Tuan Arogan Untuk Anakku

Tuan Arogan Untuk Anakku
hacker


__ADS_3

Pagi hari, Bara sudah berada di kantor nya, ia akan mengurus permintaan ayahnya yang sedang mendapatkan masalah, Bara hari ini akan mencari siapa yang berani mencuri data-data perusahaan ayahnya.


"Al, segera datang ke ruangan saya!" titah nya dalam sebuah panggilan telepon kepada assisten pribadinya.


"Baik tuan." jawab nya di sebrang sana dengan cepat.


Tak lama Alvaro pun datang ke ruangannya setelah ia mengetuk pintu ruangan bos nya.


"Al, tolong Carikan seorang hacker terbaik untuk ku." titah Bara dengan serius.


"Hacker? Apa untuk kasus yang sedang terjadi pada tuan besar?" tanya Alvaro.


"Ya. Kamu tahu?" tanya Bara cepat.


Al mengangguk cepat. "Asisten tuan besar baru saja menelpon saya, dia ingin membahas hal ini dengan anda tuan." jelas Al.


"Ya perusahaan ayah saya sedang ada masalah, tolong kamu Carikan hacker, kamu bisa?" tanyanya memastikan.


"Baik tuan, saya akan Carikan seorang hacker terbaik di negeri ini." seru Al dengan serius menyanggupi perintah bos nya.


"Bagus, saya tunggu kabar dari kamu secepatnya." ujar Bara dengan menyandarkan punggungnya pada kursi kepimpinan nya. "Kamu bisa keluar sekarang!" titah Bara.


"Baik tuan, saya permisi." ucapnya dengan menundukkan tubuh nya dengan sopan.


Bara mengangguk pelan mengijinkan asistennya untuk keluar.


"Beraninya dia menghacker perusahaan ayah ku, aku tidak akan tinggal diam, perusahaan ayah adalah perusahaan ku juga! Aku penasaran siapa yang mau berurusan dengan ku!" gumamnya geram.


Saat Bara tengah bergumam dengan rasa marah pada orang yang sudah membuat dirinya kesal itu, suara telepon mengangetkan nya, ia melirik nama yang tertera di layar ponsel itu dan melihat nama ayahnya di sana, dengan gerakan cepat Bara menjawab panggilannya itu.


"Ya, ada apa ayah?"


"Bara terima kasih atas kecepatan kamu menangani sebuah masalah, ayah benar-benar bangga kepada mu." ujarnya di seberang telepon.


Bara mengerutkan keningnya tidak mengerti. "Apa maksud ayah? Aku tidak mengerti sama sekali."


"Perusahaan ayah sudah kembali lagi dengan normal, email yang sudah di hacker pun sudah di kembali kan, dan ayah sangat berterima kasih padamu Bara, hanya dengan waktu singkat kamu sudah mengembalikan perusahaan ayah yang sempat di otak-atik oleh hacker itu." jelas tuan Hartawan.


"Kapan aku memberikan kabar itu ayah?" tanya Bara masih belum paham.


"Tadi pagi kamu mengirimkan email pada ayah kan?" tanyanya juga heran kenapa anaknya seperti tidak mengerti.


"Oh begitu, nanti aku telepon ayah kembali! Tut." panggilan pun terputus secara sepihak membuat tuan Hartawan begitu aneh.


"Siapa yang sudah menghacker kembali? Apa Alvaro...? Aku tidak salah memilih mu untuk jadi asisten ku." gumamnya memuji Alvaro.


"Al ke ruangan saya sekarang!" titah nya.


"Baik tuan." jawabnya dengan menghela nafasnya panjang. "Ada apa lagi tuan Bara memanggil ku." gumamnya dalam hati.


Tok tok tok. Suara pintu Al ketuk ketika ia akan memasuki ruangan bos nya.


"Masuk!" sahut Bara di dalam ruangan.


Al masuk ke dalam ruangan itu. "Ada apa tuan memanggil saya?" tanya Al sopan.


"Saya hanya mau mengucapkan terima kasih pada mu." balas Bara membuat keningnya Al mengerut.

__ADS_1


"Terima kasih untuk apa tuan?" tanyanya hati-hati.


"Terima kasih karena sudah dengan cepat mencarikan seorang hacker yang hebat, ayah saya senang mendengarnya. Kamu tahu Al perusahaan ayah sudah kembali lagi dengan data-data yang sudah di atur dengan baik." jelas Bara dengan rasa bangga karena membuat ayahnya begitu senang dengan hal ini.


"Hacker hebat? Maaf tuan saya belum mendapatkan hacker yang hebat, karena perusahaan tuan Hartawan adalah perusahaan besar jadi saya harus hati-hati mendapatkan hacker yang paling hebat." ujar Al dengan jelas.


Bara merasakan hal yang aneh mendengar penjelasan asistennya. "Apa kamu yakin Al, kamu belum mendapatkan hacker itu?" tanya Bara memastikannya.


"Saya yakin tuan. Maaf saya tidak bekerja dengan baik." ucapnya meminta maaf.


"Ini aneh." gumam Bara pelan namun terdengar oleh Al.


"Aneh apa tuan?" tanya Al.


"Begini Al, ayah saya menelepon saya barusan, dia berterima kasih karena sudah menghacker kembali data perusahaan ayah, dan ayah saya juga mengatakan tadi pagi saya mengirimkan email tentang penghacker padanya, saya kira kamu sudah menjalankan perintah dari saya." jelas Bara sejelas nya memberitahu asistennya yang sedang kebingungan.


"Apa email anda di simpan di laptop ruangan kerja anda tuan?" tanya Al meyakinkan.


Bara mengangguk membenarkan. "Iya, email saya ada di sana, tapi tidak mungkin ada yang berani mengotak atik laptop saya, di rumah hanya ada para pembantu, security dan juga..."


"Putra ku Ken!" ucap Bara "Tuan muda Ken!" ucap Al berbarengan dan saling menatap.


"Apa kamu sepemikiran dengan saya?" tanya Bara menatap Al dengan serius.


"Ya tuan, saya yakin seperti nya tuan muda Ken lah yang menggunakan laptop anda di ruangan kerja." jelas Al yakin. "Tuan muda Ken kan sangat cerdas." lanjut memuji putra bosnya.


"Tapi apa mungkin dia yang melakukan nya? Setahu saya Ken pintar di bidang penelitian dan menciptakan sesuatu yang tidak tahu apa gunanya." ungkap Bara, ia tidak tahu jika kepintaran Ken bisa sangat di andalkan.


"Putra anda sangat cerdas tuan, saya yakin jika yang membantu perusahaan tuan besar pasti tuan muda Ken." ucap Al yakin.


Setelah sore hari Bara langsung pulang ke rumah, ia pun menuju ruang kerjanya, Bara berniat mencari tahu siapa yang sudah masuk ke dalam ruangan kerjanya di saat ia sedang di kantor. Setelah mendaratkan bokong nya pada kursi kerjanya, Bara langsung mengecek cctv yang ia pasang di sana.


"Ken." gumam Bara saat ia melihat di dalam gambar cctv ruangan kerjanya. "Jadi benar, Ken yang menghacker kembali email dan data-data perusahaan ayah." sambungnya.


Lalu Bara pun melihat kembali cctv kemarin, dan di sana ada Ken yang sedang berada di depan pintu, saat itu Bara ingat jika dirinya dan sang ayah sedang berbicara. "Apa Ken mendengar pembicaraan ku dengan ayah?" gumam Bara. "Aku harus bicara dengannya!" lanjutnya.


"Ken." panggil Bara begitu di dekat kamar nya, namun terkunci dari dalam. "Ken." panggil Bara seraya mengetuk pintu yang terkunci itu.


Ceklek. Pintu pun terbuka dari dalam. "Ada apa Daddy?" tanya Ken acuh.


"Daddy ingin bicara dengan kamu, bisa?" tanya Bara. "Apa Daddy boleh masuk?" pintanya.


Ken mengangguk lalu membuka pintu kamarnya dengan lebar, mempersilahkan Daddy-nya masuk.


Ken mencoba menyibukkan dirinya dengan karya yang ia buat, sedangkan Bara ia masih menatap ke arah Ken yang terlihat berpura-pura menyibukkan dirinya sendiri.


"Ken apa kamu yang membantu kakek?" tanya Bara langsung.


"Membantu kakek dalam hal apa?" ucapnya masih berpura-pura.


Bara menatap lekat wajah anaknya yang sangat mirip dengannya itu. "Terima kasih nak, terima kasih karena sudah membantu Daddy menolong kakek." ujar Bara lirih.


"Aku tidak merasa menolong Daddy atau pun kakek. Aku hanya tidak mau Kakek atau Daddy bangkrut." sahut nya datar.


Ada senyuman seringai dari bibir Bara melihat sikap Ken yang tidak jauh dengan dirinya, yang selalu menyembunyikan sesuatu dari orang lain. "Ya jika ayah bangkrut, ayah akan menjual semua barang-barang yang kamu buat ini!" ancam Bara menunjuk dengan dagu nya ke arah dimana penelitian Ken berada, namun itu hanya godaan Bara kepada putranya.


"Itu tidak akan terjadi!" ucap Ken tegas.

__ADS_1


"Bisa saja terjadi, dunia bisnis tidak selalu berjalan mulus, ada kala nya kita jatuh ke bawah karena suatu kesalahan." jelas Bara.


"Mungkin itu lebih baik, agar Daddy tidak selalu sibuk dan membuang waktu hanya sebuah kesibukan yang tidak ada habisnya." sindir Ken membuat Bara terdiam namun mengena sekali pada relung hati Bara.


Bara menghela nafasnya, putranya memang pintar sekali, apalagi membalas ucapannya walaupun umurnya masih cilik. "Yang ayah lakukan demi mu Ken, jika ayah tidak bekerja apa kita akan hidup layak seperti ini bahkan jauh lebih dari layak." timpal Bara jangan mau kalah dengan anak bau kencur.


"Layak bukan berarti bahagia, bahkan hidup sederhana jauh lebih bahagia karena tidak ada ketakutan dan pembatasan sosial." ucap Ken dengan sinis.


Bara berdehem menetralisir kan hatinya yang tiba-tiba memanas jika berbicara dengan Ken. "Baiklah Daddy kemari hanya untuk mengucapkan terima kasih pada mu Ken karena sudah membantu perusahaan kakek." ucap Bara.


"Kenapa bukan kakek yang berterima kasih padaku? Apa sesuatu yang rendah bila mengucapkan terima kasih padaku!" telak Ken membuat Bara membeku, semakin banyak berdebat dengan Ken maka ia semakin tahu sifat dan kecerdasannya memiliki tingkat yang sangat tinggi.


"Ya pasti, kakek akan berterima kasih padamu Ken, tapi tidak sekarang karena kakek belum tahu siapa yang sudah membantu kakek." jelas Bara dengan lembut.


"Kakek tidak perlu tahu siapa yang sudah membantu nya, Daddy yang sudah mengucapkan terima kasih padaku, jika Daddy benar-benar ingin berterima kasih padaku, berterimakasih dengan benar." sarkas Ken dengan tatapan serius pada Daddy-nya.


Bara yang mengerti maksud dari putra nya itu pun tahu, berterima kasih dengan benar tidak ada yang gratis harus ada sesuatu yang di lakukan oleh nya. "Ok Daddy akan berterima kasih dengan benar pada mu Ken." ucapnya berjeda. "Daddy akan melakukan apapun yang kamu mau dari Daddy." ucapnya.


Ken tersenyum miring. "Apa Daddy serius? Akan mengabulkan apa yang aku pinta?" tanyanya.


"Ya apapun." jawab nya mantap. Bara berpikir jika Ken pasti hanya meminta di belikan kue kesukaannya atau bahan-bahan untuk penelitian nya, itu tidak masalah bagi Bara.


Ken tersenyum sedikit mengulas kebahagiaan.."Apa Daddy yakin akan mengabulkan permintaan aku itu?" tanya Ken meyakinkan Daddy-nya.


"Yes, tentu." balas nya yakin.


"Janji akan menepati?" telak Ken.


"Janji." jawab Bara tidak masalah.


"Aku akan meminta pada Daddy satu permintaan." ucap Ken dengan serius.


"Cepat katakan!" titah Bara tidak sabar dengan berbelat belit akan ucapan Ken itu.


"Aku ingin informasi tentang ibu ku! Ibu ku yang mengandung dan melahirkan ku!" ucap Ken dengan serius.


Deg... jantung Bara seakan berhenti namun ia tidak menunjukkan keterkejutan nya mendengar permintaan putranya.


"Ibu mu sudah meninggal, untuk apa kamu mencari nya?" ucap Bara kesal.


"Aku yakin ibu ku belum meninggal. Makanya aku meminta Daddy mencarikan informasi tentang ibuku." ucapnya merasa yakin.


"Untuk apa Ken? Dia sudah meninggal." jelas Bara dengan sangat yakin karena seorang ibu tua yang memberikan Ken padanya mengatakan seperti itu.


"Aku sudah mendengar pembicaraan Daddy dan kakek tentang aku dan ibuku, lagi pula aku hanya ingin tahu saja wajah ibuku seperti apa? Setidaknya aku tahu dimana ibu dan keluarganya." lirih Ken dengan sendu. "Jika memang ibuku benar-benar sudah meninggal aku akan iklhas menerimanya." sambung nya dengan kesedihan yang ia tahan.


Bara tidak terkejut bahwa putranya kemarin mendengar apa yang di bicarakan olehnya dan ayahnya itu. Permintaan Ken memang tidak berat, Bara juga sebenarnya merasa penasaran dengan sosok wanita yang sudah ia tiduri dan menghasilkan Ken putra nya, hanya saja karena yang ia ketahui jika perempuan itu sudah meninggal dan hanya meminta dia untuk menjaga Ken membuat Bara tidak memikirkan lagi tentang masalah ini, namun semakin Ken tumbuh, ia semakin haus akan informasi tentang ibunya yang tidak ia ketahui.


"Aku hanya ingin melihat wajah ibuku Daddy, aku hanya ingin tahu seperti apa?" ucapnya lagi.


"Jangan kan kamu Ken, aku sebagai Daddy mu saja tidak mengetahui bagaimana wajah perempuan yang aku hamili, karena aku begitu mabuk." batin Bara.


"Bagaimana Daddy? Apa Daddy akan mengabulkan permintaan aku? Jika Daddy tidak mau aku sendiri yang akan mencari tahu tentang ibuku, asalkan Daddy mengijinkan dan membebaskan aku untuk keluar masuk dari rumah ini tanpa penjagaan yang ketat." pinta nya.


"Tidak bisa, kamu jangan keluar sembarangan apalagi tanpa ada penjagaan." larang Bara dengan tegas. "Baiklah Daddy akan mencari tahu informasi tentang ibu mu, jika memang ibumu sudah meninggal, pencarian ini kita hentikan, dan kamu tidak boleh membicarakan lagi tentang ibu mu itu!" ucap Bara serius seraya menatap wajah putranya. Melarang putranya itu.


Ken mengangguk. "Baiklah Daddy, aku setuju!" ucapnya. "Terima kasih Daddy aku sayang Daddy." lanjutnya berucap seraya memeluk tubuh Bara membuat Bara terenyuh, ini kali pertamanya putranya itu mengucapkan terima kasih dengan tulus yang ia rasakan.

__ADS_1


__ADS_2