Tuan Arogan Untuk Anakku

Tuan Arogan Untuk Anakku
mulai terbongkar


__ADS_3

"Tuan, ada sesuatu yang penting ingin saya sampaikan kepada anda." ucap Alvaro menjelaskan.


"Hal penting apa yang ingin kamu sampaikan?" tanya Bara cepat.


"Masalah ini tidak bisa saya sampaikan melalui telepon." ucap Alvaro.


"Ok, kita bertemu di kantor, sebentar lagi saya sampai." ucap Bara penasaran hal penting apa yang akan di sampaikan oleh asisten nya itu.


Sesampainya di kantor, Al yang melihat tuannya datang langsung menghampiri.


"Ke ruangan saya!" titah Bara.


Al mengangguk. "Baik."


"Ada apa Al?" tanya Bara langsung saat mereka di dalam ruangan Bara. "Duduk dan ceritakan!" tegasnya.


Al pun duduk mengikuti apa yang di perintahkan oleh Bara. Lalu ia mengeluarkan beberapa bukti dan informasi yang ia dapat.


"Tuan, apa anda melihat semua rekaman cctv tentang kejadian di hotel lalu dari awal sampai akhir?" tanya Alvaro tiba-tiba.


"Kenapa kamu bertanya seperti itu? Apa ada sesuatu di sana?" tanya Bara heran.


Al pun dengan cepat memberikan bukti yang ia dapatkan selama ini tentang hasil rekaman yang ia dapat dari cctv.


"Tunggu Al, apa benar perempuan ini adalah dia?" kejut Bara melihat semua bukti yang di berikan Al pada nya.


"Ya tuan, maka dari itu saya bertanya pada anda." ujar Al.


Bara menatap bukti itu dengan seksama, informasi tentang perempuan yang sedang dia cari selama ini.


"Apa kamu yakin dia adalah perempuan yang saya cari?" tanya Bara memastikan.


Al mengangguk paham dengan penuh. "Ketika saya meminta salah seorang rekan saya untuk mencari informasi, saya melihat kembali rekaman cctv itu dari awal sampai akhir. Dan akhirnya saya menemukan yang mengejutkan." jelas nya. "Nona Tari perempuan yang pernah anda tolonglah ibu dari putra anda." sambung nya.


"Perempuan itu." gumam Bara dengan tatapan yang sulit di artikan.


"Ya tuan perempuan itu selama ini tidak jauh dengan anda. Ketika saya melihat rekaman cctv saat nona Tari akan naik ke dalam taksi nya, ia sempat membuka masker nya dan saya terkejut sekali saat mengenali nya." jelasnya. "Apa anda ingin melihat kembali rekaman cctv itu?" tawar Al melihat tuan nya yang terlihat diam saja, seperti penuh kebingungan dengan apa yang dia beri tahukan.


"Ya saya ingin melihatnya lagi!" ucap Bara penasaran apa benar perempuan yang ia hamili adalah Tari, perempuan yang selalu bertemu dengan nya akhir-akhir ini.


Alvaro pun membuka laptop yang berisi rekaman itu, lalu memperlihatkan kembali rekaman itu pada tuan nya.


Bara langsung menatap dengan wajah yang serius melihat rekaman itu. "Coba kamu putarkan rekaman dimana perempuan itu membuka masker nya." titah Bara tidak sabar.


"Baik tuan." jawab Al seraya mencari putaran rekaman di tempat dimana Tari membuka masker nya dan memperlihatkan wajahnya.


Bara semakin menajamkan tatapan nya pada isi rekaman itu, ia sangat penasaran lalu ia pun memperbesar gambar rekaman itu agar lebih jelas lagi ketika gambar dimana Tari menaiki taksi pesanan nya.


Dan benar saja, gambar itu sangat jelas dan menunjukkan bahwa perempuan yang ada di rekaman itu adalah benar-benar wajah perempuan yang sangat ia kenali, yaitu Tari.


Bara menarik nafasnya dalam-dalam. Sungguh ini sangat mengejutkan baginya. Ternyata perempuan yang selama ini ia cari berada di dekatnya bahkan sangat dekat.


Bara tidak tahu harus senang atau tidak dengan keadaan ini, apa dia harus bertanggung jawab akan perbuatannya pada Tari atau bagaimana, tapi dia merasa sangat marah karena Tari sudah membodohi nya selama ini. Ia pasti sadar dan tahu siapa dirinya namun Tari hanya diam saja.


"Perempuan itu sudah mempermainkan ku, dia menyuruh seorang ibu tua bahwa dia sudah meninggal itu alasan dia memberikan Ken padaku!" gumam Bara merasa geram jika mengingat bagaimana dulu ia mendapatkan Ken. "Benar-benar perempuan licik!" hinanya.


"Tuan apa yang anda akan lakukan, setelah mengetahui bahwa ibu dari tuan muda Ken adalah nona Tari?" tanya Al hati-hati namun ia penasaran karena tuan nya belum berkata apapun.

__ADS_1


Bara menatap Al dengan tatapan tajam. "Cari tahu keberadaan dia selama ini, dan cari tahu juga alasan kenapa dia melakukan kebohongan ini!" titah Bara dengan serius.


"Baik tuan." patuh Al.


"Saya penasaran, kenapa dia tidak meminta saya untuk bertanggung jawab atas kehamilannya itu." ucap Bara heran. "Dia malah mengatakan kebohongan ini sampai bertahun-tahun. Jika saja Ken tidak meminta untuk mencari tahu bagaimana ibunya, mungkin saja kebohongan dia tidak akan saya ketahui. Benar-benar perempuan pintar." Bara semakin kesal dengan Tari yang membuat dirinya seperti orang bodoh.


"Sebentar tuan, saya baru saja menerima pesan tentang nona Tari." seru Al dengan serius.


"Apa? Cepat katakan!" titah nya tidak sabar.


"Menurut kabar yang saya terima, nona Tari ketika mengandung keluarganya mengusir nya dari rumah, ayah nya tidak terima karena nona Tari hamil di luar nikah, keluarga mereka merasa malu karena kehamilan nya itu." jelas Al sejelas-jelasnya.


Bara menarik nafasnya panjang. Dia bingung harus berkata apa. Ini kesalahannya saat itu, sungguh dia sangat menyesali perbuatannya.


"Ada satu kabar lagi tuan." ucap Al dengan cepat memberi tahu tuan nya itu.


"Apa itu?" tanya Bara penasaran.


"Nona Tari pernah tinggal di luar negeri setelah melahirkan anaknya, anak yang di maksud pasti tuan muda Ken, putra anda tuan. Kemungkinan besar, alasan nona Tari memberikan tuan muda Ken kepada anda mungkin karena dia terlalu malu untuk menerima putranya yang tidak memiliki seorang ayah." ujar Al dengan tebakannya.


"Tapi harus nya di datang dan meminta saya untuk menikahi nya, tapi kenapa dia malah seperti itu. Jika saja dia meminta saya untuk bertanggung jawab atas kehamilannya, saya akan bertanggung jawab dan menikahinya secara sah, walaupun saya tidak mencintai nya pada saat itu." urai Bara sungguh sangat tidak mengerti apa maksud perempuan itu.


Al merasa jika tuan nya memiliki rasa kepada Tari mendengar perkataannya barusan. "Apa setelah mengetahui ini anda akan menikahi nona Tari tuan, sebagai rasa tanggung jawab anda atas kejadian terdahulu?" tanya Al penuh hati-hati.


"Kenapa kamu bicara seperti itu?" kesal Bara tidak terima.


"Maafkan saya tuan." ucapnya merasa tidak enak.


Bara mendengus kesal. "Dulu mungkin saya akan menikahinya, tapi sekarang setelah tahu saya sangat membencinya!" ucap Bara dengan emosi di dalam dadanya.


"Saya mengerti sekarang, mungkin dia memberikan Ken pada saya karena dia tidak mau berhubungan dengan saya dan juga Ken di masa depan, maka dari itu dia mengatakan hal yang membodohi saya selama ini!" geram pun melanda hati Bara saat ini.


"Ayahnya sakit keras, dan nona Tari mengurusi segala kebutuhan ayahnya saat ini." jawab Al sesuai informasi yang ia dapatkan.


"Memang kemana keluarga lainnya? Bukankah perempuan itu masih memiliki ibu?" tanya Bara dengan kerutan di keningnya.


"Nona Tari hanya memiliki seorang ayah, dia hanya memiliki ibu sambung dan juga saudara tirinya. Selama ini nona Tari lah yang mengantarkan ayahnya untuk berobat. Menurut kesaksian dari para tetangganya, ibu sambung nona Tari tidak begitu menyayangi nona Tari, dan maka dari itulah nona Tari kini tinggal di sini." ujar Al.


"Apa ada lagi?" tanya Bara merasa semakin tertarik dengan informasi mengenai perempuan yang menjadi ibu dari putranya itu.


"Maaf tuan, tidak ada, mungkin saya akan cari tahu kembali informasi mengenai kehidupan nona Tari selanjutnya." ucap Al mengerti dengan seperti nya tuanya itu merasa antusias dengan informasi tentang ia dapatkan.


Bara merasa kecewa, namun ia menutupi nya. "Saya mengerti sekarang!" Bara pun berseru. "Baiklah saya rasa cukup!" ucapnya berpura-pura puas namun dalam hatinya sungguh sangat menyayangkan informasi nya kurang memuaskan hati nya.


*


*


*


"Kalian itu begitu pintar dalam menyembunyikan rahasia." ucap Tari pada ketiga anak-anaknya. "Mentang-mentang kalian kembar, kalian bersatu untuk membohongi ibu!" kesal Tari berucap.


"Maaf Bu, kami tidak ada niat untuk membohongi ibu. Hanya saja kami takut jika akan di pisahkan kembali." lirih Ken dengan sendu.


"Tapi kenapa kalian kompak dalam hal seperti ini, ibu tidak sejahat itu untuk menjauhkan kalian lagi. Maafkan ibu anak-anak, di sini ibu yang salah, seharusnya ibu tidak memisahkan kalian bertiga. Maafkan ibu nak, apalagi kepada kamu Ken, ibu merasa bersalah sekali." lirih Tari ia merasa bersalah dan sangat sedih mengingat dirinya yang memberikan Ken pada ayah kandungnya.


"Tidak apa-apa Bu, aku paham. Pasti ada alasan kenapa ibu memberikan aku kepada Daddy." jawab Ken dengan sangat dewasa.

__ADS_1


Perasaan Tari terenyuh mendengar ucapan Ken yang sungguh sangat mengerti. "Ken, maafkan ibu." sungguh Tari sangat menyesal sampai ia tidak tahan dengan air matanya yang jatuh. "Harus nya ibu bertahan untuk membesarkan kamu bersama saudara kembar mu bagaimana pun keadaan ibu waktu itu, sekarang ibu sangat menyesal." ucapnya tidak tahan. Tari menangis sesenggukan seraya menangkup wajahnya dengan kedua tangan nya.


Ketiga anak kembarnya itu menghampiri Tari. "Sudah Bu jangan menangis, jika ibu menangis kami ikut sedih melihatnya." Ken mencoba menenangkan Tari.


"Ibu bahagia, karena melahirkan anak-anak hebat seperti kalian." puji Tari di tengah isak tangisnya. Ketiga anaknya memeluk Tari dengan erat.


"Kami juga sayang pada ibu, kami bahagia memiliki ibu di dunia ini seperti ibu." puji Bintang.


"I love you ibu." ucap si kembar secara bersamaan.


Tari tersenyum seraya mengusap air mata yang jatuh. "I love you sayang-sayangnya ibu." balas Tari penuh haru.


Omah Mayang yang sedari tadi menyaksikan bagaimana kisah kasih antara Tari dan ketiga anak kembarnya itu pun ikut terhanyut dalam keharuan di dalam hatinya.


"Omah senang kalian bisa berkumpul seperti ini." ujar Omah dengan mengusap air mata yang ikut terjatuh.


***


Setelah situasi tenang dan anak-anak tengah beristirahat Tari dan omah masih berada di sana.


"Tari, bagaimana rencana kamu ke depan setelah Ken tahu tentang mu seperti ini?" tanya omah terdengar ada nada cemas mengingat Tari yang masih mau menyembunyikan dirinya sebagai ibu kandung dari Ken.


Tari menarik nafasnya panjang lalu menyadarkan punggungnya ia mendesah berat. "Aku belum tahu omah." jawab Tari lemas. "Mungkin sebentar lagi, si tuan batu Bara itu akan menyadari kebohongan ku ini." lanjut Tari tidak bersemangat.


Omah diam seperti sedang mengingat-ingat. "Ngomong-ngomong, apa tuan Bara itu juga akan menyadari jika Bintang juga adalah anaknya, kamu pernah bilang kan jika Bintang sangat dekat dengannya waktu di rumah sakit." ucap Omah mengingatkan.


"Iya Omah." ucap Tari dan mengangguk membenarkan dengan lemah.


"Maka dari itu, aku belum tahu ke depannya seperti apa, dan rencana aku untuk mencoba menikah dengan laki-laki itu pun sepertinya harus aku lupakan." terang Tari tidak bersemangat.


"Kenapa? Bukannya kamu ingin merebut Ken agar bisa bersama kamu selama nya." Omah Mayang pun merasa bingung dan gemas kenapa Tari jadi tidak bersemangat lagi.


"Yang pertama aku dan dia tidak mungkin bisa bersama dan kedua aku belum cukup banyak uang untuk bisa mengalahkan laki-laki itu secara finansial." urai Tari menutup kemungkinan.


"Tari, apa kamu tidak mau berkumpul dengan anak-anak mu? Ini kesempatan kamu." Omah Mayang pun memberi semangat kepada Tari.


"Omah aku dan dia itu jika bertemu saja seperti anjing dan kucing, bagaimana bisa aku menikah dengan nya. Aku juga perempuan masa iya harus aku yang terlebih dulu merayu nya. Aku malu omah." ujarnya dengan memerah di wajahnya.


"Ini demi misi kamu Tari." ucap Omah gemas.


"Ya memang misi tapi bagaimana jika dia menolak ku? Mau di taruh dimana wajah ku ini!" cebik nya.


"Dan jika aku menikah dengan dia, kebohongan aku pun pasti akan terbongkar nantinya dan aku takut jika si tuan batu Bara itu mengetahui anaknya kembar, dia malah akan mengambil kedua anak ku juga." ucapnya Tari takut.


Omah Mayang hanya bisa menghela nafasnya dalam-dalam. "Lalu sekarang bagaimana?" desah omah.


"Aku akan mencari cara lain untuk merebut Ken dari laki-laki itu, dan aku juga harus memastikan jika si batu Bara itu tidak pernah tahu jika Ken itu kembar." terang Tari dengan yakin.


"Baiklah Tari, bagaimana pun kamu mengambil keputusan, omah akan selalu mendukung kamu." jelas Omah dengan sabar.


"Terima kasih Omah, memang aku pasti membutuhkan dukungan Omah." balas Tari dengan lembut.


"Ya Omah akan selalu ada di belakang mu. Tapi Tari menurut omah, sebenarnya jika kamu menikah dengan dia pun tidak masalah, kalian sama-sama single dan kalian bisa berkumpul dengan anak-anak kalian manjadi sebuah keluarga nanti nya." kekeh omah dengan menggoda Tari.


"Oh big no omah, jika itu terjadi aku akan menderita seumur hidup selama aku hidup bersamanya!" terang Tari tidak terima.


"Jangan terlalu membenci laki-laki, yang ada nanti kamu malah jatuh cinta padanya, bahkan cinta mati." goda omah seraya pergi dengan tawa senang menggoda cucunya itu.

__ADS_1


"Amit-amit jabang bayi!" seru Tari seraya mengetuk kepalanya dengan kepalan tangan nya. "Omah...." rengek Tari kesal karena omah nya masih terdengar cekikikan.


__ADS_2