
...Happy Reading...
"Bodoh! Kau bodoh Jack!”
Mary kini berteriak marah, untuk pertama kalinya ia melihat Jack amat sangat bodoh dalam bertindak. Tinggal selangkah lagi mereka akan berada didepan Chris, tapi bisa-bisanya Jack melakukan hal yang amat sangat ceroboh.
Dengan bodohnya ia memukul Chris didepan puluhan wartawan, dan disinilah mereka. Berada di GrantHill Company seperti orang bodoh, di pulangkan tanpa membawa saham apapun yang mereka pelajari beberapa minggu belakangan ini. Bahkan mereka masih beruntung karena tidak terkena blacklist dari pasar saham.
“Mengapa kau tidak bisa menjaga Clara, Mary?”
Pertanyaan dingin dari Jack itu mampu membuat Mary bungkam seketika, ia memandang Jack tidak percaya.
“Bukankah aku yang seharusnya marah disini?! Bisa-bisanya kau masih menyalahkanku atas semua yang kau lakukan?!”
Tanya Mary penuh amarah, Jack mengacak rambutnya frustasi. Kini beberapa artikel sudah menjatuhkan reputasinya karena insiden beberapa jam lalu, bahkan insidennya begitu cepat menyebar dari yang ia kira. Acara penting seperti pelelangan saham seolah ia jadikan ring tinju bersama Chris, pupus sudah semua harapannya.
“Maaf Mary, aku minta maaf.”
Ucap Jack pelan, bagaimanapun Mary sudah berusaha untuk membantunya bangkit, dan ia sudah mengecewakan gadis itu. Saat ia ingin membungkam Chris melalui bisnis, dan kini ia yang telah bungkam, entah sampai berapa lama. Bahkan telepon kantornya sudah berpuluh-puluh kali berdering, pastinya beberapa wartawan memintanya untuk melakukan klarifikasi mengenai insiden itu.
“Tidak bisakah kau melupakan Clara hanya untuk beberapa jam saja Jack? Clara selalu membuatmu hilang kendali.”
Ucap Mary pelan, Jack memandang Mary dengan perasaan bersalah. Terlihat Mary yang tampak kecewa menatapnya, Jack menelan salivanya dan menatap Mary penuh penyesalan. Clara adalah kelemahannya, karena itu ia tidak ingin melibatkan Clara dalam bisnis apapun. Ia tidak bisa mengontrol dirinya jika Clara adalah senjatanya, ia tidak bisa.
“Aku minta maaf.” Ucap Jack pelan, tidak ada kata yang sanggup ia ucapkan kecuali maaf.
Mary menarik napas dalam dan membuangnya perlahan, ia menatap Jack dengan nanar. Pria sekuat Jack bahkan bisa melakukan apapun untuk seorang gadis lemah seperti Clara. Clara bahkan tidak memiliki kekuatan apapun, ia tidak sebanding dengan dirinya yang memiliki keluarga, bahkan tahta yang terpandang. Tapi Clara mampu membuat Jack tunduk padanya, mampu membuat Jack melakukan apapun untuknya.
“Tidak bisakah kau memandangku sekali saja Jack?”
Pandangan Jack kini beralih menatap Mary, ia dapat melihat gadis itu tengah memandangnya dengan linangan airmata. Tangan Mary kini meremas dadanya kuat, ia dapat merasakan dadanya mulai sesak, wajahnya mulai memanas, dan dengan perlahan airmatanya mulai mendesak untuk keluar.
Enam tahun ia menunggu Jack untuk berada disisinya, semua yang ia lakukan selalu sia-sia. Dari ancaman melalui Clara bahkan sampai membantu Jack seperti yang ia lakukan saat ini. Namun sia-sia, Jack tetap akan memilih Clara, seberapa besar dan seberapa lama ia berada disisi Jack, Clara akan tetap menjadi pemenangnya.
“Mary, aku tidak mengerti apa yang-“
__ADS_1
“Maaf! Aku minta maaf karena menduakanmu beberapa tahun lalu. Tapi tidak bisakah sekarang kau hanya melihatku Jack? Aku telah berubah! Aku bukan Mary yang dulu! Tidak bisakah kali ini saja kau melihat ketulusanku?” Ucap Mary lembut dan menatap Jack dengan nanar.
Jack kini menelan salivanya, ia menatap Mary dengan bingung, terlebih saat menatap air mata Mary yang seolah meluncur deras. Ia sudah memaafkan semua perlakuan Mary padanya, namun perasaannya untuk Mary tidak bisa kembali seperti dulu. Saat Mary berselingkuh dengan Steven, salah satu teman masa kecilnya dengan Mary, pendiri PH Group. Satu-satunya sahabat yang ia percaya.
Pada saat itu, ia begitu terpuruk karena permainan belakang antar keduanya, namun saat ia berpikir, hal wajar jika Mary mencoba untuk mencari kenyamanan yang lain. Terlebih saat itu ia begitu sibuk dengan GrantHill yang semakin berkembang. Tapi ia tidak ingin hubungan kelamnya itu kembali terulang saat bersama Clara. Itulah mengapa ia mencoba untuk menyerahkan semuanya kepada Clara, perhatian, waktu, hingga materi yang gadis itu butuhkan. Tapi nyatanya bisnis malah membuat Clara menjauh padanya.
“Aku minta maaf, kau bukan prioritasku lagi. Aku minta maaf.” Ucap Jack pelan dan menatap Mary, ia berharap Mary paham akan posisinya. Dan ia tidak ingin menyakiti teman masa kecilnya itu lebih dalam lagi.
“Aku sudah begitu banyak membantumu Jack, tapi kurasa kau harus mengurus kekacauan yang kau buat ini sendirian. Aku tidak bisa lagi membantumu.”
Setelah mengucapkan kalimat itu, Mary kini keluar dan membanting pintu tempat kerja Jack dengan cukup kuat. Jack hanya menarik napas dalam saat melihat kepergian Mary begitu saja, pria itu langsung jatuh terduduk diatas sofa tempat kerjanya.
“Apa yang harus kulakukan untuk membawa Clara kembali?”
Jack kini terdiam sesaat, pria itu termenung. Sekarang ia tidak peduli lagi mengenai saham dan perusahaannya, sekarang yang ia inginkan adalah membawa Clara kembali bersamanya. Walaupun itu akan menukarkan dengan separuh perusahaannya, ia tidak peduli. Clara lebih berarti dari pada itu semua.
Kring!
Jack kini harus tersentak kala ponselnya berdering kuat, Jack merogoh saku jasnya dan menatap layar ponselnya. Untuk apa pria itu menghubunginya? Jack kini menarik napas dalam dan mendekatkan ponsel pada telinganya.
“Halo, Steve. Ada apa?”
“Setelah sekian lama dan kapasitas otakmu bahkan semakin menurun Jack.”
“Setidaknya perusahaanku tidak pernah mencapai ambang kebangkrutan.”
Stevenson, atau yang biasa dipanggil Steve itu membuang napas dengan kesal kala ucapan sarkas itu keluar dari mulut Jack. Jack hanya terkikik geli mendengarnya.
Dan disinilah ia, salah satu cafe dipinggir pantai, tempat dimana ia sering nongkrong dengan Steve beberapa tahun lalu. Setidaknya sebelum pria itu memfokuskan usahanya di Paris, Perancis, salah satu negara yang begitu dicintainya. Bahkan pria itu melamar kekasihnya di Perancis. Betul sekali, Steve sudah bertunangan.
“Apa kau butuh bantuan Boy?”
Jack hanya tersenyum mendengar pertanyaan yang dilontarkan sahabatnya itu. Berusaha keras ia menutupi ini dari Steve, tapi pria itu pasti mendengar kabar mengenai dirinya yang memukul Chris di pasar pelelangan. Pasti berita itu begitu cepat terbang hingga ke Paris.
“Tidak, aku baik-baik saja Steve, percayalah.”
__ADS_1
Steve menatap sahabat karibnya itu prihatin. Beberapa tahun lalu Jack membantunya yang pada saat itu perusahaannya sudah diambang kebangkrutan, secara mengejutkan Jack menaruh sebagian saham miliknya pada perusahaannya, bahkan pada saat itu ia mengkhianati Jack bersama Mary. Tapi kali ini ia tidak ingin menutup mata dan telinga disaat Jack membutuhkan bantuannya.
“Katakan, apa yang harus aku lakukan Jack.”
Jack kini menatap Steve dengan penuh keraguan. Sebenarnya memang ia baik-baik saja, namun keberadaan Clara dipihak Chris membuatnya benar-benar kacau. Terlebih ia tidak tahu kartu as yang dimiliki Chris untuk membuat Clara berada dipihaknya. Ia sekangkah dibelakang Chris saat ini.
“Bisa kau memantau Clara untukku?” Pertanyaan Jack kini membuat Steve menatapnya tidak percaya.
“Aku sudah melakukannya tanpa kau minta, kau pasti tau itu kan? Apa kau sedang meremehkanku sekarang?”
Mendengar ucapan jengkel Steve, Jack tersenyum lebar. Ia masih memiliki beberapa orang yang akan membantunya. Dan ia harap, ia bisa menggunakan itu sebaik-baiknya.
"Apa aku benar-benar salah langkah saat ini Steve? Clara, bisa-bisanya aku melepaskan Clara."
Steve menatap Jack yang kini tampak merenung menatap pantai. Enam tahun bukan waktu yang sebentar, dan ia sangat tahu betapa Jack yang begitu tergila-gila dengan Clara.
"Kau itu munafik, Jack." Ucapan singkat Steve kini mampu membuat Jack menatap pria itu.
"Saat kau memutuskan untuk mencintai Clara, gadis itu terima atau tidak, sudah terlibat dalam setiap bisnismu. Dari pada kau mengecoh Chris dengan menjalin hubungan bersama Mary, kenapa tidak kau pakai kesempatan itu untuk melindungi Clara?"
Jack terdiam sejenak mendengar ucapan Steve. Disisi lain Steve benar, dengan ia menjalin hubungan pura-puranya bersama Mary, itu akan membuat Clara semakin sakit hati. Mengapa ia tidak melindungi Clara agar Chris tidak dapat menyentuh sehelai rambutpun milik gadisnya.
"Lalu apa yang harus aku lakukan?"
"Minta maaf pada gadis itu, dan tanyakan apa yang membuatnya berada di pihak Chris." Jack kini mengangguk mengerti mendengar ucapan Steve. Steve yang melihat Jack yang tetap terdiam ditempat kini menatap sahabatnya itu dengan kesal.
"Apa lagi yang kau tunggu?"
“Kaki tangan Chris, bisa kau mencari tahu untukku Steve?”
Senyuman lebar yang sedari tadi Steve berikan seketika memudar. Kini ia menatap Jack dengan pandangan bersalah. Jack hanya menatap pria itu dengan bingung, Steve tidak akan mengkhianatinya, kan? Setidaknya satu pertanyaan itu yang terlintas dipikirannya saat melihat tatapan bersalah Steve padanya.
“Aku memang belum bisa memastikan mengenai kaki tangan Chris saat ini Jack, tapi aku mempunyai satu nama belakangan ini.” Jack menatap Steve dengan bingung, melihat bagaimana cara bicara Steve padanya, ia mulai mengerti arah pembicaraan Steve kali ini.
“Siapa itu?"
__ADS_1
“Tiffany Boston.”
To be continue...