
Tari kini sedang bersama ketiga anaknya di dalam kamar yang sudah di sediakan Bara untuk Bintang, ketiga anaknya memang sudah menempati kamar masing-masing karena mereka sudah tumbuh menjadi anak-anak bukan balita lagi, lagi pula mereka memiliki kegiatan yang mereka sukai di dalam kamar masing-masing.
Bintang yang belum terbiasa tidur di kamar sendirian pun mengajak kakak kembarnya untuk bermain sebelum mereka tidur.
"Dasar payah, kamu sudah besar harus nya sudah bisa tidur sendiri." cibir Langit. "Ayok Ken tinggalkan saja dia, biarkan dia belajar tidur sendiri!" ajak Langit kepada Ken.
"Kalian jahat!" cebik Bintang kesal. Lalu ia menatap ke arah Tari. "Ibu bagaimana jika ibu saja yang tidur bersamaku?" rengek Bintang begitu penuh harap.
"Jangan Bu, jangan tidur dengan Bintang. Bintang, ibu baru saja menikah dengan Daddy, biarkan mereka tidur bersama." cegah Langit dengan cepat.
"Ti... tidak apa-apa nak, ibu mau kok tidur bersama Bintang, tidak masalah bagi ibu tidur bersama Bintang." jelas Tari menolak secara tidak langsung untuk tidur bersama Bara.
"Tapi Bu... Ibu dan Daddy adalah suami istri jadi lebih baik tidur bersama." ungkap Ken pun memihak kepada Langit.
"Tapi memang ibu tidak apa-apa jika tidur bersama Bintang, ya kan Bintang? Kamu mau kan tidur bersama ibu?" tawar Tari mencoba bujukan nya mempan kepada putrinya yang penakut.
Bintang mengangguk penuh dengan semangat. Namun kedua saudara kembarnya menggeram kesal. "Bintang....!" teriak Ken dan Langit secara tertahan.
"Sudah malam, kenapa kalian belum tidur?" suara bariton terdengar tegas di depan pintu kamar Bintang, membuat penghuni kamar Bintang menoleh secara bersamaan pada arah dimana suara terdengar. Kecuali Tari ia hanya mendelik saja.
"Bintang tidak mau tidur sendiri Daddy, padahal usianya sudah bukan balita lagi." terang Ken dengan sebal karena Bintang menggagalkan rencana dia dan Langit yang ingin menyatukan ibu dan Daddy nya.
Bara menatap lembut ke arah Bintang lalu menghampiri nya. "Bintang kamu harus berani nak, kamu sudah besar dan tidak boleh tidur bersama kedua saudara kembar kamu karena mereka semua laki-laki." rayu Bara dengan lembut. "Lagi pula tidak perlu ada yang di takutkan di sini, rumah ini sudah di jaga oleh security dan di rumah ini juga banyak sekali orang yang bekerja seperti bi Milah contoh nya, di sini juga ada Daddy dan kedua saudara mu, jadi kamu tidak usah takut, ok!" ucap Bara mengelus lembut kepala putri nya yang membuat sikapnya bisa melembut.
Bintang mengangguk. "Baiklah Daddy aku mengerti." ucapnya paham.
"Bagus anak yang baik." puji Bara dengan senyum tipis nya.
Tari seakan ingin muntah darah dan ingin menggaruk kepalanya yang tiba-tiba gatal, ketika melihat dan mendengar ucapan Bara kepada Bintang barusan, sungguh berbeda perlakuan nya jika kepada Tari selama ini.
"Ya kamu harus berani, agar ibu bisa beristirahat dengan Daddy di kamar Daddy. Iyakan Daddy?" tanya Ken langsung menatap Bara dengan penuh semangat.
Bara tidak bisa berkata apa-apa di tanya langsung seperti itu oleh anaknya dan di tatap serius oleh ketiganya.
Tari langsung panik lalu ia pun mencoba merayu Bintang. "Ibu bisa tidur bersama Bintang, ya kan Bintang? Ibu akan menemani kamu tidur dan sebelum tidur ibu juga bisa menceritakan sebuah dongeng sebelum kamu tidur." rayu Tari dengan senyuman lembut penuh kepada Bintang agar ia di ijinkan tidur bersamanya, lebih baik seperti itu kan???
Kedua saudara kembarnya memberikan sebuah kode kepada Bintang tanpa ibu dan Daddy nya ketahui. "Emh tidak ibu, ibu harus tidur bersama Daddy, karena aku ingat beberapa teman ku pernah bercerita jika ayah dan ibunya selalu tidur bersama dalam satu kamar, karena mereka adalah suami istri." terang Bintang menjelaskan dengan bahasa anak polos nya mengerti dengan maksud kedua saudara kembarnya.
Tari panik kembali. "Tapi tidak apa-apa jika untuk sementara ibu tidur bersama kamu nak." mohon Tari.
__ADS_1
"Maaf ibu, bukan aku tidak mau, tapi ibu juga selalu bilang padaku, kalau aku sudah besar dan harus berani tidur sendirian. Ibu ingat kan?? Dan sekarang aku pastikan jika aku bisa tidur sendiri." ucap Bintang dengan pasti.
Tari lemah tidak berdaya perkataan Bintang benar, dia selalu menyuruh anak-anak untuk tidur masing-masing, selain mereka sudah besar dan harus berani, mereka pun berbeda jenis kelamin.
"Ya kamu benar nak." ucap Tari dengan helaan nafasnya.
"Ayok Daddy ajak ibu beristirahat di kamar bersama Daddy. Huaaa kami juga sudah mengantuk." Ken dan Langit pun berpura-pura dengan menguap.
"Ya, kalian istirahat lah, Daddy dan ibu kalian akan istirahat juga." ucap Bara dengan suara gugup nya seraya melangkahkan kakinya untuk keluar kamar Bintang sedangkan Tari dia diam saja, ia kesal dengan ketiga anaknya yang tidak mengerti bagaimana hubungan Bara dengannya itu.
"Daddy...!" panggil anak-anaknya secara serempak.
Bara membalikkan tubuhnya melihat ke arah anak-anak. "Ya." sahut Bara pendek.
"Ayok Bu." Bintang mengulurkan tangannya kepada Tari lalu menatap Tari dan mengangguk pelan kepada ibunya.
Tari menerima uluran tangan Bintang tanpa ragu dan tanpa ada rasa curiga.
"Gandeng tangan ibu Daddy, jangan meninggalkan nya, ajak ibu ke kamar Daddy bersamamu." ucap Bintang dengan menautkan tangan ibunya dan tangan Daddy nya agar saling memegang dengan erat membuat Bara ataupun Tari menjadi salah tingkah, namun mereka tidak bisa berbuat apa-apa karena takut membuat mereka kecewa.
"Nah begitu, itu pemandangan yang kami inginkan selama ini, kami bahagia melihat Daddy dan juga ibu seperti ini selalu bersama." ujar Bintang dengan riang dan di sambut bahagia oleh Ken dan juga Langit.
"We love you dad and mom." teriak ketiga anak kembarnya itu dengan senang.
"We love you sayang." balas Tari dengan senyuman lembut nya, ia bahagia melihat anak-anaknya bahagia walaupun hidup dalam kepura-puraan di dalam pernikahan nya itu.
"Sudah sana Daddy dan ibu harus beristirahat." usir Bintang seraya mendorong pelan tubuh kedua orang tuanya keluar kamar nya di ikuti oleh Ken dan juga Langit yang akan masuk ke kamar mereka masing-masing.
Tari dan Bara masih berpegangan mesra bahkan sedikit Tari bergelayut manja di lengan Bara dengan sesekali tersenyum kepada anak-anak nya sama halnya dengan Bara ia pun tersenyum lembut kepada kedua putranya yang belum sampai ke kamar nya.
Namun saat anak-anak mereka sudah memasuki kamar mereka masing-masing dan Bara dan Tari sudah memasuki kamar mereka juga, Tari langsung melepaskan pelukan manja nya dengan kasar dan Bara pun sama halnya menunjukkan rasa tidak suka nya.
Tari melototkan kedua matanya dengan horor menatap ke arah Bara. "Ini karena anak-anak!" ungkap nya ketus dan tegas.
"Saya juga demi anak-anak!" balas Bara sama sengit nya.
Tari mendelik tidak suka, lalu melewati tubuh Bara melangkahkan kakinya berjalan menuju ke arah sofa yang ada di dalam kamar Bara, karena ia tidak berani duduk apalagi tidur di ranjang yang sama dengan laki-laki bernama Bara Antonio itu. Lelah rasanya jika terus berdebat dengannya lagi.
Bara menarik nafasnya lega, bukan karena Tari yang tidak mau berdebat dengan nya lagi, tapi lega karena tadi saat tangan Tari bergelayut manja di lengannya dan saat mereka berjalan untuk masuk berduaan tadi, lengannya begitu hangat dan ada sesuatu yang tersentuh, kenyal-kenyal seperti jeli yang membuat lengan Bara yang tidak terhalang oleh kain pun meremang seketika.
__ADS_1
Bara langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk menetralisirkan hati dan pikirannya yang bertolak belakang. Sedangkan Tari ia merasa canggung berduaan di dalam kamar bersama seorang laki-laki dewasa.
"Aku harus tidur dimana ini?" gumam Tari bingung dengan menatap ranjang yang cukup besar jika di isi dengan dua orang.
Tari menarik nafasnya dalam-dalam. Lalu mendesah berat. "Aku harus kuat, ini demi anak-anak." ucap Tari dalam hatinya dengan mantap.
"Tapi sampai kapan?" batin Tari kembali desah dengan tidak semangat nya. "Aku benar-benar terjebak dalam pernikahan ini." lirih nya dalam hati.
"Ah lupakan saja lah, lebih baik sekarang aku tidur dan beristirahat agar aku bisa mengumpulkan kembali tenaga ku yang terkuras agar besok aku kuat untuk berdebat dengan si batu Bara itu." ucap Tari dengan begitu lelah seraya merebahkan tubuhnya yang lelah di sofa itu dengan memiringkan tubuhnya ke samping, tak butuh lama Tari pun terlelap dalam tidurnya yang tanpa menggunakan bantal maupun selimut di sana. Untung saja Tari saat ini memakai pakaian yang cukup sopan dan tidak akan membuat belahan kemana-mana.
Ceklek... pintu kamar mandi terbuka, Bara keluar dari sana sudah dengan berganti pakaian tidur nya. Bara terbiasa menggunakan pakaian tidur saat ia akan tidur.
Bara langsung melihat ke arah Tari yang berada di sofa dengan mata yang sudah terpejam dan terdengar dengkuran halus dari sana menunjukkan bahwa Tari memang sudah tertidur dengan pulas.
Bara melangkahkan kakinya dengan pelan menuju ranjang yang akan ia tempati. Ia melihat siluet tubuh Tari yang tertidur di sana, tepat di depan mata nya karena sofa itu mengarah ke arah ranjang dimana Bara tempati. Tapi tidak ada hati Bara yang membuat hatinya terenyuh melihat seorang perempuan tidur di sofa nya tanpa sehelai selimut dan sebuah bantal di dekatnya, sedangkan dia tidur dengan nyaman di ranjang dengan size besar dan selimut yang hangat beserta bantal dan guling di dekatnya. Sungguh teganya kau Bara.
"Dasar perempuan sombong! Aku tidak menyuruh mu tidur di sofa. Coba saja seberapa kuatnya kamu untuk tinggal di sini bersamaku!" batin Bara dengan seringai di wajah nya. "Aku akan pastikan kamu perlahan meninggalkan anak-anakku." tambah nya dengan tatapan tajam mengarah pada Tari yang sudah tertidur.
*
*
*
Pagi hari, Tari yang merasa lehernya sakit pun terbangun lebih dulu, karena memang semalam pun dia tidak begitu nyenyak, maka menjelang subuh Tari sudah bangun. Ia mendengus kesal melihat begitu nyamannya tuan arogan itu tertidur di kasur empuknya itu.
"Dasar laki-laki tidak punya perasaan!" dengus Tari dengan kesal melihat dirinya tidur tanpa di berikan selimut. Pantas saja udaranya sangat dingin yang ia rasakan.
"Aduh sepertinya aku masuk angin ini." batin Tari merasakan tidak nyaman di dalam perut nya. "Sepertinya aku harus mandi." gumam nya seraya melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.
Tari pun mandi, namun setelah mandi ia kebingungan karena tidak memiliki pakaian ganti, ia baru ingat jika dia datang kemari tanpa membawa pakaian karena mendadak.
"Aku harus pakai baju apa? Aku tidak membawa pakaian ganti." frustasi Tari di dalam kamar mandi.
Tari pun mencoba mencari pakaian yang bisa ia pakai di lemari Bara. "Bodo amat lah si batu Bara itu marah karena lemari nya aku acak-acak." ucap Tari seraya mencari pakaian santai yang di miliki Bara dan celana yang pas dengan tubuh nya.
"Ini sepertinya pas dengan ku." senang Tari mendapatkan pakaian yang ia cukup pas di tubuhnya.
"Ya ampun ini baju apa taplak meja sih!" gerutu Tari melihat penampilan nya di cermin. "Ini baju yang paling kecil tapi kenapa tubuh ku tenggelam seperti ini." gumamnya seraya berputar-putar melihat pakaian yang ia pakai di tubuh nya. Lalu Tari pun mengikat ujung bawah kaos itu dari ujung ke ujung dan menggulung lengan kaos itu sehingga terlihat lebih kekinian.
__ADS_1
"Hemm lumayan kalau begini." gumam Tari merasa cukup cocok. Dengan warna kaos berwarna hitam cocok sekali pada Tari yang memiliki kulit putih dan bersih. "Ow celana nya." Tari memakai celana training pendek yang sering Bara gunakan untuk ia berolahraga gym yang sangat pendek di pakai Bara namun jika dipakai oleh Tari itu lumayan sampai di atas lutut sedikit. "Lumayan juga." gumamnya seraya cekikikan melihat pakaian yang ia pakai. Untung saja Tari membawa pakaian dalam untuk berganti karena terbiasa selalu ganti saat dia berada di toko kue nya jika di butuhkan.
Tari langsung keluar dari kamar ganti ia berniat keluar kamar untuk membuat sarapan pagi untuk anak-anaknya, dan melihat Bara yang masih tertidur dengan pulas, cukup tampan Tari akui saat dia sedang tertidur lelap seperti itu, namun Tari tidak mau memperhatikan nya lebih lama selain takut ketahuan bila mana tiba-tiba Bara terbangun Tari pun takut jatuh cinta pada laki-laki arogan itu. Tari bergidik ngeri saat membayangkan jika dirinya jatuh hati pada laki-laki menyebalkan itu.