
...Happy Reading...
“Dari mana saja kau?!”
Clara tersentak saat mendengar teriakan itu keluar dari mulut Jack. Baru saja ia membuka pintu ruangan, kini dihadapannya terdapat Jack yang memandangnya dengan penuh amarah. Clara menatapnya bingung, ia baru keluar sekitar satu jam lalu dan Jack kini tampak begitu marah. Oh tidak, sifat posesif Jack masih tidak berubah.
“Aku? Aku hanya mencari kopi." Ujar Clara berusaha setenang mungkin, Jack kini tersenyum sinis.
“Jangan berbohong Clara!”
Clara menatap pria itu dengan bingung, sebenarnya ada apa dengannya? Dengan pelan Clara mulai menghampiri Jack, bermaksud menenangkannya.
“Kau bertemu dengan wanita itu, kan?”
Pertanyaan Jack kini membuat ia menghentikan langkahnya, selanjutnya Clara menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan. Clara tersenyum kecut, bisa-bisanya ia menganggap Jack sudah sepenuhnya mempercayai dirinya. Tapi kenyataannya Jack masih menyuruh orangnya untuk mengikuti dirinya kemanapun. Keburukannya menjadi kekasih Jack adalah, ia tidak bisa bebas pergi kemanapun yang ia inginkan. Seberapa keras ia menyembunyikan, sang penyihir Jack akan tetap mengetahuinya.
“Jack, Ayolah. Aku hanya-“
“Kau bahkan tidak memberitahuku mengenai hal ini Clara? Apa kau tidak tahu betapa aku begitu mengkhawatirkanmu?”
Jack kini menatap Clara dengan nanar. Perasaan bersalah kini memenuhi lubuk hati Clara. Selanjutnya Clara berjalan kearah Jack dan memeluk pria itu dengan lembut. Entahlah, bahkan putrinya hampir jarang menangis saat ia tinggal bekerja di Bakery. Tapi itu berbanding terbalik dengan ayahnya, Jack Hilton. Jack bahkan tampak begitu kekanakan dibanding putri mereka yang baru berusia beberapa bulan.
“Kau tahu Jack, aku sudah besar. Aku bisa menjaga diriku.”
Ujar Clara dengan tawa kecil, Jack hanya memejamkan matanya dan memeluk Clara dengan erat. Ketakutan kehilangan Clara semakin besar sejak setahun lalu. Sebut ia terlalu berlebihan, tapi ia tak peduli. Ia sangat takut kehilangan Clara.
“Lain kali kau harus memberitahuku mengenai apapun, terlebih tentang keluargaku. Mengerti?"
Tanya Jack dan melepaskan pelukan mereka, Clara tampak mengangguk dan tersenyum lebar. Selanjutnya mereka kembali berpelukan dengan sebuah senyuman kebahagiaan.
“Apa yang wanita itu katakan padamu? Apa ia mengancammu?”
Tanya Jack disela – sela pelukan mereka. Clara hanya menggeleng dan mengeratkan pelukannya. Entahlah, ia begitu beruntung bisa bersama dengan orang yang ia cintai. Tidak seperti kebanyakan orang yang harus merelakan orang yang ia cintai bersama orang lain, seperti cerita mantan Nyonya Hilton beberapa jam lalu. Memiliki Jack adalah sebuah anugerah.
__ADS_1
“Kau tahu Jack, Nyonya Hilton tidak seburuk apa yang kau pikirkan. Ia begitu-“
Suara deringan ponsel dari meja kerja Jack membuat Clara menghentikan kalimatnya. Mereka saling berpandangan sebelum Clara memilih melepaskan pelukannya.
“Angkatlah! Mungkin saja penting.”
Ujar Clara lembut, Jack hanya menarik napas dalam dan membuangnya kesal. Ia selalu tidak suka bagaimana banyak orang yang selalu menganggu kebersamaannya dengan Clara. Jack menatap layar ponselnya dan kembali menatap Clara. Clara menatapnya dengan bingung, ada keraguan di wajah Jack sebelum ia mengangkat panggilannya.
“Halo?”
Jack terlihat menyimak dengan masih menatap Clara. Clara menelan salivanya, apa ada yang tidak beres? Hanya beberapa menit Jack berbicara di ponselnya sebelum akhirnya panggilan itu terputus. Jack menatap Clara dalam.
“Ayahku memintaku untuk menemuinya.” Ujar Jack ragu, Clara tersenyum lebar.
“Temuilah, mungkin ada yang harus ia sampaikan padamu."
......................
Jack menghela napas, sejujurnya ia begitu malas untuk datang. Jika bukan karena desakan Clara, sungguh ia tidak akan datang. Jack begitu muak jika harus bertengkar lagi dengan sang Ayah. Tapi Clara benar, beberapa hari lagi ia akan pindah ke Perancis bersama Clara. Ia tidak akan menemui Ayahnya lagi setelahnya, anggap saja ini adalah pertemuan terakhirnya dan ucapan selamat tinggal. Dan ia harap pun begitu. Semoga saja setelah ia dan Clara menikah, gangguan dari ayahnya cepat menghilang.
“Selamat datang Tuan Muda, Tuan Besar sudah menunggu anda.”
Jack hanya mengangguk singkat pada asisten pribadi ayahnya itu. Mr. John, pria paruh baya yang sudah menjadi asisten sang ayah hampir tiga puluh tahun lamanya. Pintu besar itu terbuka, dari kejauhan Jack dapat melihat sang Ayah yang berkutat dengan layar monitornya. Jack menatapnya saksama, bagaimana tubuh Ayahnya yang semakin melemah karena usia dan rambutnya yang semakin memutih.
“Ada apa?”
Tanya Jack datar seolah tidak tertarik, untuk pertama kalinya sang Ayah kini menyambutnya dengan sebuah senyuman dan mulai berjalan menghampirinya, Jack hanya menatapnya bingung.
“Kau sudah makan siang? Mau makan siang bersama?” Mendengar ajakan sang Ayah Jack hanya terdiam. Tidak biasanya Ayahnya bersikap seperti ini.
“Jika Ayah ingin menentang kembali hubunganku dengan Clara. Tidak, terimakasih. Aku sudah kenyang.”
Ujar Jack malas, ia ingin cepat-cepat meninggalkan gedung ini. Ia ingin kembali menyelesaikan kerjaannya dan kembali ke Perancis untuk menemui putri yang dicintainya.
__ADS_1
“Aku mendengar jika kau akan tinggal di Perancis. Apa itu benar?”
Jack menarik napas dan menghembuskannya perlahan. Firasatnya mengatakan Ayahnya akan menentangnya lagi. Sungguh ia begitu bosan dengan perdebatan ini.
“Jika Ayah menyuruhku datang kesini hanya untuk menentangku, aku akan-“
“Bisa kau berjanji sesuatu padaku, Jack?” Tatapan bosan Jack kini digantikan dengan tatapan bingung, Jack menatap intens sang Ayah yang juga tengah menatapnya sendu.
“Apa kau bisa berjanji padaku untuk tidak berpisah dengan Clara apapun yang terjadi?”
Jack menatap sang Ayah masih dengan kebingungan, entah kemana arah pembicaraan kali ini. Tuan Hilton kini berdiri di samping Jack dan menepuk bahu Jack pelan. Tuan Hilton tampak menatap tangannya yang menyentuh bahu putra satu - satunya itu. Rasanya sudah begitu lama ia tidak menyentuh putranya.
"Jika kau bisa berjanji padaku, aku akan merestui hubunganmu dengan Clara."
Jack tetap terdiam, rasanya ia tidak bisa berkata-kata lagi. Ia tidak percaya dengan apa yang didengarnya kali ini. Apa ia sedang bermimpi? Kini Tuan Hilton tampak memandang Jack dengan sebuah senyuman lebar.
"Be.. Benarkah? Yahh, apa ini benar?"
Jack kini menatap Tuan Hilton dengan mata berbinar, selanjutnya ia mengenggam tangan kanan sang Ayah dan menciumnya beberapa kali. Tuan Hilton yang melihat reaksi putranya tersenyum lebar. Ini memang yang sering dilakukan Jack jika ia begitu bahagia.
Namun beberapa detik kemudian senyuman Tuan Hilton luntur, ia dapat merasakan dadanya kini begitu sakit. Ia mulai merintih dan menekan dadanya kuat.
"Ja.. Jack."
Senyuman Jack luntur, tepat dihadapan matanya ia dapat melihat wajah Ayahnya kini berubah menjadi menahan sakit. Ia meremas dadanya kuat dan mulai terjatuh di lantai.
"Yah! Ayah!"
Jack berteriak dan menepuk - nepuk pipi sang Ayah yang kini sudah tidak sadarkan diri. Jantung Jack berpacu cepat. Teriakan Jack kini membuat beberapa orang yang berada di luar membuka pintu.
"Tuan! Tuan!"
Mr. John kini tampak panik melihat atasannya yang sudah jatuh tidak berdaya di lantai dengan Jack yang masih berteriak memanggilnya.
__ADS_1
"John, Mr. John. Apapun yang terjadi, tolong selamatkan ayahku!"
To be continue...