Tuan Arogan Untuk Anakku

Tuan Arogan Untuk Anakku
sebuah tuduhan


__ADS_3

Tak mau berdebat dan banyak bicara lagi, Tari langsung merebahkan tubuhnya dengan menyelimuti dirinya dengan selimut itu, sedangkan Bara ia masih menikmati makanan yang di buat Tari.


Tak lama Tari pun tertidur dengan perlahan karena perutnya yang kenyang membuat dirinya lebih cepat pulas.


Bara melangkahkan kakinya untuk melihat apa yang Tari lakukan karena tidak ada suara yang terdengar dari mulutnya itu.


Terdengar dengkuran halus dan wajah yang tenang, dengan matanya yang terpejam dengan bulu mata asli itu tidak bergerak pertanda jika Tari sudah tertidur.


"Pantas saja tidak berisik, dia sudah tidur." gumam Bara melihat Tari dengan santai tidak seperti tadi Bara melihat Tari dengan hati-hati.


"Ah perut kenyang sekali, tapi sedikit mual dan kepala ku kenapa pusing begini." keluh Bara seraya menaiki tangga menuju kamarnya yang berada di atas.


Bara masuk ke dalam kamarnya untuk mengistirahatkan tubuh nya yang dari sore hari sudah terasa tidak nyaman, itu alasan Bara pulang lebih cepat.


***


Pagi hari, pagi sekali Tari bangun lebih dulu karena ia tidak mau sampai anak-anaknya lihat jika dirinya tidur sendirian di sofa ruang keluarga. Dengan terburu-buru ia berlari langsung menuju kamar dimana Bara berada. Untung saja pintu kamar itu tidak terkunci karena Tari sudah mengatakan pada Bara dan Bara pun pastinya menyetujui apa yang di katakan Tari itu semua demi anak-anak.


Setelah masuk ke dalam kamar ia langsung mandi dan bersiap untuk menyiapkan sarapan untuk anak-anak sebelum ia pergi ke toko kue nya.


Namun saat Tari sedang bersiap-siap terdengar jika Bara muntah-muntah dan sedikit menggigil kedinginan.


Tari cuek saja, tidak peduli dengan keadaan Bara yang terlihat sedang tidak baik itu, iya terus melakukan apa yang ingin ia lakukan pagi itu.


Saat Tari akan keluar kamar untuk pergi ke dapur, Bara masih muntah-muntah di dalam kamar mandi.


"Kenapa dia? Pasti masuk angin." batin Tari datar. "Aku yang tidur di sofa malah dia yang masuk angin." sambung Tari. "Itu hukuman bagi laki-laki yang tega membiarkan perempuan tidur di sofa." seringai jahat di bibir Tari.


Lalu Tari pun membuat sarapan untuk ketiga anaknya tanpa ada rasa sedikit peduli terhadap Bara.


Setelah selesai dia pun memanggil ketiga anaknya untuk sarapan pagi.


"Anak-anak kalian makan sarapan kalian, ibu mau ke kamar dulu membawa tas ibu." ucap Tari dan di angguki oleh ketiga anaknya.


Sedangkan di dalam kamar, Bara sedang memegangi perutnya yang terasa melilit dan membuat Bara merasa kesakitan.


Tari melewati Bara yang sedang terbaring di atas kasur nya itu untuk mengambil tas untuk berangkat ke toko.


Bara memperhatikan Tari, mau bicara tapi dia gengsi takut jika Tari akan menghinanya karena dia malah justru yang jatuh sakit.


Tari bersikap seolah-olah dia tidak peduli, padahal dalam hatinya ia sungguh gatal ingin bertanya apa yang di rasakan Bara saat ini.


Bara melirik ke arah Tari lalu mendesah pelan. Melihat Tari yang akan pergi Bara pun menjadi kesal.


"Mau kemana kamu?!" tanya Bara terdengar dengan nada marahnya.


"Saya mau sarapan menemani anak-anak yang akan berangkat sekolah." jawab Tari cepat tanpa menoleh ke belakang melihat ekspresi wajah Bara.


"Kenapa membawa tas!" hardiknya.


Tari menarik nafasnya panjang. "Setelah anak-anak berangkat ke sekolah, saya akan pergi ke toko kue saya." lagi jawab Tari datar dan cuek.


Bara tersenyum sinis. "Apa kamu tidak menyadari kesalahan mu?" telak Bara dengan tatapan tajam.


Tari membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Bara yang sedang menatapnya dengan tajam itu. "Kesalahan apa maksudnya?" heran Tari.


"Kamu harus bertanggung jawab!" ucap Bara dengan tatapan mata nya. "Karena kamu sudah membuat ku muntah berkali-kali." tuduh nya.


Tari mengerutkan dahi nya. "Bertanggung jawab apa? Saya tidak menghamili kamu, Saya saja tidak meminta pertanggungjawaban mu saat saya hamil anak-anak, lalu kenapa kamu yang meminta tanggung jawab seperti itu, saya bahkan tidak berbuat apa-apa!" kesal Tari heran dengan ucapan Bara itu.


"Salah mu sendiri kenapa tidak meminta pertanggungjawaban saya, saya pasti bertanggung jawab!" aku Bara membuat Tari sulit untuk menjawab apa. Menyadari Tari diam Bara pun kikuk karena mengaku sebuah pengakuan yang mungkin akan membuat Bara bisa jatuh harga dirinya membuat Bara pun langsung kembali berbicara. "Sudah lupakan masalah tadi itu sudah lampau." Bara menyela. "Saya muntah-muntah karena memakan makanan yang kamu buat tadi malam. Apa kamu mencoba meracuni saya, agar saya mati lebih cepat dan kamu bisa bebas memiliki anak-anak saya?!" hardiknya dengan keras dan terbata seraya meringis karena perut nya tidak sengaja tergoyang.


Tari sakit hati dengan perkataan Bara begitu, lampau? Semudah itukah dia melupakannya? "Apa seburuk itu saya di mata kamu? Kita semalam makan makanan yang sama, dan saya baik-baik saja sekarang. Jangan asal menuduh orang seperti itu!" geram Tari pun membantah apa yang di katakan Bara itu benar-benar tidak bisa Tari terima begitu saja.


"Tapi lihat perut saya sakit, melilit dan kepala saya pusing itu karena efek dari makanan yang kamu buat itu." Bara pun terus menyalahkan Tari.


"Kamu harus bertanggung jawab!" ucap Bara lagi.


"Apa kamu sudah lupa, kemarin kamu bilang jika saya sakit kamu tidak akan peduli, dan sekarang saya tidak akan peduli padamu, karena kita bukan suami istri yang sebenarnya." terang Tari mengingatkan membuat Bara terdiam.


"Tapi saya sakit begini karena makanan mu yang tadi malam kamu buat!" lagi Bara menuduh Tari.


"Lihat kan saya sehat seperti ini, saya juga makan makanan yang saya buat." Tari pun semakin membela diri karena tidak terima.

__ADS_1


"Sudahlah saya tidak mau berdebat sepagi ini, anak-anak juga pasti mendengar pertengkaran kita, ini tidak baik untuk mereka. Jika kamu sakit telpon saja seorang dokter, karena saya bukan dokter tidak tahu penyakit apa yang kamu rasakan itu." Tari pun menghindari pertengkaran itu. "Dan satu lagi jangan menyalahkan saya terus kamu sakit seperti itu." Tari pun beranjak pergi dari kamar itu.


Bara mengeram kesal pada Tari. "Dasar perempuan tidak tahu berterima kasih!" ucapnya kesal.


***


"Ibu dimana Daddy?" tanya si manja Bintang yang belum melihat Daddy nya pagi ini.


Tari mendaratkan bokong nya di kursi. "Daddy kalian sakit sepertinya dia tidak akan turun." jawab Tari dengan helaan nafas nya.


"Daddy sakit? Sakit apa?" khawatir Bintang mendengar Daddy nya sakit.


"Ibu tidak tahu, nanti dokter yang akan memeriksa Daddy mu." jelas Tari tidak tahu apa penyakit yang di rasakan Bara.


"Aku ingin lihat Daddy, Bu." ucap Bintang dan di angguki Ken dan juga Langit.


"Ya sudah kalian lihat saja di kamar, nanti setelah kalian melihat keadaan Daddy kalian,. kalian berangkat sekolah, ok?" Tari pun mengijinkan mereka untuk melihat daddy-nya.


Ketiga anak itu berlari menaiki tangga menuju kamar Bara dengan saling berebut mendahului siapa yang lebih dulu masuk ke kamar Daddy nya membuat Tari menggelengkan kepalanya.


"Jangan berlari dan berebutan seperti itu!" larang Tari dengan berteriak. Namun ketiganya tidak mempedulikan teriakan Tari.


Tari pun mengikuti anak-anaknya yang berlari itu dengan langkah yang biasa saja.


"Daddy..." seru ketiga anak-anaknya.


Bara sedikit terkejut saat mendengar teriakkan ketiga anak-anaknya.


"Hallo sayang." balas Bara dengan pelan.


"Daddy, ibu bilang Daddy sakit, Daddy sakit apa?" Bintang pun bertanya dengan tidak sabar seraya menyentuh kening dan seluruh wajah Bara dengan lembut dan khawatir.


Bara tersenyum tipis seraya meringis. "Hanya demam biasa." jawab Bara sok kuat padahal perutnya begitu melilit.


"Ya Daddy demam, tubuhnya sangat panas." ujar Bintang dengan nada cemasnya membuat Tari yang berdiri di ambang pintu merasa ada sedikit kepedulian terhadap Bara.


"Daddy hari ini ijinkan aku untuk tidak masuk ke sekolah, aku akan merawat Daddy seperti seorang perawat supaya Daddy cepat pulih." tawar Bintang dengan menggemaskan membuat Bara tersenyum karena terenyuh, adanya anak-anak di dalam rumah nya membuat dirinya memiliki keluarga yang hangat, yang tidak pernah ia rasakan saat dia kecil sampai sekarang ini.


"Bintang, ibu tidak akan mengijinkan kamu tidak bersekolah, kamu dan kakak-kakakmu sana berangkat ke sekolah, sopir kalian sudah menunggu!" titah Tari terdengar tegas.


"Tidak! Sekali tidak ya tidak." tegas Tari membuat Bintang cemberut.


"Ya, kamu berangkat saja sana, tidak baik anak sekolah sudah membolos nantinya akan terbiasa seperti itu." sambung Bara menambahkan ucapan Tari. "Kamu tenang saja di sini ada ibumu yang akan merawat Daddy. Iya kan sayang?" tanya Bara dengan seringai licik.


"Kenapa harus saya, saya tidak mau! Saya mau pergi ke toko kue saja." tolak Tari cepat.


"Ibu...! Daddy sedang sakit, ibu tidak boleh pergi kemana-mana!" hardik Bintang marah dan tatapan ketiga anaknya mengarah ke arah Tari.


Tari menjadi kikuk di tatap ketiganya, bahkan Bara menatap Tari dengan tatapan licik nya membuat Tari mengeram tertahan.


"Kalau ibu tidak mau merawat Daddy dan tetap pergi ke toko, aku tidak akan pergi ke sekolah, aku akan tetap merawat Daddy di sini." ancam Bintang membuat Tari menarik nafasnya dalam-dalam.


"Ok, ibu akan merawat Daddy kalian, tapi kalian berangkat sekolah sekarang!" titah Tari tegas ia tidak mau membuat Bara menang.


"Ok kita akan berangkat sekarang!" Ketiga anak-anaknya meminta ijin kepada Bara dan memeluknya, apalagi Bintang ia mencium pipi Bara.


"We love you dad, semoga cepat sembuh." doa ketiga anak-anaknya.


"Ya i love you too." Bara memeluk ketiganya.


"Ayok cepat nanti kalian malah terlambat, nanti setelah pulang kalian bisa pelukan seperti itu lagi." ucap Tari gemas melihat mereka, gemas karena anak kembarnya bisa terlambat pergi ke sekolah.


Ketiga anaknya itu pun beranjak keluar dari kamar nya. Dan Tari menatap tidak suka melihat Bara yang sedang tersenyum licik.


"Awas ya kamu!" ancam Tari seraya keluar mengikuti anak-anak.


"Hei mau kemana kamu?" teriak Bara melihat Tari keluar.


"Apa lagi sih?!" kesal Tari. "Saya mau mengantarkan anak-anak dulu ke depan." jawabnya ketus dengan melangkahkan kakinya meninggalkan Bara.


Bara menatap kepergian Tari itu, meringis sakit dan mendesis memijat kepalanya yang terasa pusing. Lalu ia pun menelpon dokter Willy sahabat nya yang memiliki gelar dokter pribadinya.


"Kamu masih dimana? Lama sekali! Bisa mati aku karena menunggumu!" hardik Bara dengan nada kesal.

__ADS_1


"Tenang Bara, aku sudah berada di lingkungan rumah mu, dan aku melihat di depan rumah mu ada seorang wanita cantik, apa dia itu istri yang kamu sembunyikan itu?" cerca Willy.


"Cepat naik temui aku di kamar!" titah Bara terdengar kesal.


"Ok...ok." balas Willy santai mendengar sahabat nya itu kesal.


Di bawah Tari yang sedang mengantarkan ketiga anaknya itu berangkat dengan sopir pribadinya dan memberikan pedoman pada ketiganya, ia melihat seorang dokter yang turun dari mobilnya.


"Selamat pagi nona." sapa Willy dengan mengulurkan tangannya dan di sambut hangat oleh Tari.


"Ah dokter akhirnya anda datang juga, silahkan masuk!" Tari pun mempersilahkan dokter itu untuk masuk.


"Ah terima kasih nona, saya langsung saja ke kamar Bara, dia tadi sudah kesal sepertinya." ucap Willy tidak ragu.


"Ah baiklah silahkan." ucap Tari dengan mengikuti langkah dokter itu karena ia penasaran Bara sakit apa.


Setelah berada di dalam kamar, dokter Willy yang penasaran ingin bertanya pada sahabatnya itu pun harus mencari cara agar perempuan yang berada di rumah Bara itu keluar.


"Emh nona boleh ambilkan air putih untuk pasien." pinta Willy dengan sopan.


"Baik." sahut Tari dengan cepat.


"Terima kasih nona." ucap Willy.


"Tidak masalah." balas Tari.


Setelah Tari keluar, Willy langsung memberondong banyak pertanyaan yang ingin ia tanyakan kepada Bara.


"Bangun! Jangan pura-pura." Willy menggoyangkan tubuh Bara yang sedang memejamkan matanya.


Bara mendengus kesal dan mendesis. "Apa perempuan tadi istrimu?" tanya Willy penasaran.


"Istri sementara." sahut Bara malas.


"Ternyata cantik juga." puji Willy membuat Bara langsung menatap ke arah Willy dengan matanya yang tiba-tiba terbuka. Dan Willy mulai memeriksa keadaan Bara.


"Haha kamu pintar memilih seorang perempuan, kemarin saat kamu cerita kejadian bagaimana Ken dan anak kembarmu itu hadir kamu tidak sadar melakukan nya karena terlalu banyak minum sampai mabuk berat, tapi walaupun kamu mabuk berat perempuan yang kamu pilih begitu cantik, dan kamu bilang dia juga masih perawan, haha hebat kamu Bara." goda Willy memuji Bara dalam memilih.


Bara mendengus kesal. "Jika dia perempuan baik, tidak mungkin dia berada di dunia malam seperti itu, apalagi dia sendirian di sana." ejek Bara.


"Ah masa iya seperti itu? Aku tidak percaya, dia terlihat perempuan yang baik." Willy pun tidak mempercayainya.


"Kamu baru sekali saja melihat dia, sedangkan aku sudah sering berdebat dengan dia." dengus nya. "Ah sudahlah kenapa kamu malah bertanya hal itu, ayok cepat selesaikan pemeriksaan tubuh ku, perut dan kepala ku terasa tidak nyaman." titah Bara dengan kesal.


"Ya aku hanya ingin tahu saja." sahut Willy.


"Sebenarnya kamu kesini ingin memeriksa ku atau menjadi wartawan gosip dan membeberkan gosip itu ke media?" kesal Bara.


"Hahaha jangan marah-marah nanti sakit mu semakin parah." ejek Willy.


"Ini dok air minum nya." serah Tari memberikan teh. "Itu untuk dokter dan ini untuk dia." ucap Tari dengan mendelik pelan seraya menaruh gelas berisi air putih itu di atas meja.


"Ah terima kasih nona, jangan merepotkan." balas Willy tidak enak.


"Tidak apa-apa ini hanya sebuah minuman." ujar Tari.


Willy tersenyum dan menyesap air teh itu.


"Jadi, sakit apa dia dok?" tanya Tari tiba-tiba.


"Suami mu sakit karena asam lambung nya sedang naik, dan demam tubuhnya itu karena dia terlalu lelah." terang Willy menjelaskan.


"Apa sakit lambung nya parah sampai muntah-muntah seperti itu?" tanya Tari dengan cepat.


"Ya dia memang memiliki riwayat lambung yang kurang baik karena tidak teraturnya makan dan mungkin pola hidupnya yang tidak sehat." lagi Willy pun menjelaskan Tari mengangguk.


"Aku akan memberikan resep obat untuk mu Bara, obat nya harus di minum secara teratur dan ingat makan yang benar dan cukup istirahat, aku sudah sering memberi tahu mu tentang ini, jika kamu masih saja ngeyel aku akan membawa mu ke rumah sakit!" ancam Willy dengan serius.


Bara mendengus kesal. "Perut ku sakit bukan aku tidak menjaga pola makan, tapi semalam ada yang mencoba meracuni ku dengan makanan." sindir Bara yang langsung membuat Tari merasa kesal karena masih saja menyalahkan nya.


"Dokter, saya memang membuat makanan untuk dia makan tadi malam, tapi saya juga ikut makan makanan itu, namun saya baik-baik saja dan terlihat sangat sehat pagi ini." terang Tari tidak terima jika terus di salahkan. "Jadi apa dia harus menyalahkan saya terus karena makanan yang saya berikan padanya." Tari pun menambahkan.


"Ya memang, saya sakit setelah memakan makanan yang kamu buat tadi malam, saya tidak menuduh ini fakta." Bara pun merasa ingin membela diri.

__ADS_1


Tari kesal menatap Bara dengan penuh kebencian, ia sangat menyesal karena sudah membuat makanan untuk nya tadi malam, niat baik malah berujung sebuah penuduhan.


__ADS_2