
"Apa semua sudah selesai?" tanya Bara pada para pekerjanya, pagi ini Bara menyiapkan sebuah acara ulang tahun untuk putra nya sebagai tanda permintaan maaf nya pada Ken.
"Sudah tuan." jawab mereka serempak.
"Bagus. Apa Ken sudah bangun?" tanyanya pada bi Milah yang juga sedang membantu.
"Belum tuan, apa bibi bangunkan saja tuan?" ijin nya.
"Tidak usah, biar saya saja yang membangunkan Ken." ucap Bara melarang.
"Baik tuan." sahut bibi patuh.
Bara pun menaiki tangga nya menuju kamar Ken untuk membangunkan nya.
Setelah Bara pergi ke atas, seorang laki-laki datang tanpa ada sapa, menerobos masuk ke dalam rumah yang sedang di penuhi dengan berbagai macam pernak-pernik ulang tahun.
"Dimana tuan kalian?" tanya laki-laki itu dengan tidak ramah.
"Tuan Bara sedang di atas, di kamar den Ken." jawab salah satu pekerja di rumah Bara.
"Katakan padanya saya menunggu nya di ruang kerja." titah nya tanpa ada sedikitpun keramahan dari wajah nya.
"Baik tuan." balas nya sopan dan menunduk ia tahu siapa dia.
Bara turun, setelah dari kamar Ken yang ternyata sudah bangun, dan sayangnya Ken membuat nya kesal karena ia tidak mau turun, Bara merasa tidak di hargai dengan acara yang sudah ia siapkan untuk nya.
"Maaf tuan, tuan besar sudah menunggu anda di ruang kerja." ucapnya memberi tahu.
"Ayah?" gumamnya heran. Lalu ia pun berjalan menuju ruang kerja nya.
Melihat sedikit terbuka pintu ruang kerjanya, Bara masuk tanpa mengetuk pintu. "Ada apa ayah datang kesini?" tanya Bara tanpa basa-basi.
Mendengus dengan kesal. "Memang ayah tidak boleh datang ke rumah anak ayah sendiri?" tanyanya kesal.
"Tidak seperti biasanya." balas Bara datar.
"Kenapa kamu tidak ke kantor? Ayah tadi kesana dan asisten kamu bilang kamu hari ini tidak masuk." tanya tuan Hartawan dengan ketus.
"Hari ini aku cuti?" jawab Bara dengan mendudukkan bokong nya pada kursi.
"Cuti? Jangan katakan kamu cuti untuk merayakan hari ulang tahun anak itu?!" kesal nya.
"Memang kenapa kalau perkataan ayah itu benar?" tanyanya santai.
"Ck." berdecak tidak suka. "Kamu itu bodoh atau apa sih Bara? Kamu masih saja percaya kalau dia itu adalah anak kamu?!" ucapnya geram.
"Apa ayah lupa, aku sudah menjelaskan dulu pada ayah tentang tes DNA putraku. Dia memang darah daging ku." ucapnya merasa yakin.
Pak Hartawan mendengus kembali. "Bisa saja kan perempuan itu tidak hanya melakukan dengan mu saja, bisa saja anak itu hasil rame-rame! Kamu jangan mau di bodohi Bara!" ucapnya kesal.
"Tidak mungkin, jika memang Ken bukan putraku mungkin dia tidak akan mirip dengan ku!" balas Bara masih yakin jika Ken adalah putra nya.
__ADS_1
"Bisa saja perempuan yang memberikan anak itu memiliki niat yang buruk dan ingin menghancurkan mu Bara." jelas nya masih tidak terima.
"Ayah, sudahlah aku tidak mau berdebat dengan ayah, hari ini hari ulang tahun putraku, aku ingin memberikan yang terbaik untuk putra ku." jelas Bara malas berdebat.
"Ayah heran dengan mu Bara, bagaimana bisa menyadarkan kamu agar kamu bisa tahu yang sebenarnya." ucapnya.
"Aku sadar ayah, lagi pula Ken tidak memiliki siapapun, ibunya meninggal saat melahirkannya, hanya aku yang ia miliki, Daddy nya." jelas Bara.
"Daddy? Putra?" sarkas nya. "Kamu itu belum menikah Bara, sampai kapan kamu akan menyembunyikan anak itu? Bagaimana jika ada yang tahu keberadaan dia? Apalagi status anak itu tidak jelas, apa yang akan kamu lakukan?" ucap pak Hartawan terlihat sangat marah.
"Perjaka bukan! Duda juga bukan!" sambung nya. "Apa kamu tidak penasaran dengan perempuan yang sudah memberikan anak itu padamu? Bisa saja perempuan tua yang memberikan anak itu bersekongkol dengan perempuan yang kamu yakini hamil oleh mu?"
"Kamu itu harus segera menikah, rasa trauma mu jangan di jadikan alasan untuk kamu tidak menikah. Menikah lah dan miliki anak yang jelas, agar ada penerus untuk mu nanti. Ibu mu sering sekali meminta ayah untuk menyuruh mu menikah." ucap tuan Hartawan panjang lebar.
"Ken akan menjadi penerus ku ayah!" jawab nya mantap.
"Apa ?! Anak itu? Kamu gila Bara? Hah! Bisa-bisanya kamu bicara seperti itu!" geram tuan Hartawan. "Coba cari tahu kebenaran identitas anak itu, jangan percaya hanya dengan ucapan seorang ibu tua!" titah nya dengan tegas.
Bara menarik nafasnya dalam-dalam. "Ayah! Kenapa ayah datang kesini? Ada masalah?" tanya Bara mengalihkan perhatian ayahnya. Jika tidak ayahnya akan mengomel panjang dan akan membuat telinga nya panas.
"Ah, ayah jadi lupa tujuan pertama ayah datang kesini!" ucapnya kesal.
Bara membuang pandangannya jengah. "Apa ada masalah di perusahaan kita?" tanyanya lagi.
"Data-data perusahaan yang ayah kelola ada yang menghacker, ayah tidak tahu siapa dia? Yang pasti dia berniat mencuri data-data pribadi perusahaan kita." jelas tuan Hartawan dengan serius.
"Apa, ayah serius?" tanya Bara dengan serius juga.
"Bagaimana bisa?" tanya Bara merasa tidak puas.
"Ya ayah juga tidak tahu, ayah baru di beri tahu oleh asisten ayah tadi pagi, makanya ayah langsung menemui mu." ucapnya serius.
"Lalu apa yang akan ayah lakukan?" tanya Bara.
"Apa kamu bisa menolong ayah, Bara? Karena kamu adalah anak ayah, yang akan menjadi penerus perusahaan ayah itu nanti, jika masalah ini tidak segera di selesaikan kemungkinan peretas itu akan membuat perusahaan ayah bangkrut. Jadi tolong ayah menangani masalah ini." ucapnya penuh harap.
"Aku akan membantu ayah, aku akan mencoba mencari jalan keluar agar perusahaan ayah tidak ada yang menghacker." ucap Bara dengan serius.
"Ayah percayakan padamu Bara." ucap tuan Hartawan. "Ya sudah ayah akan kembali ke kantor ayah, ayah harap kamu dengar cepat menangani masalah ini. Ayah tunggu kabar baiknya." lanjutnya seraya melangkahkan kakinya menuju pintu keluar. "Oh ya Bara, cepat lah menikah agar ada yang bisa mengurus mu." titah ayahnya tidak melupakan permintaan istrinya itu.
"Ck." Bara berdecak kesal. "Masih saja ingat dengan hal itu." gumamnya namun masih terdengar oleh ayahnya.
"Kamu itu semakin tua, memang kamu mau jadi perjaka tua." ucap tuan Hartawan. "Ya sudah ayah akan pergi." lanjutnya dengan meninggalkan Bara yang masih diam, namun langkahnya terhenti. "Tunggu! Apa jangan-jangan kamu masih mencintai mantan tunangan yang membuat mu patah hati itu?" tanyanya.
Bara menghela nafasnya panjang. "Jangan berpikiran seperti itu ayah, aku sudah tidak mau mengingat dia kembali!" ucapnya tegas.
"Baiklah, ayah akan meminta kamu untuk membuktikan jika kamu benar-benar sudah melupakannya!" ucapnya menatap serius. "Dengan cara kamu harus menikah." titah nya dengan jelas.
Bara diam, ia malas untuk menjawab permintaan ayahnya. "Memang nya mudah apa mencari istri dengan status ku yang memiliki seorang anak!" dengus nya pelan seraya menatap punggung ayah nya yang semakin menjauh.
Sedangkan di dalam kamar, Ken ia sedang dalam hati yang tidak baik di hari ulang tahunnya itu, ia mendapatkan sebuah kenyataan yang benar-benar pahit untuk sedikit ia pahami. Tadi saat Bara meninggalkan kamarnya, Ken mencoba turun untuk bertemu dengan Daddy yang sudah mempersiapkan acara ulang tahun nya yang ke 8 itu, namun saat Ken menuruni tangga ia melihat daddy-nya masuk ke dalam ruangan kerjanya. Ken berniat untuk meminta maaf pada Bara dan mengajak Bara Daddy-nya untuk merayakan hari ulang tahun nya bersamanya.
__ADS_1
Ken mendengar suara kakek nya, ya kakek yang tidak pernah menganggap nya sebagai cucu, dia sudah merasakan semenjak beberapa tahun yang lalu, ayah kandung dari daddy-nya itu memang tidak menyukainya.
Ken menghentikan langkahnya dan berdiri tepat di depan pintu yang sedikit agak terbuka itu. Ken mendengar semua pembicaraan Daddy-nya dan kakeknya dengan sangat jelas, sakit yang kini ia rasakan setelah ia tahu apa yang terjadi padanya. Usia yang baru saja 8 tahun, namun Ken sudah mengerti pembahasan apa yang sedang di bicarakan oleh kedua orang dewasa tersebut.
"Jadi benar, aku anak yang tidak di harapkan." ucap Ken pelan.
"Aku anak yang sudah membuat Daddy malu." gumamnya pelan. "Pantas saja Daddy tidak pernah mengajak ku keluar dan tidak memperbolehkan aku keluar sembarangan. Jadi ini maksud Daddy?" lirih nya merasa kecewa dengan keadaan hidupnya.
Bara yang sudah keluar dari ruangan kerjanya, lalu melihat tidak adanya Ken di sana membuat Bara kesal. "Bi apa Ken masih tidak mau turun?" tanya Bara pada pembantunya.
"Tadi den Ken sudah turun tuan, tapi tidak lama den Ken berlari ke kamar dan terlihat seperti menangis." jelas pembantunya itu.
"Ken menangis?" tanya Bara bingung.
"Iya tuan." jawabnya dengan menganggukkan kepalanya yakin.
Tanpa sepatah katapun, Bara langsung menaiki tangga nya dengan cepat untuk bertemu dengan Ken putranya. Ia penasaran kenapa Ken menangis, apa yang membuat ia menangis.
"Ken?" panggil Bara dengan membuka pintu kamar yang tidak terkunci.
Ken mendongakkan wajahnya melihat Bara yang memanggilnya. Lalu Bara pun menghampiri putra nya itu, di saat itu juga Ken menundukkan kembali wajah nya yang terlihat sembab dan memerah.
"Ken kenapa kamu masih di kamar, ayok kita turun." ajak Bara, ia bingung harus berbuat apa ketika putra nya itu sedang bersedih. Ken menggelengkan kepalanya sebagai jawaban penolakan darinya.
"Kenapa? Daddy sudah mempersiapkan acara itu untuk kamu Ken, dan Daddy sudah membeli kue ulang tahun dari toko kue triplets cake, toko kue yang kamu sukai itu." jelas Bara dengan nada yang agak sedikit tegas karena memang pembawaan Bara seperti itu.
Mendengar ucapan Daddy-nya yang terdengar seperti menahan kesal, Ken pun memberanikan diri untuk menatap ke wajah Bara. "Untuk apa Daddy membuang waktu Daddy hanya untuk membuat acara itu?!" tanya Ken dengan nada tinggi.
"Kenapa? Apa kamu tidak suka?!" tanya Bara sedikit emosi.
"Ya aku tidak suka!" teriak Ken dengan menangis. "Lebih baik Daddy keluar dari kamar aku! Aku benci Daddy!" ucapnya membuat Daddy menatap dengan geram pada putra nya itu.
Ken menangis dengan sedih, betapa sakit yang ia rasakan di usianya itu, semua harta yang Bara miliki untuk membuat Ken bahagia tidak membuat Ken bahagia, ia malah merasa semakin membuat dirinya muak pada Daddy nya itu. Yang ia butuhkan adalah kasih sayang yang tulus dan waktu untuk saling bersama.
Bara melihat Ken yang terlihat terpukul itu langsung menarik tubuh kecil itu pada pelukannya, dan ia memeluk Ken dengan rasa bersalah. Ia sadar sudah membuat putranya terkekang.
"Maaf kan Daddy nak." gumam Bara pelan.
Ken masih terdiam di pelukan tubuh ayahnya itu, ini kali pertamanya ia merasakan pelukan dari sang ayah yang selama ini cuek dan tidak peduli padanya.
Lalu Bara pun melepaskan pelukannya itu dan berlalu pergi dari kamar Ken, membuat Ken menatap daddy-nya tidak suka, ia merasa jika Daddy-nya pun sama seperti kakek nya yang tidak menginginkan dirinya berada di dekatnya.
Ken hanya bisa melihat kue ulang tahun nya, yang ia ketahui di pesankan oleh Daddy-nya dari toko kue yang ia sukai, Daddy-nya membawa kue itu ke kamar Ken dan menaruhnya di atas meja kamar nya. Memandang kue yang kini sedang ada di hadapannya membuat Ken merasa sedikit terenyuh dengan kata-kata di atas kue itu. Lalu tanpa menunggu Bara atau orang di sekitarnya, namun sebelum Ken memotong kue ulang tahun itu dengan pisau kue yang tersedia di sana, dengan lirih ia pun mengungkapkan sesuatu pada dirinya.
"Selamat ulang tahun Ken, semoga hidupmu selalu bahagia dan keberuntungan selalu menghampiri mu." ucapnya pada dirinya sendiri.
Ken meniup lilin itu setelah ia mengucapkan selamat pada dirinya, sungguh miris di hari ulang tahunnya yang seharusnya berbahagia dengan lingkungan keluarga nya, namun tidak demikian dengan kehidupan Ken yang selalu sendiri.
Sedangkan Bara yang tadi meninggalkan Ken sendiri, ia melihat pemandangan Ken yang sedang meniup lilin itu sendiri, tanpa mau menghampiri Ken Bara hanya bisa menatapnya dari kejauhan, ia benar-benar tidak mengerti bagaimana membuat Ken bahagia dan merasa nyaman dengan nya.
Selintas ia menjadi penasaran dengan perempuan yang sudah melahirkan putra nya itu, walaupun Bara yakin Ken adalah putra nya, selain tes DNA yang menyatakan bahwa Ken cocok dengan darah nya dan karena ia juga sangat mengingat saat malam terjadi nya malam itu dengan perempuan yang sudah ia tiduri, dia masih perawan, Bara mengingat dengan jelas noda merah yang ada di kasur tempat mereka saling menyatu. Dan jika dia memang memiliki hal jahat padanya, perempuan itu akan meminta tanggung jawab karena sudah membuat dirinya ternoda dan sampai hamil oleh nya. Namun sampai detik ini pun Bara tidak ada hal aneh yang menimpa dirinya mengenai Ken yang sudah 8 tahun bersamanya.
__ADS_1