Toxic Relationship

Toxic Relationship
Pain (Flashback)


__ADS_3

⭕Kata yang bercetak miring adalah masa lalu


⭕MENGANDUNG ADEGAN DEWASA!


...Happy Reading...


“Shawn, kau tidak harus mengantarku.”


Mata Clara kini menatap Shawn khawatir, setelah bagaimana kemarin Jack memperingatinya. Perasaannya menjadi begitu waspada, beberapa menit lalu ia bersih keras untuk pulang sendiri. Namun Shawn selalu memaksanya, terlebih ia juga tahu jika beberapa hari yang lalu Shawn mengakhiri hubungannya dengan Rose. Pria itu pasti sedang terpuruk.


Melihat bagaimana Shawn yang mengantarnya dengan membawa beberapa minuman alkohol, pasti setelah mengantarnya pria itu langsung menenggaknya. Ia cukup tahu jika Shawn begitu jatuh hati pada Rosalie.


Setelah mobil SUV itu berhenti tepat didepan rumahnya, dengan cepat Clara langsung turun. Ia begitu takut jika Jack kembali memantaunya. Melihat Clara yang seolah begitu terburu-buru Shawn tersenyum dan membuka kaca jendela mobilnya.


“Boleh aku singgah sebentar Chal?”


Clara menoleh kearah Shawn. Mendengar permintaan Shawn, Clara tampak tersentak. Pandangan gadis itu kini mulai menatap sekitar, seolah sedang mencari seseorang. Shawn yang melihatnya hanya menatapnya bingung. Apa Clara sudah memiliki janji dengan seseorang? Bukankah satu bulan ini Jack tidak pernah menemuinya, lalu siapa yang ia tunggu?


“Maaf Shawn, aku sangat lelah hari ini. Mungkin lain waktu.” Clara kini menggaruk tengkuknya gelisah. Shawn menatap Clara dengan pandangan memohon.


“Ayolah Chal, aku sudah begitu lama tidak datang ke rumahmu. Boleh ya, ya? Kali ini saja. Aku butuh teman minum.”


Clara menatap Shawn dengan ragu, gadis itu menarik napas dalam. Melihat bagaimana wajah lesu Shawn yang akhir-akhir ini sering ia lihat, sebenarnya itu membuatnya cukup prihatin. Shawn yang dulu selalu banyak tingkah seolah menjadi lebih pendiam.


“Baiklah, tapi hanya sebentar ya. Aku ingin istirahat."


Mendengar jawaban Clara yang seolah terpaksa, Shawn tersenyum sumringah. Dengan cepat ia langsung memarkirkan mobilnya dan membawa tas tote bag yang berisi beberapa bir kesukaannya.


“Duduklah Shawn, aku akan menyiapkan beberapa cemilan.”


Shawn mengangguk dan menatap rumah Clara dengan teliti, hampir empat tahun lamanya ia tidak pernah masuk rumah Clara. Rumahnya begitu banyak berubah, pasti karena beberapa sentuhan design dari Jack. Shawn akui, Jack memang begitu berbakat dalam segala bidang.


Clara kini menghampiri Shawn dengan membawa sepiring cemilan yang berisi cokelat dan juga dua gelas. Sebenarnya ia sudah cukup lama tidak minum bir, terakhir kalinya saat ia kehilangan sang Ayah. Dan itu sudah sangat lama.


“Wow bir stouts dan cokelat, kau memang memiliki selera yang baik Chal.”


Tangan Shawn kini mengambil kaleng bir dan membukanya. Pria itu menuangkannya pada gelasnya dan juga gelas Clara. Rasanya sudah sangat lama mereka tidak quality time seperti ini. Sebenarnya ia cukup sadar, semenjak ia menjalin hubungan dengan Rose. Ia menjadi cukup jauh dengan Clara. Tapi ia berusaha menepis itu semua, karena ia berpikir Clara juga nampak begitu sibuk dengan urusan kantornya. Terlebih sekarang ada Jack yang terus bersamanya.


Shawn kini mengambil potongan cake cokelat. Bir stouts memiliki aroma yang begitu tajam dan cukup pahit dari kebanyakan bir lainnya, dan cokelat adalah pelengkap yang manis. Shawn kini mengambil gelasnya.


“Cheers?”

__ADS_1


“Cheers.”


......................


Clara kini mengerjapkan matanya pelan, matanya begitu berat, ia sangat kelelahan. Setelah selama beberapa menit ia membiasakan matanya dengan cahaya lampu, kini dapat ia rasakan sesuatu yang hangat melingkari pinggangnya. Dan selanjutnya gadis itu tersentak saat melihat kini Shawn dan dirinya tengah tertidur diatas sofa dengan Shawn yang memeluknya dari belakang.


Clara dapat merasakan kepalanya pening, ia begitu banyak minum. Mata Clara kini beralih pada jam dinding besar. Ia tersentak, waktu telah menunjukkan pukul tiga pagi. Ia yang tadinya hanya ingin minum segelas dan kini malah mabuk dan tidak terkendali.


Tangan Clara kini meraih ponselnya dan berdiri, menyingkirkan tangan Shawn di pinggangnya. Clara dapat melihat panggilan dari Jack beberapa menit lalu. Untuk apa Jack menghubunginya selarut ini? Saat ia ingin kembali menghubungi Jack, mata Clara beralih pada Shawn yang masih tertidur pulas di sofa ruang tamunya. Tidak, tidak, ia tidak ingin mendapat bencana dengan menghubungi Jack. Bisa saja Shawn terbangun dan meracau tidak jelas, itu yang biasanya Shawn lakukan jika sedang mabuk berat.


Clara mulai berdiri dan berjalan menuju kamarnya. Tubuhnya benar-benar lengket, bahkan ia belum sempat sekedar cuci muka dari pulang kantor. Namun saat Clara akan melangkah, secara tiba-tiba Shawn meraih tangannya, membuat Clara menghentikan langkahnya dsn yang berbalik menatap pria itu.


“Shawn?” Panggil Clara pelan. Apa Shawn sudah sadar dari mabuknya?


“Aku mencintaimu Clara.”


Shawn berbisik pelan. Clara menatap pria itu, mata Shawn tampak terpejam. Apa pria ini sedang bermimpi? Clara dapat merasakan tangan Shawn yang semakin erat menggenggamnya.


“Shawn? Kau baik-baik saja?”


Mendengar racauan yang tidak jelas dari Shawn, Clara mulai berjongkok, menatap Shawn intens yang masih tertidur diatas sofa. Dengan cukup kuat Clara berusaha melepaskan genggaman tangan pria itu. Namun hasilnya nihil, cengkeraman Shawn jauh lebih kuat.


Clara tersentak sesaat secara tiba-tiba Shawn menarik tangannya, membuatnya terjatuh diatas tubuh pria itu. Clara dapat melihat mata Shawn terbuka memandangnya dan ia dapat mencium bau alkohol yang begitu kuat. Berapa banyak kaleng yang Shawn minum? Pria itu benar-benar sudah sangat mabuk.


“Shawn, aku... aku.” Clara dapat merasakan Shawn kini memeluknya erat, bahkan detakan jantung Shawn dapat ia dengar. Clara menelan salivanya, ia sedang tidak bermimpi kan? Apa ini semua karena efek mabuknya?


“Tiffany bilang padaku kalau kau selama ini menungguku Chal. Apa itu benar?”


Mendengar bisikan lembut Shawn, Clara hanya dapat bungkam, ia tidak bisa berkutik. Mengapa Tiffany mengucapkan tanpa memberitahunya? Toh seharusnya gadis itu juga tahu jika ia sudah bersama Jack. Dengan sekuat tenaga Clara mendorong tubuh Shawn, namun ia tidak bisa. Bahkan disaat mabuk tenaga Shawn jauh lebih kuat darinya.


“Apa aku telat Clara? Apa hatimu sudah kau berikan semua kepada Jack?”


Seketika Clara tidak dapat berkutik, ia menatap Shawn. Sedangkan Shawn semakin mempererat pelukannya. Dengan sekuat tenaga Clara menampar pipi kanan Shawn, membuat pria itu kini melepaskan pelukan mereka. Mereka berdua mulai duduk diatas sofa, memandang satu sama lain.


“Kau adalah masa laluku, aku minta maaf.”


Mendengar ucapan Clara, Shawn menatapnya dengan penuh kekecewaan. Shawn kini meraih tangan Clara dan mengenggamnya lembut.


“Maaf karena aku baru menyadarinya ketika kau telah bersama Jack, Chal. Melihat kau bahagia bersama Jack membuat hidupku kacau.”


Clara terdiam, ia tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Karena ia benar-benar sudah melupakan Shawn, ia tidak memiliki perasaan apapun lagi padanya.

__ADS_1


"Aku sudah berusaha mengabaikan ucapan Tiffany dan melupakanmu dengan kehadiran Rose, tapi aku tidak bisa Clara. Aku sangat menyesal memperkenalkanmu dengan Jack."


Clara dapat melihat Shawn menundukkan kepalanya dalam. Clara meremas tangannya, mungkin memang ini sudah takdirnya. Ia tidak akan bisa bersama dengan Shawn, tapi ia digantikan dengan pria yang jauh lebih baik darinya.


“Apa aku benar-benar sudah terlambat, Clara?” Shawn kini kembali menatap Clara. Pria itu masih menatapnya dengan pandangan sedih.


“S.. Shawn-“


Clara tersentak ketika Shawn kini meraih kepalanya dan mulai mencium bibirnya. Shawn menciumnya dengan tidak sabaran, memaksanya untuk membuka mulut. Clara kini melenguh ketika Shawn mengigit bibir bawahnya cukup kuat. Seolah melihat kesempatan yang datang, dengan cepat Shawn menekan tengkuk Clara dan mulai menciumnya. Sedangkan tangan satunya ia lingkarkan pada pinggang Clara, menghilangkan jarak diantara mereka.


Masih dengan keterkejutannya, Clara kembali berusaha mendorong tubuh Shawn. Terlebih Shawn mulai menggigit kuat bibirnya. Setelah ia rasa usahanya gagal, Clara kini mulai menginjak kaki Shawn, membuat pria itu melepaskan ciuman mereka.


Plak!


Untuk kedua kalinya Clara menampar pipi pria itu. Ia tidak habis pikir dengan perilaku Shawn padanya. Bukankah mereka adalah sahabat? Seolah tidak jera dengan tamparan itu Shawn kembali menarik tubuh Clara. Ia mulai menciumnya dengan penuh nafsu. Clara mulai menangis, ia tidak bisa melawan. Tenaganya tidak cukup kuat melawan Shawn.


“Aku hanya ingin merasakan apa yang Jack dapatkan darimu, jangan menangis Clara."


Shawn tersenyum menyeringai. Clara masih terdiam, seolah tubuhnya membeku. Tangan Shawn kini mulai menggerayangi tubuhnya, dari bagian dadanya sampai area bawahnya. Masih dengan ciuman mereka yang berlanjut, diam-diam Clara meraba sesuatu yang dapat ia gapai dari atas meja, berusaha menemukan apapun untuk menghentikan Shawn.


Dapat! Sebuah botol kaca, dengan sekuat tenaga Clara mulai menghantamkannya ke kepala Shawn, membuat botol itu pecah. Shawn meringis, belakang kepalanya sudah mengeluarkan darah. Tangan Clara bergetar, ia menjatuhkan potongan pecahan kaca itu. Clara cukup terkejut dengan apa yang ia lakukan pada Shawn.


Tanpa peduli lagi, dengan cepat Clara berdiri dari sofa dan menjauh, ia berlari menuju lantai dua, tempat kamarnya berada. Shawn benar-benar diluar batas, Shawn telah melecehkannya.


Clara kini bersandar dibalik pintu, ia memegang bibirnya. Bibirnya sudah mengeluarkan cukup banyak darah, Shawn mengigitnya dengan begitu kuat.


Tok! Tok! Tok!


Clara tersentak ketika kamarnya mulai diketuk dengan tidak sabaran, tanpa pikir panjang Clara mengunci kamarnya dan kembali menangis. Rasanya dadanya begitu sesak.


“Pergi Shawn! Aku bilang pergi!”


Teriakan Clara tidak ada jawaban, bahkan pintu itu kini mulai berusaha untuk didobrak dari luar. Clara mundur beberapa langkah. Mengapa alkohol dapat merubah Shawn menjadi seperti ini? Ia bukan Shawn yang dikenalnya.


Brak!


Tangisan Clara seketika terhenti. Clara dapat melihat dengan jelas seorang pria kini tersenyum menyeringai kini kearahnya. Jantung Clara berdetak kencang, ia sangat ketakutan.


“J.. Jack?” Suara Clara gugup, dengan jelas ia dapat melihat tangan Jack yang sudah dipenuhi cairan merah.


To be continue...

__ADS_1


__ADS_2