
Kata yang bercetak miring adalah masa lalu.
...Happy Reading...
Three years ago...
“Sudah sampai Chal.”
Jack kini menatap gadis yang berada di kursi penumpang disebelahnya. Jack dapat melihat dengan jelas kini Clara menatap depan dengan pandangan kosong, seolah memikirkan sesuatu yang selama ini begitu mengganjal pikirannya.
“Chal? Clara?”
Panggil Jack dengan lembut, Clara tak bergeming. Sudah satu bulan belakangan ini Clara begitu banyak melamun, bahkan tidak jarang Jack melihat airmata gadis itu yang ikut keluar ditengah lamunannya. Jack hanya menarik napas dalam. Clara sudah mengabaikannya sejak mereka makan malam bersama beberapa jam lalu, gadis itu seolah begitu tertekan karena satu atau dua hal.
“Clara?” Panggil Jack lagi dan menepuk bahu gadis itu. Clara kini tampak terkejut dan menatap Jack dengan bingung.
“Kita sudah sampai.”
Ujar Jack lembut. Clara kini menatap sekitar, Jack sudah memarkirkan mobil miliknya di halaman rumah tempatnya tinggal. Clara memijit keningnya, ia benar-benar begitu sering hilang fokus.
“Apa yang kau pikirkan?”
Pertanyaan Jack mampu membuat Clara menatap pria itu, namun Jack dapat melihat wajah Clara yang tampak gugup dengan pertanyaannya. Dengan cepat gadis itu mengalihkan pandangannya, berusaha menghindari tatapan Jack yang begitu penasaran padanya.
“Tidak, tidak, hanya beberapa deadline kantor.”
Ucap Clara dengan senyuman tipis. Jack masih menatap Clara dengan datar. Deadline kantor tidak akan menyita perhatian Clara hampir satu bulan lamanya, semenjak kejadian Shawn satu bulan lalu membuat Clara tampak berubah.
“Apa kau masih memikirkan Shawn?”
Pertanyaan spontan Jack kini membuat Clara semakin gugup. Sebenarnya ia tidak ingin membahas ini lagi dengan Jack, tapi kejadian itu tidak bisa ia singkirkan dari pikirannya begitu saja.
“Tidak, tidak Jack. Aku hanya-“
“Apa kejadian itu tidak bisa kau lupakan Chal?”
Tanya Jack semakin menyudutkannya, Clara meremas tasnya kuat. Apa yang harus ia katakan? Apa Jack akan marah jika ia mengatakan sejujurnya? Melihat bagaimana wajah Clara yang tampak begitu khawatir, Jack hanya memandangnya sendu.
“Maaf.”
__ADS_1
Ujaran tidak terduga dari Jack membuat Clara menatapnya. Clara dapat melihat sang kekasih yang kini menunduk dalam, Clara hanya menatap Jack dengan bingung. Ini semua bukan salah Jack dan mengapa pria itu yang harus meminta maaf?
“Maaf tidak bisa melindungimu Chal, aku minta maaf. Seharusnya aku datang lebih cepat saat itu.”
Jack kini mengangkat kepalanya, Clara terkejut saat melihat buliran bening itu membasahi pipi Jack. Clara merasakan dadanya begitu sesak melihat tangisan Jack. Setelah tiga tahun hubungan mereka dan imi untuk pertama kalinya ia melihat Jack yang tampak menangis dihadapannya.
Clara kini mengelus pipi Jack dengan lembut dan menghapus tetesan airmatanya. Ini bukan kesalahan Jack, ia tidak perlu menyalahkan dirinya sendiri. Clara kini mulai mencodongkan tubuhnya dan memeluk Jack dengan lembut. Clara merasakan matanya mulai memanas, airmatanya kini mulai meluncur. Ia seharusnya tidak seperti ini.
“Ini semua bukan kesalahanmu Jack, semua tidak ada kaitannya denganmu.”
"Aku janji Chal, aku akan melindungimu. Tidak akan ada yang bisa menyakitimu mulai saat ini."
...----------------...
“Cheers?”
“Cheers.”
Clara, Tiffany dan beberapa pegawai AR Group kini tersenyum lebar. Tepat hari ini adalah tepat dimana Tuan Arthur berulang tahun yang ke – 52. Pria paruh baya itu memberikan sebuah pesta tim untuk merayakannya. Semua tim seolah tidak ingin melewatkan keuntungan ini, hampir separuh tim AR Group menyetujuinya, bahkan mereka menyewa satu restoran untuk perayaan kali ini.
“Kau tidak mengundang Jack, Chal?”
“Tidak, ia tidak akan memiliki waktu dengan pesta seperti ini.”
“Aku akan mengambil beberapa cemilan disana.”
Ucap Clara, Tiffany mengangguk mengiyakan. Setelah melihat Clara yang mulai berjalan menjauh kearah bar makanan. Tiffany kini mendengar sebuah deringan ponsel, tepat dihadapannya terdapat ponsel Clara.
Tiffany menatap kearah ponsel itu, nama Jack kini terlihat memenuhi layar. Tiffany berusaha mengabaikannya, namun setelah beberapa menit panggilan kedua, ketiga dan seterusnya kembali berdering. Tiffany berdecak kesal, apa Clara tidak menghubungi Jack mengenai pesta ini?
“Chal! Clara!”
Tiffany berteriak dan melambaikan tangan, berharap Clara akan meresponnya, namun hasilnya nihil, Clara tampak sedang mengobrol dengan seorang wanita yang merupakan rekan kantor mereka. Namun sedetik kemudian, Tiffany dapat melihat seorang pria memasuki restoran dengan berlari. Tiffany mengerutkan keningnya, Jack? Untuk apa ia-
“Clara!”
Semua kegaduhan yang sedari tadi memenuhi ruangan seketika menjadi senyap. Teriakan Jack – atasan mereka – dari depan pintu restoran mengaggetkan semua orang. Clara yang melihat kedatangan Jack hanya menatap pria itu dengan bingung. Beberapa menit lalu ia menghubungi Jack untuk mengajaknya berpesta dengan AR Group. Namun pria itu menolaknya dengan dalih ada rapat internal. Namun kini ia berada dihadapannya dengan wajah yang tampak penuh amarah.
“Jack, apa yang kau-“
__ADS_1
“Ikut aku sekarang!"
Ucap Jack dan menarik tangan Clara keluar restoran. Semua orang disana hanya saling memandang dengan bingung. Terlihat Clara dan Jack yang tampak tidak baik-baik saja. Bahkan Tuan Arthur yang melihat kejadian itu hanya menatap mereka dengan bingung.
“Kau ini apa-apaan Jack! Kau mempermalukanku!”
Ucap Clara kesal dan menghempaskan tangan Jack yang mencengkeram erat lengannya. Bahkan Clara merasakan pergelangan tangannya mulai memerah. Ia tidak habis pikir secara tiba-tiba Jack datang dan meneriakinya tepat didepan semua rekan kerjanya.
“Mempermalukanmu?! Kau bahkan tidak mengangkat panggilanku!” Teriak Jack yang merasa tidak terima, Clara hanya menatapnya dengan kesal.
“Kau tahu kantorku sedang ada acara, aku sudah memberitahumu itu!” Teriak Clara tidak mau kalah, Jack kini mengepalkan tangannya kuat. Bagaimana Clara yang berteriak kepadanya kini membuatnya sangat kesal. Jack menggeretakkan giginya geram.
“Aku berusaha untuk melindungimu Chal, kau bahkan tidak paham?!" Teriakan Jack kini membuat Clara menatapnya dengan bingung. Sebenarnya ada apa dengan Jack?
"Melindungiku? Melindungiku dari apa?"
"Dari semua pria didalam sana, aku tidak akan membiarkan mereka bahkan menyentuh satu helai rambutmu." Ucap Jack dan menatap Clara dengan dalam.
"Kau sakit Jack! Kau sakit."
...****************...
Jack kini merasakan kepalanya berdenyut kuat, sinar mentari kini mulai menyilaukan matanya. Pria itu mengerjapkan matanya dan menatap langit-langit kamar. Bisa-bisanya setelah sekian lama mimpi mengenai Clara kembali terulang, kejadian demi kejadian yang membuatnya begitu posesif kepada Clara. Kini ia mulai menyesal, menyesal mengapa ia melakukan semua itu kepada gadisnya.
"Aku minta maaf Chal." Ujar Jack sendu.
Jack kini mulai memijit kepalanya yang semakin kening dan menatap sekitar. Seketika Jack tersentak saat melihat Steve kini begitu terlelap tepat disebelahnya. Astaga, ia bahkan tidur bersama Steve? Satu ranjang? Dengan cepat Jack berdiri dan mengusap-usap semua tubuhnya. Steve tidak memperkosanya kan?
Jack menatap sekitar. Dimana ia? Namun bayang-bayang kemarin malam memasuki pikirannya. Kemarin setelah ia bersantai dengan Steve di cafe, mereka memutuskan untuk melanjutkannya dengan minum-minum di bar terdekat. Dan sekarang berakhirlah ia disini. Pasti Steve yang menggotongnya hingga sampai di hotel.
Suara deringan ponsel milik Jack kini memenuhi ruangan, Jack menoleh, tepat diatas nakas tergeletak ponselnya yang menyala. Dengan perlahan Jack meraih ponsel itu dan menatapnya. Tepat dilayar kini sebuah nomor telepon yang cukup ia kenali memenuhi layar. Walaupun ia tidak menyimpannya, tapi nomor itu seolah sudah berada diluar kepalanya.
“Ada apa?” Tanya Jack sekenanya. Ia sedang tidak ingin berdebat di pagi yang cerah seperti ini.
“Kau tidak pulang semalam? Kemana saja kau?” Suara baritone pria paruh baya tampak terdengar, Jack tersenyum sinis.
“Itu bukan urusanmu.” Ucap Jack penuh penekanan.
“Sekarang, temui.aku.dikantor”
__ADS_1
Panggilan terputus.
To be continue...