
"Jadi dia hanya orang yang sakit jiwa?" tanya Bara saat seorang telepon memberi tahukan jika pelaku penusukan Tari sudah tertangkap.
Pak polisi itu mengangguk. "Benar tuan, dia memiliki jiwa yang sakit." jawab nya.
"Apa anda yakin?" tanya Bara memastikan.
"Kami sangat yakin, karena kami sudah meminta seorang dokter ahli jiwa untuk memeriksa nya dan hasilnya ya dia memang memiliki gangguan jiwa. Ini hasil dari pemeriksaan pelaku itu." terang pak polisi meyakinkan.
"Dan kami juga menanyakan pada keluarga dan juga tetangga terdekat mereka, informasi yang kami dapatkan mengarah jika memang pelaku adalah orang yang memiliki gangguan jiwa." jelas pak polisi itu dengan sangat yakin.
"Saya ingin bertemu dengan keluarga tersangka." ucap Bara dengan serius.
"Baik, kebetulan keluarga pelaku sedang berada di sini, karena kami sedang mengintrogasi keluarganya. Mari tuan saya akan mengantar anda untuk bertemu dengan keluarga pelaku." ucap pak polisi.
Bara mengangguk lalu mengikuti kemana sang polisi itu membawa nya.
Di dalam sebuah ruangan, dua orang sedang diintrogasi oleh salah satu polisi di sana.
"Permisi pak saya ingin bicara sebentar dengan keluarga pelaku." ijin Bara dengan aura dinginnya.
"Baik, silahkan tuan." polisi itu mempersilahkan nya.
Tanpa basa-basi Bara langsung menatap ke arah dua orang itu dengan tatapan menyalang. "Anda keluarga dari pelaku yang ingin mencelakai istri saya?" sorot matanya penuh dengan kekesalan.
"Maafkan putra kami tuan, putra kami sudah lama mengidap gangguan jiwa semenjak istrinya pergi meninggalkannya. Kami tidak tahu kejadian ini akan terjadi. Maafkan kami dan putra kami tuan." ucap salah satu ibu tua, mungkin dia adalah ibunya.
"Jika anda tahu putra mu itu mengalami gangguan jiwa, jaga dia dengan baik jangan sampai mencelakai orang, apalagi istri saya. Bagaimana jika terjadi sesuatu pada istri saya kemarin, saya tidak akan memaafkan kalian dan juga putra kalian itu!" emosi Bara karena merasa tidak puas.
"Maafkan kami tuan, ini memang kesalahan kami yang tidak tahu jika putra kami terlepas dari pantauan kami." ucapnya dengan takut.
"Jika putra anda itu mengalami gangguan jiwa kenapa kalian tidak memasukkan dia ke rumah sakit jiwa, agar tidak dia tidak sampai mencelakai orang?!" heran orang memiliki gangguan masih bebas di luaran apalagi dia hampir mencelakai Mentari istrinya. "Istri saya sedang hamil, dan putra anda hampir menusuk perut istri saya. Saya tidak tahu apa yang akan terjadi jika pisau itu sampai menusuk perut istri saya!" geram Bara setelah ia berpikir kejadian kemarin yang menimpa istrinya itu.
"Maafkan kami tuan sungguh kami tidak tahu ini akan terjadi. Kami kemarin datang ke rumah sakit karena memang kami sedang mengobati putra kami pada dokter, putra kami tidak pernah seperti itu sebelumnya, maka dari itu kami sungguh tidak tahu ini akan terjadi." terang nya dengan rasa bersalah.
"Masukkan dia ke rumah sakit jiwa, saya tidak mau tahu, orang yang memiliki jiwa seperti itu pikiran nya akan berubah-ubah, dan yang saya takutkan dia bisa mencelakai lagi orang-orang sekitarnya." ujar Bara dengan datar.
"Tunggu!" ucap Bara mengingat sesuatu. "Dari mana ia dapatkan pisau tajam itu?" sorot mata Bara menatap ke arah si ibu dan juga laki-laki di sana yang mungkin dia adalah ayah pelaku secara bergantian.
Si ibu dan si laki-laki itu saling menatap lalu mereka menggelengkan kepalanya. "Kami tidak tahu tuan, karena kami dari rumah merasa yakin jika putra saya tidak membawa apa-apa." jawabnya.
Bara terdiam, ada yang ganjal dalam kejadian ini, ini sungguh membuat Bara merasa sangat tidak puas dengan keterangan yang ia dapatkan dari polisi ataupun dari keluarga si pelaku.
Lebih baik dia mencari tahu sendiri masalah ini, karena ini ada hubungannya dengan keluarganya. Dia harus tahu apa benar dia memang karena gila dan tidak sadar saat melakukan nya atau seseorang yang tanpa di sadari ada di belakang pelaku yang ingin mencoba melakukan hal jahat pada keluarga nya.
*
*
*
Saat Bara tengah sibuk di ruangan nya, tiba-tiba panggilan telepon dari istri tercinta membuat senyuman di bibir nya tersungging, jarang sekali istrinya itu menelponnya, lalu dengan cepat Bara menjawab panggilan itu.
"Hallo Mentari, ada apa?" sapa Bara dengan senyum yang terbit di bibir nya.
__ADS_1
"Maaf aku menganggu mu, apa kamu sedang sibuk?" tanya Tari hati-hati.
"Tidak, aku sedang memeriksa sedikit laporan saja, ada apa?" Bara pun bertanya dengan lembut.
"Emh Antoni, aku menelpon mu karena aku ingin meminta ijin dari mu, aku ingin pergi ke rumah sakit untuk menjenguk kak Leo, apa kamu mengijinkan nya?" ucap Tari dengan sangat ragu-ragu.
CK... Bara berdecak tidak suka. "Aku kan sudah bilang jangan menemui dia lagi!" kesal Bara terdengar di sebrang sana.
"Aku hanya ingin menjenguk nya sebentar saja, aku merasa tidak enak hati jika kak Leo yang sudah menolong ku, tapi aku hanya diam saja tanpa menanyakan kabarnya sama sekali, rasanya aku seperti orang yang tidak tahu balas budi." ujar Tari dengan rasa tidak enak di hati nya.
Bara diam saja dan itu membuat Tari kesal. "Kenapa kamu diam saja?" sebal Tari. "Ya sudah jika kamu tidak mau mengijinkan ku, aku akan tetap pergi, walau bagaimanapun kak Leo sudah menyelamatkan aku dan mengorbankan keselamatan dirinya untuk menolong ku." kesal Tari.
"Mentari kamu harus mendengarkan apa yang aku katakan, kamu istri ku, jika hanya untuk berterima kasih, aku yang akan berterima kasih padanya karena aku suami mu." balas Bara dengan tegasnya, rasa kecewa pada Tari yang tidak mau mendengar apa yang ia katakan.
"Kenapa kita tidak pergi bersama saja untuk menjenguk kak Leo di rumah sakit, itu akan membuat dirinya merasa banyak orang yang memperhatikan nya." ujar Tari memberi saran.
Bara menarik nafasnya panjang. "Ya kita pergi bersama saja, kalau begitu tunggu aku yang akan menjemputmu." Bara pun akhirnya mengalah demi Tari.
"Baiklah aku akan menunggumu."
Setelah panggilan itu terputus Bara hanya mampu menghela nafasnya. Ia sebenarnya malas bertemu dengan Leo, ntah kenapa mengetahui seorang Leo membuat Bara tidak menyukainya, selain dia yang memiliki perasaan terhadap Tari Bara melihat ada sisi negatif dalam diri Leo, karena Bara sering melihat banyak orang-orang dalam bisnisnya dengan berbeda karakter. Dan karakter Leo tidak lebih seperti mereka.
Tak lama Tari dan Bara sampai di rumah sakit, dimana Leo di rawat.
"Terima kasih Antoni, karena kamu mau menjenguk kak Leo bersama ku." ucap Tari merasa senang dengan Bara yang mau menjenguk Leo.
"Ini demi dirimu, jika bukan karena dia sudah menyelamatkan mu aku tidak mau datang untuk bertemu dengannya." jawab Bara dengan tatapan datar nya.
"Apa pun alasannya aku akan tetap berterima kasih padamu." balas Tari dengan tersenyum lembut seraya memeluk lengan Bara dengan malu. Karena ini kali pertamanya Tari bermanja-manja pada seorang laki-laki selama hidupnya.
"Bayaran apa? Kamu itu sudah kaya tapi masih saja butuh bayaran!" cebik Tari sebal.
"Aku tidak meminta bayaran berupa uang tapi dengan...." ucap Bara menggantung dengan senyum nakal di bibirnya.
"Hemm dasar cabul!" pekik Tari seraya pergi melangkahkan kakinya dengan cepat.
"Hei Mentari..." panggil Bara dengan santai melangkahkan kakinya mengejar Tari yang melangkahkan kakinya dengan langkah cepatnya.
"Hei kamu lagi hamil jangan buru-buru seperti itu!" larang Bara dengan teriak.
Namun Tari tidak mendengar teriakkan Bara yang melarangnya itu. Sesampainya di pintu ruangan Leo, seseorang yang sedang berbicara dengan Leo. Tari tahu siapa yang berbicara dengan Leo itu karena ia hapal dengan suara itu, ya Leo sedang berbicara dengan ibunya. Membuat Tari pun mengehentikan langkah nya untuk masuk.
"Kamu laki-laki akan sulit sekali jika seorang laki-laki dengan hidup dengan satu ginjal dari tubuh nya, apalagi kamu belum menikah. Bagaimana jika seorang wanita tidak mau menerima mu sebagai seorang suami karena kamu hanya memiliki satu ginjal." ujar ibu Leo itu dengan kesal.
"Apalagi kamu harus benar-benar menjaga kesehatan mu itu, mama ini sudah tua, dengan kondisi mu sekarang, mama sangat sedih melihatnya." ucapnya lagi dengan sendu.
"Aku baik-baik saja mah, aku akan menjaga kesehatan ku nanti." jawab Leo dengan melirik ke arah pintu, dia tahu jika Tari sedang berada di sana.
"Kenapa kamu malah berdiri saja di sini?" tanya Bara heran setelah ia sudah berada dekat dengan Tari.
"Aku menunggu mu." jawab Tari dengan beralasan.
"Oh, ayok kita masuk!" ajak Bara dengan menggenggam tangan Tari untuk masuk ke ruangan Leo.
__ADS_1
"Hallo kak Leo, bagaimana keadaan mu sekarang?" tanya Tari setelah mereka mengetuk pintu dan di ijinkan masuk oleh Leo.
"Jangan berpura-pura seperti itu, ini semua karena salah mu Tari! Jika Leo tidak menolong mu Leo tidak akan sampai kehilangan ginjalnya dalam tubuhnya. Kamu benar-benar membuat saya kehilangan harapan saya pada Leo. Dia laki-laki tampan tapi jika seorang gadis mengetahui bagaimana kekurangan Leo sekarang, apa kamu akan bertanggung jawab akan hal itu hah!" kilatan kebencian dari ibunya Leo begitu tajam pada Tari, dan itu membuat Tari semakin merasa bersalah.
"Maafkan aku Tante. Ini semua memang salahku." lirih Tari dengan sendu.
"Ya memang ini salah mu, pantas saja keluarga mu mengusir mu dari rumah mereka kamu memang perempuan pembawa sial!" ucapnya dengan nada yang sangat marah ibunya Leo pada Tari.
Tari terdiam ibunya Leo memang sangat mengenal keluarganya, dan memang dari awal ibunya Leo sering ketus terhadap Tari itulah banyak alasan Tari menjaga jarak dengan Leo.
"Maaf nyonya seharusnya anda tidak perlu menyalahkan istri saya, karena di sini istri saya juga sebagai korban." nada dingin Bara bergema di ruangan sana karena Bara merasa tidak tahan mendengar perkataan ibunya Leo pada Tari.
"Oh anda suaminya Tari ya. Sayang sekali ya anda mau dengan perempuan seperti dia!" sinis nya tanpa ragu.
"Dia istri saya, jika seseorang menghina istri saya berarti anda telah menghina saya juga." ucap Bara dengan tidak suka nya.
"Tuan Bara yang terhormat, anda seharusnya sadar perempuan ini tidak pantas bersanding dengan anda. Dia perempuan pembawa sial, orang tuanya saja tidak menginginkan dia." hinanya tanpa ragu.
"Mah." tegur Leo merasa tidak enak pada Tari.
"Leo kamu tidak boleh berdekatan dengan perempuan ini!" larang nya.
"Mah!" tegur Leo dengan suara tegasnya membuat ibu nya langsung terdiam.
"Sun sun maafkan perkataan mama ku, dia hanya khawatir dengan keadaan ku sekarang yang hanya memiliki satu ginjal saja, dia begitu terlalu mengkhawatirkan ku." ujar Leo dengan lembut.
"Maaf kak Leo, ini memang salahku, sekali lagi aku minta maaf karena membuat kondisi kak Leo seperti ini." ujar Tari.
"Tidak perlu seperti itu Sun sun, aku akan lakukan lebih dari ini jika itu menyangkut keselamatan mu." imbuh Leo dengan tatapan lembut pada Tari dan itu tidak luput dari perhatian Bara.
"Saya sebagai suami berterima kasih pada tuan Leo karena sudah menyelamatkan istri saya Mentari." ucap Bara seraya memeluk pinggang Tari pertanda bahwa Tari adalah istri nya. "Dan sebagai gantinya saya akan menanggung semua biaya pengobatan anda tuan Leo." ucap Bara.
Leo tersenyum. "Tidak perlu tuan Bara, saya masih mampu untuk membayar biaya pengobatan saya, lagi pula saya bukan orang miskin walaupun perusahaan saya lebih kecil dari perusahaan anda." tolaknya secara halus.
"Lalu bagaimana cara saya membayar agar istri saya tidak merasa memiliki hutang budi kepada anda?" sarkas Bara.
"Tidak perlu tuan, saya ikhlas menolong Sun sun, karena kami sudah dekat sebelum anda menikahi nya, jadi anda tidak perlu repot-repot membalas budi kepada saya." ujar Leo penuh penekanan.
"Emh kak Leo sepertinya aku harus pamit, maaf aku tidak bisa lama berada di sini." ucap Tari melihat situasi akan panas jika di biarkan, lebih baik Tari pamit saja.
"Terima kasih Sun sun sudah menjenguk ku." ucap Leo dengan tatapan lembut nya.
Tari tersenyum lalu mengangguk.
"Pergi saja kami tidak membutuhkan orang yang sudah membuat Leo anakku sakit seperti ini." ketus ibunya Leo. "Bahagia di atas penderitaan orang lain." sinis nya pelan namun masih terdengar oleh Tari.
Tari tidak berkata apa-apa dia hanya melirik ke arah Leo lalu tersenyum tipis.
"Ayok kita pergi saja Mentari." ajak Bara seraya menggenggam tangan Tari dengan erat membuat Leo yang melihatnya merasa panas di hati nya. Kepalan tangan di balik selimut pertanda jika Leo begitu kesal karena laki-laki yang bersama dengan Tari itu hadir dalam kehidupan Tari dan mengganggu dirinya yang ingin memiliki Tari seutuhnya.
"Kamu masih berharap perempuan itu! Jangan pernah berharap padanya, karena dia sudah membuat mu sakit seperti ini." ucap ibunya dengan tegas.
Leo hanya diam mendengar ucapan ibunya itu.
__ADS_1
Hanya tatapan penuh di wajahnya saja pertanda jika Leo tidak mempedulikan perkataan ibunya.