
"Tuan perempuan jahat yang kami kurung tadi mencoba melarikan diri, tapi untungnya kami sudah menangkapnya kembali." ucap salah satu anak buah Bara memberi tahu kepada bos nya tentang Tania.
"Awasi dia terus jangan sampai lengah!" titah Bara dengan dingin pada anak buahnya itu. "Saya akan kesana sekarang." ucapnya lagi.
"Baik tuan." sahut nya
Bara pun memutuskan panggilan itu tanpa basa-basi lagi, lalu tatapan matanya seperti penuh dengan kebencian dan kemarahan.
"Perempuan itu benar-benar membuat ku kesal saja!" gumam Bara.
Tak butuh waktu yang lama, Bara pun datang ke tempat dimana dia menyuruh anak buahnya untuk mengurung Tania dengan seorang laki-laki yang mengikuti di belakangnya.
"Tuan." sapa anak buah itu dengan sopan.
"Kalian jaga dia dengan baik kan?" tanya Bara dengan tatapan dingin nya.
Pria berotot itu mengangguk. "Kami melakukan apa yang anda perintahkan." jawabnya.
"Bagus!" ucap Bara seraya melangkahkan kakinya menuju ruangan dimana Tania di sekap.
Setelah masuk ke dalam ruangan itu, Bara langsung melihat Tania yang terduduk lemah dan dengan wajah yang pucat.
"Kamu mencoba untuk melarikan diri dari sini?" suara Bara terdengar santai. "Itu akan sia-sia, kamu tidak akan pernah bisa keluar dari tempat ini." sinis Bara berucap.
Tania mendongak melihat orang di depan nya itu karena mendengar suara yang ia kenali. Matanya menyorot dengan tajam kepada Bara saat ini, ia sangat benci dengan laki-laki jahat yang ada di hadapannya itu.
"Apa kamu puas!" sinis Tania dengan kebencian nya. "Laki-laki bajingan!" umpat Tania tanpa ragu.
"Kamu masih ada keberanian untuk berkata seperti itu?! Kamu pikir saya main-main?!" geram Bara mendengar ucapan Tania yang masih berani padanya.
"Untuk apa aku takut padamu!" tantang Tania.
"Aku tidak memiliki urusan dengan mu, tapi kenapa kamu mengurung ku seperti ini!" teriak Tania dengan sangat kesal.
"Hahaha apa kamu hilang ingatan! Atau berpura-pura tidak mengingat nya?!" kesal Bara dengan gelak geram nya.
"Akan saya jelaskan lagi padamu nona Tania. Saya adalah suami Mentari yang selalu menganggap mu adalah saudara nya, perempuan yang sering kamu jahati dengan rencana-rencana jahat yang ada di otak licik mu ini. Sebagai suaminya saya tidak akan pernah diam untuk membalas dendamkan kepada orang yang ingin menyakiti istri saya!" jelas Bara dengan hubungan nya dengan Tari.
"Kamu terlalu bodoh karena percaya pada ucapan Mentari, dan kamu bodoh karena membela perempuan seperti itu!" ejek Tania dengan sinis.
"Sepertinya saya harus memberikan pelajaran lain padamu, agar kamu segera sadar dengan kesalahan dan kejahatan yang kamu lakukan. Kamu pikir saya akan diam saja!" ujar Bara dengan tatapan dingin nya.
"Panggil laki-laki itu kesini!" titah Bara pada anak buahnya.
"Baik tuan." sahut nya seraya pergi keluar.
Anak buah itu pun kembali dengan seorang laki-laki tua, dengan perut yang buncit dan membuat laki-laki itu terlihat sangat jelek, apalagi dengan wajah mesumnya, melihat Tania dengan tatapan nakal nya.
"Tuan Bara apa perempuan ini yang akan anda berikan kepada saya?" tanyanya penuh binar.
"Ya, anda bisa membawa dan menikahi dia, apa anda bersedia?" tawar Bara tanpa ragu.
"Oh saya pasti sangat bersedia, apalagi perempuan yang anda berikan ini begitu cantik dan seksi, saya tidak akan menolak nya." ucapnya penuh semangat.
"Apa maksudnya ini?" teriak Tania menginginkan kejelasan.
"Nona saya akan membawa mu keluar dari sini, tapi kamu harus menjadi istri saya nantinya." jelas laki-laki buncit itu dengan semangat.
"Apa?!" Aku tidak mau!" tolak Tania dengan suara kerasnya.
__ADS_1
"Bawa dia ke sebuah pedesaan yang jauh dari sini, dan ingat jangan sampai dia melarikan diri. Jadikan dia istri mu, pakai dia sesuka hati mu." ucap Bara dengan dinginnya.
"Kamu!" Tania kesal dan melototkan kedua matanya menatap Bara.
"Kenapa? Ini hanya pembalasan kecil, tidak sebanding dengan kejahatan yang kamu lakukan pada Mentari istri saya." ujar Bara tanpa hati.
"Puaskan laki-laki ini, dengan tubuh mu itu!" ucap Bara membuat Tania berteriak histeris.
"Awas kamu Bara!" teriaknya.
"Hahaha. Silahkan nikmati hari-hari mu." ucap Bara acuh.
"Ayok sayang kita berdua akan bersenang-senang di bukit yang jauh dari kota, kita akan menikmati suasana pedesaan berdua." goda laki-laki itu pada Tania.
"Tidak! Aku tidak mau!" teriak Tania menolak.
"Bawa dia, cepat!" titah Bara dengan tatapan acuh nya.
Si laki-laki itu pun membawa tubuh Tania dengan paksa, karena tubuh Tania lemah dan lemas membuat dia tidak bisa melawan, dia hanya bisa berteriak.
"Lepaskan! Jangan membawa ku!" teriak nya lagi.
"Bara Antoni lepaskan aku, aku tidak mau ikut dengan laki-laki jelek ini." teriaknya dengan memohon.
"Nikmati saja hari bebas mu dari sini, ikutlah dengan laki-laki yang membawa mu itu." ucap Bara dengan seringai di wajahnya.
"Awas kamu Bara! Aku tidak akan pernah lupa dengan perbuatan mu padaku!" teriak Tania dengan emosi yang tertahan. Dan geram nya di dalam hati.
Tanpa peduli Bara ketika melihat Tania di bawa oleh laki-laki buncit itu dan berteriak ingin di lepaskan, ia pun segera melangkahkan kakinya untuk pergi dari tempat itu.
*
*
*
"Apa kamu sudah tanyakan kapan mereka sampai?" tanya Bara tidak sabar, karena ia sudah lama menunggu koleganya datang.
"Mereka mengatakan bahwa masih di perjalanan tuan, mereka terjebak macet karena ada sebuah kecelakaan." ujar Al menjelaskan.
Bara menarik nafasnya panjang lalu menyandarkan punggungnya pada kursi yang ia duduki mendengar penjelasan Al itu.
Tempat yang mereka duduki bukan tempat khusus, namun jarak meja agak sedikit berjauhan, jadi tidak akan mengganggu saat nanti mereka berbicara dengan koleganya itu. Mereka mengadakan pertemuan untuk menghibur koleganya yang berasal dari luar negeri.
Saat Bara dan asisten itu menunggu, ia melihat laki-laki yang ia kenal dari tubuh yang membelakanginya. Laki-laki itu tidak sadar jika dia sedang di perhatikan oleh Bara karena jarak mereka cukup jauh.
"Sedang apa dia di sini?" gumaman Bara pelan.
"Apa anda bicara dengan saya tuan?" tanya Al.
"Coba kamu perhatikan laki-laki berjaket abu yang duduk tidak jauh dari meja kita." ujar Bara menunjuk dengan lirikan ekor matanya.
Al menoleh dengan pelan saat tuan nya menunjuk seseorang. Lalu Al pun memperhatikan laki-laki itu tanpa dia curigai.
"Itu tuan Leo kan?" gumam Al mengenali.
"Ya. Bukan nya orang yang kehilangan ginjal tidak boleh minum sembarangan, apalagi minuman yang mengandung alkohol?" ucap Bara saat ia memperhatikan Leo tengah meminum pesanan dan itu terlihat seperti minuman keras.
"Ya, sedikit yang saya tahu memang seperti itu tuan, karena itu efek nya akan langsung terasa pada tubuh." jelas Al membuat Bara semakin mengerutkan keningnya.
__ADS_1
"Sepertinya ada yang aneh? Apa menurutmu dia sudah membodohi kita?" telak Bara merasa ada yang aneh.
"Apa anda mencurigai tuan Leo, jika dia tengah berbohong?" ucap Al meyakinkan apa yang di pikirkan tuan nya itu.
"Cari tahu tentang ini? Saya tidak mau istri saya di peralat oleh laki-laki itu, karena masalah ini membuat istri saya merasa tidak enak padanya." titah Bara.
"Baik tuan. Saya akan menyuruh seseorang untuk duduk tidak jauh dari meja yang ia duduki, agar kita bisa mendengar apa yang mereka ucapkan." ujar Al.
"Sebaiknya kita cari tempat lain saja, katakan pada kolega kita untuk pindah tempat." titah Bara kembali agar Leo tidak menghindar karena ada Bara di tempat yang sama dengan nya.
"Baik, saya akan mengatur semuanya."
Bara melenggang pergi melangkahkan kakinya di ikuti Al dan belakangnya. Al pun mengatur apa yang akan mereka rencanakan, seorang suruhannya pun sudah ia perintahkan untuk mengikuti Leo kemana pun ia pergi.
*
*
*
"Leo seharusnya kamu tidak boleh meminum minuman keras itu, bukannya kamu sedang sakit." ucap teman yang bersama dengan Leo. "Itu sangat berbahaya untuk kesehatan tubuh mu." ucapnya lagi.
"Aku tidak sakit seperti yang kalian bayangkan, tidak perlu kalian pikirkan. Ayok kita minum bersama." racau nya, Leo sudah setengah mabuk saat ini.
"Leo jangan terlalu banyak." cegah salah satu rekan nya itu.
"Aku sudah terbiasa minum, jadi ini tidak akan membuat ku mabuk." sahut nya merasa kuat.
"Ah Sun sun kenapa kamu mengacuhkan ku dan tidak mempedulikan ku setelah apa yang aku lakukan padamu." batinnya menatap gelas yang berisi itu dengan tatapan yang sulit orang mengerti.
"Bertahun-tahun aku menunggu mu, bahkan aku mencari mu saat kamu pergi ketika kamu di usir dulu. Tapi sekarang ternyata kamu sudah menikah dan memiliki anak dari laki-laki lain." batinnya semakin kesal dan sakit hati.
"Apa karena kamu tahu aku tidak sempurna membuat mu semakin menjauh dari ku?" lagi batinnya terus bergumam.
"Leo apa kamu baik-baik saja? Jika merasa sakit lebih baik kamu beristirahat saja." ucap rekan nya itu.
Merasa terpancing karena dirinya tidak sakit membuat Leo merasa kesal karena temannya itu seakan merendahkan tubuhnya saat ini. Apalagi dengan kondisi nya saat ini yang sudah sedikit terpengaruh dengan minuman membuat Leo pun semakin tidak bisa mengendalikan dirinya.
"Aku tidak sakit! Aku sehat! Aku tidak sakit seperti yang kalian bayangkan itu, aku berbohong dengan keadaan sakit ku ini." ucap setengah berteriak.
"Apa maksudmu?" tanya rekan nya tidak mengerti.
"Aku sebenarnya tidak kehilangan ginjal ku, aku berbohong karena ingin mendapatkan perhatian seorang wanita yang aku cintai." racau Leo setengah sadar.
"Wah Sepertinya kamu sudah mabuk Leo, ayok aku antar kamu pulang saja." ajak teman nya itu.
"Tidak! Aku tidak mabuk, aku benar-benar tidak kehilangan ginjal ku, aku sehat seratus persen. Aku meminta dokter yang menangani ku untuk memberikan data palsu pada orang-orang, agar wanita yang aku cintai peduli dan memperhatikan aku, tapi... hahaha dia malah semakin menjauh dari ku...." racau nya semakin tak terkendali, sedangkan teman-teman nya Leo, mereka saling pandang karena ucapan Leo itu apa benar atau hanya ilusi Leo saja karena ia mabuk.
"Dan kalian tahu, aku sudah merencanakan untuk mencelakai anak-anak dari wanita yang aku cintai itu, tapi aku masih gagal!" tiba-tiba tatapan nya mengeras membuat kedua temannya semakin heran dan tidak mengerti apa yang di ucapkan Leo.
"Hahaha." tiba-tiba Leo tertawa. Lalu tak lama Leo menangis. "Ah Sun sun aku sangat mencintaimu, hiks hiks hiks."
"Dia sudah mabuk berat, lihat saja dia tertawa sendiri seperti orang gila, lalu tiba-tiba dia begitu marah dan sekarang dia menangis." ucap temannya itu.
"Ayok kita antar saja dia pulang, mungkin dia memang sedang patah hati." sahut teman salah satunya lagi.
"Ah Sun sun." racau nya saat Leo di bopong oleh kedua temannya itu.
Seseorang yang dari tadi mendekat sekaligus merekam apa yang keluar dari mulut Leo tersenyum puas.
__ADS_1
"Tuan Bara pasti puas karena aku sudah berhasil mendapatkan informasi penting ini." gumamnya merasa puas.
"Dasar bodoh tuan Leo itu!" ejek nya dengan seringai di bibir nya.