Tuan Arogan Untuk Anakku

Tuan Arogan Untuk Anakku
sebuah kejutan untuk Tari


__ADS_3

"Keluarlah, saya sudah berada di depan rumah mu?" sebuah pesan dari Bara Tari terima.


Tari melototkan kedua matanya. "Mau apa dia kesini?" gumam Tari heran dan terkejut. "Kenapa dia bisa tahu rumah ku?"


"Gawat jika dia melihat Langit." Tari mulai panik dan waspada.


"Aku harus bagaimana ini!" gumam nya semakin bingung.


Kerena Tari tak kunjung membalas pesan darinya, akhirnya Bara pun menelpon Tari.


Tari semakin panik Bara menelponnya. Tari menjawab telepon itu karena Bara terus saja memanggilnya.


"Saya tahu kamu sudah tahu keberadaan saya di sini, ayok cepat kamu keluar!" titah Bara tidak sabar saat Tari baru saja akan bilang hallo.


Tari mendesah berat. "Tunggu di sana saja!" titah Tari cepat dan langsung menutup panggilan itu.


Tari dengan cepat berganti pakaian lalu merapikan tampilan nya sesederhana mungkin, untuk apa berdandan dan memperlihatkan kecantikannya kepada Bara, terasa mubajir jika itu di lakukan oleh Tari.


Tak lama Tari keluar dengan terburu-buru, setelah pamit dari Omah Mayang yang terkejut setelah tahu dari cerita Tari dengan Bara yang terjadi. Tari pun melarang anak-anaknya untuk tidak keluar.


Bara tersenyum miring melihat Tari yang terburu-buru untuk menemuinya.


"Kenapa terburu-buru seperti itu nona Mentari." cibir Bara.


Tari menatap malas melihat siluet Bara yang ada di hadapannya, walau Tari akui laki-laki di depannya itu sangat berbeda, saat ini Bara memakai pakaian yang terlihat santai tidak memakai jas formal yang selalu ia lihat setiap bertemu dengannya, hari ini Bara terkesan semakin terlihat muda. Jika Tari seorang ABG pasti akan teriak secara histeris melihat Bara yang lebih tampan dari biasanya, namun karena Tari yang melihat Bara dari mata penuh kebencian Bara yang tampan itu seakan tertutup oleh sikapnya yang selalu angkuh pada nya.


"Kita jangan bicara di sini, kita di luar saja." ucap Tari cepat dan tidak sabar ia takut jika dia melihat Langit.


"Kenapa kita tidak berbicara di sini saja di dalam rumah mu? Saya ingin bertemu dengan putriku." ucap Bara tanpa ragu.


"Putri? Siapa yang anda maksud putri mu?!" antara takut dan mulai waspada kini Tari rasakan.


"Bintang, dia putri sambung saya kan? Kamu lupa bahwa kamu sekarang sudah menjadi istri sah saya." Bara mengingatkan hal itu.


Tari tertawa frustasi di depan Bara. "Istri? Istri yang anda nikahi secara paksa." telak Tari dengan sinis.


"Secara paksa atau tidak kamu tetap lah istri saya sekarang, bahkan jika saya meminta hak saya pun itu sah-sah saja kan?" goda Bara tidak tahu malu.


"Hak? Hak sepatu yang anda mau hah!" ucap Tari melotot horor. "Jangan gila!"


"Hahaha tidak apa-apa jika itu membuat kamu puas." semakin Tari marah Bara semakin senang di buatnya itulah salah satu ide licik Bara membuat Tari selalu kesal dan juga marah dan ujung-ujungnya stress.


Tari masuk ke dalam mobil Bara tanpa mempedulikan Bara yang masih saja membuat dirinya marah. Bara pun akhirnya masuk juga ke dalam mobil tanpa bicara apa-apa lagi dan langsung membawa Tari ke sebuah tempat untuk membahas apa yang akan dia bicarakan kepada Tari.


Sunyi senyap di dalam mobil itu tanpa ada yang mengawali pembicaraan setelah tadi berargumentasi.


Rasa canggung kini hadir di antara mereka berdua di dalam mobil yang hanya berdua saja.


"Ekhemm." Bara berdehem pelan menetralisir kan hatinya yang canggung itu sedangkan Tari menarik nafasnya dalam-dalam menatap ke arah luar jalanan.


Sampai juga Bara dan Tari di sebuah tempat yang mereka tuju, dengan suasana di dalam mobil tadi membuat Tari dan juga Bara menghela nafasnya lega.


"Saya tidak mau berlama-lama di sini, jadi apa yang ingin anda katakan?" terang Tari tidak sabar.


"Apa kamu juga tidak memiliki pertanyaan apapun kepada saya tentang hubungan ini?" tanya Bara dengan serius.


Tari terdiam sejenak, memang banyak sekali pertanyaan yang ingin dia tanyakan kepada laki-laki di depannya itu, namun ia sedang malas untuk berdebat karena ia tahu berbicara dengan Bara pasti ujung-ujungnya akan berdebat dengan nya.

__ADS_1


"Tuan Bara yang terhormat, sebenarnya saya memiliki banyak pertanyaan kepada anda, tapi intinya saya hanya heran kenapa anda memilih saya untuk menjadi istri anda secara paksa, kita tidak memiliki rasa apapun, dan pernikahan bukanlah main-main." tegas Tari tidak mengerti maksud Bara menikahi nya.


Bara menatap wajah Tari yang jutek namun terlihat sangat menarik bila terus di perhatikan oleh nya. "Karena saya ingin kamu menjadi ibunya dari anak saya." jawab Bara cepat.


Deg. jantung Tari berdetak. "Apa dia sudah tahu aku adalah ibunya Ken?" batin Tari cemas.


"Saya tahu, jika Ken sering bertemu dengan mu akhir-akhir ini. Saya mengutuskan seseorang untuk mengikuti Ken kemana pun dia pergi. Dan saya tahu semenjak Ken bertemu dengan mu di rumah sakit saat saya di rawat Ken menjadi dekat dengan mu kan?" ucap Bara.


Tari berdehem ia gugup mengingat anak-anaknya, apa Bara tahu keberadaan anak-anak Tari yang lain, apa kebohongan nya selama ini akan terbongkar. Tari memang sudah salah berhubungan dengan laki-laki seperti Bara, laki-laki ini dengan mudah mendapatkan segala informasi yang Tari sembunyikan.


"Dan ada satu yang akhirnya saya ketahui, sesuatu yang sangat kamu sembunyikan." ucap Bara dengan tatapan mata tertuju pada Tari yang sedang mengatur ritme jantung nya yang berdetak semakin cepat. "Kamu adalah perempuan yang sudah saya hamili dan kamu lah perempuan yang mengandung putraku yaitu Ken, Ken yang kamu berikan melalui ibu tua yang mengatakan bahwa kamu sudah meninggal." terang Bara dengan serius.


Ekspresi wajah Tari menjadi tegang di buatnya, Bara tahu semuanya tentang kebohongan nya, semua terbongkar sekarang setelah bertahun-tahun Tari menyembunyikannya.


"Kenapa? Kamu terkejut?" tanya Bara dengan senyum sinis nya.


Glek... Tari menelan ludah nya yang secara kasar. "A...apa mak...sud anda tuan?" kilah Tari berpura-pura tidak tahu dengan suara nya yang bergetar.


"Kamu tidak perlu berpura-pura, saya sudah tahu semuanya!" jelas Bara penuh penekanan.


"Berpura-pura apa maksud anda, saya memang tidak mengerti." masih Tari menyembunyikan kebohongannya itu.


Bara tersenyum licik. "Apa kamu ingin saya beri tahu secara detail, darimana saya bisa menemukan bahwa kamu lah ibu kandung dari putraku?!" Bara menantang.


"Atau kamu mau jika Ken yang akan menanggung semua kebohongan mu!" ancam Bara.


"Kenapa harus bawa-bawa Ken dalam masalah ini?! Dia tidak akan mengerti sama sekali." cegah Tari ketakutan.


"Jadi, apa kamu mengakui? Kamu benar-benar ibu kandung Ken kan?" telak nya seperti sebuah ancaman.


"Ok! Ok! Saya mengakui!" seru Tari tidak tahan. Dan Bara pun menyeringai, terpaksa harus menekan Tari untuk mengaku, Bara tidak tahan memberi tahu Tari jika dia memang sudah mengetahui kebohongan Tari karena melihat ke angkuhan dari diri Tari.


"Pulang?" gumam Tari dengan menautkan kedua alisnya. "Ish benar-benar laki-laki itu membuat darah ku mendidih." desis Tari memijat keningnya yang terus berdenyut.


"Kenapa malah diam saja?" tanya Bara dengan nada dingin nya.


Tari mengangkat wajahnya yang tadi tertunduk lesu lalu menatap arogannya laki-laki di hadapannya. "Memang nya saya harus ikut dengan anda? Tidak! Saya tidak mau!" tolak nya.


"Ya sudah saya akan memperkenalkan seorang wanita kepada Ken dan menjadikan dia ibu asuh Ken, jika kamu tidak mau ikut dengan saya!" ucapnya terdengar nada ancaman.


Tari mendengus sebal lalu mengacak kepalanya dengan frustasi. Namun Tari pun dengan lemah dan sangat malas mengikuti langkah Bara yang akan menuju mobil yang ia parkirkan.


Di dalam mobil, hening kembali menerpa mereka berdua, hanya hati mereka yang saling berucap dalam pemikiran mereka masing-masing.


"Kalau saja ken tidak berada dengan dia, aku pastikan tidak mau mengikuti apa yang dia inginkan." batin Tari lelah.


"Aku akan pastikan kamu tersiksa hidup di dalam rumah ku!" batin Bara. "Aku akan memberikan sebuah pelajaran yang tidak akan pernah kamu lupakan." lanjutnya dengan seringai jahat di pikiran nya.


Tidak lama, Tari dan juga Bara pun sampai di kediaman dimana Bara dan Ken tinggal. Pertama kali Tari menginjakkan kedua kakinya di rumah Bara sedikit kagum dengan kemewahan rumah Bara itu.


Tari cukup senang Ken bisa merasakan hidup dengan kemewahan yang di miliki ayah kandungnya namun hati kecil Tari semakin takut, semakin Bara kaya raya semakin Tari akan sulit untuk memenangkan hak asuh atas anak-anaknya nanti. Apalagi saat Bara mengetahui bahwa dia tidak hanya memiliki Ken saja tapi Langit dan juga Bintang.


"Apa kamu patung?" tanya Bara melihat Tari yang hanya diam saja mematung.


"Untuk apa anda membawa saya ke sini?" tanya Tari setelah ia sadar dari segala pikiran yang ia takutkan selama ini.


"Kamu lupa? Kamu sekarang istri saya sah secara hukum dan juga agama. Bahkan kita sudah memiliki akte pernikahan secara asli." terang Bara dengan santainya.

__ADS_1


"Apa anda anggap pernikahan kita itu serius?" Tari dengan sinis nya.


Bara tidak menjawab dia hanya tersenyum sinis saja. "Lihat baru saja aku membawa ke rumah ku, eskpresi mu sudah terlihat sangat takut. Aku penasaran apa yang membuat dia takut bahkan permainan ku saja belum aku mainkan." pikir Bara dengan jahat nya.


"Ada sebuah kejutan yang akan saya berikan kepada kamu, mungkin bisa di bilang hadiah pernikahan kita." ucap Bara dengan tatapan mata yang sulit Tari ketahui.


Tari tidak senang, kejutan itu pasti bukan kejutan romantis ala drama, karena ia tahu seorang Bara pasti merencanakan sesuatu padanya.


"Masuk! Dan terima lah sebuah kejutan itu!" sarkas nya penuh arti.


"Kejutan? Kejutan apa yang dia maksud?" pikir Tari penuh ketakutan di dalam hatinya yang ia rasakan.


Tari pun melangkahkan kakinya secara perlahan mengikuti Bara yang sudah melangkahkan kakinya terlebih dahulu.


"Silahkan duduk! Anggap saja ini adalah rumah barumu." ucap Bara dengan nada dingin nya tidak ada ramah sedikit pun di wajah nya. Lalu ia pun pergi menaiki tangga.


Tari pun mengikuti apa yang diperintahkan oleh Bara walaupun hati nya merasakan ketidaknyamanan.


"Anak-anak!" seru Tari seraya berdiri karena terkejut melihat anak-anaknya berada di rumah Bara. Tari terhuyung lemas. Tidak hanya Bintang dan Ken yang ada di sini, tapi juga Langit.


Melihat ketiga anak kembarnya berada di sana membuat Tari bergetar dengan semua kejutan ini dan mata nya mulai berkaca-kaca ingin menangis karena semua ketakutan Tari selama ini terjadi tepat pada hari ini.


"Ibu..." panggil ketiga anak nya lirih melihat ibunya yang terlihat terkejut.


"Maafkan kami Bu." lirih mereka pun kembali berucap, mereka menyadari kesalahannya karena tidak mengikuti apa yang ibunya perintahkan.


Tari hanya diam, tidak mampu mengucapkan satu kata pun karena suaranya terasa kelu.


"Mereka tidak salah, saya yang membawa mereka ke sini." ucap Bara seraya menuruni tangga dan menghampiri dimana Tari diam dengan keterkejutannya.


Tatapan lembut Tari lihatkan kepada anak-anaknya lalu ia menatap ke arah Bara dengan tatapan tajam nya.


"Kenapa kamu menatap saya seperti itu?" tanya Bara dengan santai.


Bara membalikkan tubuhnya melihat kepada ketiga anak-anaknya dengan senyuman lembut. "Anak-anak masuk lah ke kamar kalian masing-masing, ada yang perlu Daddy dan juga ibu kalian yang harus di bicarakan." titah Bara dengan lembut namun tegas.


"Baik Daddy. Ibu kami ke kamar dulu." ijin mereka dan di angguki pelan oleh Tari.


Melihat kepergian ketiga anaknya Bara pun memutarkan tubuhnya kembali ke arah Tari. "Ke ruangan kerja saya!" ucap Bara dan Tari dengan cepat mengikuti apa mau nya Bara tanpa ada perdebatan.


"Bagaimana kejutan yang saya berikan apa kamu sangat terkejut?" tanyanya santai Tari diam saja tidak menanggapi. "Saya yakin kamu sangat terkejut dengan kejutan yang saya berikan tadi." sinis Bara.


"Kamu pintar menyembunyikan semua kenyataan ini, bahkan kamu sudah membodohi saya!" ucap Bara.


"Apa kamu tidak tahu, dengan siapa yang sedang kamu hadapi saat ini?" gertak Bara Tari masih diam, ya dia memang salah karena dia berhadapan dengan orang yang memiliki uang banyak dan kekuasaan, sedangkan dirinya hanya perempuan biasa yang menginginkan sebuah kebahagiaan bersama ketiga anak kembarnya.


"Lalu sekarang apa yang anda inginkan?" gertak Tari tidak sabar.


"Ternyata kamu perempuan yang hebat ya. hebat membuat saya merasa kesal dan marah. Lihat kamu masih saja angkuh dan merasa paling benar padahal semua kebohongan mu sudah terbongkar." Bara kesal dengan ekspresi Tari yang selalu menunjukkan bahwa dirinya kuat.


"Lalu saya harus bagaimana tuan Bara yang terhormat? Harus memohon maaf dengan cara mengemis, seperti itukah yang anda mau?" ucap Tari.


"Di sini tidak hanya saya saja yang salah, tapi anda juga! Saya tidak menyesal dengan kehadiran ketiga anak kembar saya, tapi yang saya sesalkan, ayah dari ketiga anak saya adalah anda tuan Bara Antonio." ucap Tari penuh penekanan.


Deg... Bara tidak menyukai ucapan Tari membuat dirinya sakit hati mendengar nya.


Brak... Bara memukul meja kerjanya dengan keras di depan Tari membuat Tari terperangah terkejut karena suara keras nya.

__ADS_1


Lalu Bara pun melemparkan sebuah surat tepat mengenai wajah Tari. "Pahami dan tanda tangani!" titah nya dengan tidak sabar.


Tari meraih surat itu dengan kesal. Lalu dengan cepat ia membukanya dan Tari terkejut. "Su...surat....?"


__ADS_2