan. Ia hanya tinggal berempat di dalam rumah itu.
“Apa kau marah Jack?”
Tanya Clara. Jack kini terlihat mengambil napas dalam dan membuangnya perlahan sebelum berbalik memandang Clara. Jack tampak tersenyum lebar, Clara terkikik geli melihat betapa kerasnya Jack untuk tersenyum padanya.
“Tidak, aku tidak marah.” Ucap Jack masih dengan senyumannya.
“Apa rumah itu cocok untukmu Jack? Jika kau menyukainya, maka aku juga suka.”
Jack kini menatap Clara yang sekarang tengah tersenyum. Seketika senyuman Jack luntur, ada perasaan tidak mengenakan dalam dirinya. Selama ini ia begitu jarang menanyakan kesukaan Clara. Dan ia sedang mencoba untuk memberikan apa yang Clara suka dengan menanyakan pendapatnya terlebih dahulu. Terlebih itu adalah sebuah rumah yang akan mereka tinggali selama bertahun-tahun kedepan.
“Mengapa kau selalu seperti ini Chal? Selalu mengikuti semua permintaan orang lain yang bahkan kau sendiri tidak menyukainya.” Ujar Jack dan menatap Clara dalam. Clara hanya terdiam dengan ucapan Jack dan mulai tersenyum tipis.
“Bukankah terlalu egois jika menuruti semua yang kusuka, tapi orang lain tidak menyukainya?”
Jack terdiam mendengar ucapan Clara dengan senyuman tipis itu. Seolah ucapan Clara begitu menyindirnya selama ini.
“Dan sebaliknya? Bukankah terlalu egois jika orang lain memaksakan sesuatu agar kau menyukainya.”
“Aku mungkin akan terbiasa dan bisa menyukai itu juga.”
Ujar Clara dengan senyuman manisnya, Jack terdiam seketika. Betapa ia beruntung memiliki kekasih seperti Clara. Gadis baik dengan pengertian yang begitu besar. Sedangkan ia, ia hanya pria keras kepala yang begitu ambisius mengejar sesuatu untuk mendapatkannya. Terlebih dengan emosional yang sulit ia kendalikan yang terkadang menjebaknya di sebuah kesengsaraan.
Clara masih menatap Jack dengan senyumannya. Selama satu tahun ia hidup tanpa Jack ia mulai menyadari mengenai betapa berarti semua orang dihidupnya. Dan pilihan yang tidak ia sukai itu juga belum tentu buruk. Terkadang orang lain hanya ingin menyelamatkan hidupnya. Seperti Jack. Pria yang memiliki sifat kasar, mudah emosi dan begitu posesif itu hanya ingin melindunginya dari kejamnya dunia luar. Ia menyadari itu saat ia mulai merasakannya sendiri.
“Jika kau tidak menyukainya, maka kita akan cari rumah yang lain.”
Ujar Jack datar dan kembali mengemudi. Clara mengigit bibir bawahnya, suasana hangat itu seketika mulai mendingin. Seharusnya ia tidak bicara seperti tadi, ia hanya ingin membuat Jack bahagia dengan pilihan pria itu. Tapi ia rasa itu malah membuat Jack tampak tidak suka.
“Maaf mengenai perlakuan Judy beberapa tahun lalu, Chal. Aku bahkan tidak percaya jika Judy bisa melakukan hal sejahat itu padamu.”
Ujar Jack dengan masih fokus mengemudi. Hampir satu tahun lamanya Judy membuat masalah, dan ini adalah pertama kalinya ia meminta maaf pada Clara. Baginya, kehidupan begitu tidak adil bagi Clara. Setelah begitu banyak perjuangan yang gadis itu lakukan untuk orang disekitarnya. Tapi itu semua seolah tidak pernah dilihat. Dan itulah mengapa ia begitu ingin melindungi wanitanya.
__ADS_1
Clara hanya melirik Jack sekilas. Kenangan kelam itu seolah kembali didalam pikirannya, saat dimana Judy menampar sekaligus memakinya didepan banyak orang.
“Sudahlah Jack, aku bahkan sudah melupakan itu semua. Lagi pula Judy pasti memiliki alasan melakukan itu semua.” Ucap Clara dan memandang kearah kaca mobil tepat disebelahnya. Jack tampak melirik Clara sekilas sebelum akhirnya kembali menatap depan.
“Alasan?”
“Judy pasti begitu tertekan saat itu. Sekarang yang ia punya hanya dirimu dan Anne, dan saat salah satu itu hilang dari dirinya, ia pasti begitu khawatir dan marah. Terlebih saat itu media sedang memberitakan aku sebagai kekasih Chris. Judy pasti begitu murka.”
Ucap Clara lembut, lagi dan lagi Jack melirik kekasihnya itu sekilas dan mulai tersenyum. Beda dengan dirinya, Clara selalu berpikir dewasa. Ia selalu menempatkan orang lain sebagai dirinya, itulah mengapa Clara jarang sekali marah. Sebelum bertindak, ia selalu memikirkan perasaan orang lain.
“Hei, bukankah Anne sebentar lagi akan berulang tahun?”
Clara kini tampak memandang Jack excited. Clara kini menatap layar ponselnya dan tersenyum saat kalender yang sudah ia sematkan tertulis dua minggu lagi adalah ulang tahun Anne.
“Anne?”
Tanya Jack ragu. Bahkan ia tidak tahu kapan tanggal lahir keponakannya sendiri. Entahlah, ia tidak pernah mengingat hal semacam itu. Bahkan ulang tahun dirinya sendiri ia sering lupa jika tidak ada Clara yang membawakannya kue secara tiba-tiba ke kantornya.
“Lalu apa yang kau inginkan, Chal? Jangan bilang kau ingin datang ke acara ulang tahun Anne?” Jack kini menatap Clara dengan horor.
“Lalu, apa kau tidak akan datang ke acara ulang tahun keponakanmu?”
“Aku akan datang, tapi setelah aku menikahimu.” Ujar Jack santai, Clara hanya menatap pria itu tidak percaya.
“Restu? Aku tidak membutuhkan itu.” Clara masih menganga mendengar ucapan santai Jack. Tidak, tidak, bukan pernikahan seperti ini yang ia harapkan.
“Jack, kau sudah berusaha mendapatkan hati Tiffany untuk merestui kita. Bukankah aku juga harus melakukan hal yang sama di keluargamu?"
Tanya Clara dengan penuh semangat. Ia ingin pernikahannya dengan Jack nantinya akan baik-baik saja, ia ingin menyelesaikan semuanya. Tidak ingin ada masalah lagi yang akan menimpa keluarga kecilnya.
“Dengan Ayahku yang akan memakimu? Tidak, terimakasih. Ulang tahun Anne hanya akan dipenuhi pertengkaran.” Ujar Jack tampak tak tertarik.
“Tuan Hilton tidak akan melakukannya jika ada dirimu disamping ku Jack. Percayalah.”
Ujar Clara berusaha meyakinkan kekasihnya. Jack hanya mengambil napas dalam dan membuangnya. Ini semua bukan ide yang baik. Ia tidak ingin memikirkan kemungkinan terburuk walaupun mungkin saja itu akan terjadi.
“Aku akan membuat mereka percaya jika kau bisa bahagia denganku Jack, aku ingin hubungan kita dengan keluarga Hilton baik-baik saja.”
“Aku sudah bahagia denganmu, aku bahkan tidak butuh pengakuan mereka!”
Ujar Jack mulai meninggi, Clara menarik napas dalam dan menghembuskannya sebelum ia menyenderkan tubuhnya pada jok mobil. Sangat sulit untuk memberikan pengertian pada Jack, Jack tetap begitu keras kepala.
__ADS_1
“Jika kubilang itu yang kusukai, apa kau tetap tidak akan mempertemukanku dengan keluargamu, Jack?”
Tanya Clara sendu, Jack tetap terdiam dengan masih memandang kearah jalan. Selanjutnya Jack menarik napas dalam dan membuangnya perlahan. Ia tidak memiliki pilihan jika itu adalah permintaan Clara.
“Tapi jika keluargaku menyakitimu, aku tidak akan mempertemukanmu lagi dengan mereka untuk selamanya.” Mendengar ucapan Jack, Clara kini langsung bangkit dari kursinya dan menatap Jack tidak percaya.
“Sungguh? Sungguh kau akan mempertemukanku dengan mereka?”
“Minggu besok kita akan terbang kesana, lagi pula aku ada beberapa urusan kantor yang harus ku ambil alih dari Judy.”
...----------------...
“Halo Tiff, ada apa?”
“Aku berada di cafe, disamping tokomu. Temui aku disini.”
Dan disinilah ia, dengan masih memainkan kuku-kuku jarinya dengan begitu gugup. Hampir sepuluh menit lamanya keadaan hening. Jack dan Philip yang tampak memainkan ponselnya, Tiffany yang terlihat memandang ke luar jendela, menatap butiran salju yang semakin menipis.
“Jadi, kapan kalian menikah?"
" Tiff..." Clara kini menatap kearah sahabatnya itu dan dibalas senyuman Tiffany.
"Aku tahu jika aku telat menyadarinya, maaf karena sudah menjauhkanmu dari kebahagiaanmu Chal."
Pertanyaan Tiffany kini membuat Clara dan Jack memandangnya dengan tatapan percaya. Selanjutnya Clara kini mulai berdiri dan berjalan menuju Tiffany dan memeluk erat sahabatnya.
“Terimakasih Tiff, terimakasih banyak.”
Clara kini merasakan matanya mulai basah dengan rasa haru dan bahagianya. Akhirnya, perlahan demi perlahan setiap masalah dalam hidupnya telah selesai. Jack dan Philip hanya tersenyum memandang dua sahabat itu yang saling berpelukan.
“Jack, jika kau kembali menyakiti sahabatku. Aku benar-benar akan membuatmu membusuk di dalam penjara.”
Ujar Tiffany dan menatap tajam kearah Jack. Jack hanya menelan salivanya, sedangkan Clara tersenyum dengan masih memeluk Tiffany dengan erat.
“Dan aku akan mendukung istriku kali ini, Jack.”
Celetukkan Philip kini membuat mereka berempat tertawa. Jack kini mendorong bahu Philip dan membuat Philip memukul sahabatnya itu tepat dikepala. Love language dua sahabat laki-laki adalah physical attack.
“Lalu apa yang ingin kau lakukan setelah ini, Chal?”
Tiffany kini melepaskan pelukannya pada Clara dan menatap gadis itu dengan serius. Ia tahu, ia sangat tahu bagaimana Tuan Hilton yang berusaha menyingkirkan Clara dari Jack. Dan meluluhkan orang seperti Tuan Hilton bukan hal yang mudah.
__ADS_1
“Aku akan bertemu keluarga Hilton pada ulang tahun Anne, aku pasti bisa meyakinkan mereka.”
To be continue...