Toxic Relationship

Toxic Relationship
Broken


__ADS_3

...Happy Reading...


“Cukup Chal! Cukup!”


Dean kini meraih sekaleng bir dari genggaman Clara. Gadis itu sudah hampir menghabiskan sepuluh kaleng dalam kurun waktu dua setengah jam. Ia tidak tahu jika Clara sangat kuat minum, terakhir kalinya ia minum dengan Clara, adalah saat bersama Tiffany saat dimana ia menyatakan perasaannya pada gadis itu. Tapi Clara bahkan langsung pingsan setelah menenggak tiga kaleng, dan setelah itu Jack datang menjemputnya.


“Lihat ini Dean! Lihat cincinku!”


Dean tersentak kala Clara mulai berteriak, gadis itu mengangkat punggung tangannya kearah Dean, dan Dean dapat melihat dengan jelas sebuah cincin sapir biru yang tersemat di jari manis Clara. Apa Clara dan Jack sudah bertunangan?


“Aku menunggunya menikahiku selama enam tahun, tapi dia malah membanggakan wanita lain. Apa kisah cintaku begitu lucu Dean?” Clara merenggut sedih.


Dalam keadaan mabuk, Clara mulai meracau dan sesekali tertawa. Dean hanya menatap gadis itu dengan iba. Melihat bagaimana Clara yang seperti ini karena Jack, ia sangat tahu begitu besar cinta Clara pada pria itu.


“Aku selalu gagal! Dengan Shawn, bahkan dengan Jack! Aku memang bodoh! Aku bodoh!”


Dean kini menahan lengan Clara yang mulai memukul kepalanya, bahkan gadis itu mulai berteriak, terlihat jelas bahwa ia nampak frustasi. Dan siapa Shawn? Ia tidak mengenalnya. Apa mantan kekasih Clara? Sebenarnya ia juga tidak tahu banyak mengenai kehidupan Clara, dari hubungannya dengan Jack sampai masa lalu gadis itu. Ia tidak tahu apapun mengenai Clara.


Clara kini mulai menepis tangan Dean yang mengenggamnya, membuat Dean dengan terpaksa melepaskan tangannya. Selanjutnya Clara nampak berusaha untuk melepaskan cincin sapir biru pada jemari kanannya. Setelah terlepas, Clara dengan cepat membuang cincin itu sembarang, membuat Dean cukup terkejut.

__ADS_1


“Chal, kau membuang cincin pemberian Jack.”


Dean berbisik pelan, ia sangat tahu jika cincin pemberian Jack memiliki nominal yang tidak sedikit. Clara hanya menatap Dean dengan senyuman lebar dan mulai tetawa.


“Aku hanya membuang cincin pemberiannya, tapi Jack membuang hatiku.”


Tangan Clara kembali mengenggam sekaleng bir dan kembali menenggaknya, Dean hanya menghela napas. Melihat seorang gadis yang membuatnya jatuh hati menjadi seperti ini dan itu karena pria lain membuat Dean tampak iba dan cukup kecewa. Tidak bisakah Clara memilihnya? Apa Clara tidak sadar bahwa dirinya tetap menunggu gadis itu berpaling dari Jack?


“Apa Jack begitu berarti bagimu Chal?”


Dean bertanya pelan, Clara menatap Dean dan tersenyum penuh arti, seolah di kepalanya mengingat kenangan indah bersama Jack yang Dean tidak ketahui.


“Jack membantuku bangkit dari depresi yang berkepanjangan, karena itulah aku tidak bisa berbuat banyak padanya. Bahkan seberapa besar dia menyakitiku.”


Keadaan itu membuatnya sempat gelap mata dan memutuskan untuk mengakhiri hidupnya beberapa kali, namun Jack selalu ada disisinya dan menyemangatinya. Itulah sebabnya ia begitu mencintai Jack, namun melihat hari ini Jack bahkan berciuman dengan wanita lain membuatnya begitu hancur. Janji-janji manis yang Jack berikan padanya, kenangan indah yang mereka jalin bersama. Apa Jack dapat melupakannya begitu saja?


“Maaf jika aku merepotkanmu Dean, kau bisa pulang dan-“


Sebelum mampu melanjutkan ucapannya, Clara kini pingsan diatas meja, ia begitu banyak minum. Tangan Dean kini terangkat dan mengelus lembut rambut Clara. Mata Dean menatap intens wajah Clara, bahkan dalam keadaan begitu kacau Clara sangat cantik baginya.

__ADS_1


“Andai saja aku dipertemukan denganmu lebih dulu Chal. Apa cintamu juga akan sebesar ini padaku?”


Dean tersenyum hangat, selanjutnya pria itu merogoh ponselnya di saku jasnya. Pria itu mulai mencari nomor Tiffany pada layar kontaknya. Ia tidak tahu dimana tempat tinggal Clara, dan ini sudah cukup malam untuk seorang pria mengantar seorang wanita dalam keadaan mabuk, terlebih ia hanya sebatas rekan kerjanya.


Kening Dean berkerut ketika tiga panggilan tidak diangkat oleh Tiffany. Kemana gadis itu pergi? Bukankah ia yang memintanya untuk menemani Clara? Terlebih ia juga cukup tahu bagaimana kepedulian Tiffany terhadap Clara, ia tidak mungkin menghilang begitu saja tanpa bertanya keadaan Clara, kan?


“Halo?”


Dean kembali dibuat bingung ketika panggilannya tersambung namun tidak ada jawaban. Dean menatap layar ponselnya sekilas dan kembali mendekatkannya pada telinganya. Apa Tiffany baik-baik saja?


“Tiff?”


“Dean, maaf aku sedang sibuk. Kau bisa menghubungiku nanti.”


Tut..Tut..Tut.


Dean menatap heran ke arah layar ponselnya, dan ia mencoba kembali menghubungi Tiffany untuk kesekian kalinya. Bahkan sekarang nomor gadis itu tidak aktif. Apa Tiffany sedang berurusan dengan Jack?


Dean menatap arloji cokelat miliknya, waktu sudah menunjukkan hampir pukul setengah dua belas malam. Dan bahkan ia tidak tahu dimana tempat tinggal Clara. Sebagai lelaki sejati ia tidak mungkin membiarkan Clara seperti ini. Dan bahkan ia juga tidak memiliki nomor ponsel Jack. Lagi pula menghubungi Jack saat seperti bukanlah ide yang bagus.

__ADS_1


Mata Dean kini menoleh pada kaca jendela yang mengarah keluar jalan. Selanjutnya Dean menghela napas dalam. Ia tidak punya pilihan lain saat matanya menangkap Gracie Hotel diseberang jalan.


To be continue...


__ADS_2