Tuan Arogan Untuk Anakku

Tuan Arogan Untuk Anakku
penuh kebencian


__ADS_3

"Benar-benar laki-laki brengsek." umpat Tari seraya terus mengusap bibirnya dengan secara kasar oleh tangan nya.


"Jijik... Hah kenapa aku bisa bertemu dengan laki-laki bajingan itu, dan sialnya dia adalah ayah dari anak-anak ku." sambung Tari masih kesal.


"Oh Tuhan... kenapa Kou mempertemukan aku dengan nya... Laki-laki yang selama ini aku hindari untuk dan tidak mau aku temui." gumam Tari tidak terima.


"Ah kalau saja tadi aku tahu jika dia yang mencari masalah, aku mungkin akan menghindari nya, tapi rasa tak tega ku berkata lain saat aku melihat ibu tua itu tersakiti aku mana tega membiarkan ibu itu di perlakukan jahat. Tapi... kenapa aku tinggalkan ibu itu, bagaimana kalau laki-laki brengsek itu menyakitinya kembali? Ah tapi aku kesal sekali karena ulah laki-laki brengsek itu!" Tari masih kesal sekali namun dalam hati ia merasa khawatir dengan ibu tua tadi.


"Laki-laki arogan, sombong dan tidak memiliki perasaan! Bagaimana jika anak-anakku tahu sifat ayah kandungnya seperti itu?" Tari menggelengkan kepalanya tidak percaya. "Ah Angkasa anakku, apa kamu baik-baik saja di sana ibu sangat merindukan mu, ibu sungguh menyesal karena memberikan mu pada ayah mu yang arogan itu, apa anakku akan seperti dia ya?" Tari tiba-tiba mengingat Angkasa anak kembarnya yang kedua.


"Semoga aku tidak di pertemukan lagi dengan laki-laki berengsek itu, aku tidak mau mengingat kejadian yang dulu menimpaku, aku benar-benar ingin melupakan kejadian dan hal apapun yang membuat ku teringat akan hal yang menyakitkan dulu." gumam Tari seraya menghirup nafas nya dalam-dalam dengan terus berjalan cepat dan hentakan kakinya.


Sedangkan Bara ia memegang pipi kanannya yang di tampar oleh Tari dan menatap kepergian Tari dengan tatapan yang tidak bisa ia mengeri, ada rasa tidak rela saat Tari semakin jauh dari pandangannya, punggung Tari yang semakin hilang dan Bara masih menatapnya, dengan tangan satunya yang ia masukkan ke dalam saku nya dan dengan tatapan penuh ke angkuhannya.


Lalu saat Tari sudah tidak terlihat, Bara memutar tubuhnya dan melihat ibu tua itu sudah pergi meninggalkan nya. "Sial! kemana ibu tua itu pergi?!" umpat nya kesal melihat kesana kemari namun ibu tua itu sudah tidak ada. Ia melarikan diri saat Bara tengah berdebat dengan Tari.


Bara menggeram kesal pada Tari. "Gara-gara perempuan tadi, ibu tua itu melarikan diri, padahal aku akan meminta pertanggungjawaban nya!" batin Bara kesal.


"Awas kamu perempuan?!" gumam Bara kesal. "Aku akan meminta pertanggungjawaban nya jika aku bertemu dengan nya lagi! Karena dia sudah berurusan dengan ku!" sambung nya dengan geram.


"Sial!" geram Bara. "Apa yang kalian semua lihat?!" bentak Bara yang masih di kerumuni oleh orang lain.


Semua orang yang berada di sana pun mulai membubarkan diri, ada yang berbisik, ada yang juga cuek dan meninggalkan tempat itu.


Lalu ketika semua orang pergi, Bara langsung menelpon asisten pribadinya. "Cepat bawakan aku baju ganti, aku tunggu sekarang!" titahnya cepat.


Bara pun menutup panggilan telepon nya itu dengan kesal. "Benar-benar sial aku hari ini, membuat ku kesal saja!" geramnya penuh emosi.


Tak lama asistennya datang dengan setengah berlari, karena tadi bos nya memerintahkan dengan suara yang sangat emosi, membuat Alvaro sebagai asisten takut mendapatkan masalah dari bos nya itu.


"Ini pak pakaian anda!" serahnya pakaian itu pada sang atasan arogan nya.


"Lama sekali kamu!" kesal Bara berucap seraya meraih pakaian dari tangan asistennya.


"Maaf pak." balas Alvaro dengan menundukkan kepalanya.

__ADS_1


Bara pun dengan cepat pergi menuju ke toilet untuk berganti pakaian nya yang kotor akibat ibu tua tadi. Saat ini ia berada di sana untuk bertemu dengan klien nya untuk membicarakan bisnisnya, namun kejadian hari ini benar-benar menguras emosi Bara. Bara pun meraih handphone nya lalu dia menelpon asistennya kembali. "Katakan pada klien ku atas perkataan maaf ku yang terlambat, yakinkan dia dan jangan sampai kerja sama kita di batalkan begitu saja." titah Bara dengan serius dan di iyakan oleh asistennya itu.


Saat Bara sudah selesai dengan mengganti pakaiannya itu, tiba-tiba suara telponnya berdering tertera nama Alvaro yang memanggilnya, tak butuh waktu lama Bara pun menerima panggilan itu.


"Ada apa?" tanya Bara cepat.


"Maaf pak, klien kita membatalkan kerjasama kita." jawab Alvaro sedikit takut.


"Apa?!" sentak nya. "Kenapa?" tanyanya lagi.


"Karena kedatangan anda yang terlambat, mereka sudah menunggu anda sejak lama, mereka bilang anda tidak kompeten dalam waktu, karena sudah membuang waktu mereka." ujar Alvaro menjelaskan. "Maaf pak saya tidak bisa membuat mereka tidak membatalkan kerjasama itu, karena mereka kekeh membatalkan nya." sambung Alvaro.


Bara menutup panggilan itu secara sepihak setelah mendengar penjelasan dari asistennya. Bara mengeram kesal. "Sial! Ini gara-gara perempuan itu!"


Bara pun dengan cepat pergi dari tempat ia akan bertemu dengan klien pentingnya itu, di susul oleh Alvaro di belakang nya mengikuti kemana bosnya itu pergi.


"Kita kembali ke kantor!" titah Bara tegas.


"Baik pak." ucapnya seraya membukakan pintu mobil. Setelah Bara masuk ke dalam dan duduk dengan nyaman Alvaro pun masuk dan duduk di kursi kemudi, lalu melajukan kendaraannya itu menuju kantor dimana perusahaan yang Bara pimpin.


"Hah." Bara menghela nafasnya panjang seraya menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi dan memejamkan kedua matanya.


Saat memejamkan kedua matanya tiba-tiba Bara mengingat pada wajah perempuan yang tadi sudah membuat nya kesal. Bara melototkan matanya kembali. "Perempuan itu!" gumam Bara geram.


"Pak, apa ada masalah?" tanya Alvaro hati-hati.


"Tidak ada, hanya saja ada tadi pagi aku bertemu dengan perempuan yang sangat berani menantang ku." ucap Bara sedikit menceritakan kejadian tadi.


Alvaro mengerutkan keningnya heran. "Berani bagaimana pak?" tanyanya bingung.


Bara menghela nafas berat. "Sudahlah aku malas menceritakan tentang perempuan itu, tapi aku puas karena sudah memberikan dia pelajaran!" gumam nya merasa puas dengan senyum menyungging.


"Pelajaran?" tanya Alvaro semakin bingung.


Bara hanya tersenyum atas apa yang di tanyakan oleh Alvaro, ia jadi mengingat saat perempuan tadi pergi dengan kemarahan dan kekesalan padanya.

__ADS_1


Alvaro melirik ke arah kaca mobil untuk melihat bosnya itu, dan ia melihat jika bosnya itu sedang tersenyum. Alvaro semakin penasaran apa yang terjadi di dalam tadi, ketika bosnya akan bertemu dengan klien pentingnya.


Tak lama mereka pun sampai di kantor Bara, dan Bara pun langsung masuk ke ruangan nya dan duduk di kursi kepemimpinan nya.


"Kenapa aku seperti pernah melihat perempuan itu." gumam nya seraya mengingat wajah Tari.


"Matanya itu... mengingatkan aku pada seseorang, tapi siapa?" desah Bara frustasi ia tidak mengingat apa-apa.


Bara menggigit bibir bawahnya, lalu ia mengingat akan ciuman nya pada bibir Tari. Ia jadi mengingat bibir merah alami yang Tari miliki. Terasa sangat manis dan kenyal, ia seakan pernah merasakan bibir itu.


"Gila... Kenapa aku jadi memikirkan perempuan itu sih!" gerutu nya kesal. "Kenapa aku sampai berani mencium bibir nya itu, bagaimana jika dia sudah bersuami, ah benar-benar di luar kendali ku!" umpat nya masih kesal.


Bara menyandarkan punggungnya di kursi kekuasaan nya. Memejamkan kedua matanya, namun pikiran nya selalu saja teringat akan wajah Tari yang tadi begitu marah dan membencinya.


"Ah lagi-lagi aku ingat dengan wajah itu!" desahannya geram. "Ada apa dengan otak ku ini!" gumam Bara semakin kesal.


***


Tari Akhirnya sampai di rumah dengan wajahnya yang murung, saat masuk kedua anaknya menyambut kedatangan Tari yang sudah pulang dari acara berbelanja nya.


Tak ingin memperlihatkan wajahnya yang terlihat murung, Tari mencoba tersenyum seperti biasa. Tari tidak ingin kedua anaknya dan juga Omah akan bertanya tentang kejadian apa yang menimpa nya itu.


"Ibu... sudah pulang?" Bintang dan Langit dengan segera menyambut kedatangan Tari dengan antusias.


"Sudah sayang, ini ada sedikit oleh-oleh untuk kalian dan juga omah, di makan ya." ujar Tari menyerahkan sebuah kantong yang berisi makanan dan mereka pun menerima makanan itu. "Ibu ke kamar dulu ya, ibu mau istirahat." lanjut Tari langsung menuju ke kamarnya tanpa melihat ekspresi kedua anaknya yang heran melihat wajah ibunya yang sedikit berbeda.


"Tari kamu sudah pulang? Lalu mana barang belanjaan mu?" tanya Omah ketika melihat Tari melewati dirinya yang tengah dari dapur.


Tari menoleh ke arah omah Mayang. "Belanjaan nya nanti di krim oleh kurir toko omah, tinggal tunggu saja." ujarnya. "Aku ke kamar dulu ya." ijin Tari terlihat murung walaupun sebisa mungkin Tari menyembunyikan nya, namun Omah Mayang merasakan ada sesuatu yang terjadi di saat tadi Tari tengah membeli barang-barang untuk usahanya.


"Ya sudah kamu istirahat saja." balas Omah lembut dan di semyumi oleh Tari.


Tari pun masuk ke dalam kamarnya, lalu ia menguncinya terdengar oleh Omah Mayang. "Ada apa dengan anak itu? Tadi pagi dia sangat antusias sekali ketika akan membeli barang, kenapa sekarang malah murung begitu?" gumam nya penasaran. "Nanti aku akan tanyakan padanya." sambung nya.


Di dalam kamar, Tari menangis dengan menutup mulutnya agar tidak terdengar oleh orang jika dia sedang menangis, hanya isak tangis pelan yang tidak bisa Tari tahan. Pertemuan Tari dengan laki-laki yang telah menghamilinya dulu, membuat Tari semakin ada kekesalan dan penyesalan karena tinggal di Indonesia lagi, padahal dia sungguh tidak berharap akan pertemuan ini, apalagi dengan kesan yang sangat buruk.

__ADS_1


__ADS_2