
⭕Kata yang bercetak miring adalah masa lalu
...Happy Reading...
Seorang pria dengan sedan mewah kini menatap kosong kearah rumah tingkat dua yang berjarak beberapa meter dari tempatnya terparkir. Mata yang biasanya memancarkan kebahagiaan itu nampak lesu, seolah energinya sudah habis tak tersisa.
Matanya kini beralih pada kertas yang tergeletak dikursi penumpang disebelahnya. Sebuah kertas lusuh, menandakan sudah berpuluh-puluh kali seseorang membacanya.
Matanya kembali meneliti kata demi kata yang tersusun rapi pada kertas itu, seolah matanya dapat mengubah kata dalam kertas itu begitu saja. Jack Hilton, pria itu tersenyum sinis. Setiap melihat kertas ini, dadanya selalu sesak, seolah mengingat kejadian satu bulan lalu. Kejadian dimana sang Ibu tercinta menyerah akan kehidupan.
‘Jack, Judy maafkan Ibu,
Maafkan Ibu karena menyerah, sekali lagi Ibu minta maaf. Beberapa bulan terakhir Ibu mendengar kabar bahwa ayahmu kini menjalin hubungan dengan sekretarisnya. Sekretaris itu kini mengandung adik kalian Sayang.
Ayah bilang pada Ibu akan menikahi sekretaris itu. Maafkan Ibu karena menceritakan semua ini pada kalian. Kanker stadium akhir yang Ibu derita juga hanya akan merepotkan kalian berdua. Jack yang harus menyempatkan waktu untuk menjenguk Ibu, dan Judy yang harus meluangkan waktu untuk merawat Ibu.
Judy, putri cantikku. Kau harus kuat Honey. Tolong jaga Anne dengan baik, jaga cucu kesayangan Ibu. Dan Jack, Ibu tahu jika kau adalah adik Judy. Tapi Ibu minta tolong untuk jaga Judy sayang. Judy membutuhkanmu.’
Jack meremas kertas itu, seketika air matanya menetes. Bagaimana bisa ia tidak tahu mengenai perselingkuhan ayahnya? Mengapa Ibunya terlihat baik-baik saja setelah apa yang terjadi? Dengan kanker stadium akhir dan pengkhianatan suami tercinta pasti membuat Ibunya begitu tertekan dan memilih untuk menyerah. Sebenarnya ia cukup tahu dengan depresi yang pernah ibunya alami. Tapi mengapa harus seperti ini?
Pandangan Jack kini kembali beralih pada rumah dihadapannya. Tatapan sedihnya kini terganti dengan tatapan marah kala sebuah SUV silver mulai terparkir didepan rumah itu. Jack mengepalkan tangannya kuat.
__ADS_1
Seorang wanita dengan surai cokelat panjang, dan seorang pria keluar dari mobil itu. Jack memicingkan matanya tajam. Ia mengenal pria itu. Shawn Walker, salah satu temannya.
Jack dapat melihat dengan jelas keduanya tampak mengobrol dengan diselingi tawa. Setelah satu bulan ia menyibukkan dirinya dengan pekerjaan. Inikah yang kekasihnya lakukan dibelakangnya? Pengkhianatan. Pengkhianatan juga yang menjadi salah satu sebab ibunya meregang nyawa.
Hampir lima menit lamanya Jack memperhatikan mereka, dan selanjutnya Shawn nampak mengacak rambut Clara lembut. Jack memukul kemudinya kuat, dan Shawn kini mulai meninggalkan rumah Clara dengan SUV miliknya. Setelah memastikan Shawn semakin menjauh, tanpa aba-aba lagi Jack keluar dari mobil dan menghampiri Clara.
“Jack?”
Clara kini menatap Jack dengan pandangan berbinar. Dengan berlari ia langsung memeluk erat Jack. Sudah satu bulan ini Jack tidak menemuinya. Ia sudah mendengar kabar buruk itu, dan ia berusaha memberikan Jack ruang. Ia begitu tahu bagaimana rasanya ditinggalkan orang terkasih. Dan Jack pasti membutuhkan waktu sendiri dulu.
“Aku sudah mendengar kabar itu Jack, aku turut berduka cita mengenai Ibumu.”
“Apa Shawn sering mengantarmu pulang, Chal?” Clara dapat melihat tatapan tajam Jack padanya, Clara menelan salivanya. Apa Jack marah seperti ini karena Shawn?
“Shawn? Apa kau seperti ini karena Shawn? Jack kau hanya salah paham, aku hanya-“
“Jawab aku!” Jack kini mulai berteriak, Clara menatap Jack tidak percaya. Mengapa Jack begitu emosional seperti ini? Ia bukan seperti Jack yang dikenalnya.
“Aku hanya beberapa kali pulang dengan Shawn.” Mendengar jawaban Clara, Jack tersenyum sinis.
“Dan artinya ini bukan pertama kalinya?” Clara menggigit bibir bawahnya takut. Mengapa Jack bersikap seperti ini padanya?
__ADS_1
“Jack, Shawn adalah temanmu.”
“Tapi dia cinta pertamamu kan?”
Clara tersentak. Bagaimana bisa Jack mengetahuinya? Clara meremas tangannya. Ia tidak bisa menjawab, toh semua yang Jack ucapkan adalah kebenaran. Melihat Clara yang tampak gugup Jack tersenyum sinis. Apa Clara masih belum paham dengan kedudukan yang ia miliki? Bahkan dari Clara masih menduduki bangku sekolah, ia menyimpan informasi mengenai gadis itu.
“Apa ucapanku benar?” Jack tersenyum miring.
“Shawn hanya mengantarku pulang Jack, hanya itu.”
Clara kini menatap Jack dalam, berusaha keras untuk meyakinkan pria itu. Memang jika ia pernah menunggu Shawn selama bertahun-tahun, tapi itu dulu. Shawn adalah potongan masa lalunya, dan ia sudah melupakan itu semua. Melihat bagaimana Jack yang selalu ada untuknya dan begitu serius padanya, melupakan Shawn bukan hal sulit baginya.
“Diantar oleh cinta pertamamu, hanya itu? Apa menurutmu aku percaya begitu saja?"
Clara berdecak, entah bagaimana ia bisa membuat Jack mempercayainya. Setelah hubungan yang ia jalani bersama Jack hampir tiga tahun ini. Apa kandas begitu saja hanya karena hal sepele seperti ini? Apa kematian sang Ibu membuat Jack begitu tempramen?
“Lalu apa yang kau inginkan Jack?” Mendengar pertanyaan Clara, Jack kini tersenyum sinis. Dengan perlahan Jack mulai melangkah mendekat kearah Clara dan berbisik tepat ditelinga kanannya.
“Aku tidak akan pernah membiarkanmu meninggalkanku, itu bukan hanya ucapan omong kosong Chal. Aku akan membuktikannya padamu.”
To be continue....
__ADS_1