
...Happy Reading ...
Seorang pria kini terlihat memandang khawatir kearah ruang UGD dihadapannya. Tepat setengah jam yang lalu sang Ayah mendadak merintih kesakitan dan tidak sadarkan diri.
Jack, pria itu mengepalkan tangannya kuat dengan perasaan begitu cemas, terlebih memang belakangan ini ia dapat melihat wajah sang Ayah yang tampak lebih pucat dari biasanya. Mata Jack kini sesekali memandang kearah pintu masuk ruangan tunggu. Sudah hampir lima belas menit ia menghubungi Judy tapi wanita itu tetap tidak kunjung datang.
“Jack.”
Jack menatap Judy yang kini berlari kearahnya. Namun bukan itu yang menjadi pusat perhatian, tepat disamping Judy kini berdiri seorang wanita paruh baya yang begitu di bencinya beberapa tahun belakangan ini. Melihat tatapan tidak suka Jack padanya, Nyonya Hilton memilih menundukkan kepalanya.
“Bagaimana keadaan Ayah Jack?”
Pandangan Jack kembali beralih kearah Judy yang kini menatapnya khawatir. Jack terdiam sesaat, bahkan ia juga tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Untuk pertama kali dalam hidupnya ia melihat sang Ayah begitu kesakitan.
“Entahlah kak, aku.. aku tidak tahu. Aku hanya-“
Melihat wajah kepanikan Jack, dengan cepat Judy memeluk adiknya itu dan mengelus punggung Jack lembut. Jack pasti begitu shock, terlebih ia juga tahu perselisihan antara Jack dengan sang Ayah bertahun-tahun lamanya. Pasti perasaan bersalah membuat Jack cukup tertekan.
“Maaf, maaf tidak memberitahumu dari awal.”
Ujaran bersalah Judy kini membuat Jack melepaskan pelukan mereka. Jack menatap sang kakak bingung. Apa ada yang merasa sembunyikan selama ini?
“Apa maksudmu kak? Apa kau menyembunyikan sesuatu dariku?”
Tanya Jack pelan dan menatap Judy bingung. Bukannya menjawab Judy kini memilih bungkam dan mulai menangis. Jack kini menatap Judy dan Nyonya Hilton secara bergantian, ada yang tidak beres disini.
“Ayah sudah di diagnosis CDH Jack.”
CDH : Coronary Heart Disease / Jantung Koroner
__ADS_1
Ujar Judy disela tangisnya, Jack masih memandangnya dengan tidak percaya. Tidak, ini semua pasti tidak benar, ini semua pasti salah.
“Jangan bercanda kak, aku-“
“Sudah 2 tahun, sudah 2 tahun sejak ia di diagnosa memiliki penyakit kronis itu Jack."
“Dan kau baru memberitahukan ku sekarang?!” Teriak Jack kuat.
“Itu untuk kebaikanmu!”
Judy kini menatap Jack dengan nanar. Ini semua adalah perintah sang Ayah, terlebih ia juga baru mengetahui penyakit yang diidap Ayahnya itu sejak kasus Jack dan Shawn terliput media. Ia hanya tidak ingin menambah beban pikiran adiknya.
“Kebaikanku?! Apa kau ingin membuatku menyesal seumur hidupku?”
Teriak Jack dan mengepalkan tangannya kuat. 2 tahun? Dan 2 tahun itu bahkan satu - satunya keluarga yang ia miliki sama sekali tidak ada yang memberitahukannya perihal ini? Jack mengacak rambutnya frustasi.
Melihat kedua anak tirinya yang bertengkar, Nyonya Hilton kini meraih tubuh Judy dan mengelus punggungnya lembut. Bagaimanapun mereka sedang berada di rumah sakit, tempat seperti ini tidak seharusnya mereka bertengkar satu sama lain.
“Apa ada hal lain yang masih kau sembunyikan dariku?” Tanya Jack dan menatap nanar kearah Judy.
“Jack, sudahlah. Ini rumah sakit, tidak seharusnya kalian-“
“Untuk apa kau disini?”
Nyonya Hilton seketika terdiam saat ucapan putra tirinya itu memasuki telinga. Judy yang mendengarnya hanya memejamkan mata, menahan kekesalan yang sedari tadi ia tahan.
“Kau bahkan bukan bagian dari keluarga Hilton, sampai kapanpun aku tidak akan pernah menerimamu!" Ujar Jack dan menatap 'wanita itu' dengan kesal.
“Jack!”
__ADS_1
Ujar Judy kesal, sungguh entah mengapa adiknya ini begitu menyesalkan. Mendengar ucapan Jack, Nyonya Hilton masih menundukkan kepala. Ia hanya ingin yang terbaik untuk keduanya.
“Bahkan sekarang kau membelanya, kak?”
Tanya Jack dan menatap Judy sinis. Entah mengapa ia kini melihat Judy sebagai wanita bodoh. Wanita bodoh yang begitu mudah di manipulasi. Entah apa yang diberikan wanita itu bisa menyebabkan Judy bisa bertindak bodoh seperti ini.
“Apa kau tidak tahu bagaimana penyesalan Ayah saat kehilangan Ibu Jack?" Tanya Judy menatap nanar kearah sang adik. Sudah begitu lama ia menyimpan semuanya ini sendiri. Dan Jack sudah harus tahu kebenarannya.
“Penyesalan? Bukankah pria itu yang menyebabkan Ibu mati?”
Ujar Jack sinis, Judy kini merogoh sesuatu didalam tasnya dan mengeluarkan sebuah tape yang bertuliskan nama Ibunya 'Adalana Hilton'. Jack menatapnya bingung, namun ia memilih mengambil tape itu.
“Kau harus mengetahui kebenarannya, bahkan aku hampir gila karena ini.”
......................
Clara kini menatap khawatir kearah ponselnya, sudah hampir tiga hari ia tidak mendapat kabar mengenai Jack sejak pria itu menemui Tuan Hilton. Perasaan khawatir, cemas dan takut kini telah menjadi satu. Pertanyaannya yang terus terbenak adalah, Apa Jack baik-baik saja? Sudah hampir puluhan kali ia menghubungi pria itu. Namun hasilnya nihil, nomornya selalu tidak aktif, terlebih Judy juga tidak pernah mengangkat panggilannya. Seolah ia telah menghilang secara misterius.
Bahkan tadi pagi ia memutuskan untuk datang ke tempat kediaman Judy, bahkan Tuan Hilton. Namun hasilnya nihil, sudah hampir dua hari mereka tidak pernah kembali. Disana hanya ada beberapa penjaga yang bilang jika sesekali Judy kembali namun pergi lagi. Perasaan was – was Clara kini semakin menjadi – jadi.
Kring!
Deringan ponsel miliknya kini membuat Clara terkejut, tepat di layar ponselnya ia dapat melihat nama Judy tertera disana. Tanpa berpikir panjang dengan cepat Clara mengangkatnya.
“Kak? Halo kak?”
“Chal, bisa kau datang ke rumah sakit sekarang? Aku butuh bantuanmu.”
To be continue...
__ADS_1