Tuan Arogan Untuk Anakku

Tuan Arogan Untuk Anakku
Bigg mall


__ADS_3

Di dalam kamar, Ken yang sedang memegang tempat kue itu kini ia terus melihat dan membolak-balikkan kue tersebut, ntah apa melihat kue yang ia pegang itu ia merasa ada sesuatu yang menggetarkan di dalam hatinya.


"Ah apa karena kue ini enak atau bagaimana ya, rasa kue ini membuat ku tenang, seperti seolah aku sedang memakan coklat batang yang sering aku nikmati." gumamnya terus melihat kue itu.


"Kue ini cocok di lidah ku, padahal aku jarang sekali memakan makanan dari luar seperti ini." sambungnya merasa heran ada apa dengan mulutnya itu.


"Aku ketagihan makan kue ini. Apa jangan-jangan tukang kue nya pakai asihan atau semacamnya seperti yang ada di televisi itu!" gumamnya terus memutar-mutar kue itu di tangan nya.


"Bodo amat lah, mau pakai apa pun yang penting aku gak keracunan. Lagi pula mana ada zaman sekarang masih ada begituan." oceh Ken terus menerus.


Di bawah rumah kediaman Ken, Bara yang baru pulang dari kantor pun langsung menanyakan keberadaan putra nya.


"Dimana Ken Bi?" tanya Bara saat sudah di dalam rumah.


"Den Ken ada di kamarnya tuan." jawab bibi sopan.


"Dia sudah makan?" tanyanya lagi.


"Belum tuan, den Ken belum makan." sahut bibi agak sedikit takut.


"Kenapa Ken belum makan, kenapa bibi tidak menyiapkan makan untuk nya?" kesal Bara.


"A... anu tuan, den Ken tidak mau makan karena sudah makan kue kukis yang tadi bibi beli di toko kue." jelas bibi gemetar.


"Kue? Kenapa bisa bibi kasih anakku makanan sembarangan, bagaimana jika dia kenapa-kenapa? Tidak bisa di andalkan!" Bara pun semakin kesal.


"Maaf tuan bibi yang salah."


"Kalau ada apa-apa pada Ken, bibi yang harus bertanggung jawab." ancam nya tidak main-main.


"Maaf tuan." lirih bibi.


Bara menaiki tangga untuk menuju kamar Ken. Ia pun melihat Ken yang tengah asyik dengan kegiatannya, yaitu menciptakan sebuah karya yang luar biasa, Ken si anak cerdas itu menyukai dengan berbagai penelitian dan bahkan sudah banyak berbagai karya yang ia ciptakan, seperti saat ini Ken diam terus di kamar karena ia sedang membuat robot ciptaan nya.


Brug... suara pintu dibuka paksa oleh Bara yang sedang kesal. Kesal karena Ken memakan makanan sembarangan dan kesalnya lagi tadi pagi Bara mendapatkan kabar dari orang rumah bahwa Ken anak nya tidak mau pergi ke sekolah, ia lebih senang dengan kegiatan yang menurut Bara ayahnya tidak ada gunanya.


"Daddy, apa Daddy tidak memiliki cara yang lebih baik dan lembut saat membuka pintu kamar ku?!" tanya Ken sinis.


"Jangan banyak omong kamu, Daddy kesal padamu Ken, kenapa kamu tidak mau pergi ke sekolah?" tanya Bara menahan emosi nya.


"Untuk apa?" tanyanya tanpa menatap Bara ia asyik dengan kegiatannya.


"Untuk apa? Kamu bilang untuk apa?!" bentak Bara kesal. "Ya jelas supaya kamu bisa pintar dan berguna." sambung Bara dengan berteriak.


Ken tersenyum sinis. "Daddy lupa kalau putra Daddy ini sangat pintar dan cerdas, aku tidak perlu pergi sekolah, buang-buang waktu ku saja." ucapnya enteng membuat Bara semakin kesal. "Lagi pula Daddy orang kaya, tanpa sekolah aku bisa menggantikan posisi Daddy di kantor, itu kan yang selama ini Daddy mau?" sarkasnya membuat Daddy nya terdiam.


Bara tidak bisa berkata apa-apa lagi, yang di katakan anaknya benar, ia menginginkan Ken suatu saat nanti menggantikan dirinya sebagai pimpinan, dan Bara akui anaknya itu memang cerdas, cerdas melebihi kapasitas dari anak-anak lainnya.


"Tapi setidaknya kamu bisa bergaul dengan teman-teman kamu di sekolah nanti nya." ucap Bara melemah.

__ADS_1


"Aku tidak butuh seorang teman, aku sudah terbiasa hidup dengan kesepian." ujar Ken terus mengerjakan kegiatannya tanpa peduli adanya Bara.


Ken dan Bara memang tidak pernah akur, padahal Ken dan Bara itu ayah dan anak, Bara yang super sibuk dan jarang berinteraksi dengan putra nya itu, membuat Bara kesulitan bagaimana caranya mendekati putranya, padahal di dalam hatinya Bara sungguh sangat menyayangi Ken, walaupun begitu dengan sifat Ken, Bara amat menyayangi nya dengan segenap hati dan sepenuh jiwa.


"Kenapa kamu makan makanan sembarangan dan melupakan makan mu yang sudah disiapkan bibi?" tanya Bara mencoba untuk bersabar.


"Aku makan kue Daddy, bukan makanan sembarangan!" ucapnya tidak terima.


"Sama saja, kue itu bukan bibi yang buatkan!" ketus Bara.


"Aku tidak mati setelah makan kue itu!" sahut nya cepat.


"Ken!" bentak Bara kesal karena putra nya itu terus saja melawan ucapan nya.


Ken menarik nafasnya dalam-dalam lalu membuangnya dengan kasar dan menatap ke arah Daddy yang sedang berdiri tak jauh darinya. "Daddy, jika Daddy masuk dan menemui aku hanya untuk marah-marah lebih baik Daddy masuk kamar, cuci kaki lalu istirahat dan jangan lupa gosok gigi. Percuma membuang waktu Daddy yang berharga itu hanya untuk memarahiku." tegasnya.


Bara menggeram kesal. "Ken kamu benar-benar ya!" ucapnya seraya menahan tangannya yang ingin sekali memukul putranya itu agar ia sadar, namun hanya sampai di udara tangan Bara melayang dengan mengepal kuat.


"Jangan marah-marah Daddy, ingat dengan tekanan darah Daddy." ucap Ken membuat Bara semakin kesal saja.


"Darah Daddy naik itu karena kamu Ken!" ucapnya seraya keluar dari kamar Ken dengan hati yang kesal.


"Hahhhhh." Ken mendesah panjang ia merasa lega Daddy itu keluar dari kamarnya. "Maaf Daddy, ini semua karena Daddy juga, Daddy yang membuat aku seperti ini." gumam nya merasa sudah kelewatan. "Aku hanya butuh perhatian Daddy." sambung nya lirih.


Ken selalu mengingat kejadian dimana dirinya memperlihatkan hasil karyanya pada ayahnya itu, namun Bara tidak pernah sedikitpun melihat, memuji bahkan melirik pun Bara tidak pernah, padahal semua karya yang Ken ciptakan itu sungguh sangat luar biasa.


"Aku merasa sia-sia melakukan apapun, tidak ada yang bisa membuat ku semangat dan membuat mu memperhatikan aku. Tapi hanya inilah yang bisa membuat ku lebih berarti, walaupun Daddy tidak pernah menghargai aku, aku akan terus berkarya dan akan memperlihatkan pada mu Daddy jika karya buatan ku ini berguna untuk orang lain." tekad Ken sudah bulat.


***


"Hari ini cukup ramai, ibu bersyukur sekali." ucap Tari dengan senang.


"Apa aku boleh membantu ibu?" tawar Bintang pada Tari yang terlihat sibuk mengadoni kue.


"Emh belum ada sayang, nanti jika ibu membutuhkan bantuan, ibu akan panggil kalian ya." ujar Tari lembut.


"Baiklah." sahut Bintang sedangkan Langit melihat daftar kue yang ibunya jual.


"Oh ya Bu, di toko ibu hanya kue ini saja ya ibu jual? Bagaimana kalau ibu jual kue tart untuk acara ulang tahun, kue pernikahan atau kue yang lainnya, aku yakin kue tart ibu pasti banyak yang suka juga. Ibu kan suka bikin kue tart untuk ulang tahun kita, dan rasanya tidak buruk malah rasanya enak." puji Langit.


"Wah boleh di coba tuh Bu." sambar Bintang antusias dengan ide kakak nya.


Tari memperlihatkan raut wajah yang serius dan sedang berpikir seraya jari lentiknya ia ketuk-ketuk di dagu cantiknya. "Emh boleh, nanti kita coba ide bagus kalian." ucapnya. "Terima kasih ya anak-anaknya ibu..." ucap Tari seraya memeluk tubuh kedua anaknya.


Kedua anaknya pun membalas pelukan hangat ibu nya itu. "Karena kita sudah memberikan ibu sebuah ide dan itu tidaklah gratis, jadi kita mau minta traktir pada ibu, jalan-jalan di mall gitu, lalu beli es krim di sana." cengir Bintang merayu dengan wajah polosnya.


"Wah benar tuh Bu, selama kita tinggal di sini, ibu atau omah belum pernah mengajak kami jalan-jalan." sambung Langit penuh harap.


"Hemmm baiklah, ibu akan mengajak kalian berdua jalan-jalan di mall." akhirnya Tari pun memenuhi keinginan kedua anaknya, ya memang tidak salah juga karena semenjak pindah ke Indonesia Tari belum mengajak kedua anaknya jalan-jalan.

__ADS_1


"Yeay... asyik." sahut kedua anaknya itu dengan gembira membuat Tari pun tersenyum melihatnya.


"Ayok!" ajak Tari dan di sambut gembira oleh kedua anaknya.


***


Sebuah panggilan di handphone Bara yang sedang melakukan meeting bersama bawahan nya pun membuat dirinya menghentikan kegiatannya dulu.


"Sebentar aku akan menerima panggilan terlebih dahulu." ucapnya pada bawahan nya yang sedang menjelaskan tentang pekerjaan nya.


"Ya hallo." ucap Bara dengan cepat menerima panggilan dari putra nya itu.


"Hallo Daddy ini aku Ken, aku hanya ingin meminta ijin padamu, aku akan pergi membeli barang yang aku butuhkan." jelas Ken pamit pada ayahnya.


"Membeli barang? Maksud kamu barang untuk karya-karya mu yang tidak berguna itu?!" ucap Bara terdengar merendahkan membuat Ken kesal dan tidak terima.


"Terserah Daddy mau mengijinkan atau tidak, aku akan tetap pergi!" balas Ken dengan bengis lalu langsung menutup panggilan itu secara sepihak dengan kekesalan nya.


"Ken...! Ken!" panggil Bara dengan melihat panggilan handphone nya yang sudah dimatikan oleh Ken. Bara mendesah dengan sikap Ken padanya. "Hah..." Bara pun akhirnya hanya bisa menghela nafasnya panjang.


"Anak itu benar-benar membuat ku serba salah." gumam frustasi.


Bara menelpon seseorang kepercayaan nya. "Hallo, temani anakku hari ini, dia akan pergi, awasi dan jaga dia baik-baik." perintah nya.


Bara pun akhirnya menunju ke meja meeting kembali. "Kita lanjutkan meeting kita lagi." ucapnya dengan wajah yang sangat kesal membuat para karyawan nya merasa takut jika ada kesalahan nantinya.


"Lihat saja Daddy, suatu saat nanti Daddy akan mengakui jika kecerdasan ku berguna untuk orang banyak, dan Daddy akan bangga melihat itu!" tekad Ken dengan serius.


"Bi... aku akan pergi, aku juga sudah meminta ijin pada Daddy."


"Baik den." sahut bibi cepat.


Saat keluar rumah, Ken pun di sambut oleh seseorang yang tadi di perintahkan oleh tuan Bara galak itu.


"Selamat sore tuan muda." sapa Teddy pada tuan muda yang ada di hadapannya itu dengan menunduk sopan.


Ken mengerut. "Anda siapa?" tanya Ken cuek.


"Saya Teddy, saya di perintahkan oleh tuan Bara untuk menjaga tuan muda Ken kemanapun anda pergi." ujarnya menjelaskan keberadaan dia berada di sana.


"Daddy menyuruh mu, tapi tadi Daddy tidak bilang apa-apa padaku!" ucapnya sedikit tidak percaya.


"Ini." Teddy pun menyerahkan sebuah bukti pesan pada Ken jika ayahnya itu memang memerintahkan anak buahnya untuk menemani Ken kemana pun dia pergi.


Ken pun menatap Teddy dengan tajam. "Baiklah." ucapnya jengah.


Ken pun menaiki mobil mewah yang di bawa oleh Teddy anak buah Daddy nya itu. "Kemana kita akan pergi tuan muda Ken?" tanya Teddy.


"Ke Bigg Mall." jawab nya cepat.

__ADS_1


"Baik, saya akan antarkan tuan muda Ken kesana dengan selamat." ucap Teddy mantap.


__ADS_2