Toxic Relationship

Toxic Relationship
Bliss


__ADS_3

...Happy Reading ...


Clara kini menunduk dalam dan memainkan jari jemarinya. Tepat dihadapannya kini telah duduk seorang pria yang ia tunggu selama satu tahun terakhir. Sesosok pria yang amat sangat ia rindukan, bahkan pria ini yang membuatnya tidak berani untuk sekedar membaca berita di beranda media sosialnya. Ia tidak ingin mendengar kabarnya lebih jauh, rasa rindu yang teramat membuatnya menangis dan ia membenci itu terjadi.


“Aku tidak tahu kehidupanmu cukup baik, Chal.”


Clara melihat pria itu kini menatap ke setiap sudut ruangan, seolah tampak kagum dengan desain didalamnya. Clara hanya menatapnya intens. Ia sedang tidak bermimpi kan? Jika iya, siapapun tolong jangan membangunkannya. Ia ingin seperti ini lebih lama.


Melihat Clara yang sedari tadi hanya diam, Jack, pria itu tersenyum memandang wajah cantik Clara. Clara bahkan memotong rambutnya sampai sebatas bahu, dan juga tubuhnya terlihat lebih kurus dari sebelumnya. Ditambah guratan-guratan lelah dibawah matanya. Jack dapat melihat perjuangan Clara yang begitu besar.


“Maaf baru bisa menemuimu, Chal.” Ujar Jack lembut. Clara tetap tidak bergeming dan masih menatap Jack dengan intens, seolah masih tidak percaya dengan sesosok dihadapannya kali ini.


“Bagaimana kau bisa tahu aku disini Jack? Kau tidak seharusnya disini.”


Ujaran Clara membuat senyuman Jack luntur. Ia mengira akan mendapatkan pelukan dari Clara, atau setidaknya senyuman gadis itu yang menyambutnya. Namun ternyata ia salah, wajah sendu Clara terekam dalam ingatan Jack.


“Bagaimana keadaanmu selama ini? Apa semuanya baik-baik saja?”


Tanya Jack dengan senyuman tipisnya, seolah tidak mendengar ujaran Clara padanya beberapa detik lalu. Ia sedang tidak ingin membahas dirinya sekarang. Dihadapannya terdapat wanita yang sangat ia rindukan, dan ia tidak ingin ada air mata lagi. Cukup senyuman Clara yang ingin ia lihat.


“Aku.. Aku baik-baik saja.”


Ujar Clara dan menatap kearah lain, berusaha menyembunyikan air matanya yang menggenang. Ia begitu mudah menangis akhir-akhir ini. Jack dapat melihat dengan jelas Clara kembali berbohong padanya, gadis itu bahkan tidak sanggup untuk sekedar memandangnya.

__ADS_1


“Apa putriku Katelyn baik-baik saja?”


Pertanyaan Jack mampu membuat Clara kembali menatapnya. Jack kini mengangkat tangannya dan mengusap pipi Clara dengan lembut. Ia sudah mendengar semua tentang Clara. Bahkan ia sudah mengikuti Clara selama beberapa minggu terakhir.


Dan ia terlalu takut untuk menemui Clara, takut akan kembali menyakiti hatinya, dan kembali membuatnya menangis. Dan benar saja, ia melakukannya lagi.


“Dia.. Dia.. Katelyn..."


Clara tidak sanggup melanjutkan kalimatnya, dengan cepat Jack memeluknya dengan lembut, membiarkan tangisan Clara membasahi bajunya. Ia disini memang untuk menghapus airmata wanitanya, ia ingin kembali menjadi sandaran Clara.


Merasakan pelukan hangat Jack padanya, Clara kini membalas pelukan itu. Melampiaskan semua bebannya selama ini, melampiaskan semua kehidupan berat yang dirasakannya. Bagaimana saat semua orang menjatuhkannya, bahkan menginjak-injak harga dirinya, dan bodohnya ia tidak bisa melakukan apapun. Ia selalu mengalah seperti orang bodoh. Dan yang ia butuhkan hanya sebuah pelukan hangat seperti ini.


Ia lelah bersikap seolah semuanya baik-baik saja. Didepan Ibunya, Tiffany, ia sangat lelah. Ia berbohong jika tidak merindukan Jack, ia berbohong jika tidak menginginkan kembali bersama Jack. Hanya pria itu yang mengerti perasaannya, hanya bersama Jack ia bisa melupakan semua isi hatinya.


Kecupan demi kecupan singkat kini mereka berikan satu sama lain. Sentuhan, pelukan dan kehangatan yang selama ini begitu mereka rindukan. Tangan kiri Jack kini mulai melingkar pada pinggang ramping Clara dan tangan satunya mulai menekan tengkuk Clara. Memberikan sebuah sensasi ciuman yang berbeda.


Clara yang merasakan ciuman mereka yang mulai memanas, ikut mengalungkan tangannya pada leher Jack dan sesekali ikut menekan tengkuk pria itu untuk memperdalam ciuman mereka.


Decakan demi decakan mulai terdengar hampir diseluruh sudut ruangan kantor milik Clara. Tidak sampai disitu, Jack kini mengangkat tubuh Clara dan mendudukannya pada meja dan kembali menyerang bibir gadis itu. Menyalurkan semua rasa rindunya melalui ciuman panas mereka. Jack menghisap bibir bawah Clara kuat membuat gadis itu melenguh. Setelah dirasa Clara sudah membuka mulutnya, Jack kini memasukkan lidahnya dan bermain didalam mulut gadis itu.


Setelah dirasa pasokan oksigen mulai menipis, Clara mendorong tubuh Jack menjauh. Dan mengambil napas dalam. Jack selalu tidak sabaran saat berciuman, bahkan itu sama sekali tidak berubah. Jack kini tersenyum puas melihat bagaimana bibir Clara yang memerah.


“Aku tahu Chal mungkin ini bukan waktu yang tepat, tapi aku tidak akan bisa kehilanganmu untuk kedua kalinya.”

__ADS_1


Ujar Jack lembut dan menatap Clara dengan dalam. Clara hanya menatap Jack dengan bingung, Jack kini merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil didalamnya. Clara menatapnya tidak percaya.


“Maukah kau menikah denganku, Challa?”


Clara tidak dapat berkata-kata. Tepat dihadapannya terdapat Jack dengan sebuah cincin yang berada digengamannya, Jack menatapnya dengan dalam. Inilah yang ia inginkan selama enam tahun menunggu. Setelah begitu banyak rintangan dan akhirnya Jack memintanya, meminta dirinya untuk menjadi teman hidupnya.


“Ya, Jack. Ya! Aku mau.”


Jack kini tersenyum dan memasangkan cincin itu pada jari manis Clara. Akhirnya cincin yang ia berikan saat pertama kali menyatakan perasaannya kini telah tergantikan, cincin yang pernah membuat ia begitu marah besar karena Clara menghilangkannya.


“Apa kau akan marah jika aku hilangkan lagi?” Tanya Clara dengan senyuman jailnya, Jack ikut tersenyum dan mencubit pipi Clara lembut.


“Tidak, aku akan membelikanmu lagi. Bahkan jika kau menghilangkannya sampai sepuluh kali, aku akan membelikan cincin yang sama sebanyak dua puluh kali.”


Clara hanya menggelengkan kepala mendengar ucapan tidak masuk akal Jack. Untuk apa ia menghilangkan cincin sebanyak itu? Kecuali jika ia memang memiliki niat untuk menjualnya.


“Lalu apa yang sekarang akan kita lakukan Jack?”


Tanya Clara dan menatap Jack penasaran. Ada begitu banyak rintangan lain yang harus mereka hadapi bersama. Dari Tuan Hilton, Judy bahkan Tiffany, yang begitu membenci Jack. Dan Clara tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi Tiffany jika ia mengetahui bahwa dirinya akan menikahi Jack.


“Aku ingin bertemu putriku.” Ujar Jack dengan senyuman tipis.


To be continue...

__ADS_1


__ADS_2