
"Den Ken sudah pulang, bagaimana barang nya yang Aden cari, apa semua ada?" tanya bibi yang sudah melihat jika majikannya itu pulang.
Ken tidak ada niat untuk menjawabnya, ia hanya mendelik tidak suka, lalu naik ke atas menuju kamarnya.
Bibi hanya diam saja, ia memang sudah terbiasa dengan sikap Ken itu, memang dingin seperti ayahnya. Lalu bibi beralih tatapan pada Teddy yang sudah mengantarkan majikan mudanya itu.
"Pak Teddy, apa yang terjadi pada den Ken, ia terlihat sangat murung, tidak seperti saat ia akan berangkat?" tanya bibi itu penasaran.
"Saya tidak tahu bi, dari semenjak mengambil barang yang tadi ketinggalan, tuan muda Ken jadi murung seperti itu." jelas Teddy pun tidak tahu apa penyebabnya.
"Pak Teddy tidak bertanya?" tanya bibi gemas.
"Saya tidak berani, bibi saja yang sudah lama bersama dengan tuan Ken saja tadi di cueki, apalagi saya yang baru saja mengantarkan tuan Ken." ujar Teddy.
"Seperti nya ada sesuatu yang terjadi pada den Ken." pikir bibi menerawang.
"Ntahlah saya tidak tahu. Saya permisi saja bi." sahut Teddy seraya pergi meninggalkan bibi pembantu bosnya itu.
Ken yang sedang berada di kamar pun merasa sangat kecewa, ntah kenapa dirinya jadi seperti ini, Ken jadi terus mengingat wajah ibu tadi yang sempat memeluk nya.
"Hah." Ken membuang nafas nya kasar lalu membanting kan tubuh nya pada ranjang empuknya. "Kenapa perasaan aku begini?" lirih Ken tidak mengerti.
***
"Ibu apa yang ibu lakukan? Ibu mencari siapa?" tanya kedua anaknya seraya melihat kemana arah ibunya menatap.
Tersadar dari lamunannya Tari pun menatap kedua wajah anaknya. "Ti...tidak, tadi ibu seperti melihat teman ibu, tapi sepertinya ibu salah lihat." jelas Tari menyembunyikan apa yang ia cari dengan nada gugup nya.
"Emh gitu, ya sudah kita pulang saja ya Bu aku dan kak Langit lelah ingin segera pulang." rajuk Bintang pada ibunya dengan manja.
"Ah maafkan ibu sayang, ya sudah ayok kita pulang." ajak Tari seraya meraih kedua tangan anaknya.
Langit langsung menepis tangan ibunya dengan pelan. "No ibu, aku tidak perlu di pegang seperti itu!" protes Langit dengan muka cemberut namun terlihat lucu di mata Tari.
Tari tergelak. "Ok ok, sayang ibu lupa kalau putra ibu ini sudah besar." goda Tari melepaskan pegangan tangan nya pada tangan Langit.
"Ok aku akan maafkan ibu." ucapnya dengan senyum nya.
"Sok gede." cibir Bintang pada kakak kembarnya.
"Biarin, dari pada kamu sok imut." balas Langit mencibir adiknya.
"Emang aku imut kok." sahutnya dengan nada centil.
Tari mencoba menengahi perdebatan kedua anaknya itu. "Sudah ah ayok kita pulang, hari sudah mulai gelap, nanti omah bisa khawatir kita belum pulang."
Langit mencubit kedua pipi Bintang dengan gemas. "Sakit... Ibu kak Langit!" kesal nya dengan cemberut dengan memegang kedua pipinya yang kemerahan karena di cubit.
"Langit!" panggil Tari dengan menggelengkan kepalanya menatap ke arah Langit, sedangkan Langit yang di tatap hanya bisa cengengesan.
Mereka pun akhirnya pulang, Tari merasa sedih di dalam hatinya, karena dia masih memikirkan Ken yang ia anggap Angkasa putra kembar nya. Tari dengan yakin jika anak laki-laki yang sangat mirip dengan Langit adalah Angkasa putra yang ia berikan kepada laki-laki yang sangat Tari ingin hindari.
Sesampainya di rumah Tari dengan wajah nya yang muram membuat kedua anaknya heran dengan sikap ibunya. "Ibu... apa ibu sakit?" tanya Bintang pelan.
"Apa ibu lelah?" sambung Langit dengan nada yang khawatir.
Mendengar pertanyaan dengan penuh ke khawatiran dari kedua anaknya Tari merasa tersentuh dan tersenyum lembut menatap keduanya. "Ibu tidak apa-apa sayang, mungkin ibu hanya lelah sedikit." elak Tari mencoba bersikap seperti biasa, ia tahu kedua anaknya tidak tahu apa yang di pikirkan Tari saat ini.
"Pasti ibu capek karena kita, maaf ibu." lirih kedua anaknya itu.
Tari mengusap lembut kepala kedua anak kembarnya. "Tidak kok, ibu senang sudah ajak kalian jalan-jalan, lain kali ibu akan ajak kalian lagi ya." ucapnya menenangkan keduanya yang merasa bersalah.
"Ya sudah, lebih baik kalian masuk kamar, lalu bersih-bersih badannya, lalu istirahat ya." titah Tari lembut dan di iyakan oleh kedua anaknya itu.
__ADS_1
Melihat kepergian kedua anaknya, Tari menarik nafasnya dalam-dalam. "Ibu yakin itu kamu nak, Angkasa." desah Tari dengan lirih.
***
Beberapa Minggu kemudian, Ken setelah bertemu dengan Tari merasa ia menginginkan bertemu kembali dengan nya, Ken sangat berharap itu akan terjadi, walaupun ia tidak mengerti kenapa ia sangat ingin bertemu dengan ibu itu.
Ken sekarang lebih banyak diam diri di dalam kamar, kehidupannya seakan tidak berarti, ia selalu menyibukkan dirinya dengan apa yang ia sukai, yaitu terus membuat sebuah penelitian dan karya yang luar biasa nya, walaupun Daddy nya tidak pernah memuji apa yang ia buat, Daddy hanya melihat keadaan anaknya saja di saat pagi hari dan malam hari karena kesibukannya sebagai seorang pengusaha sukses dan sibuk.
"Maaf tuan, boleh saya bicara sebentar." ijin bibi pembantu saat tuanya tengah menyantap sarapan paginya.
"Apa yang bibi ingin sampaikan?" tanya Bara dengan kerutan di keningnya.
"Ini tentang den Ken." ucap bibi.
"Ken?" tanyanya.
"Iya tuan. Akhir-akhir ini den Ken terlihat murung dan sering diam di dalam kamarnya, maaf tuan sebelumnya, bibi hanya khawatir dengan keadaan den Ken yang tidak seperti biasanya." jelas bibi menjelaskan keadaan Ken.
"Dia terlihat baik-baik saja bi, sudahlah putraku kan memang seperti itu, dia lebih senang dengan imajinasinya sendiri." balas Bara datar.
"Baiklah tuan saya mengerti." balas bibi merasa kecewa dengan jawaban tuan nya yang terlihat sangat cuek pada putra nya itu.
Bagi Bara Ken memang putranya yang ia sayangi, dia memang sangat menyayangi nya, namun Bara sebagai ayah yang tidak berpengalaman dan sama sekali tidak bisa dekat dengan Ken apalagi dengan kesibukannya di perusahaan yang ia pimpin tanpa bantuan dari siapapun menjadikan tanggung jawab Bara begitu besar di perusahaannya, tidak hanya orang rumah yang harus ia perhatikan namun di perusahaan nya pun ia tanggung sendiri.
"Lebih baik bibi tanya langsung apa yang terjadi pada Ken, saya sibuk, bukan Ken saja yang harus saya urus." ucapnya tegas. "Saya percayakan Ken pada bibi." sambung nya lalu berdiri dan berjalan ke arah luar untuk berangkat kerja dengan seorang supir yang sudah menunggu nya.
"Baik tuan." jawab bibi pelan seraya menatap tuan nya yang sudah pergi tanpa mendengar jawaban darinya.
Lalu bibi pembantu itu pun menghela nafasnya. "Kasihan den Ken, pasti ia sangat kesepian." lirih bibi merasa sedih dengan keadaan tuan mudanya.
"Kalau saja den Ken masih memiliki seorang ibu, mungkin kehidupannya tidak akan seperti ini." lanjut bibi menatap kearah atas dimana kamar Ken berada.
Bibi pembantu pun pergi ke pasar untuk berbelanja kebutuhan di dapur, setelah ia memberi tahu tuan mudanya dan menyuruhnya untuk makan.
Setelah selesai berbelanja, ia pun baru ingat dengan apa yang di sukai oleh tuan mudanya saat ini. Dan bibi pun pergi ke toko kue yang kemarin pernah ia beli.
"Hallo ada yang bisa saya bantu?" sapa Tari saat ia melihat seorang pelanggan yang datang pada tokonya.
"Ah iya nona saya mau membeli beberapa kue di sini." sahut bibi dengan sopan.
"Oh ibu ini yang pernah datang kemari waktu itu kan?" tanya Tari mengingat pada pembeli di hadapannya itu.
"Hehe ya nona, saya pernah mampir ke sini." sambung bibi itu malu-malu.
Tari tersenyum. "Ibu mau beli kue apa, biar saya yang siapkan." tawar Tari ramah.
"Oh boleh, kue ini, ini dan itu." tunjuk bibi dengan semangat.
"Wah sepertinya ibu akan mengadakan acara ya." pikir Tari karena membeli dalam jumlah banyak.
"Tidak nona, ini semua saya akan berikan pada anak majikan saya, dia senang sekali dan suka sekali dengan kue buatan anda." jelas bibi begitu antusias.
Tari merasa terharu ia pun tersenyum. "Saya senang jika ibu dan juga majikan ibu suka dengan kue buatan saya ini. Saya benar-benar senang sekali. Terima kasih." ucap Tari tulus.
"Sama-sama nona, saya juga sebenarnya merasa aneh dengan anak majikan saya itu, dia biasanya tidak mau makan makanan dari luar, biasanya saya yang selalu membuat kue untuk nya, tapi saat saya beli kemarin tuan muda saya itu sangat menyukainya sampai ia menyuruh saya untuk membeli kue anda lagi." jelas bibi memberitahu.
"Mungkin karena kue yang anda jual lucu dan cocok untuk anak seumuran anak majikan saya, jadi tuan muda saya menyukainya." sambung nya lagi.
"Memang nya majikan ibu itu masih kecil?" tanya Tari, ntah mengapa dia penasaran dengan pelanggannya itu.
"Iya, masih kecil sekitar usia 7 tahunan." jelas bibi.
Tari hanya mengangguk. Lalu ia pun mengantongi berbagai jenis kue lainnya untuk ia berikan pada pelanggan yang membuat dirinya penasaran itu. "Ini tolong berikan pada anak majikan ibu itu, sebagai tanda terima kasih saya karena sudah menyukai kue buatan saya." ucap Tari seraya menyerahkan paper bag berisi kue itu padanya, Tari merasa senang saat mendengar jika majikan ibu itu menyukai kue buatannya.
__ADS_1
"Wah terima kasih nona, anak majikan saya pasti senang, karena kue kesukaan yang anda berikan ini." ucap bibi dengan tersenyum.
"Sama-sama, saya juga merasa senang, karena ada pelanggan yang menyukai kue-kue saya ini." ujar Tari membalas senyuman dengan manis.
Setelah kepergian ibu pembeli itu, Tari ntah kenapa hati nya begitu senang, mungkin karena Tari mendapatkan pelanggan kembali, karena toko nya yang baru saja buka tapi sudah banyak orang yang menyukai kue-kue buatan nya.
"Bersyukur sekali, karena aku mendapatkan pelanggan lagi." gumam nya dengan senyuman tersungging di bibirnya.
*
*
*
Tok... tok tok. Bibi mengetuk pintu anak majikannya. "Den Ken." panggil nya hati-hati.
"Den boleh bibi masuk?" ijin bibi dengan pelan.
"Den... Ken." panggil nya lagi.
"Masuk aja Bi." sahut Ken di dalam kamar.
Dengan pelan bibi pun membuka pintu kamar majikannya itu, ia pun masuk ke dalam, dan melihat Ken tengah asyik dengan kegiatannya.
"Ada apa bi?" tanyanya tanpa melihat ke arah bibi pembantu nya.
"Den Ken tadi bibi ke pasar."
Ken memotong ucapan bibi. "Bibi masuk ke dalam kamar aku hanya ingin memberi tahu, kalau bibi tadi ke pasar?" tanya Ken merasa malas.
"Bu... bukan den Ken, bibi setelah dari pasar mampir ke toko dan membeli beberapa kue yang den suka itu, ini kue nya." terang bibi cepat seraya menyerahkan kue yang sudah ia beli.
Mendengar kue kesukaannya di sebut, Ken langsung berbinar dan dengan semangat mengambil paper bag itu lalu membukanya dengan segera. "Wah terima kasih bi, aku suka sama kue ini" ujarnya dengan tersenyum.
"Ya sama-sama den dan ini kue satunya lagi, penjual kue itu memberikan kue ini untuk den Ken katanya sebagai rasa terima kasih karena sudah menyukai kue buatannya." jelas bibi dengan memberikan salah satu paper bag di tangan nya.
"Serius bi ini semua buat aku?" tanyanya meyakinkan dengan antusias.
Bibi mengangguk. "Iya den ini untuk Aden." jawab bibi dengan yakin. "Ya sudah bibi ke dapur lagi ya den, kue nya di makan ya den." ijin bibi.
Ken memakan kue itu dengan asyiknya. "Eh bi tolong simpankan kue ini di dapur ya, untuk aku nanti." ucapnya. "Jangan sampai ada yang memakan kue ini!" peringatan dari Ken.
"Baik den, bibi akan simpan kue ini di dapur." ucap bibi seraya pergi dan mengambil kue itu untuk ia simpan.
Ken menikmati kue itu dengan lahap, rasa kecewa yang tengah ia rasakan akhir-akhir ini seakan terasa terobati oleh kue itu.
Malam pun tiba, Bara yang seperti biasa pulang larut malam, namun sebelum ia masuk ke dalam kamarnya, ia terlebih dahulu masuk ke kamar Ken untuk melihat keadaannya, apa putranya itu sudah tidur apa belum, walaupun ia terlihat cuek namun ada perhatian yang selalu Bara berikan tanpa Ken ketahui.
Setelah melihat keadaan putra nya di dalam kamar yang sudah terlelap dalam tidurnya, Bara menyelimuti tubuh putra nya dengan selimut lalu mencium keningnya.
Keluar dari kamar Ken, Bara langsung menuju kamarnya untuk membersihkan dirinya agar segar kembali, namun setelah selesai membersihkan dirinya tiba-tiba perutnya yang tadi tidak sempat ia isi karena kesibukannya membuat perut itu keroncongan ingin segera di isi.
"Aku lapar sekali." gumam nya, Bara pun melihat jam dinding di kamar nya. "Sudah jam 12 malam." keluh nya. "Tapi perut ku lapar sekali, kesibukan ku membuat ku susah untuk makan saja, apalagi tidak ada yang mengirimkan makanan ke kantor bahkan mengingatkan aku untuk makan saja pun tidak ada." lirih nya dengan berkeluh seraya menuruni tangga menuju ke dapur.
Sampai di dapur Bara yang katanya lapar tidak langsung memakan makanan yang tadi di sediakan oleh pembantunya, dia malah menatapnya dengan malas. "Malas sekali aku makan berat, apalagi tengah malam begini." gumamnya menutup kembali makanan yang tersedia.
Saat akan mencari cemilan di dalam kulkas ia tidak sengaja melihat ke arah paper bag yang bertuliskan dengan nama toko kue, Bara penasaran dengan isi paper bag itu, lalu ia pun membuka nya.
"Kue." ucapnya seraya meraih kue itu untuk mencoba nya.
Satu gigitan Bara mencobanya, dua gigitan Bara mengunyahnya hingga gigitan-gigitan selanjutnya. "Emh enak." puji Bara pelan seraya melihat nama toko kue yang ia makan.
"Apa kue ini yang Ken makan ya?" tanyanya dalam hati. "Pantas saja Ken menyukainya." puji nya lagi dengan terus mengunyah kue itu dengan rakus. "Kalau saja aku sedang tidak lapar dan sedang tidak malas makan, aku tidak mau memakan makanan sembarangan." muncul kembali ucapan angkuhnya. "Bodo amat lah yang penting malam ini aku kenyang dan bisa beristirahat dengan tanpa perut lapar." sambung nya cuek dan terus memakan kue itu sampai tandas tidak bersisa satu pun.
__ADS_1
"Sudah habis?!" kesal nya saat kue itu tidak ada lagi. "Tidak terasa, tapi lumayan perut ku tidak keroncongan lagi." lanjut nya.
Setelah kue itu Bara habiskan, ia pun menuju kamar untuk beristirahat.