
Menjelang sore hari, Tari sudah menyelesaikan kue pesanan nya, dan kini dia sedang beristirahat sejenak, lelah karena membuat pesanan lebih baik daripada lelah hati karena berhadapan dengan Bara.
"Bisa kami bantu tuan." sapa salah satu karyawan Tari dengan ramah.
"Saya ingin bertemu dengan Sun sun. Apa dia sedang ada di sini?" tanya Leo kini dia berada di toko kue Tari seraya clingak clinguk mencari keberadaan Tari.
"Sun sun?" ulang salah satu karyawan Tari dengan bingung.
Mengerti dengan kebingungan karyawan itu Leo pun berdehem. "Ekhemm. Emh maksud saya pemilik toko kue ini Mentari, apa dia ada di sini?" tanya nya lagi.
"Oh mba Tari, ada tuan, mba Tari sedang berada di kitchen." terang nya cepat.
"Boleh panggilkan?" pintanya. "Bilang saja saya Leo." ucapnya memberi tahu.
"Boleh tuan, sebentar ya tuan." ijinnya.
Leo mengangguk lalu ia pun mencari tempat duduk dan menduduki kursi itu.
***
"Mba Tari, ada yang cari mba." ucapnya memberi tahu.
Tari mengerutkan dahinya. "Siapa?" tanya Tari dengan malas, hari ini ia benar-benar malas bertemu dengan orang-orang.
"Orangnya tampan, tubuh nya tinggi dan mata nya sipit dia bilang sih namanya Leo." jelas nya dengan menggoda Tari.
"Kamu berani godain mba." ucap Tari sebal.
"Hehe maaf mba abisnya dari tadi mba diam saja sih, tapi benar lho mba laki-laki yang cari mba itu tampan nya pake banget." ucapnya genit. "Seperti opa Korea yang aku suka hehe." lanjutnya dengan bertangan-angan.
Tari mengusap wajah karyawan nya itu. "Halu kamu. Ayok kembali kerja nanti teman mu yang lain cemburu karena kamu tidak kerja." ucap Tari seraya keluar.
"Hehehe ya mba ku." sahutnya cengengesan.
Tari keluar dari kitchen pun langsung melihat Leo yang sedang sibuk dengan handphone yang ada di tangan nya.
Tari menghampiri Leo. "Kak Leo." panggil Tari pelan.
Leo mendongak ke atas dan langsung terlihat wajah Tari yang tersenyum lembut padanya, namun terlihat sembab di kedua matanya.
"Sun sun, apa kabar?" sapa Leo dengan tatapan lembut nya.
Tari tersenyum. "Aku baik kak. Kak Leo ingin kue seperti apa, akan aku bawakan kesini untuk kakak cicipi." tawar Tari.
"Emh nanti saja, aku datang kesini ingin bertemu dengan mu, ada sesuatu yang ingin aku sampaikan." terang Leo menatap Tari.
"Sesuatu apa?" tanya Tari bingung.
"Apa kamu sedang sibuk sekarang?" tanya Leo dengan serius.
"Emh tidak, hari sudah sore jadi aku sudah selesai membuat kue." jawab Tari.
"Kebetulan sekali, apa kamu memiliki waktu sebentar saja." tanya Leo penuh harap.
"Bisa kak, sepertinya sesuatu yang kak Leo sampaikan serius." Tari menjadi penasaran.
"Ya, ini mengenai usaha kue kamu. Bagaimana jika kita pergi ke luar saja, kita ngobrol santai begitu, santai tapi menguntungkan." terang Leo mencoba mengajak Tari.
"Tunggu sebentar kak, kak Leo ingin sampaikan apa?" tanya Tari memastikan, ia tidak mau menjadi salah paham dengan Tania lagi.
"Tante ku sedang mencari pembuat kue untuk acara-acara besar, kebetulan kemarin dia mencicipi kue buatan mu, dan Tante ku bilang jika dia mau bekerja sama dengan mu untuk mengolah usaha barunya." jelas Leo penuh semangat. "Dia sangat cocok dengan kue-kue yang sudah kamu buat." lanjutnya.
Tari mengangguk-angguk. "Emh aku mengerti."
"Jadi bagaimana?" tanya Leo memastikan. "Ini kesempatan untuk kamu bisa berkembang." rayu Leo melihat Tari diam saja.
Tari berpikir sejenak, ini kesempatan untuk dia, dia bekerjasama untuk mengembangkan usahanya. "Ok kak aku setuju." ucap Tari setuju.
Leo tersenyum senang. "Ok, aku akan katakan ini kepada tante ku, bagaimana jika kita bertemu dengan tante ku sekarang, karena dia tidak sabar bertemu dengan mu." Leo pun mengajaknya.
"Ok, boleh." jawab Tari penuh semangat, kesempatan ini tidak akan Tari sia-siakan.
"Bagaimana jika kita janji temu di restoran saja, kita berangkat bersama sekarang, dan aku akan bilang pada tante ku di restoran yang sudah kita tentukan." saran Leo dan di angguki oleh Tari.
"Ok, kalau begitu." ucap Leo penuh semangat.
Setelah Leo menelpon tante nya dan Tante nya itu menyanggupi untuk bertemu dengan Tari, Tari pun berpamitan kepada para karyawannya dan meminta mereka untuk menjaga toko kue nya.
***
"Kak Leo, apa tidak salah kita janjian di restoran di sini?" tanya Tari heran, pasalnya mereka datang di restoran untuk pasangan.
"Kenapa Sun sun apa ada yang salah?" tanya Leo berpura-pura tidak mengerti.
"Restoran ini khusus untuk pasangan, kenapa kak Leo pesan di sini?" jelas Tari.
"Tidak ada yang salah kok, aku laki-laki dan kamu perempuan, jadi tidak masalah kan jika kita menjadi sebuah pasangan." terang Leo dengan merayu Tari.
"Hahaha Sun sun wajah kamu terlihat lucu." Leo menertawakan ekspresi wajah Tari yang terlihat bingung dan juga salah tingkah. "Kamu tenang saja tante ku yang meromendasikan tempat ini. Dia akan datang dengan suaminya juga." terang Leo yang membuat Tari semakin mengerutkan dahi nya.
__ADS_1
"Ayok masuk!" ajak Leo yang melihat Tari hanya diam saja. Leo mengerti mungkin Tari merasa tidak nyaman.
Setelah masuk ke dalam mereka duduk di tempat yang sudah di pesan tadi. "Sun sun kamu tidak keberatan jika bertemu dengan Tante ku di sini?" tanya Leo memastikan.
"Tidak masalah." jawab Tari seraya mengangguk.
"Leo pun tersenyum. "Bagaimana jika kita pesan makanan atau minuman lebih dulu?" tawar Leo menatap Tari dengan lembut.
"Emh boleh, aku pesan minuman saja." jawab Tari.
"Baiklah, kamu mau minum apa?" tanya Leo ketika seorang pelayan berada di sana.
"Apa saja." jawab Tari cepat.
Lalu Leo pun memesan minuman, ia memesan minuman yang di sukai Tari yang masih ia ingat.
Tari tidak berkomentar apapun tentang minuman yang Leo pesan, setelah minuman itu datang.
"Apa kamu masih menyukai minuman itu?" tanya Leo melihat Tari yang tidak berkomentar apa-apa.
"Heem." jawab Tari dengan tersenyum lembut membuat Leo semakin terpesona dengan kecantikan Tari. Semakin dewasa kecantikan Tari semakin terlihat auranya. Leo semakin terpesona di buatnya.
Leo melihat jam di pergelangan tangannya. Lalu sebuah pesan masuk ke dalam handphone. "Tante ku akan datang terlambat, dia baru saja memberi tahu ku." terang Leo seraya memperlihatkan sebuah pesan yang diterima oleh Leo dari Tante nya itu.
"Tapi tenang saja, Tante ku akan datang." jelas Leo kembali.
"Baiklah tidak apa-apa, Tante kak Leo pasti sibuk." ucap Tari.
"Ya seperti itulah." jawab Leo dengan tersenyum membuat kedua matanya yang sipit semakin menyipit membuat Tari mengingat kejadian pada masa lalu mereka.
"Kenapa kamu malah bengong?" tanya Leo melihat Tari menatapnya tanpa mengedip. Leo pun merasa jantungnya berdetak kencang.
"Aku memang tampan, tapi aku malu jika kamu menatap ku seperti itu." terang Leo jujur dengan senyuman dibibir nya.
"Ah maaf kak, aku bukan menatap kak Leo, hanya saja aku sedang memikirkan sesuatu." kilah Tari dengan cepat.
"Kamu memikirkan apa sampai serius seperti itu?" tanya Leo penasaran.
"Emh tidak ada." jawab Tari dengan malu-malu.
"Sun sun, apa aku boleh menanyakan sesuatu yang bersifat pribadi kepada mu?" tanya Leo hati-hati.
Tari mengangguk. "Ya, apa itu." jawab Tari dengan santai.
"Emh apa kamu sudah menikah?" tanya Leo hati-hati.
Tari yang tahu apa yang akan di tanyakan oleh Leo pun mengerti maksud Leo apa.
"Ya itu benar, aku di usir oleh ayah karena aku hamil di luar nikah." jawab Tari dengan keinginan tahu Leo tentang itu.
"Maafkan aku, aku tidak bermaksud menyinggung perasaan mu, aku hanya ingin memastikan jika apa yang di ceritakan adikmu itu salah atau benar, saat itu aku mencari mu, namun adikmu mengatakan jika kamu sudah pergi, Tania bilang kamu pergi untuk mencari kekasih yang menghamili mu." terang Leo merasa tidak nyaman mengingat hal itu.
"Tidak apa-apa, itu masa lalu ku." jawab Tari dengan santai toh memang seperti itu kenyataannya.
"Aku di perkosa kak, aku hamil bukan karena aku memiliki kekasih tapi aku hamil karena seorang laki-laki yang sudah menodai ku." terang Tari dengan santai namun terlihat sangat membenci nya karena tatapan matanya yang penuh kebencian.
"Jadi laki-laki itu tidak bertanggung jawab atas apa yang dia perbuat?" tanya Leo dengan perasaan yang marah mendengar cerita yang sebenarnya.
"Aku tidak meminta nya untuk bertanggung jawab." jawab Tari tenang.
"Kenapa?" Leo pun mengerutkan dahi nya karena heran.
"Aku tidak mau berurusan dengan dia lagi, karena itu akan membuat hati ku sakit dan pikiran ku akan selalu ingat dengan kejadian yang menimpaku." jelas Tari dengan matanya yang mulai berkaca-kaca.
Leo menarik tangan Tari lalu menggenggamnya dengan erat. "Maafkan aku Sun sun, aku tidak ada di saat kamu membutuhkan seseorang." ucap Leo merasa tidak enak hati dan merasa bodoh karena tidak mengetahui yang sebenarnya.
"Tidak perlu meminta maaf, Kak Leo tidak salah apa-apa, mungkin hidup aku saja yang tidak beruntung." lirih Tari dengan senyuman di bibirnya.
"Tapi aku bodoh, karena tidak tahu apa-apa tentang kamu, aku mengira kamu memang memiliki kekasih." lirih Leo semakin bersalah. "Aku benar-benar tidak habis pikir dengan laki-laki brengsek itu, jika aku bertemu dengan laki-laki itu, aku akan menghajar dia sampai mati." Leo marah sampai urat di lehernya mengeras karena kemarahan nya pada laki-laki yang sudah menodai perempuan yang ia cintai.
Tari menatap wajah Leo yang terlihat marah itu. Dengan lembut Tari membalas genggaman tangan Leo agar Leo bisa tenang. Dan memang berhasil Leo menjadi lebih baik, lalu Leo pun menatap tangan mereka yang saling menggenggam.
"Maafkan aku Sun sun, aku sungguh tidak tahu." sesal Leo yang membuat Tari merasa tersentuh, laki-laki seperti inilah yang Tari mau, rela berkorban, penuh kasih sayang dan penuh perhatian.
"Kak Leo tidak salah. Sudah ya jangan terus-menerus menyalahkan diri sendiri. Ini memang takdir ku." Tari pun mencoba untuk membuat Leo tidak merasa bersalah.
"Emh Bagaimana jika kita pesan makanan manis saja." tawar Tari mencairkan suasana.
"Ya sepertinya itu enak." jawab Leo melihat Tari lebih tegar dengan masalah yang menimpa nya.
Pesanan itu pun tiba tidak lama setelah mereka pesan. Makanan manis yang menggiurkan membuat Tari dan Leo tersenyum. Karena makanan itu yang mereka selalu pesan saat Leo yang selalu mengajak nya jalan waktu mereka masih muda.
"Boleh aku menyuapi mu Sun sun?" ijin Leo dengan senyum di bibirnya.
"Tidak perlu kak Leo, aku bisa makan sendiri." tolak Tari secara halus.
"Ayok lah Sun sun ini hanya suapan sebuah kue." ucap Leo memohon dengan mata purple eyes membuat Tari tersenyum dan malu-malu akan perlakuan manis Leo padanya.
Lalu Tari pun menerima suapan itu dengan senyum di bibirnya, Leo memperlakukan Tari seperti dia memperlakukan seorang kekasih, Leo adalah laki-laki yang lembut dan mengerti bagaimana memperlakukan seorang perempuan.
__ADS_1
"Hentikan mobil nya!" titah Bara dengan nada dingin, ia baru saja melihat sesuatu yang membuat dirinya memanas.
"Tuan apa anda yakin Ingin makan di sini?" tanya Alvaro heran.
Bara tidak menjawab pertanyaan Alvaro, ia lebih mempercepat untuk melangkahkan kakinya.
"Tuan apa anda berpasangan?" sapa pelayan restoran itu melihat Bara dan Alvaro adalah laki-laki.
Alvaro tampak malu karena ia tahu maksud dari pelayan itu, jika restoran mereka khusus untuk pasangan.
"Istri saya sudah berada di dalam." jawab Bara angkuh.
"Oh begitu, silahkan masuk tuan." pelayan itu pun mempersilahkan.
Bara dan Alvaro masuk, ia langsung menuju meja dimana Tari dan Leo duduk.
Saat Tari menerima suapan kue kedua dari tangan Leo, tiba-tiba saja bulu-bulu kecil yang ada di tubuhnya tiba-tiba meremang karena suhu terasa dingin mendadak. Tari mengusap bulu punduknya yang tiba-tiba berdiri.
"Nona Mentari anda di sini?" terdengar suara yang sangat ia kenali membuat Tari mematung dan merasakan jika pundaknya ada tangan seseorang Tari pun menoleh pada tangan itu, terlihat sebuah jam tangan mewah yang ia pakai dan Tari mengenal siapa pemilik jam tangan itu membuat Tari menelan ludah nya kasar.
Lalu Tari memberanikan diri untuk mendongakkan wajahnya ke arah dimana laki-laki itu berdiri. Terciduk itulah yang kini di rasakan Tari saat ini.
"Tuan Bara, anda di sini?" ucap Leo yang mengenal Bara, siapa yang tidak mengenalinya.
"Ya, kebetulan saya melihat seseorang yang saya tengah asyik makan di sini." jawab Bara dengan dingin.
"Sepertinya saya harus pergi." ucap Tari kelu membuat Leo heran.
"Tidak perlu nona Mentari." ucap Bara menekan pundak Tari agak keras agar Tari tidak pergi. "Sepertinya menyenangkan jika saya ikut bergabung." ucap Bara tidak tahu malu.
"Oh silahkan tuan Bara, suatu kehormatan bagi saya anda berkenan satu meja dengan kami." ucap Leo dengan ramah namun hati nya sedikit kesal.
"Apa kalian saling mengenal?" tanya Leo melirik ke arah Bara lalu ke arah Tari.
"Tidak." jawab Tari.
"Iya." jawab Bara.
Mereka menjawab bersamaan dengan jawaban yang berbeda membuat Leo menatap mereka dengan heran.
"Oh seperti nya anda lupa ya nona, saya adalah pelanggan kue anda, mungkin terlalu banyak pelanggan membuat anda lupa kepada saya." ujar Bara tidak suka.
Tari menelan ludah nya kasar. "M... mungkin" jawab Tari dengan senyum paksa.
"Emh kak Leo, aku ijin ke toilet sebentar ya." ijin Tari.
"Ya, mau aku antarkan Sun sun." tawar Leo sedikit menggoda.
Tari tersenyum gugup. "Tidak perlu, terima kasih." ucap Tari seraya pergi ke toilet.
"Apa dia kekasih anda tuan Leo?" tanya Bara menatap tajam ke arah Leo.
"Sepertinya suatu saat nanti." jawab Leo santai. "Dia Sun sun, kenalan ku dulu, dulu kami akrab sekali, namun sesuatu terjadi padanya membuat kami tidak bertemu dalam jangka waktu yang cukup lama." jelas Leo dengan sendu. "Dia perempuan cantik kan?" ucap Leo memuji Tari.
"Ya." sahut Bara pendek.
***
Saat Tari sudah selesai ia pun keluar dari dalam toilet itu, namun saat itu juga ia melihat seorang laki-laki berdiri menyandarkan tubuhnya pada tembok tidak jauh dimana Tari berada, Bara berdiri dengan angkuh dan asap rokok menguar di ruangan itu, Bara merokok dengan asap yang mengepul, ini kali pertamanya Tari melihat Bara adalah seorang perokok.
Mata hitam dan gelapnya menatap Tari dengan tatapan tajamnya, seakan Tari adalah sebuah mangsa baginya.
Tari tidak mempedulikan keberadaan Bara, ia melewati tubuh Bara yang berdiri di sana. Namun ketika Tari akan melewati nya tiba-tiba Bara menarik tangan Tari lalu dengan cepat Bara mengunci tubuh Tari dengan kedua tangan nya menghalangi Tari agar tidak bisa pergi.
Bara mengisap rokok yang masih di tangan nya itu lalu asapnya ia kepulkan ke wajah Tari membuat Tari terbatuk-batuk karena asap rokok itu.
Bara membuang rokok itu lalu menginjak rokok itu sampai padam dan menatap wajah cantik Tari walau cahaya di sana kurang, namun wajah cantik Tari sangat jelas, Tari benar-benar sangat cantik.
"Apa yang kamu lakukan? Lepaskan!" ucap Tari dengan kesal.
"Saya sudah katakan kepadamu, saya tidak suka dengan sebuah penghianatan." ucap Bara tepat di depan wajah Tari.
Tari sangat tidak nyaman dengan posisi dia dan Bara saat ini. Terlalu dekat sangat dekat membuat nafas nya seakan tercekat.
"Saya tidak mengerti dengan ucapan mu, lepaskan saya, ini membuat saya tidak nyaman. Apa kamu ingin ada orang tahu kita seperti ini?" geram Tari dengan suaranya yang pelan.
Bara tersenyum pahit dengan ucapan Tari. "Saya tidak peduli." Saya tidak suka kamu membuat saya malu, kamu masih istri sah saya, jangan main-main!" ucap Bara dengan suara berat nya.
"Istri? Apa begini cara kamu memperlakukan seorang istri? Saya hanya istri kontrak mu dan tidak lama lagi kita akan berpisah jika anak-anak sudah mengerti saya akan menggugat cerai kepada mu." ucap Tari dengan emosi tertahan.
"Apa kamu tidak sadar, kenapa saya menikahi mu, seharusnya kamu bersyukur kamu bisa menjadi istri saya!" telak Bara dengan nada dingin nya.
"Hah, saya bersyukur? Kamu menyebutkan saya sebagai wanita murahan, penjual diri dan banyak lagi penghinaan yang kamu katakan kepada saya, jadi saya tidak masalah jika saya memiliki laki-laki lain karena apa yang kamu tuduhkan kepada saya menjadi sebuah kenyataan. Dan sekarang kamu masih mengatasnamakan sebuah pernikahan setelah apa yang kamu lakukan pada saya. Saya memang murahan, saya perempuan tidak baik, saya tidak pantas dengan mu dan saya mmmmmmp." luapan kekesalan Tari terhenti ketika Bara mencium bibir Tari dengan menekannya.
Tari mendorong tubuh Bara sekuat mungkin namun Bara terus menciumi bibir Tari dengan rakusnya, itu pelajaran yang di berikan Bara kepada Tari karena sudah terlalu banyak bicara.
Bau tembakau khas dari mulut Bara menggelitik mulut Tari membuat Tari terasa sedikit terlena apalagi ciuman Bara yang awal nya kasar lama kelamaan menjadi lembut.
Sial bagi Bara, ingin memberikan sebuah pelajaran kepada Tari malah dia ikut menikmati bibir manis Tari. Lipstik apa yang di gunakan perempuan itu, bibir itu terasa manis seperti madu dan bibir itu terasa kenyal bagaikan jeli.
__ADS_1