
Sesampainya Tari bersama kedua anaknya, mereka langsung masuk ke dalam mall itu dengan antusias, apalagi kedua anaknya yang begitu semangat.
"Langit, Bintang jangan lari-lari, bagaimana kalau kalian jatuh." omel Tari dengan suara berteriak melihat kedua anaknya berlarian.
"Ibu ayok kejar kami..." seru mereka begitu girang karena di ajak ibunya berjalan-jalan.
"Gak, capek!"tolak Tari tidak mengikuti kemauan kedua anaknya.
"Ah ibu payah!" ejek Bintang.
Tari cemberut mendengar ejekan anak-anaknya. "Kalau kalian berdua terus mengejek ibu, ibu tidak akan membelikan es krim pada kalian!" ancam nya membuat dengan berpura-pura merajuk.
"Gawat Kak, ibu marah." ucap Bintang.
"Kamu sih!" sambar Langit.
"Ish kok kakak nyalahin aku sih!" Bintang tak terima jika di salahkan.
"Sudah ayok kita rayu ibu lagi." bujuk Langit.
Mereka pun mencoba merayu kembali ibunya dengan rayuan khas mereka, dan Tari yang memang berpura-pura merajuk pun akhirnya tersenyum geli dengan tingkah kedua anaknya yang menampilkan kedua mata mereka dengan lucu untuk Tari lihat.
"Hemm ok ibu maafkan, jangan di ulangi lagi ya, janji?" Tari mengacungkan jari kelingking nya pada kedua anak kembarnya.
Kedua anak kembarnya pun meragakan seperti apa yang Tari ragakan. "Janji." sahut mereka bersamaan.
"Janji ya, soalnya bukan apa-apa, ibu itu sudah mulai lelah mengejar kalian yang begitu aktif." jelas Tari dengan wajah yang cemberut.
"Kami janji ibu, tidak akan mengerjai ibu lagi." lirih mereka dengan nada yang sendu.
"Hemmm ya sudah kalian jangan bersedih begitu, bagaimana kalau kita beli es krim di rumah es krim sana." ucap Tari menenangkan seraya menunjuk ke arah tempat bagi pecinta es krim yang namanya rumah es krim.
"Mau..." mereka pun dengan semangatnya menyetujui penawaran Tari.
"Ayok kita makan es krim, untuk hari ini kalian boleh pesan es krim sepuas kalian." ucap Tari yang membuat kedua anaknya berbinar dan girang bukan main.
"Yeay..." sahut mereka bersamaan.
Mereka masuk ke rumah es krim itu. "Kalian duduk di sini ya, ibu akan pesan dulu es krim nya. Kalian mau pesan es krim apa?" tanya Tari dan kedua anaknya pun langsung memesan.
Tak lama es krim itu datang dengan toping yang sangat di sukai oleh anak kecil.
"Wah es krim nya lucu ya." puji Tari melihat es krim itu tersaji di atas meja mereka.
"Kalian tahu tidak, rumah es krim ini dari dulu, semenjak ibu masih zaman sekolah sudah ada. Ibu bersama teman-teman ibu sering sekali beli es krim ini." cerita singkat Tari tentang masa mudanya.
__ADS_1
"Oh ya, wah berarti es krim ini sudah lama ada dong." tanya Bintang dengan mulut yang penuh es krim, lalu Tari pun mengangguk.
"Wih... kak kita masih bisa merasakan es krim yang dulu ibu rasakan saat muda." lanjut Bintang.
"Iya, ayok cepat habiskan es krim nya. Jangan terlalu banyak bicara saat sedang makan." omel Tari lembut.
Sedangkan Ken yang baru saja sampai di Mall itu ia langsung masuk tanpa menunggu sang bodyguard suruhan Daddy nya ketika dia masih sibuk memarkirkan mobilnya, ia terus saja melangkahkan kakinya menuju toko yang akan ia kunjungi. Dengan setengah berlari Teddy pun mengejar sang tuan muda untuk mengikutinya, ia takut jika tuan muda yang masih kecil itu hilang dan dia akan mendapatkan masalah jika hal itu terjadi, bagaimana dengan tuan Bara yang akan marah besar jika putra semata wayangnya hilang dari pengawasan dirinya.
"Tuan muda Ken tunggu!" panggil Teddy terus mengejar langkah sang majikan kecilnya.
"Aku tidak punya banyak waktu, jadi jangan membuang waktu ku!" ucap Ken dingin.
"Maaf tuan muda Ken." ucap Teddy ketika ia tidak jauh dari langkah Ken.
Ken pun masuk ke sebuah toko dimana menjual beberapa barang yang ia butuhkan, Ken pun langsung memilih dan dengan cepat meraih barang itu lalu ia memasukan barang itu pada troli yang Teddy bawa.
Banyak barang dan peralatan yang Ken beli, ia juga membeli buku kesukaannya.
Kembali ke Tari dan juga kedua anaknya.
"Sayang-sayang nya ibu, kalian habiskan es krim itu ya kalau ada yang kalian mau kalian pesan saja. Ibu ijin ke toilet dulu ya, kalian tunggu di sini, ibu hanya sebentar saja. Ingat jangan kemana-mana sebelum ibu kembali!" titah nya lembut.
"Ok ibu." jawab mereka berdua bersamaan.
"Ingat ya jangan kemana-mana!" Tari mengingatkan kembali pada kedua anaknya.
"Hehehe anak-anak pintar." ucap Tari seraya mengelus kepala mereka bergantian.
"Ibu ke toilet dulu ya." ucapnya sebelum benar-benar pergi.
Akhirnya Tari pun benar-benar meninggalkan kedua anaknya untuk pergi ke toilet.
Sesampainya di depan toilet Tari berdesis. "Ya ampun panjang sekali antrian untuk masuk toilet saja." gumamnya sedikit kesal. "Tapi di tahan juga tidak baik untuk kesehatan." sambung nya. "Hemm menunggu."
Beberapa menit kemudian, Tari yang sudah menunggu pun akhirnya bisa lega juga. "Ah akhirnya selesai juga." batin nya seraya mencuci kedua tangan nya di wastafel di dalam toilet, lalu merapihkan dandanan nya di pantulan cermin.
"Anak-anak pasti sudah menunggu ku lama." ucap Tari dengan tergesa-gesa keluar dari toilet dan menuju rumah es krim yang anaknya berada.
Namun sesampainya di meja dimana anak-anak Tari tadi duduk dia tidak menemukan kedua anaknya di sana.
"Kemana anak-anak pergi?" tanyanya dalam hati ia pun melihat ke arah kiri dan kanan di dalam ruangan masih tidak ada, Tari mulai merasa khawatir, mereka belum terbiasa tinggal di sini dan ini pertama kalinya bagi mereka di ajak jalan-jalan oleh Tari.
"Bintang Langit kalian kemana nak?" lirihnya merasa cemas.
Tari pun dengan segera menanyakan kepada karyawan rumah es krim itu dan sayangnya mereka tidak memperhatikan kedua anak nya pergi kemana, dengan alasan mereka sibuk dengan pelanggan mereka yang memang hari itu sangat ramai.
__ADS_1
"Anak-anak kalian kemana?" Tari mulai panik dengan cepat ia keluar rumah es krim untuk mencari kedua anaknya itu.
Tari mengelilingi mall itu dengan menunjukkan foto kedua anaknya pada orang sekitar, seraya menuju ke tempat informasi untuk meminta pertolongan mencari kedua anaknya.
Sedangkan di toko yang Ken kunjungi, dia sudah menyelesaikan membeli barang nya, dengan tergesa Ken keluar dengan Teddy yang mengikuti nya dan membawa barang belanjaan yang Ken tadi beli menuju parkiran.
Namun tiba-tiba Ken menghentikan langkahnya. "Pak, sepertinya barang ku ada yang ketinggalan." ucapnya.
"Biar saya yang ambilkan tuan muda." tawar Teddy.
"Tidak usah, aku saja yang akan mengambil nya, lagi pula pak Teddy tidak akan tahu barang saya yang mana." cegah nya seraya membalikkan tubuhnya untuk kembali masuk ke mall itu.
"Tapi tuan." panggil Teddy merasa khawatir.
"Sudah, bapak tunggu saja di mobil, aku akan kembali." ucapnya dengan melangkah pergi.
"Tu... tuan saya akan menunggu anda disini ya." ucap Teddy memberi tahukan dan terlihat Ken yang membelakangi tubuhnya menganggukkan kepalanya.
Tak lama Ken pun sudah membawa barang yang tadi ketinggalan. "Ah syukurlah, untung tidak tertinggal, kalau tertinggal aku tidak akan bisa melengkapi pekerjaan membuat karya ku." gumam Ken lega.
Saat Ken keluar dari toko itu, ia di kejutkan dengan seorang ibu muda yang memeluknya dengan begitu eratnya.
Dengan suaranya yang bergetar. "Sayang kenapa kamu tidak menunggu ibu selesai, ibu sangat khawatir sekali melihat kalian tidak ada." ucapnya dengan memeluk terus tubuh Ken yang tiba-tiba merasa hangat dan menggetarkan hati nya. Ini kali pertamanya ia di peluk oleh orang lain apalagi seorang perempuan.
"Ibu takut sekali nak, bagaimana kalau kalian hilang." ucapnya dengan terus memeluk tubuh Ken yang mematung.
Tari merenggangkan pelukannya lalu menatap ke arah wajah Ken yang ia anggap itu adalah Langit anaknya.
"Sayang dimana Bintang adikmu?" tanya Tari yang tidak melihat keberadaan anak perempuan nya di samping anak laki-lakinya.
Ken tidak menjawab bahkan tubuh nya diam mematung dengan tatapan lurus ke depan menatap wajah perempuan yang ada di hadapannya.
"Sayang kenapa kamu diam saja, dimana adik kamu?" tanya Tari tidak sabar.
"Nak..." panggil Tari lembut seraya menepuk pipi Ken dengan pelan.
Tari pun kembali memeluk tubuh Ken yang diam saja, pikir Tari mungkin Langit anaknya telah mendapatkan sesuatu yang membuatnya syok di saat mereka terpisah dengan Tari tadi.
"Tidak apa-apa sayang, ada ibu di sini." Tari menepuk belakang punggung Ken dengan lembut dan Ken tanpa sadar memeluk tubuh Tari dengan erat, ada kenyamanan yang ia rasakan, ada kehangatan yang sedang ia rasakan ketika perempuan itu memeluk nya.
Setelah Tari merasakan jika tubuh anaknya itu mulai tenang, ia pun kembali menatap ke wajah Ken itu. "Sekarang katakan dimana Bintang adikmu, apa yang terjadi?" tanya Tari lembut.
"A...aku..." ucap Ken gugup suaranya tercekat tidak bisa berkata apa-apa lagi, ia merasakan ketenangan saat menatap lembut nya wajah perempuan yang ada di hadapannya itu.
"Sudah, kamu tidak usah berkata apa-apa, kita cari adikmu sekarang ya." ucap Tari yang aneh melihat sikap Langit saat ini.
__ADS_1
Di pegang nya tangan Ken itu, dengan tangan Tari yang lembut dan anehnya Ken tidak memberontak ia pasrah saja di bawa oleh Tari kemanapun Tari melangkah, biasanya Langit paling tidak suka dan tidak mau jika tangan nya di gandeng oleh ibunya itu, dengan alasan ia sudah besar dan malu jika ada yang melihatnya.