
"Tari, apa yang terjadi kemarin? Omah lihat kamu dari kemarin setelah pulang berbelanja kamu terlihat murung dan tidak bersemangat." tanya Omah penasaran dengan perubahan sikap Tari.
Tari menatap wajah Omah lalu mencari keberadaan kedua anak-anaknya. "Anak-anak dimana?" tanya Tari seraya menengok ke kiri-kanan.
Omah yang mengetahui maksud Tari pun menjawab pertanyaan Tari itu. "Anak-anak sudah berangkat, mereka antusias sekali karena ini kali pertamanya mereka masuk sekolah kembali." ujar omah.
Tari tidak langsung menjawab akan hal yang membuat omah penasaran. "Ada apa Tari? Coba kamu ceritakan semua pada omah." bujuk omah lembut.
Tari menarik nafasnya dalam-dalam lalu membuangnya secara kasar. "Kemarin aku bertemu dengan dia omah." ucap Tari.
"Laki-laki itu?" tanya Omah meyakinkan atas apa yang ia dengar.
Tari mengangguk membenarkan. "Bagaimana bisa dan dimana kalian bertemu?" tanya Omah sedikit terkejut.
Tari menggelengkan kepalanya ia pun merasa tidak percaya akan di pertemukan dengan nya. "Untung saja dia tidak mengenali atau pun mengingat aku. Ini yang membuat ku takut, yaitu bertemu dengan nya, hal seperti inilah yang selama ini ingin aku hindari namun Tuhan malah mempertemukan aku dengan nya, dan pertemuan kami pun pertemuan yang sangat buruk." jelas Tari bercerita. "Kalau saja ayah tidak sedang sakit dan tidak meminta ku untuk tinggal di sini, mungkin aku sudah kembali dan tinggal di luar negeri lagi." sambung Tari merasa tidak nyaman.
Omah Mayang menghela nafas panjang. "Ya takdir lah yang mungkin mempertemukan kalian berdua." ujar Omah.
"Untuk apa omah? Aku tidak menginginkan pertemuan ini terjadi, malah dia itu terlihat sangat membenci ku, jadi untuk apa Tuhan mempertemukan ku dengan dia." ucap Tari tidak terima.
"Kamu jangan bicara seperti itu Tari, hidup kita dan mati kita sudah diatur oleh Tuhan, termasuk dengan takdir." omel omah tidak terima akan ucapan Tari.
"Bukan begitu omah, aku hanya tidak mau berurusan lagi dengan laki-laki itu, walaupun memang dia adalah ayah dari ke tiga anak kembar ku." jelas Tari meralat akan ucapan nya itu.
"Kalau kamu memang tidak suka ya sudah tidak usah kamu pikirkan laki-laki itu, sekarang yang penting kamu harus semangat untuk membuka usaha yang akan kamu buka, apa semua sudah siap?" ujar Omah mengalihkan pikiran Tari agar tidak murung karena pertemuan nya dengan laki-laki itu.
"Iya benar omah, aku harus semangat membuka usaha kembali, untuk apa juga aku memikirkan laki-laki itu, toh mungkin aku tidak akan bertemu dengan nya lagi." sambung Tari dengan sangat yakin, ia sudah merasa semangat kembali.
"Lalu kapan akan kamu mulai membuka toko mu itu?" tanya Omah.
"Besok omah, sekarang aku akan menyediakan semua barang yang di butuhkan, dan sekaligus membereskan pekerjaan kemarin yang belum selesai." ujar Tari.
"Bagus lah, semakin cepat toko kamu buka semakin lebih baik kan. Orang akan tahu kue-kue enak buatan kamu." ucap omah yang memberikan semangat dan di angguki Tari.
*
*
*
Ke esokan hari nya Tari pun memulai usaha membuka kue nya itu, dengan di bantu oleh dua karyawan nya yang baru saja ia terima, karena Tari baru saja membuka tokonya, Tari pun hanya bisa menerima dua karyawan saja, dua-duanya berjenis perempuan. Tari pun menyuruh salah satu karyawan nya itu untuk menyebarkan brosur daftar-daftar kue yang di jual oleh Tari yang ia beri nama *triplets cake* nama itu ia ambil karena anaknya yang kembar tiga.
Sempat nama itu menjadi pertanyaan dari kedua anak kembarnya, mereka bertanya kenapa nama toko ibunya di berikan nama itu, Tari pun sempat kelimpungan untuk menjawab pertanyaan dari kedua anaknya, dengan kebohongan yang Tari ucapkan demi menyembunyikan rahasia itu Tari membohongi kedua anaknya itu, alasan Tari simpel yaitu karena anaknya kembar dan Tari ingin menjadi saudara kembar nya, padahal yang sebenarnya dia tidak ingin melupakan anak keduanya yaitu Angkasa.
Untung saja mereka percaya, dan akhirnya Tari pun bisa bernafas lega dan di ambilah nama itu. Padahal anak kembar Tari itu hanya berpura-pura percaya akan ucapan Tari, yang sebenarnya Langit dan Bintang sedang mencari sesuatu informasi ibu nya berserta keluarga ibunya yang terlihat banyak menyembunyikan sebuah rahasia pada mereka.
__ADS_1
Tari bukan tidak ingin menceritakan kisah kasih hidup nya dulu, namun belum saatnya mereka tahu bagaimana kondisinya dulu. Ya walaupun anak kembarnya memiliki otak yang sangat jenius namun mereka masih anak-anak, mereka belum pantas saja jika tahu bagaimana kejadian mereka hadir di dunia ini.
Mereka sempat bertanya dimana ayahnya berada, kenapa mereka tidak pernah dipertemukan bahkan foto ayahnya pun mereka tidak tahu sama sekali, dan dengan yakin nya Tari mengatakan pada mereka bahwa ayahnya sudah meninggal, dan Tari bilang jika dia belum sempat berfoto dengan ayahnya. Alasan Tari berkata seperti itu karena Tari yang begitu sangat membenci laki-laki yang sudah menghamilinya itu, ia juga merasa yakin jika dia tidak akan pernah bertemu dengan laki-laki itu, namun takdir berkata lain Tari malah bertemu dengan nya, tapi untungnya saja dia tidak mengingat nya karena kejadian naas itu Bara melakukan nya secara tidak sadar, ia tidak mengingat sama sekali perempuan yang ia hamili.
Bara, setelah menerima seorang bayi laki-laki yang diberikan dari ibu tua itu sempat terkejut jika perempuan yang ia tiduri sampai mengandung anaknya, ia pun sadar jika sudah melakukan hubungan terlarang dengan seorang perempuan itu dia juga ingat perempuan yang ia tiduri masih perawan karena terlihat dari noda setelah malam indah itu terjadi.
Bara tidak percaya begitu saja, bisa saja kan anak laki-laki itu bukan anaknya, maka ia pun meminta dokter hebat untuk tes DNA bayi laki-laki yang sekarang tinggal bersamanya. Dan ternyata bayi laki-laki itu memang 99% cocok dengan dirinya, berarti memang benar bayi itu adalah anak kandungnya.
Bara tidak berniat mencari identitas perempuan yang ia hamili karena menurut ibu tua yang memberikan bayi itu padanya, jika ibu dari bayi itu sudah meninggal, walaupun sebenarnya Bara sangat penasaran dengan perempuan yang ia hamili.
Semakin besar anak kandungnya itu tumbuh, semakin besar anak itu sangat mirip dengan nya, dari wajah nya, sifatnya dan juga perilakunya tidak jauh dengan Bara.
Ya Bara Antony pengusaha kaya yang arogan, sombong dan pemarah sama seperti namanya Bara api yang selalu meledak-ledak mewakili seperti sifat dan tingkah lakunya yang sangat tidak boleh di tiru.
"Bagaimana Susi sudah kamu sebar brosur daftar kue nya?" tanya Tari saat ia melihat salah satu karyawan nya membagikan brosur kue.
"Sudah kak, semua sudah habis, mereka antusias menerima nya, mungkin karena kita masih ada promo." jelas Susi. "Tapi aku yakin sih kak setelah mereka coba mereka gak bakal butuh kue promo karena kue buatan kakak ini enak." puji Susi yang sedang menikmati kue yang di sediakan Tari, sebagai karyawan, Tari berikan gratis.
"Emh kamu bisa aja, ya mudah-mudahan mereka suka ya." ucap Tari penuh harap.
"Aamiin." ucap Susi dan juga Lara karyawan satunya lagi.
Tak lama ada seorang ibu-ibu yang datang ke toko kue Tari, dia pun menghampiri Tari dan kedua karyawan nya yang sedang bercanda sambil menunggu pembeli.
"Maaf ini benar kue di sini masih ada promo?" tanyanya langsung.
"Saya mau beli ini, ini dan ini." tunjuk nya. "Berati kalau saya beli seperti ini kue nya jadi doubel kan?" tanya nya agak malu.
Tari tersenyum. "Iya Bu, sampai promo ini habis waktunya ibu bisa kok dapat doubel." jelas Tari.
"Ah seperti itu ya. Boleh saya mencobanya?" ijin nya.
"Silahkan." jawab Tari ramah.
Ibu itu mengambil kue kering lalu mencobanya. "Wah ini enak sekali, renyah dan gak bikin eneg." puji nya seraya memakan kue itu.
"Wah teman-teman saya pasti suka." sambung nya.
"Ya sudah berapa jadi nya mbak kue yang tadi saya pilih." ucapnya.
Karyawan Tari pun menghitung dan memasukkan kue itu ke dalam paper bag yang sudah di sediakan Tari.
"Semua hanya seratus ribu saja." ucap Susi lalu ibu itu memberikan uang padanya.
"Terima kasih Bu, semoga ibu menjadi langganan toko kue kami." ucapnya dengan senyum.
__ADS_1
"Baik terima kasih ya." ucapnya lalu pergi.
Tak lama ada pembeli lagi dan itu pun lumayan lah untuk hari pertama Tari membuka tokonya.
***
Di sebuah rumah besar, mewah bak seperti istana, anak laki-laki tampan dengan sikap dinginnya tengah menuruni tangga, ia pun langsung menuju dapur, karena perutnya yang terasa lapar.
Ia pun melihat sebuah paper bag yang ada di atas meja, dan belanjaan bibi pembantu nya.
"Bi... bibi." panggil nya dengan berteriak.
"Ada apa den?" tanya bibi itu dengan tergesa-gesa. Ia baru saja dari kamar mandi.
"Aku lapar." ucapnya cepat dan irit.
"Baik den akan bibi siapkan!" ucap bibi itu dengan cepat menyiapkan makanan untuk tuan mudanya.
"Buruan bi aku laper banget." ucapnya lagi.
"Sebentar den." sahut bibi mulai panik karena tuan muda nya ingin cepat.
"Ini apa?" tanyanya melihat pada paper bag yang ada di meja.
"Itu kue den, tadi bibi beli di toko kue." jelas bibi. "Kue yang masih promosi hehe." sambung nya cengengesan.
Dengan wajah datarnya tuan muda yang di beri nama Ken itu pun membuka kue yang ada di dalam paper bag itu, lalu mengeluarkan sebagian kue itu dan melahap nya tanpa permisi dan meminta pada bibi pembantunya itu.
"Enak." ucap Ken singkat seraya menikmati satu persatu kukis itu dengan lahap.
"Eh den kok makan kue itu?" bibi terkejut dengan majikannya yang dengan lahap nya memakan kue itu.
"Kenapa? Nanti aku ganti uang bibi, bibi beli lagi saja." ucapnya tanpa dosa dengan mulutnya yang penuh dengan kue buatan Tari.
"Bukan begitu den, biasanya kan Aden gak suka makan sembarangan, lagi pula den Ken kan mau makan, ini makanan nya sudah siap." ucap bibi merasa takut, apalagi jika tuan Bara tahu, dia pasti marah karena den Ken memakan makanan sembarangan.
"Aku laper bi, perut ku udah gak kuat, kue nya juga wangi banget bikin ketagihan aku suka." puji nya dengan terus melahap kue itu.
"Bibi beli dimana kue ini?" tanya Ken penasaran.
"Ada di jalan dekat dengan perkantoran depan den, kebetulan toko kue nya baru buka, masih ada promo, makanya bibi beli. Tadi bibi coba di sana, kue nya memang enak." ujar bibi pun memuji nya.
"Kue ini buat aku semua ya, nanti kalau bibi kesana lagi tolong belikan untuk ku." ucapnya dengan membawa sisa kue yang ia makan seraya pergi menaiki tangga menuju kamarnya.
"Tapi den, ini makan nya gak jadi?" tanya bibi sedikit berteriak karena majikannya sudah agak menjauh.
__ADS_1
"Gak, buat bibi aja, aku mau lanjut makan kue aja." sahut nya dengan berteriak juga.
"Aduh si Aden, bagaimana ini makanan sudah bibi siapkan malah tidak di makan." ucap bibi menghela nafasnya panjang melihat makanan yang sudah ia siapkan tanpa Ken sentuh sama sekali.