Toxic Relationship

Toxic Relationship
The Bitter Truth


__ADS_3

Kata yang bercetak miring adalah masa lalu.


...Happy Reading...


Jack kini tampak berjalan tergesa-gesa memasuki cafe. Panggilan Steve beberapa menit lalu benar-benar membuatnya sangat tidak tenang. Dari sudut matanya, Jack dapat melihat Steve kini tampak menyeruput kopi dengan memandang pantai yang menampilkan sebuah sunset indah dihadapannya. Tanpa pikir panjang, Jack berjalan mendekatinya.


“Ada apa?”


Steve kini memandang kearah sumber suara, tepat dihadapannya terdapat sang sahabat yang menatapnya tidak sabaran. Steve tertawa kecil, satu tahun di sel tahanan membuat Jack terlihat lebih kumuh dari biasanya. Milyarder itu bahkan menumbuhkan kumis dan kulitnya tampak kecokelatan.


“Kau habis berjemur di hawai?”


Mendengar ejekan dari Steve, Jack hanya memandang sahabatnya itu dengan datar. Ia memang menyadari jika dirinya tampak berbeda dari yang dulu.


“Kulit kecokelatan sedang trend belakangan ini.”


Ujar Jack asal, Steve tampak tertawa. Memang ia akui, walaupun Jack tampak tidak memperhatikan penampilannya, ketampanan pria itu bahkan sama sekali tidak memudar.


"Apa yang ingin kau katakan?" Tanya Jack kembali, Steve masih tertawa kecil. Bahkan setelah sekian lama ia tidak bertemu Jack, pria itu masih begitu tidak sabaran jika itu berkaitan dengan Clara.


"Calm Boy! Kau ingin memesan dulu?"


Pertanyaan Steve kini membuat Jack menarik napas dalam dan membuangnya perlahan. Steve benar, seharusnya ia mulai mengendalikan emosionalnya mulai dari sekarang. Clara tidak akan menyukainya jika ia sama seperti dulu. Jack tersenyum kecut, bahkan semua perilakunya selalu mengingatkannya dengan gadis itu. Akankah ia akan bertemu Clara lagi?


Setelah Jack memesan segelas Latte, pria itu kembali memandang Steve yang tampak tengah bersantai. Sudah cukup lama ia tidak seperti ini dengan sahabat lamanya itu. Biasanya ia hanya bertemu dengan Steve jika ada keperluan saja, itu yang sering mereka lakukan setelah pengkhianatan pria itu dengan mantan kekasihnya, Mary Thompson.


“Bagaimana hubunganmu dengan gadis Amerika itu?”


Tanya Jack, Steve nampak tersenyum lebar. Seolah membayangkan kekasihnya itu berada tepat dihadapannya. Melihat bagaimana senyum sumringah dari Steve, Jack hanya menggelengkan kepalanya. Hanya melihat bagaimana senyuman Steve, Jack begitu tahu jika pria itu begitu mencintainya.


“Aku sudah menikahinya beberapa bulan lalu.” Ujaran Steve kini membuat Jack menatapnya tidak percaya. Heii, bahkan Steve tidak pernah mengabarinya mengenai hal itu.


“Kau bahkan tidak mengabariku Dude.”


“Tidak mungkinkan seorang tahanan datang ke pernikahanku, itu hanya membawa sial.”


Ucapan sarkas Steve kini membuat Jack mencondongkan tubuhnya dan ingin memukulnya, namun dengan cepat Steve menahannya dan berakhir pukulan Jack mengenai lengan Steve. Mereka berdua mulai tertawa. Ejekan-ejekan seperti inilah yang membuat persahabatan mereka bertahan dengan waktu yang lama.


“Bagaimana cara kau meringankan masa tahananku?”

__ADS_1


Tanya Jack penasaran, pria itu tampak lebih bersantai, kali ini ia menyenderkan tubuhnya pada sofa dibelakangnya. Setahun lalu saat sidang hukumannya berlangsung, ia divonis sepuluh tahun penjara. Namun secara tiba-tiba peringanan hukuman begitu luar biasa ketika ia mengajukan banding. Bahkan ia tidak menyangka itu akan terjadi padanya.


“Aku sudah mengancam hakim itu dan sedikit menyogoknya.”


Ujar Steve dengan menyeruput americano diatas meja, kopi kesukaannya. Jack hanya tersenyum tipis. Selama ini Steve lah yang membantunya, walaupun pria itu bahkan tidak pernah menjenguknya saat di penjara, tapi dialah yang memiliki andil besar dalam meringankan hukumannya.


“Dan semua buktinya?” Tanya Jack lagi, ia cukup takut akan ada seseorang yang kembali menjeratnya.


“Aku sudah membakarnya.”


“Semuanya?”


“Carilah di media dengan nama ‘Jack Hilton seorang pembunuh’ kau tidak akan pernah lagi menemukannya.”


Ujar Steve dengan bangga, Jack tersenyum simpul. Untung saja ia memiliki Steve disisinya. Bahkan Steve benar-benar berusaha untuk membuat citranya kembali baik. Tapi sesungguhnya bukan itu yang ia inginkan, persetan dengan pendapat orang lain. Ia sudah tidak peduli.


“Bagaimana dengan Chris, Steve?” Jack kali ini mulai bertanya. Mendengar pertanyaan spontan sahabatnya itu, Steve menatapnya dengan bingung.


“Apa yang kau inginkan darinya?” Tanya Steve.


“Clara."


“Clara? Chris sudah bertunangan dengan gadis Italia beberapa bulan lalu. Apa hubungannya dengan Clara?”


Mereka masih memandang dengan penuh kebingungan. Seketika ucapan Clara setahun lalu terus terngiang-ngiang di kepala Jack. Ada yang tidak sinkron disini, dan ia berusaha untuk mengingatnya.


“Aku minta maaf Jack.”


“Aku kesini untuk mengucapkan selamat tinggal.”


“Kuharap kita bisa bertemu lagi di kehidupan yang baru Jack.”


Melihat bagaimana Jack yang tampak termenung, Steve mulai tersenyum tipis. Kini ia baru mengingatnya bagaimana perpisahan Jack dan Clara setahun lalu. Bahkan pria itu mempercayai semua ucapan Clara?


“Kau bahkan tidak bisa menebaknya?”


Ujaran Steve kini mampu membuat semua ingatan Jack mengenai Clara menghilang seketika. Jack menatap Steve dengan bingung. Apa yang salah? Apa selama ini Clara berbohong padanya? Apa selama ini Clara tidak bersama Chris? Jack tidak dapat menjawabnya, ia masih memandang Steve dengan penuh kebingungan.


“Tuan Hilton, Devin Hilton yang memaksa Clara untuk mengatakan semua itu padamu.”

__ADS_1


"A.. Ayahku?"


Jack terdiam mendengar ucapan Steve, mendengar itu semua Jack mengepalkan tangannya kuat. Pria itu tersenyum kecut, tidak bisakah semua orang tidak mencampuri urusannya? Ia benar-benar sangat muak.


Steve kini mengeluarkan sebuah kertas dan meletakkannya diatas meja. Ia sudah membantu Jack selama pria itu ditahan, dan kali ini hanya Jack yang mampu membereskannya.


“Apa ini?” Jack mengambil kertas yang diberikan Steve dan membacanya dengan teliti.


“Itu alamat Clara dan putrimu tinggal.”


"Putri..ku?"


Jack ingat, setahun telah berlalu dan yang pasti Clara sudah melahirkan buah hati mereka, Jack mengepalkan tangannya. Apa Clara baik-baik saja?


Jack menatap kertas alamat itu dengan teliti. Perancis? Bagaimana bisa Clara berada disana? Bahkan Clara begitu tidak fasih dengan bahasa asing. Tapi mendengar bagaimana sang Ayah yang mengancam gadis itu. Ia mulai mengerti mengapa Clara bisa berada disana. Pasti Ayahnya yang mengirim gadis itu jauh darinya.


"Sebelum kau mencarinya, bisa aku menanyakan beberapa pertanyaan padamu Jack?" Mendengar ujaran Steve, Jack memandang pria itu. Terlihat bagaimana wajah Steve yang kini menatapnya dengan penuh penasaran.


"Mengapa kau menyakiti Clara?" Pertanyaan tidak terduga itu keluar dari mulut Steve membuat Jack menatapnya dengan bingung.


"Menya..kiti? Maksudmu?"


"Aku tahu kau memang kadang begitu posesif padanya, tapi bukankah dengan memukul gadis itu bisa membuat ia membencimu?"


Pertanyaan Steve membuat Jack tampak merenung, seolah semua kenangan masa lalu itu kembali begitu saja. Steve hanya memandang sang sahabat dengan sedih. Melihat bagaimana kejadian Shawn, bahkan kematian Nyonya Hilton empat tahun lalu membuat Steve berpikir jika Jack membutuhkan bantuan.


Pria itu selalu berusaha terlihat baik-baik saja, bahkan ia juga harus melindungi sang kakak dan keponakannya. Dan bagaimana pernikahan kedua orang tuanya dan juga sang kakak yang gagal, membuat Jack pasti begitu trauma akan pernikahan dan juga pengkhianatan.


"Aku hanya ingin membuat Clara melupakan semua rasa sakitnya." Ujar Jack bergetar. Sejujurnya ia tidak pernah menceritakan ini semua kepada siapapun.


"Dengan membuat rasa sakit yang baru? Dan kau pikir akan membuat Clara lebih baik?" Tanya Steve dengan tegas. Jack hanya dapat bungkam, Steve seolah bisa membaca pikirannya.


"Aku tahu aku bodoh Steve, tapi melihatnya menangis tiap malam karena pria lain, membuat hatiku begitu hancur." Ucap Jack dan menunduk dalam, berusaha menutupi semua kesedihannya.


"Pria lain?"


"Clara tidak pernah berhenti menangis setiap malam setelah kejadian Shawn. Dan aku merasa diriku tidak berguna karena tidak bisa melindunginya."


To be continue...

__ADS_1


__ADS_2