Toxic Relationship

Toxic Relationship
Don't Waste Her


__ADS_3

...Happy Reading...


A month later...


Seorang pria kini menatap kearah layar monitor dihadapannya, deringan ponsel yang sedari tadi berdering seolah tidak mengusiknya. Namun sesekali ia meliriknya sekilas sebelum melanjutkan pekerjaannya. Sudah satu bulan lamanya ia menunggu, dan penantian itu seolah tidak ada hasil.


Suara deritan pintu ruang kerjanya kini menyita perhatiannya, tepat disana terlihat seorang wanita dengan jas rapi tengah tersenyum lebar padanya, dan jangan lupakan tas jinjing yang dibawanya.


“Makan siang?”


Wanita itu tersenyum dan memasuki ruang kerjanya. Jack, pria itu hanya menghela napas sebelum menghampiri wanita itu yang kini mengeluarkan dua kotak makan dari tas jinjing yang dibawanya.


“Kau masak?”


“Anne rindu masakan Ibunya, jadi aku memasak banyak hari ini.”


Jack hanya mengangguk dan menatap masakan Judy di atas meja. Seketika ia tersenyum tipis, masakan rumahan yang begitu jarang ia rasakan. Tanpa basa-basi Jack langsung mengambil kotak makanannya dan melahapnya. Judy yang melihat Jack memakan begitu lahap masakannya tersenyum senang.


“Aku tahu kau pasti akan melupakan makan siang karena Clara kembali ke Perancis.”


Ujar Judy dan menatap sang Adik. Namun Jack tidak bergeming, ia masih melahap masakan kakaknya itu. Clara memang sudah kembali ke Perancis dua minggu lalu untuk mengurus kepindahannya. Semua rencananya dengan Clara gagal total, tadinya mereka berdua yang memilih menetap di Perancis kini berbalik. Clara yang harus kembali karena ia tidak bisa meninggalkan Ayahnya begitu saja.


"Apa menurutmu kita harus memindahkan Ayah ke rumah sakit lain?" Tanya Jack dan menatap sang Kakak, Judy hanya menghela napas lalu menggeleng.


"Tidak Jack, kita bahkan sudah tiga kali pindah rumah sakit karena menuruti kemauanmu. Tapi hasilnya tetap sama, Ayah belum sadar. Kurasa kita memang harus menunggu."


Ujar Judy dengan murung. Dalam kurun waktu satu bulan, mereka sudah memindahkan sang Ayah ke berbagai rumah sakit ternama namun hasilnya nihil. Itu malah membuat fisik Ayahnya semakin tidak stabil.


"Sampai kapan? Sampai kapan kita menunggu?"

__ADS_1


Tanya Jack dan menatap kearah Judy. Judy hanya terdiam, sesungguhnya ia tidak tahu sampai kapan mereka harus menunggu. Ia tidak bisa janji pada Jack.


"Entahlah Jack, aku belum menemukan jawabannya."


Ujar Judy dan menatap sang Adik sedih. Penyesalan Jack pasti jauh lebih besar dari pada rasa sedih yang ia rasakan sekarang.


“Well, Clara berkata padaku jika kau begitu sering mengabaikan panggilannya, ada apa denganmu?”


Mendengar pertanyaan Judy seketika Jack menghentikan kegiatannya. Ia meletakkan kotak makan miliknya dan meminum sebotol air yang memang sudah disediakan Judy bersamaan dengan masakannya.


“Aku hanya sibuk bekerja, hanya itu.”


“Sampai tidak bisa mengangkat panggilannya? Bahkan hanya sekali?”


Jack melirik Judy sekilas sebelum menghela napas. Entahlah semenjak Ayahnya jatuh koma selama satu bulan ini, ia yang harus menghandle semua pekerjaannya. Sedangkan GrantHill diambil alih oleh Judy. Mengurus Hilton Group ternyata jauh lebih sulit dan lebih membutuhkan banyak waktu.


“Kak, aku hanya menuruti perintah Ayah untuk menjalankan perusahaan.”


“Ayolah Kak, aku sedang tidak ingin berdebat.” Ujar Jack dan menatap Judy kesal.


Judy kini menghela napas berat melihat betapa keras kepala adiknya itu. Ia hanya tidak ingin Clara lelah dengan sikap adiknya ini. Karena ia yakin, jauh di luar sana begitu banyak pria yang bahkan mencari istri seperti Clara. Dan ia ingin adiknya lah yang menjadi pria beruntung itu.


“Bagaimana dengan pernikahanmu dengan Clara? Kau masih akan menundanya?”


Tanya Judy dan menatap intens kearah Jack. Mendengar pertanyaan itu lagi, Jack hanya menghela napas dan menutup kotak makan miliknya yang sudah setengah. Pembicaraan seperti ini menurunkan mood makannya.


“Aku tidak akan menikah sebelum Ayah sadar dari komanya.”


Mendengar ucapan Jack, Judy menatapnya dengan pandangan tidak percaya. Satu bulan lalu Jack yang seolah begitu buru – buru mengenai pernikahannya dengan Clara. Namun sekarang ia sudah melupakan itu semua.

__ADS_1


“Kau serius dengan ucapanmu?” Tanya Judy menatap Jack intens.


“Ayolah Kak, bahkan Clara tidak pernah mengeluh dengan hal itu.”


“Apa kau memang pernah melihat Clara mengeluh sebelumnya dengan keputusanmu?”


Mendengar ucapan Judy seketika Jack terdiam beberapa saat. Memang, berbeda dengan dirinya, Clara selalu mengiyakan hampir semua permintaannya. Tapi, pertanyaannya adalah, Apa Clara bahagia dengan pilihannya? Melihat tatapan ragu Jack, Judy hanya menggelengkan kepalanya. Seorang pria memiliki kepekaan yang sangat rendah.


“Bertahun-tahun ia menunggumu melamarnya, tapi apa ia bisa membantah jika pernikahannya harus tertunda karena calon mertuanya yang terbaring koma?” Tanya Judy dan menatap Jack dalam. Clara tidak memiliki pilihan, itu adalah kenyataan yang sebenarnya.


“Clara harus mengalah dengan menutup Bakery miliknya di Perancis demi bisa merawat Ayah Jack. Apa kau pikir ada wanita sebaik dia yang pernah kau temui?”


Mendengar pertanyaan demi pertanyaan Judy membuat Jack terdiam. Memang, selama dua minggu pertama Ayahnya koma. Jack hanya mengizinkan Nyonya Turner dan Clara untuk menunggu sang Ayah.


Tapi memang Jack meminta itu karena lagi - lagi Clara tidak pernah mengeluh dengan permintaannya. Tapi, apa Clara senang dengan hal itu?


“Kak, aku hanya... aku hanya ingin menunggu Ayah sadar dan dapat hadir dalam pernikahanku.”


“Sampai kapan Jack? Apa menurutmu Clara tidak akan pergi sampai itu semua terjadi?”


Tanya Judy kesal menatap sang Adik. Sungguh ia tidak tahu jalan pikiran Adiknya ini. Terlebih bagaimana Jack yang seolah menjauh dari Clara dengan tidak mengangkat panggilannya.


Ia mengerti, bahkan sangat mengerti jika Jack begitu menyesal dan sedih dengan keadaan Ayah mereka. Tapi bukan artinya Jack bisa melampiaskan itu semua pada Clara. Sampai kapan Clara yang harus mengerti dirinya?


“Apa menurutmu itu yang akan Clara lakukan? Meninggalkanku?"


Tanya Jack ragu. Ia memang selama ini tidak pernah mengerti perasaan Clara padanya. Rasa sakit, khawatir, kecewa atau apapun perasaan itu yang Clara rasakan padanya. Tapi mendengar ucapan kakaknya seolah menyadarinya satu hal, ia tidak mengenal Clara dengan cukup baik.


“Jika kau merasa perjuanganmu untuk Clara begitu besar, perjuangannya untukmu maka jauh lebih besar Jack. Jangan sia – siakan dia." Judy kini memberi jeda pada ucapannya dan menatap Jack dalam.

__ADS_1


"Kau tahu bukan bagaimana gilanya Ayah saat kehilangan Ibu, kan? Aku tidak ingin kau bernasib sama dengannya."


To be continue...


__ADS_2