Tuan Arogan Untuk Anakku

Tuan Arogan Untuk Anakku
menghilangkan jejak


__ADS_3

Di sebuah ruangan bercat putih itu seseorang tengah menerima sebuah panggilan telepon dengan mata gelap dan penuh dengan emosi yang tertahan.


"Jadi dia gagal?!" geram nya dengan kesal.


"Ya tuan, tuan Bara yang menyelamatkan anaknya dengan cepat." sahut nya di sebrang sana dengan takut.


"Dia benar-benar bodoh!" umpat nya. "Dia tidak becus! Kenapa kamu membiarkan orang bodoh melakukan hal ini?! Seharusnya kamu mencari orang yang kompeten!" geram nya dengan nada dingin.


"Maaf tuan, saya pikir dia akan melakukan hal ini dengan baik." ucapnya penuh ketakutan. "Dan keadaan nya sekarang sedang kritis di rumah sakit akibat kecelakaan itu." jelasnya.


"Habisi dia, dan ingat jangan sampai ada yang mencurigai mu!" titah nya tanpa peduli.


"Ba...baik tuan." jawabnya dengan gugup karena ia akan menghabisi nyawa temannya sendiri.


Setelah putus nya panggilan telepon itu, dia menatap dengan matanya yang nyalang.


"Ini baru awal tuan Bara yang terhormat. Aku akan pastikan setiap rencana ku nanti tidak akan gagal seperti ini." tekad nya penuh kebencian.


Lalu dia menekan nomor seseorang yang sangat ia inginkan untuk hadir di sini dengannya, namun panggilan dia berkali-kali tidak di jawab membuat dirinya semakin kesal.


"Sial!" umpat nya dengan kesal dengan frustasi.


"Aaaahk..." ringis nya. "Sakit sialan!" ringis nya dengan sangat emosi.


*


*


*


Waktu sudah malam, hari mulai gelap, Bara baru saja pulang dari urusan nya. Melihat itu Tari pun menghampiri Bara untuk menyambut nya pulang, sekaligus penasaran dengan apa yang terjadi siang ini.


"Antoni sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Tari saat melihat suaminya itu pulang.


Bara menarik nafasnya menatap Tari dengan tatapan datar nya tanpa mau menjawab pertanyaan Tari yang sangat penasaran. Tanpa berkata apa-apa lagi Bara melewati tubuh Tari seraya melangkahkan kakinya menuju kamarnya.


Tari merasa kecewa karena Bara tidak menjawab pertanyaannya. Rasa cemas dan khawatir nya Tari yang memikirkan setiap kejadian di buatnya kesal karena sikap Bara.


Tari menghela nafasnya panjang seraya menatap tubuh Bara yang semakin menjauh. "Sabar Tari... sifat suami mu memang seperti itu, dia tidak akan langsung berubah sesuai keinginan mu." gumam Tari dengan pelan namun sesak dalam hati.


"Mungkin dia sedang lelah sekarang, aku akan tanyakan kembali nanti setelah mood nya membaik." tekad Tari mencoba menenangkan diri dan hatinya.


Tari pun membuat minuman hangat, lemon tea hangat kuku kesukaan Bara, dan ia membawa nya ke kamar.


Saat ia masuk ke dalam kamar, Bara sedang berada di kamar mandi dan terdengar gemericik air di sana.


"Hemm ternyata dia sedang mandi." gumam Tari melihat ke arah pintu kamar mandi.


Tari pun memutuskan untuk menunggu Bara sampai selesai mandi.


Tak lama Bara pun keluar dari kamar mandi dengan tubuh dan rambut yang basah dengan hanya melilitkan handuk di pinggangnya.


Melihat itu Tari sudah terbiasa, namun wajah Bara yang tidak enak di lihat karena Bara hanya menekuk saja membuat Tari merasa heran.

__ADS_1


"Apa kamu lelah? Sini aku akan membantu mu mengeringkan rambut." tawar Tari dengan memegang handuk kecil di tangan nya yang sudah ia siapkan.


Bara pun tidak banyak bicara, namun ia pun menerima tawaran istrinya itu. Tari mengeringkan rambut Bara dengan lembut dan memberikan sedikit pijatan di sana.


Bara menikmati sentuhan itu, ia pun dengan nyaman merasakan pijatan di kepala nya yang sedang pusing itu.


"Aku sudah buatkan lemon tea hangat untuk mu." ucap Tari memberi tahukan pada Bara. "Mau di minum sekarang? Mumpung masih hangat." tawar Tari dengan lembut.


Bara mengangguk mengiyakan tawaran Tari itu. Dengan beberapa tengguk Bara pun menghabiskan minuman buatan Tari itu.


"Terima kasih." ucap Bara dengan memberikan gelas kosong pada Tari.


Tari mengangguk pelan lalu tersenyum lembut dan itu membuat Bara tenang.


"Apa kamu ingin makan?" tanya Tari menawarkan, Bara menggelengkan kepalanya.


Setelah berpakaian, Tari yang hendak pergi pun di cegah oleh tangan Bara.


"Aku ingin bicara." ucapnya.


Di tariknya tangan Tari itu dengan lembut membawanya untuk membicarakan apa yang tengah terjadi akhir-akhir ini.


"Kamu ingin tahu tentang kejadian tadi kan?" ucap Bara menatap lembut dan penuh ke kekhawatiran yang Bara tampakan.


Tari mengangguk pelan. "Apa yang sebenarnya terjadi?" penasaran Tari menatap lekat wajah suaminya itu.


Bara mengusap kepala Tari dengan lembut sebelum ia bercerita. "Ada apa? Jangan membuat aku takut." ucap Tari dengan sangat cemas.


"Mentari. Aku sudah menemukan siapa dalang yang ingin mencelakai mu kemarin di rumah sakit." ujar Bara dengan serius.


"Dengarkan aku bicara dulu." lembut namun dengan ekspresi wajah sedikit kesal. Tari mengangguk.


"Orang yang ingin mencelakai kamu adalah Tania saudara tiri mu itu." ujar Bara dengan tatapan serius nya.


"Aa....pa? Ta ... Tania?" kejut Tari tidak menyangka jika saudaranya masih ingin berniat jahat padanya.


"Ya, aku dapatkan bukti dari seseorang ketika aku memerintahkan Al untuk mencari tahu kembali bagaimana kejadian itu bisa terjadi, dan sebuah Video yang tidak sengaja terekam oleh seseorang itu menjadi bukti bagaimana Tania memilki niat jahat seperti itu." terang Bara dengan geram.


Tari terhuyung dengan mata yang mulai berkaca-kaca, ia tidak menyangka jika Tania masih saja mau berbuat jahat padanya.


"Kenapa Tania melakukan hal seperti itu? Apa saking benci nya dia padaku?" lirih Tari dengan sendu.


Bara menarik tubuh Tari ke dalam dekapannya dan mengelus lembut punggung Tari, memberikan ketenangan pada istrinya itu.


"Apa salahku Antoni, kenapa aku memiliki saudara seperti itu?" isak Tari pun dengan lirih.


"Aku tidak pernah jahat padanya, malah aku menyayangi nya seperti saudara kandung ku, tapi..." isak Tari tidak bisa melanjutkan ucapannya itu, ia begitu sedih dengan perlakuan adik tiri nya itu pada nya. Mengingat jaman mereka masih kecil, ketika ibu tiri nya yang hanya sayang pada Tania saja, ketika Tari harus selalu mengalah demi Tania yang selalu tak mau kalah.


"Sudah jangan menangis, jangan akui dia sebagai saudara mu lagi, dia tidak pantas menjadi saudara mu." ucap Bara terdengar kesal karena perlakuan Tania pada istrinya itu.


Tari masih terisak dalam dekapan Bara, berulang kali Tania menjebaknya dan berulang kali Tania ingin mencelakai nya, Tari tidak habis pikir, apa motif Tania yang selalu ingin membuat Tari celaka dan bahkan mati.


Tari mendongak menatap wajah Bara dengan wajahnya yang memerah karena menangis. "Apa polisi tahu jika Tania lah yang ingin menusuk ku?" tanyanya.

__ADS_1


"Memenjarakan perempuan itu tidak cukup kejam sayang dan tidak sebanding dengan apa yang dia lakukan padamu." jawab Bara dengan ekspresi jahatnya.


Tari mengerutkan dahinya dalam-dalam. "Lalu apa maksud mu?" bingung kini tampak di wajah Tari.


"Anak buah ku yang akan memberikan dia pelajaran." sahut Bara dengan ekspresi dinginnya. "Sudahlah tidak usah kamu pikirkan perempuan itu, aku sudah mengurung dia di dalam bawah tanah agar dia jera dengan perbuatannya, apalagi dia sudah berkali-kali ingin berurusan dengan ku!" geram Bara terlihat dari raut wajahnya.


"Antoni bagaimana jika dia tidak kuat berada di sana, dan bagaimana jika keluarga ku mencari dan mengkhawatirkan nya?" resah yang kini Tari rasakan, walau bagaimanapun Tania adalah keluarga nya.


"CK..." Bara berdecak tidak suka. "Kamu masih mengkhawatirkan perempuan jahat seperti dia!" kesal nya. "Jika perempuan itu di biarkan dia akan terus menyakiti mu dan pasti akan mencoba untuk mencelakai mu lagi. Bahkan mungkin anak-anak kita nantinya."


Tari terdiam mencoba untuk menyerap ucapan Bara. "Ya kamu benar." gumam Tari dengan pelan.


"Sudah tidak perlu kamu memikirkan dia, perempuan itu anak buah ku yang akan mengurus nya, kamu sedang hamil tidak baik jika kamu stres, kamu harus selalu bahagia." ujar Bara menenangkan Tari yang terlihat sangat sedih.


Tari menarik nafasnya dalam-dalam, menetralisirkan hati nya saat ini. Ia benar-benar merasa sangat terpukul.


Setelah Tari mulai tenang, ia jadi mengingat kecelakaan yang menimpa anak-anak tadi siang.


"Antoni." panggil Tari, Bara yang sedang mengelus pipi Tari pun masih asyik dengan gerakan nya. "Hemmm." sahut nya tanpa mengehentikan kegiatan nya itu.


"Soal kecelakaan mobil tadi siang yang akan menimpa pada anak-anak bagaimana? Apa itu sudah di tangani?" tanya Tari dengan tatapan seriusnya.


Gerakan Bara pun terhenti saat ia mendengar pertanyaan Tari.


"Masih di selidiki, pelaku penabrakan itu masih dalam keadaan kritis di rumah sakit. Aku belum bisa mendapatkan keterangan darinya, apa ini benar-benar murni kecelakaan atau dia sengaja melakukan hal ini." imbuh Bara dengan sorot mata yang gelap.


"Sepertinya kecelakaan ini murni tidak di sengaja, pelaku nya saja sampai kritis seperti itu, tidak akan ada orang bodoh yang ingin merelakan nyawanya sendiri dalam hal ini. Jika dia memang sengaja pasti dia mempersiapkan penjagaan untuk nyawanya agar tidak menjadi korban." jelas Tari membuat Bara terdiam, ntah kenapa Bara belum cukup puas jika belum mengintrogasi pelaku itu secara langsung, pemikiran Tari dengan nya sangat jauh berbeda, jika Tari akan berpikir secara logis dan polos sedangkan Bara ia akan berpikir lebih karena keras nya hidup sebagai pengusaha tidak akan jauh dari yang namanya saling mencari kelemahan.


Suara dering membuat Bara kembali dalam pikirannya, ia langsung meraih benda pipih itu dan langsung menjawab panggilan itu, yang mana panggilan itu dari Al sang asisten.


"Ya Al ada apa?" tanya Bara depan cepat.


"Tuan, pelaku penabrakan sudah meninggal dunia. Dokter yang menangani pelaku itu baru saja memberi tahu saya dan menjelaskan bagaimana pasien bisa meninggal dunia." terang Al dengan tergesa.


"****!" umpat Bara kesal, ntah kenapa mendengar pelaku penabrakan itu tewas membuat Bara marah tak terkendali.


"Saya akan segera kesana! Saya ingin lihat apa dia benar-benar mati atau tidak." geram Bara.


"Baik tuan." Al pun hanya mampu menyahut dengan pasrah.


"Ada apa Antoni?" tanya Tari dengan cepat melihat kemarahan Bara saat ini,. setelah panggilan itu terputus.


"Pelaku penabrakan itu mati." jawab Bara dengan ekspresi geram nya.


Tari terkejut. "Anak-anak mana?" tanya Bara jadi mengingat ketiga anak-anaknya.


"Anak-anak sudah tidur, tadi siang mereka masih trauma, tapi sekarang mereka sudah tenang." ucap Tari.


"Baguslah, jaga mereka baik-baik, aku akan pergi dulu ke rumah sakit." ucap Bara.


"Dan kamu istirahat lah, aku tidak mau kamu menjadi lelah karena masalah yang datang silih berganti ini." elus Bara pada perut Tari.


"Kamu hati-hati Antoni, aku juga tidak mau kamu lelah." ucap Tari dengan lembut.

__ADS_1


Bara tersenyum. "Ya tenang saja, aku akan menjaga diri dengan baik, karena aku harus menjaga kalian, istri ku dan juga anak-anak ku." ucap Bara meyakinkan Tari.


__ADS_2