Tuan Arogan Untuk Anakku

Tuan Arogan Untuk Anakku
puber kedua


__ADS_3

"Kenapa melototi ku seperti itu?" kesal Bara. "Seharusnya kamu menghubungi ku bukan meminta bantuan pada laki-laki itu!" nadanya terdengar sangat kesal.


"Aku tidak menghubungi kak Leo, dia datang sendiri untuk menolong ku." jawab Tari jujur.


"Dari mana dia tahu jika kamu berada di sana?" Bara pun semakin tidak terima Leo ada di sana.


Tari menggeleng. "Aku tidak tahu. Tapi aku bersyukur kak Leo datang di waktu yang sangat tepat, jika tidak aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku." lirih Tari mengingat tiga laki-laki yang ingin melecehkannya.


"Maksud mu?" Bara penasaran apa yang terjadi sebelumnya, Al hanya memberi tahukan jika kamar itu di pesan oleh seorang wanita yang menutupi semua wajah dan identitas nya juga menggunakan KTP asing, dan ketika Al menunjukkan foto Tari kepada para karyawan hotel, mereka membenarkan jika Tari datang setelah perempuan yang memesan masuk ke dalam kamar. Dan masalah Video, Al sudah menemukan identitas pemilik akun yang menyebarkan video itu, dia mengakui jika dia memiliki video lengkapnya, dia juga mengaku bahwa dia mengeditnya untuk keuntungan nya, karena seseorang memberikan uang padanya cukup menggiurkan.


"Sudahlah lupakan saja, lagi pula jika aku bercerita padamu apa kamu akan percaya padaku." ucap Tari acuh.


"Aku ingin tahu semua kebenarannya." balas Bara dengan dingin.


"Untuk apa? Bukannya tadi kamu, bahkan mau membunuh ku dengan cara mencekik ku." cibir Tari merasa sakit hati jika mengingat bagaimana perlakuan Bara padanya tadi.


Bara terdiam, dia mengakui jika dirinya salah, karena api cemburu membakar hatinya. Sehingga ia tidak sadar saat melakukan nya.


"Maaf, aku minta maaf." ucap Bara dengan pelan.


Tari tersenyum sinis. "Jika tadi aku mati, apa kamu akan menyesal? Seharusnya kamu tanyakan terlebih dahulu padaku sebelum kamu mencekik leher ku, aku tidak apa-apa mati jika memang aku melakukan hal menjijikkan itu tapi jika aku mati tapi aku tidak melakukannya, aku tidak akan mati dengan tenang dan aku berjanji akan menghantui mu seumur hidup mu!" balas Tari berapi-api.


Bara tersenyum kecil merasa lucu melihat cemberutnya wajah Tari. "Ya aku minta maaf, aku ceroboh dan aku tidak terkendali. Aku minta maaf sebesar-besarnya. Mau kan kamu memaafkan ku." ucap Bara dengan tatapan serius.


Tari tersenyum sinis. "Aku tidak percaya dengan ucapan maaf mu, karena kamu laki-laki jahat dan selalu berubah-ubah. Jika aku maafkan kamu sekarang, lalu nanti kamu akan melakukan hal itu lagi padaku." ucap Tari enggan.


Bara hanya bisa menarik nafasnya dalam-dalam. "Aku janji aku tidak akan melakukan hal itu lagi." ucapnya sangat yakin.


"Aku tidak percaya." balas Tari.


"Ok aku akan membuktikannya padamu, aku akan berubah, aku akan bertanya pada mu terlebih dahulu jika ada masalah tentang kita." terang Bara dengan sangat yakin.


Tari terdiam sekaligus heran kenapa laki-laki di hadapannya ini bersikap manis seperti ini.


"Apa kamu salah minum obat?" heran Tari.


"Aku tidak sakit kenapa juga harus minum obat." jawabnya santai.


"Sikap mu berubah-rubah."


"Apa nya berubah-ubah." sahut Bara acuh.


"Sudahlah lupakan saja!" sebal Tari seraya berdiri menggulung tubuh nya dengan selimut karena pakaian yang ia pakai sudah koyak akibat macan galak. Dengan cepat ia masuk untuk mencari pakaian yang harus ia pakai.


"Mana kunci?" pinta Tari setelah memakai pakaiannya.


"Mau kemana memang nya?"


"Aku mau keluar, aku tidak mau berdekatan dengan mu, apalagi dalam ruangan terkunci seperti ini." jelasnya dengan tidak bersahabat.


"Kita belum selesai bicara."


"Apalagi? Untuk apa?" lelah Tari ingin nya dia berisitirahat namun malah pertengkaran yang terjadi. "Ini sudah malam, tidurlah." titah Tari.


"Aku tidak mau, kita selesaikan masalah kita terlebih dulu!"


"Antoni sudahlah aku lelah, aku ingin istirahat. Berikan kuncinya!" pinta Tari melemah.


"Jika kamu ingin istirahat, di sini saja kenapa harus keluar!" Bara kecewa karena Tari belum bisa memaafkannya.


"Aku tidak mau tidur di sini, lebih baik kita pisah ranjang saja." saran Tari.


"Apa? Tidak! Kamu istri ku, kamu harus tidur di sini!" paksa Bara menarik Tari sampai ia terjatuh ke dalam pelukannya.


"Aku tidak mau, istri hanya untuk status saja untuk apa?!" kesal Tari dengan mencoba untuk melepaskan diri.


"Kenapa kamu sebagai wanita keras kepala sekali dan juga tidak peka." sebal Bara menahan tubuh Tari agar tidak terlepas.

__ADS_1


"Memang kamu tidak keras kepala!" balas Tari dengan sengit.


"Sudah diam, kita sama-sama keras." ujar Bara melemah.


Tari terisak dalam pelukan Bara, rasa kesal dan marah yang tertahan dalam hatinya sudah tidak bisa ia tahan lagi.


"Kenapa kamu menangis?" mendengar Tari terisak dalam pelukan nya.


"Kenapa kamu seakan-akan peduli padaku, jika itu hanya sebuah status istri dan status ibu dari anak-anak, aku tidak membutuhkan kepedulian mu!" terang Tari di tengah isaknya.


Bara diam ia mendengarkan isi hati Tari yang ingin dia keluarkan.


"Jangan mengatur ku, jika memang itu bukan untuk keinginan mu, aku tidak butuh apapun darimu!" terangnya lagi.


"Jika kamu memang tidak mengharapkan ku, dan hanya membutuhkan ku untuk anak-anak kita saja, lebih baik ceraikan aku saja, aku tidak akan keberatan jika kamu memang hanya menginginkan anak-anak bersama mu, asalkan kamu menjaga mereka dengan baik dan menyayangi mereka dengan sepenuh hatimu. Aku lelah jika kamu selalu mengancam ku atas anak-anak, jika kamu memang tidak membutuhkan ku di sini, aku akan pergi saja dari kehidupan mu dan kamu bisa mencari perempuan yang kamu cintai, tapi aku minta padamu carilah istri yang tidak hanya mencintai mu saja tapi juga anak-anak kita." ucap Tari dengan isak tangisnya yang sangat dalam.


Bara masih diam, ia merasa sakit saat Tari menyuruhnya untuk mencari perempuan lain, untuk apa dia mencari perempuan lain jika perempuan yang dia cintai berada dalam pelukannya saat ini. Namun Bara tidak mampu mengatakan jika dirinya sangat mencintai Tari, dia belum berani mengatakannya.


"Kenapa kamu diam saja?" tanya Tari mendongakkan wajahnya menatap Bara yang terlihat matanya yang mulai memerah.


"Aku tidak apa-apa jika kamu memang ingin memiliki anak-anak tanpa ada kehadiran ku, aku tidak mau egois, asalkan anak-anak bahagia bersamamu aku akan memberikan anak-anak ku padamu, karena aku yakin kamu ayah yang bertanggung jawab dan kamu ayah yang akan memenuhi segala kebutuhan mereka dengan baik. Jika hidup dengan mu mereka akan terpenuhi, tidak seperti jika mereka hidup dengan ku. Aku akan berikan pengertian kepada mereka bahwa kita memang tidak bisa bersama lagi, dan aku yakin mereka pasti akan mengerti jika kita memberikan pengertian yang baik kepada mereka." terang Tari masih menatap wajah Bara yang menatapnya dengan tatapan yang sulit untuk Tari mengerti.


"Antoni kenapa kamu diam saja, katakan sesuatu." Tari penasaran apa yang sedang Bara pikirkan setelah ia menyerah seperti ini.


"Mentari." Bara memanggil dengan suara berat dan tercekat di tenggorokan nya.


Tari menatap mata Bara, ia ingin tahu isi hati Bara yang sesungguhnya.


"Aku... aku tidak akan pernah menceraikan mu." ucap Bara dengan tegas.


"Kenapa?" suara pelan Tari pun bertanya. "Aku ingin kamu bertemu dengan perempuan yang kamu cintai, dan kamu bisa menikahi nya, kamu akan bahagia, kamu membutuhkan seorang istri yang kamu cintai, aku akan berikan pengertian pada anak-anak jika nanti mereka akan memiliki ibu sambung untuk mereka." jelas Tari meyakinkan Bara.


"Aku tidak mau!" tolak Bara dengan sangat tegas.


"Kenapa? Kamu masih muda, kamu kaya dan juga tampan, perempuan mana pun tidak akan ada yang menolak mu." puji Tari keceplosan.


"Apa itu benar?" Bara sangat senang Tari memuji nya. "Ya aku memang tampan dan kaya, dan perempuan tidak akan ada yang mampu menolak nya, berati kamu tidak akan menolak ku kan?" tanyanya dengan penuh harap, bahwa Tari memiliki rasa padanya.


"Apa kamu yakin itu?" goda Bara mendekatkan wajahnya pada wajah Tari.


"I...ya a...ku yakin itu." jawabnya seraya memundurkan tubuhnya ke belakang seperti gerakan kayang.


"Apa itu benar?" goda Bara lagi.


"I...itu benar." jawab Tari semakin kayang.


"Ah aku tidak percaya." ucap Bara menarik tubuh Tari agar tegap kembali dengan berdiri.


"Terserah lah." sahut Tari masa bodo.


Bara menarik tubuh Tari lalu ia mendaratkan bokong nya untuk duduk di pinggir kasur, dan Tari pun ia dudukan di pangkuannya dengan tangan Bara yang mengeratkan pelukannya pada pinggang Tari, wajah mereka menjadi sejajar dan saling menatap, membuat Tari berdebar tidak karuan.


Wajah cantik Tari bersemu merah saat lampu cahaya hanya menyinari nya dari belakang dan sedikit temaram.


"Aku ingin mengatakan sesuatu padamu." ucap Bara dengan pelan.


"Cepat katakan saja." balas Tari dengan tidak nyaman pada posisi nya saat ini.


Bara tersenyum kecil. "Apa kamu rela dan ikhlas jika aku menikah dengan perempuan lain dan memiliki ibu sambung untuk anak-anak kita?" tanya Bara dengan sangat lembut.


"Ya... A...aku ikhlas." jawab Tari gugup karena tatapan Bara sedikit berbeda.


"Bagaimana jika suatu saat nanti anak-anak kita melupakan mu karena kehadiran ibu sambung mereka, apa kamu rela?" tanya Bara menatap Tari dengan lekat.


Tari merasa risih ia pun terus bergerak dalam posisi nya dalam pangkuan Bara. "Ya kamu jangan mengajarkan anak-anak untuk melupakan ku, walau bagaimanapun aku ibu kandungnya yang melahirkan mereka." sahut Tari tidak terima.


"Jika itu permintaan istri baru ku dan ibu sambung anak-anak, meminta ku untuk menjauhkan anak-anak dengan kamu karena rasa cemburunya, aku tidak bisa berbuat apa-apa selain melakukan hal itu, agar istri baru ku nyaman hidup dengan ku." jelas Bara dengan santai untuk melihat bagaimana reaksi Tari jika ia menakuti nya.

__ADS_1


"Kenapa istri baru mu jahat seperti itu." kesal Tari tidak terima. "Lagipula aku tidak akan mengganggu rumah tangga kalian. Di saat aku ingin bertemu dengan anak-anak, aku akan meminta sopir mu untuk mengantarkan mereka ke rumah omah untuk bertemu dengan ku." cebik nya dengan kesal.


"Hemm. Ya itu kan mau mu." ucap Bara seraya menyelipkan rambut Tari pada telinga nya dan merapikan rambut itu dengan lembut.


"Tapi aku tidak terima jika istri mu tidak mengijinkan anak-anak untuk bertemu dengan ku!" ucapnya dengan wajah sebal nya.


"Itu resiko jika suatu saat nanti anak-anak nyaman dengan ibu barunya. Bagaimana, apa kamu masih mau mengijinkan aku untuk menikah dengan perempuan lain dan membiarkan anak-anak di asuh oleh ibu sambung nya?" lekat Bara menatap Tari dengan tatapan serius.


'katakan tidak, katakan tidak!' batin Bara penuh harap.


"Ya jelas aku tidak mau sampai seperti itu! Aku akan mati-matian merebut anak-anakku dari mu apapun caranya!" tekad Tari dengan sangat kuat.


Bara menghela nafasnya dengan kecewa karena jawaban Tari tidak memuaskannya. "Mentari... dengar apa yang akan aku katakan padamu sekarang." ucap Bara dengan suara lembutnya. "Tapi aku akan mengucapkan ini satu kali saja, dengarkan lalu kamu simpan di hati dan otak kamu ini." terang Bara seraya menunjuk dengan telunjuknya pada dada dan kepala Tari.


Tari mengangguk pelan menatap Bara dengan serius, karena ia penasaran apa yang akan di katakan oleh Bara padanya.


Bara menatap wajah Tari dengan sangat gugup karena mungkin ini waktu yang sangat tepat untuk nya mengatakan cinta pada istrinya sendiri, Bara sudah siap jika Tari menolak cintanya, namun demi apapun Bara tidak akan melepaskan Tari begitu saja walaupun cinta nya bertepuk sebelah tangan.


"Ayok lah apa yang ingin kamu katakan." ucap Tari tidak sabar karena melihat Bara hanya diam saja dan menatap wajahnya dengan tatapan kosong. "Kenapa malah melamun seperti itu!" sebal Tari karena tak kunjung berkata-kata.


Bara menyeringai. "Apa kamu sudah tidak sabar?" goda Bara melihat Tari cemberut. "Baiklah, siap ya." ucapnya. "Dengarkan baik-baik." ucapnya seraya mengeratkan pelukannya pada pinggang Tari dan mendudukkan Tari dengan nyaman.


"Mentari... aku mencintaimu, dan aku ingin kamu menjadi istriku untuk selamanya." ucap Bara dengan tatapan serius namun dalam hati sungguh ia merasa panas dingin di seluruh tubuh nya.


Tari membeku saat mendengar ucapan Bara yang sangat jelas di telinga nya karena suasana sangat sepi dan tenang.


"A...apa kamu sedang mengatakan cinta padaku?" getar Tari sedikit terkejut walaupun ia berusaha untuk menyembunyikan kebahagiaan di dalam hatinya itu.


Tanpa menjawab karena malu di usianya yang sekarang, Bara pun langsung mencium bibir Tari dengan lembut sebagai jawaban atas pertanyaan Tari itu.


Beberapa menit kemudian, Bara melepaskan tautan mereka lalu mengusap bibir Tari itu. "Antoni aku sedang sakit, jangan macam-macam!" ancam Tari dengan semburat wajah yang memerah.


"Aku tidak akan meminta lebih, aku hanya ingin menghapus jejak-jejak ciuman laki-laki itu!" ucap Bara dengan nada terdengar dingin. "Mana lagi yang harus aku hapus? Aku tidak mau laki-laki itu menyentuh mu lagi, jika itu terjadi lagi aku akan membunuhnya!" geram Bara terlihat kesal.


"Aku tidak melakukan apa-apa dengan nya, lagi pula aku tidak mau melakukan nya dengan dia." Tari tidak terima akan tuduhan itu.


"Bagus!" ucap Bara dengan senyum senang. "Berati kamu hanya mau melakukannya dengan ku saja, betul begitu?" paksa Bara pada Tari.


"Ti... tidak juga." kilah Tari dengan beranjak untuk pergi.


"Hei apa kamu menerima ku?" tanya Bara melihat Tari pergi dengan cepat masuk ke dalam selimut. Bara mendekati Tari. "Hei katakan apa kamu menerima cintaku?" tuntut Bara menarik selimut yang Tari pakai untuk menutupi seluruh tubuhnya membuat wajah Tari malu saat selimut itu berhasil di buka oleh Bara. "Ayok jawab!" paksa nya.


"Kamu seperti ABG saja! Ingat kita sudah dewasa, ingat umur juga!" sebal Tari sungguh sangat malu.


"Hahaha sepertinya kamu malu."


"Tentu saja aku malu, ini sungguh memalukan!" ucap Tari. "Sudah tidur saja!" titah nya.


*


*


*


"Tania ada apa?" tanya sang asisten pribadi nya melihat Tania mengamuk dan membanting serta melemparkan semua barang yang ada di dalam apartemen nya.


"Aaaa. Berengsek!" teriaknya dengan darah yang mendidih.


Sang asisten melihat Tania yang mengamuk membuat dirinya takut dan segera menghubungi manager nya.


"Urus dia saja, aku tidak mau menemui nya!" tolak sang manager.


"Kenapa seperti itu, apa ada masalah?" tanya asisten itu penasaran.


"Tania sungguh sulit aku beri tahu, dia sudah berani mencari masalah dengan seseorang, sekarang karier yang selama ini ia raih dengan susah payah hancur begitu saja karena ulahnya sendiri." terang sang manager itu dengan kesal.


"Lalu sekarang bagaimana? Apa kamu akan membiarkan dia terus mengamuk di kamarnya, bagaimana jika dia melakukan hal buruk pada dirinya sendiri?" asisten itu pun ketakutan mengingat bagaimana sikap Tania yang tidak bisa menerima kekalahan.

__ADS_1


"Ya sudah aku akan segera kesana, jaga dia dulu!" titah nya dengan cepat walaupun sebenarnya dia merasa malas dengan keras kepala nya artis nya itu.


"Ok, aku tunggu." jawab asisten itu dengan helaan nafas, ya dia akui selama jadi asisten Tania ia merasa bekerja dengan Tania memakan hati, jika saja dia tidak sabar menghadapi Tania, dia pasti sudah mengundurkan diri dari pertama kalinya ia bekerja dengan Tania. Sikap keras dan angkuh nya itu membuat orang tidak akan tahan bekerja dengan padanya.


__ADS_2