
...Happy Reading ...
Suasana makan malam setengah jam yang lalu itu begitu hening, hanya terdengar suara dentingan piring dan sendok yang saling beradu. Clara menunduk dalam, ini semua seperti dugaannya. Pesta ulang tahun Anne kini tampak begitu canggung dengan kedatangannya. Seharusnya ia memang mengikuti perkataan Jack sedari awal. Ia terlalu memaksa untuk keluarga Hilton menerima dirinya.
“Hahh.. Ibu aku ngantuk.” Gadis kecil Anne kini tampak menguap dan menatap kearah sang Ibu. Judy tersenyum tipis melihat putrinya.
“Tidurlah di kamar bersama bibi, nanti ibu akan menyusul oke?”
Anne terlihat mengangguk dan beranjak pergi menuju kamarnya. Jack kini menatap kearah Clara, terlihat jelas Clara yang tampak begitu gugup. Jack mengambil napas dalam dan membuangnya. Bahkan saat makan malam Clara sama sekali tidak menyentuh hidangannya. Tapi tidak ada kata mundur kali ini, mereka sudah di depan mata.
“Aku dan Clara akan menikah bulan depan.”
Ucapan jack itu kini membuat semua orang memandangnya, Clara kini tampak panik, ia belum siap dengan pernyataan mendadak yang dilontarkan Jack. Judy kini memandang Jack dan Clara dengan begitu antusias, sedangkan Tuan Hilton dan Nyonya Hilton masih memandang mereka dengan tidak percaya. Tatapan Tuan Hilton seketika berubah menjadi dingin.
“Apa kau pikir aku akan merestuinya?”
Pertanyaan Tuan Hilton membuat suasana menjadi mencekam. Clara menarik napas dalam, tidak seperti ini yang ia inginkan. Setidaknya ia dan Jack harus berbasa-basi sedikit untuk mendapatkan hati Tuan Hilton maupun Nyonya Hilton. Tapi Jack tidak pernah mengerti itu.
“Aku bahkan tidak butuh restu darimu.”
Ujaran dingin Jack membuatnya kembali menjadi pusat perhatian. Bahkan Judy maupun Nyonya Hilton kini tampak begitu terkejut. Nyali Clara semakin menciut, dengan Jack bersikap seperti ini, lagi dan lagi ia yang juga akan kena imbasnya.
“Jack.”
Clara memperingati Jack. Mereka tidak akan mendapat restu dari kedua orang tua Jack jika sikapnya masih seperti ini. Ia ingin meminta restu secara baik-baik.
Mendengar ucapan sang putra, Tuan Hilton tampak mengepalkan tangannya. Melihat bagaimana reaksi Tuan Hilton Clara hanya mengambil napas dalam dan menghembuskannya perlahan. Rencananya sudah gagal untuk mendapatkan hati Tuan Hilton. Semua telah musnah.
__ADS_1
“Bukankah kau wanita yang begitu tidak tahu diri Clara? Apa kau tidak menyadari Jack begitu sial jika berada di dekatmu?”
Bukannya menjawab ujaran putranya, Tuan Hilton kini menyerang Clara. Terlihat begitu jelas tatapan penuh kebencian yang dilayangkan Tuan Hilton pada Clara.
Cara yang mendengar ucapan Tuan Hilton padanya, hanya bisa menundukkan kepalanya. Melihat bagaimana reaksi Clara, Jack mengepalkan tangannya kuat. Namun dengan cepat Clara menepuk bahu jack, berharap Jack tidak lepas kendali lagi. Iya sudah menyiapkan mentalnya untuk cacian seperti ini, dan itu tidak terlalu berpengaruh padanya.
“Ayah!”
Judy berteriak dan menatap sang Ayah dengan kesal, baginya Ayahnya sudah cukup keterlaluan mengatakan hal seperti itu. Namun Tuan Hilton tidak bergeming dengan masih menatap Jack dan Clara secara bergantian.
“Aku bahkan telah menyiapkan tiket pesawat gratis dan tempat tinggal yang layak di Perancis untukmu, tapi kau masih mengganggu kehidupan putraku. Apa menjadi Nyonya Hilton adalah impian terbesarmu Nona Villegas?”
Clara terdiam, ia bahkan tidak sanggup mengucapkan sepatah kata pun. Jack berdecak kesal, seharusnya ia tahu mempertemukan Clara dengan keluarganya adalah sebuah ide yang sangat bodoh. Dan seperti janji clara, ia tidak akan mempertemukan Clara dengan keluarganya lagi sampai kapanpun.
“Kalian tidak akan bisa hidup bahagia! Sampai kapanpun Clara tidak akan sebanding denganmu Jack."
Mendengar ucapan sang Ayah, Jack hanya tersenyum sinis, bahagia? Ayahnya memang tahu apa tentang kebahagiaannya? Jika memang sang Ayah menginginkan kebahagiaannya, ia tidak akan pernah menikahi sekretarisnya sendiri dan meninggalkan Ibunya. Semua ucapan sang Ayah hanya omong kosong.
Mendengar ucapan keluar dari mulut Clara, Jack menatapnya terkejut. Clara tidak main-main dengan ucapannya, ia benar-benar menginginkan ayahnya untuk merestui mereka. Mendengar ucapan Clara, Tuan Hilton tersenyum sinis.
“Lalu apa yang bisa kau berikan untuk putraku? Cinta?” Tuan Hilton tersenyum mengejek.
“Kebahagiaan, kebahagiaan untuk Jack yang tidak ia dapatkan dari sang Ayah.”
Ujar Clara dan menatap tepat di manik mata Tuan Hilton. Tuan Hilton terdiam dan mengepalkan tangannya kuat. Judy dan Nyonya Hilton kini memandang Clara dengan sebuah senyuman tipis. Kisah cinta mereka begitu menarik bagi keduanya.
Sedangkan Jack menatap Clara dengan tidak percaya, dan selanjutnya ia tersenyum. Ia benar-benar tidak menyangka bahwa Clara akan bicara seperti itu kepada ayahnya. Melihat ayahnya yang hanya terdiam, Jack kini tersenyum sinis.
__ADS_1
“Bahkan jika bukan karena Clara, aku tidak akan pernah kembali di keluarga ini.” Jack menatap sang Ayah dengan dingin.
“Kau tidak akan pernah mengerti mengapa Ayah melarangmu bersamanya Jack.” Kini Tuan Hilton menatap putranya dengan sendu. Melihat perubahan ekspresi sang Ayah yang begitu signifikan. Jack seketika terdiam.
“Untuk kelancaran bisnis Ayah, bukan? Perjodohan di perusahaan memang begitu menguntungkan.”
Ujar Jack sinis. Dari dulu ia hanyalah alat untuk sang Ayah dalam berbisnis, dimulai dengan pemaksaan jurusan hingga kini pernikahan. Dan ia muak, bahkan setelah ia sesukses ini Ayahnya masih ingin mengatur hidupnya.
“Hanya padamu Ayah bisa mewariskan semua perusahaan, Ayah hanya memilikimu.”
Ujar Tuan Hilton dengan tegas. Jack kini menatap kearah sang kakak, Judy. Jack dapat melihat perubahan wajah Judy. Wanita itu kini menunduk dalam saat ucapan Ayah mereka terlontar dari bibirnya. Jack memejamkan matanya dan berdecak, perasaan bersalah kini memenuhi lubuk hatinya.
“Apa bahkan Ayah tidak menyadari memiliki seorang putri?” Tanya Jack heran. Ia tidak habis pikir Ayahnya bisa berucap seperti itu dihadapan Judy.
Mata Tuan Hilton kini beralih menatap Judy. Namun seketika Tuan Hilton berdecak, beberapa tahun yang lalu Judy begitu mengecewakannya, dan karena itulah ia sudah tidak bisa mempercayai putri satu-satunya itu.
“Judy sudah menentang Ayah dengan menikahi Leo, dan lihat bagaimana pernikahannya sekarang! Ayah tidak ingin kau berakhir seperti Judy dengan menikahi wanita itu, Jack!"
Judy kini menunduk dalam dan mengigit bibir bawahnya kuat. Iya, ia dulu pernah melakukan kesalahan terbesar. Menikahi Leo dan selanjutnya dikhianati oleh pria yang sangat ia cintai itu.
Bahkan setengah perusahaan milik Judy sudah direbut pria itu yang membuat perusahaannya terpaksa gulung tikar. Bahkan ia harus bekerja menjadi pegawai restoran untuk menghidupi Anne kala itu sebelum Jack dan sang Ayah mengetahui yang kebenarannya.
“Ayah tidak ingin kau berakhir sama seperti Judy, jadi mengertilah. Dan kuharap kau juga mengerti Nona Villegas. Carilah pria yang sederajat denganmu.”
Ujar Tuan Hilton menatap dua sejoli itu. Jack tersenyum sinis sedangkan Clara seketika terdiam. Setelah mendengar mengapa Tuan Hilton melarangnya bersama Jack, seketika semuanya menjadi masuk akal. Tuan Hilton hanya tidak ingin Jack berakhir dengan buruk, dan bodohnya mengapa ia tidak bisa mengerti.
Melihat perubahan ekspresi Clara setelah Ayahnya mengucapkan kalimat itu. Seketika rahang Jack mengencang, ia mengepalkan tangannya kuat.
__ADS_1
“Jika bukan dengan Clara, aku tidak akan pernah menikah. Camkan itu baik-baik!” Jack menatap tajam kearah Tuan Hilton sebelum menarik Clara keluar dari rumah besar itu.
To be continue...